
🌹Malam minggunya baca ini aja ya🌹
Oma berdecak melihat David yang tidak kunjung berhenti menggoda Lily dengan mengingatkan kesalahannya, membuat Lily menangis lalu memeluk David erat.
Oma jengah melihatnya, dia segera mendekati Lily begitu ada kesempatan.
"Lila, Lila," panggil Oma sambil berbisik saat Lily memasukan piring ke dalan mesin pencuci piring.
"Iya, Oma?"
"Oma ingin bicara, ayo ke balkon," ucap Oma menarik tangan Lily pelan.
Saat itu David sedang bermain game di ruang tamu sambil memakai kudapan setelah makan malam.
"Duduk di sini," ucap Oma pada kursi di balkon luas.
"Ada apa, Oma?"
"Dengar, Lily. Oma suka dirimu yang apa adanya."
"Maksudnya, Oma?"
"Tidak perlu merasa bersalah dengan David, dia sudah memaafkanmu. Jangan terbawa perasaan, injak semua yang mereka katakan. Oma lebih suka kau yang bersikap bodoh amat, sifat itulah yang menjadi bentengmu."
Lily diam memikirkan apa yang dikatakan Oma. "Tapi Lily membuat David kesal, Lily membuat David marah dan Lily mengusir David. Lily membuat David kecewa, itu kesalahan."
"Lalu?"
"Huh?"
"Huh huh hah hah!" Oma menaikan nada bicaranya. "David memaafkanmu kan?"
Lily mengangguk.
"Apa yang akan kau lakukan jika orang yang meminta maaf padamu berulang kali?"
"Lily akan memaafkannya jika awal di awal permintaan Lily memaafkan."
Oma menepuk pundak Lily. "David akan memaafkanmu seberapa kali pun kau meminta maaf karena hal yang sama. Jadi, tidak usah menyesal. Yang penting kau sudah minta maaf, dan sekarang kau harus melakukan yang terbaik untuk menjalani hubungan ke depannya. Jangan malah terpuruk dan menangis setiap detik, itu menjengkelkan tau."
"Benarkah, Oma?"
Oma mengangguk. "Jadilah kembali pada dirimu sendiri yang bersikap bodo amat, yang penting kau sudah minta maaf atas kesalahan dan memperbaiki semuanya."
"Baik, Oma."
"Bagus, kau hebat."
Sampai akhirnya terdengar suara bell berbunyi.
"Eta! Buka pintu!" Teriak Oma.
Eta segera membukanya, dia terkejut melihat Radit. "Apa Tina ada di dalam?"
"Ya, dia ada di dalam bersama Nyonya Besar. Dia memutuskan kembali pada Tuan Muda."
"Aku perlu memastikannya sendiri," ucap Radit masuk begitu saja. "Tina! Tina!"
Mendengar itu, David berdiri dan menghadang Radit. "Mau ke mana kau?"
"Minggir, aku harus memastikan Tina baik baik saja."
Lily segera mendekat sebelum pertengkaran terjadi. "Aku di sini, aku baik baik saja, Kak. Aku yang memutuskan kembali, aku mohon janga buat keributan."
Lily melepaskan tangan David yang mencengkram leher Radit. "Aku memutuskan kembali bersama suamiku."
"Aku perlu penjelasan darimu."
"Baik, ayo bicara."
"Tidak akan aku izinkan kau membawa istriku!"
"Hanya di ambang pintu, David. Aku mengatarnya keluar."
Melihat manik istrinya yang memohon, David meredakan amarah. "Aku ikut denganmu."
"Baik." Kemudian melihat Radit lagi. "Ayo keluar, Kak. Ada Oma di sini, aku mohon jangan buat keributan."
David mengikuti Lily dari belakang, sampai di ambang pintu, David dua langkah di belakang Lily agar bisa mendengar percakapan mereka.
"Kak, aku akan baik baik saja."
"Kau bilang sangat membenci suamimu, Tina."
"Kau yakin?"
"Seratus persen, aku mencintai suamiku."
Dan di belakang sana, David tersenyum lebar mendengar pengakuan Lily.
Dalam hati dia kegirangan, 'Dia mencintaiku! Yes! Yes! Eh, tentu saja. Secara aku tampan dan kaya, juga baik hati dan tidak sombong.'
