
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA SEMUANYA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
“Kenapa kau terlihat begitu murung?” tanya Ares yang melihat wajah adiknya itu. “Ada apa?”
Athena hanya menghela napas sambil mengaduk susu.
“Kenapa?”
“Jangan mengganguku!”
“Aku bertanya padamu. Ini malam minggu, kenapa kau murung? Bukankah biasanya senang besok akan jalan jalan bersama temanmu itu?!”
Athena kembali menarik napas dalam. “Aku ada les, jadi besok tidak jadi.”
“Ah, pantas saja kau menyebalkan,” ucap Ares kembali melanjutkan langkah.
“Kau mau kemana?” Tanya Athena.
Tidak dijawab, membuat Athena kesal dan melemparkan bantal sofa hingga Ares hampir terjatuh. Pria itu membalikan badannya seketika dan menatap kesal adik perempuannya. “Aku mau keluar, kau tahu kemana aku pergi setiap malam minggu atau hari llibur.”
Athena mengerucutkan bibirnya menahan kesal, dia merasa sedih ditinggal sendirian di rumah. “Mommy dan Daddy sedang berkencan, Alden bermain dengan Oma dan mungkin sekarang sudah tidur. Apa yang harus aku lakukan?”
“Biasanya juga kau memiliki kesibukan.”
“Arin memiliki pacar sekarang, dan Cantika sibuk dengan tugas sekolah. Tidak bisakah kau diam di sini?” tanya Athena.
“Tidak, aku harus keluar supaya tidak gila terus berada di sini apalagi bersama dengan dirimu,” ucap Ares dengan santai dan menyimpan kembali bantalan sofa itu. “Cari sana kegiatan.”
Athena mendengus kesal. “Aku ingin keluar.”
“Kau tidak bisa naik mobil, minta antar Nina.”
“Mommy tidak mengizinkanku keluar.”
“Maka terima takdirmu,” ucap Ares sambil melangkah pergi. Membuat Athena malas semakin kesal. “Jangan cemberut, akan aku belikan martabak saat pulang nanti.”
“Rasa cokelat kismis.”
“Oke.”
“Jangan lama lama.”
“Aye.”
Ares berjalan menuju motor sport miliknya, tempat dirinya bermain jika bukan bengkel maka caffe milik Samuel. Tapi saat ini, Ares lebih suka bergaul dengan anak anak bengkel yang tidak bersekolah, di sana dia bergaul dengan semua jenis manusia dan saling bertukar cerita tentang pandangan hidup.
Saat hendak menaiki motor, Ares mengecek ponselnya. Sejak pertandingan, dirinya belum menghubungi Cantika lagi. Ares sendiri marah dan kesal karena Cantika meninggalkannya dan kini tidak menghubunginya.
“Apa ini? dia sudah menemukan pria yang lebih tampan dariku? Yang benar saja.”
🌹🌹🌹🌹
Cantika sibuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, ada banyak tugas lebih dari biasanya. Yang membuatnya kewalahan.
Setelah selesai satu tugas, Cantika menghela napasnya lega.
“Tinggal satu lagi,” ucapnya senang.
Dan saat membuka tasnya, Cantika mulai panic. Dia tidak mendapatkan bukunya dimana soal itu ada.
“Astaga, aku sudah mencatatnya. Tapi buku itu dimana?”
Apalagi tugas kali ini individu dengan setiap orang memiliki soal yang berbeda.
“Tidaaaak,” ucap Cantika. “Pelajarannya kapan? Besok?”
Dirinya terus bergumam sendiri. “Dan kapan terakhir pelajaran itu? Hari jumat saat pertandingan?”
Cantika menatap langit langit mencoba mengingat apa yang terjadi saat itu. Sampai dia ingat. “Oh astaga, aku menyimpannya di loker.”
Cantika segera keluar kamar dengan panic.
“Mau kemana?” tanya Nenek.
“Nek, Cantika mau ke sekolah sebentar ya. Mau mengambil buku di loker.”
“Ini malam, Cantika.”
“Tapi Cantika butuh, Nek.”
“Besok saja, besok libur ‘kan?”
