
🌹Siapin kipas, soalnya ini hott banget loh🌹
"Aaakkhh….. Hmpppphhhh…..," desah Lily saat David mendudukannya di atas pangkuan pria itu, dan kenjantanan David yang berdiri, menusuk tepat ke lubang tempat dia seharusnya.
Posisi duduk membuat Lily semakin merasakan bagaimaa kerasnya kejantanan David, dan menusuk sampai ke dalam. Perih, sakit, geli dan nikmat datang secara bersamaan. Apalagi mereka berciuman.
Gaun hitam itu masih melekat, hanya saja bagian atasnya sudah merosot dan bagian bawahnya sudah terangkat.
Lily kembali merasakan geli saat ujung dadanya berhimpitan dengan dada bidang David.Â
"Aaaaa….. aaakkhh….." Lily mendesah kecil dan sangat pelan.
Seperti biasa, Lily sangat hati hati mengendalikan suaranya yang penuh kenikmatan. "David….."
Lily mulai kebingungan saat David tidak kunjung bergerak, hanya diam menancap dan membuat kewanitaan Lily berkedut ingin dituntaskan.
"David…."
"Bergeraklah, Sayang."
"Aku tidak bisa." Lily tidak kuat dengan siksaan ini. Ketika dirinya mengangkat pinggul saja, merasakan kejantanan David bergesekan dengan kulit kewanitaannya di dalam sana, membuat Lily ingin berteriak kenikmatan dan tidak tertahankan.Â
"Tidak…..," ucapnya daripada berteriak karena nikmat, Lily tidak kuasa menahan semua kenikmatan itu.
Sensasinya terlalu luar biasa.
"Cobalah, Sayang."
"Tidak."
"Hmmppphh…. Jangan, David…," ucap Lily saat David menganggkat tubuhnya ke atas, otomatis Lily merasakan kewanitaannya mulai memuntahkan kejantanan David di bawah sana. Dan sebelum memuntahkan semuanya, David melepaskan Lily hingga dia jatuh tepat dengan kejantanan David kembali menancap lebih dalam.
"Awwww!" Jerit Lily tidak bisa dibendung, dia frustasi. "David! Hentikan! Jangan……. Awwww itu sakit…..."
"Aku tahu kau suka, Sayang. Cobalah dengan pelan."
Lily takut dirinya tidak bisa mengendalikan diri dan belum siap memegang kendali, jadi dia membiarkan David mengangkat pinggangnya, lalu kembali melepaskannya tepat sasaran.
"Aaaakkhhh…. David…."
"Ya, Sayang… sebut namaku."
Lily memejamkan matanya. "David….."
Dan pria itu malah terkekeh, dia memberikan kecupan di leher Lily. David tahu istrinya masih muda, rentan dan belum berpengalaman banyak. David harus bisa mengajarinya perlahan dengan tepat.
Umur Lily yang masih sembilan belas tahun, sekilas keduanya seperti seorang ayah dan anak, jila dilihat dari umur. Beruntungnya David tampan, dia bisa menaklukan remaja dalam pangkuannya ini.
Lily adalah wanita termuda yang David tiduri, dia juga wanita pertama yang masih perawan, membuat David terus ketagihan, apalagi Lily memiliki aroma wangi khas.Â
"David…"
"Baiklah, kau masih bayi," ucap David membawa Lily berdiri.
"Akkhh…." lily mengalungkan tangannya.
David menidurkannya di ranjang. Saat David menarik kejantanannya, Lily merasakan angin masuk ke dalam kewanitaannya. Lubangnya membesar sesaat akibat ukuran kejantanan David yang kekar.Â
Pria itu ingin melepaskan pakaian dalam tubuh istrinya.Â
Lily menegakan kepalanya saat David hendak memasukan kembali kejantanannya. Dan kewanitaan Lily yang mulai kembali mengecil, harus kembali terbelah.
Sayang, pria itu malah memainkannya sebentar dengan mengusap usap ujung kejantanannya di sekitar kewanitaan Lily.
"David….."