🌹🌹🌹
Saat semua orang sudah pulang, David bersiap untuk melakukan tugasnya sebagai suami. Dia pemanasan di kamar mandi.
"Pasti Lily merindukanku, sentuhanku ciumanku. Lihat saja, Sayang, akan aku tunjukan cara mengunjungi anak anak."
Setelahnya David keluar dengan hanya memakai boxer. Di sana dia melihat Lily yang sedang memainkan cincin dalam box. David menyeringai, dia berharap Lily menangis lagi lalu memeluknya.
"Sayang, apa yang kau lakukan?"
"Melihat cincin ini."
"Bagus bukan? Aku memesannya sendiri pada Eta."
David pikir Lily akan menangis lalu berlari memeluknya. Kenyatannya Lily hanya menarik napas dalam seolah menekan kembali emosi itu, dan yang David lihat adalah ekspresi wajah datar malu malu seperti sebelumnya. "Ya, bagus sekali."
"Itu untukmu."
"Benarkah?"
David duduk di sofa, dia memakaikan cincin itu ke jari Lily. Sangat pas sekali. "Kau menyukainya?"
Malu malu Lily mengangguk dengan senyum yang tertahan. "Terima kasih."
"Sama sama, Sayang." Tangan David merentang, berpikir Lily akan menangis kembali dan memeluknya erat.
Lily kebingungan melihat David. "A… apa?"
"Ayo, pelukanku gratis."
Malu malu, Lily mendekat dan masuk ke dalam pelukan David.
"David, perutku," ucap Lily saat merasa perutnya tertekan.
"Maaf, Sayang." Tangan David menggenggam tangan Lily. "Kau tahu kenapa aku memberimu cincin?"
Lily hanya menatap tanpa menjawab.
"Itu seharusnya jadi lamaranku. Dua minggu lagi kau ulang tahun ke dua puluh, aku ingin mengumumkan pada dunia tentang hubungan kita. Aku ingin mereka tahu bahwa kita telah menjadi keluarga. Kau mau kan? Menikah denganku?"
Lily menatap tidak percaya. "Kau… melamarku, David?"
David terkekeh, dengan bangganya dia berkata, "Ya, ya aku tahu kau terharu, Sayang. Kau dilamar oleh pria tampan, keren, kaya dan pintar, juga tinggi. Dan kau sangat mencintaiku, mengandung anak anakku, betapa beruntungnya dirimu."
Lily terkesima, dia berkedip tidak tahu harus bilang apa. "I… iya… tapi kita sudah menikah David."
"Kau tahu maksudku, Sayang. Pernikahan kita diawali dengan kebohongan. Aku ingin memulai semuanya, aku ingin kau memakai gaun pengantin terindah, resepsi termewah, semua orang akan tahu siapa pendamping hidupku. Dan mereka juga akan tahu, kau sedang mengandung calon pewaris Fernandez Corp."
Lily tersenyum malu, dia menundukan pandangan. Membuat David mengangkat dagu istrinya. "Kau mau bukan? Menerimaku?"
Lily mengangguk pelan, membuat David tersenyum lalu mendekatkan wajah mereka.
"Kalau begitu, Sayang. Bolehkan suamimu yang tampan ini menciummu? Oh, aku tahu jawabannya, kau pasti menginginkan ciuman dari pria yang sangat kau cintai, kemarilah."
"Tunggu, David. Sebentar, sebenarnya ak-- hmppphh!"
Lily lebih dulu di bungkam oleh bibir David. Dan dia tidak bisa menahannya, Lily mendorong dada David kuat saat rasa mual melanda. Lily berlari ke kamar mandi.
David terkejut, dia mengetuk pintu kamar mandi dari luar.
"Lily Sayang, kau kenapa?"
"David…. Maaf, kau tadi makan kiwi. Mu… mulutmu bau buah itu, aku mual menciumnya."
David terdiam seolah kehilangan jiwanya, dia menatap kosong pintu yang tertutup. Lalu bergumam sendiri, "Aku? Mendapat penolakan lagi? Ini seharusnya jadi malam yang panas. Ada apa dengannya? Aku harus membujuk bayi bayi mungilku agar mau dikunjungi papanya."
🌹🌹🌹
to be continue
ha ha ha ha