Cantika menggeleng kuat. “Cantika tidak tahan, harus selesai sekarang. Lagipula kata Athena di sekolah suka ada penjaga.”
“Pokoknya jangan, besok saja.”
“Jangan apa?” tanya Kakek yang bergabung dalam percakapan dan baru saja selesai makan. “Apa? Tika mau apa?”
“Mau ke sekolah katanya, mau mengambil buku di dalam loker.”
“Oh, mau ke sekolah. Yaudah ayo Kakek antar.”
“Loh, ini sudah malam, Kek,” ucap sang Nenek.
“Baru juga jam delapan, Kakek juga kenal satpam di sana. Sekalian kan Kakek harus ganti oli motor.”
“Yasudah,” ucap Nenek pada akhirnya.
“Yes!” cantika segera bersiap siap.
“Sudah?”
“Sudah, Kek.”
Dan mereka mulai melaju. Menit menit pertama, semuanya aman terkendali, apalagi Kakek sambil bercerita.
Sampai…… BLEDUG!
“Akkhhh! Kakek!”
Hampir saja oleg, beruntung Kakek menurunkan kakinya dengan cepat.
“Aduh bannya bocor,” ucap sang Kakek. “Ditambal dulu ya, ada bengkel di depan.”
Cantika turun sambil mengangguk dan membantu mendorong motor dari belakang.
“Satu… dua…. Kok gak gerak ya?” tanya Cantika.
“Bagaimana bisa gerak, kakek belum memasukan giginya.”
“Oalahhh,” gumam gadis itu mengusap dadanya sendiri.
🌹🌹🌹🌹
Ares tertawa mendengar penuturan temannya itu.
“Rokok, Bang?” tanya salah satu menawarkan.
Ares menggeleng.
“Lah, kan udah legal, Bang.”
“Gak deh, gue gak mau mati muda.”
“Ya gak gitu juga konsepnya, Bang.”
“Belum minat, nanti aja.”
Sebenarnya mereka memanggil Abang bukan karena Ares lebih tua, tapi sebagai panggilan penghormatan mengingat mereka tahu siapa Ares dan juga jasanya pada tempat ini.
“Pas di KM 97 itu, bokap gue hampir celaka,” ucap Ares.
“Nah kan, Bang. Emang di sana rawan banget.”
Ares bercakap cakap dengan beberapa pelanggan yang juga sedang membetulkan motor mereka. Sampai datang pelanggan baru.
“Kenapa, Kek?” tanya salah satu pegawai.
“Ban nya bocor, tiba tiba meletus.”
“Duduk dulu, Kek. Tunggu di sana.”
Dan Cantika yang lelah mendorong motor itu mengusap dahinya. “Aduh lelahnya.”
Ares langsung mengenali suara itu, dia menengok. “Centini?”
“Ares?”
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Ban motor milik Kakekku bocor.”
“Maksudku, memangnya kalian mau kemana.”
“Oh, ini yang namanya Ares?” tanya si Kakek yang mengikuti percakapan mereka. “Kamu yang numpang makan di rumah saya ‘kan? Terus maling baju?”
“Kakek jangan gitu, Nenek yang bawa Ares masuk, bajunya juga dikasih,” ucap Cantika.
“Oh iyakah? Kamu juga yang sering jemput Cantika ‘kan?”
“Iya, Kek. Saya,” ucap Ares sedikit khawatir salah bicara.
“Kalian pacaran?”
“Tidak,” jawab Ares dan Cantika secara bersamaan.
“Oh, bukan berarti. Cantika bukunya ketinggalan katanya di loker sekolahnya, saya mau ke sana, tapi bannya malah bocor,” ucap si Kakek memberi kode. “Kamu bawa motor, Aris?”
“Ares, Kek. Dan saya bawa motor. Saya antar Cantika ke sekolah bagaimana?”
“Bolehlah, tapi masa Kakek nunggu di sini sambil melongo. Kopi lah.”
Ares tertawa melihat tingkah si Kakek yang gampang bergaul. “Pesan saja, Kek. Bilang masukin ke bon Ares.”
“Kamu sering ngutang?”
“Eh, bukan gitu, Kek.”
“Nah, ketahuan kan. Tika, jangan mau sama anak ini, tukang ngutang dia.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE