
🌹VOTEE YEEE GHAISSS🌹
Ares yang merasa bosan itu mencari kesenangan. Athena dan Mommy nya terlelap setelah membuat kue.
Sementara dirinya tidak, Ares berjalan jalan di villa diikuti oleh para pengasuh.
Sampai Ares melihat ponsel milik mommy nya, dia menyeringai senang. Ares mengambilnya, membuat pengasuh yang mengikutinya takut dimarahi Lily karena tidak melarangnya.
"Tuan muda…."
"Aku hanya menghubungi Daddy, apa itu sebuah salah?"
Pertanyaan Ares membuat para pengasuhnya diam. Mereka tidak berkutik saat Ares melarang mereka mengikuti dengan alasan akan menelpon sang daddy.
Namun, mereka tetap mengawasi dari kejauhan dan menatap Ares yang tengkurap melakukan video call.
Lama Ares menunggu jawaban dari sang daddy, panggilannya belum juga di jawab.
"Where are you, Daddy?" Tanya Ares.
Bahkan sampai panggilan ke lima kali, David tidak mengangkatnya.
Membuat Ares menghubungi Sebastian, seorang pamannya yang menjadi favorite nya.
Baru dering ketiga saja, Sebastian sudah mengangkatnya.
"Uncle!"
"Wohoooo, hallo, Kid. Uncle pikir bukan kau yang menghubungi."
"Ares sedang berlibur di Thailand."
"Benarkah? Bagaimana keadaan Thai?"
Ares memasang wajah jijik. "Uncle, katakan dengan lengkap. Kau bertanya seolah menanyakan kabar kotoran."
Di sana Sebastian tidak bisa berkata kata, keponakan kecilnya benar benar keturunan David. Menutupi wajahnya yang spechless, Sebastian tertawa. "Ya, bagaimana Thailand?"
"Tidak baik, Daddy tidak ada di sini."
Sebastian yang tahu keadaan sebenarnya itu memasang wajah tenang. "Dont worry, Daddy mu akan pulang."
"Kapan Uncle menikah?"
"Astaga, apa Oma menyuruhmu menanyakan itu?"
"No, aku hanya penasaran."
"Uncle akan menikah nanti saja."
"Tidak ingin punya anak tampan seperti Ares?"
"Tidak, Uncle tidak ingin anak nakal."
Kalimat yang membuat Ares cemberut.
Sebastian tertawa. "Ayolah, Uncle hanya bercanda. Jika Uncle menikah, kau dan Athena akan menjadi penabur bunga."
"Asyiik!"
"Senang bukan? Uncle akan tutup dulu telponnya ya. Ada yang harus dilakukan."
"Oke, Uncle. See you."
"See you, Kid."
Senyuman Ares kembali luntur merasa merindukan sang Daddy. Dan di saat bersamaan, Lily yang terbangun mencari keberadaan putranya. Sampai dia mendapati Ares sedang tengkurap dengan wajah sedih.Â
"Ares?"
"Mom?"
Lily menggendong putranya dan mendudukannya di pangkuan. "Kenapa kau sedih?"
"Kapan kita akan berjalan jalan berlima?"
Lily tersenyum. "Nanti jika Daddy datang ya."
"Sepertinya daddy tidak akan datang, dia tidak mengangkat panggilanku, Mom."
"Daddy sedang ada urusan, dia pasti datang," ucap Lily memeluk putranya.
"Daddy akan datang kan, Mom?"
"Dia pasti datang."
Kenyataannya, Lily takut David menjauh darinya karena merasa kematian Dena karena dirinya.
🌹🌹🌹
David menatap kepergian anak anak Dena yang juga merupakan adiknya. David berjanji pada mereka akan memenuhi kehidupan mereka sampai lulus kuliah.
Perpisahan diantara mereka baik baik saja, David meminta pada adik keduanya untuk menjaga yang lain dan tetap menjaga komunikasi.
"David…," panggil Oma meminta David mendekat. "Kemarilah."
"Tidak seperti yang Oma pikirkan."
"Kemari kau cucu tengik."
"Aku akan ke kamar," ucap David menjauh.
Di sanalah Oma sangat khawatir, dia takut David terpengaruh oleh surat dari Dena dan meninggalkan anak dan istrinya.
Apalagi saat Oma mendapat kembali panggilan dari Lily. Perempuan itu selalu menelponnya setiap jam.
"Hallo, Lila?"
"Oma, apa David masih sibuk?"
"Ya, dia sibuk," bohong Oma supaya Lily yang mengandung baik baik saja.
"Oma, bisakah katakan pada David kalau aku menunggu kabar darinya."
"Nanti Oma sampaikan."
"Terima kasih, Oma."
Setelah panggilan tertutup, Oma menghela napas. Itu membuat Eta yang ada di samping majikannya ikut merasakan kegelisahannya.
"Nyonya Besar, apa anda perlu sesuatu?"
"Aku takut David akan membenci istri dan anaknya, menyalahkan mereka atas kepergian Dena."
"Tuan tidak akan seperti itu, Nyonya. Tidak perlu khawatir."
Oma menggeleng, kenyataanya dia khawatir. Oleh sebab itu Oma naik ke lantai dua untuk memperjelas semuanya.
"David!"
"Aaaaaa! Oma!"
"Astagaaaa!" Teriak Oma berbalik seketika dan menutup pintu kembali saat melihat cucunya sedang tanpa pakaian. "Apa kau habis mandi atau apa?!"
"Aku baru selesai mandi."
"Apa kau punya kutu? Tidak biasaya mandi tiga kali sehari."
"Masuklah," ucap David yang sudah berpakaian.
Membuat Oma menggeleng tidak percaya.Â
"Apa yang ingin Oma katakan?"
Oma menghela napas. "Kau tidak boleh terpengaruh oleh surat Dena. Apa pun yang kau lakukan pada anak dan istrimu tidak akan menghidupkannya lagi. Teganya kau melakukan itu pada Lila! Wanita yang mengandung anakmu!"
David menahan tangan Oma yang memukuli diri sendiri. "Oma tenanglah, aku melakukan itu sambil menatap wajah istriku."
"Apa?"
"Aku tidak akan meninggalkannya. Apa Oma gila? Memang kematian Mama membuatku terkejut, tapi itu tidak akan merubah apa pun."
"Kau tidak menghubungi Lily."
David diam sebentar, sampai akhirnya dia memeluk Oma. "Aku hanya sedang butuh waktu, Oma. Jika aku menelponnya, aku akan menangis. Percaya padaku, janjiku tidak akan meninggalkan Lily."
"Kau lebih tengik dari yang Oma kira," ucap Oma. "Menangis di depan wanita bukanlah kejahatan, kenapa kau menahannya sendirian?"
🌹🌹🌹
TBC.