David menyukainya, begitu banyak pelumas di bibir kewanitaan Lily yang begitu kencang.
"Akkhhhh…." Lily megelijang saat David memainkan ujung kejantanannya di kacang kecil Lily. Itu adalah bagian paling sensitifnya.
"David…."
"Sayang…. Tenanglah….."
Dan ketika Lily akan merasakan puncak, David memasukan kejantanannya sekaligus.
"Awww….." bibir mungil Lily bersuara agak keras dari sebelumnya.
Dia mulai merasakan irama pelan yang sedikit sedikit meninggkat.
Baru juga enam hentakan, Lily tidak bisa menahannya. Dia merasakan puncak saat berciuman dengan David.
"Aa…. Akkkhh… aaaaa…" suara Lily tersendat sendat, napasnya pendek dan seluruh tubuhnya bergetar, dia mencakar punggung liat David.
Sementara pria itu masih bertahan dengan hentakannya, menahan semua jepitan dan kewanitaan Lily yang semakin panas dan menggila.
Desahan Lily terputus putus akibat David semakin kuat menghentakan.
"Da…. David…. David…. Se… aaa…. Aakhhh…."
Lily menggigit pergelangan tangannya sendiri saat hentakan David semakin kuat, bersamaan dengan bibir pria itu yang meraup dada istrinya. Apalagi David mengangkat kaki Lily dan meletakannya di bahu David, Lily semakin merasakan keadaan menggila.
"David…. David…. Pelan…. Akhh…. Aaaaa….."
Dan dalam satu kali semburan David, Lily telah merasakan puncak sebanyak lima kali. David menekan seluruh tubuhnya saat dia menyemburkan benihnya.Â
Karena terlalu banyak, cairan putih kental itu sampai menetes keluar dari kewanitaan Lily. Mereka menetes semakin deras, apalagi David semakin meneka kejantanannya semakin dalam.
"Sudah… sudah…. Mary…. Marylin masih di sini," ucap Lily mengingatkan.
Saat itulah David mencoba menahan napsunya, dia mencium kening Lily. "Terima kasih, Sayang. Istirahatlah," ucapnya.
Saat David menarik kejantanaanya, seketika cairan putih kental itu keluar dengan deras dari kewanitaan Lily yang memerah akibat hentakan.Â
Kawanitaan Lily yang polos layaknya bayi, tanpa bulu satupun. Mulus, putih dan berwarna pink di bagian dalam. David menyelimuti istrinya. "Tidurlah…"
Sementara dirinya membersihkan diri sebentar sebelum berpakaian. David keluar kamar, dia mendapati Marylin tengah menonton TV sambil memakan sisa cemilannya.
"Marylin."
Marylin menatap horror. "Tuan? Dari mana saja kau?"
"Kenapa kau memakan keripik dan sodaku?"
"Ini hanya sisanya."
"Kau… gajimu dipotong 1 millyar bulan ini."
"Apa?! Tuan?! Kenapa?! Apa salahku?"
"Salahmu adalah berada di sini dan menggangguku."
Mengganggu yang David maksud adalah kebersamaannya bersama dengan Lily.
🌹🌹🌹🌹
David kembali sibuk dengan pekerjaannya, dia harus memimpin rapat dengan Via Video Call. Dan itu harus membuatnya bersiap siaga, dengan jas dan rambut yang rapi. David menghadap kamera menemui orang yang terhubung dari berbagai belahan negara yang berbeda.Â
Satu orang dengan keadaan malam, satu orang dengan keadaan yang pagi, dan yang lain bahkan ada yang sampai larut malam.
Semuanya tidak kondusif dikarenakan kejadian wabah yang tidak membuat semua orang senang.
Saat itulah Lily bangun, hal pertama yang dilihatnya adalah David yang memakai jas sedang bicara ke layar laptop di balkon sana. Sementara bagian bawah pakaiannya alalah boxer. Membuat Lily sedikit heran dan aneh dengan hal itu.
Bersamaan dengan dirinya yang memakai kaos bekas David, pria itu selesai Video Call.
"Sayang… kau bangun? Ingin makan?"
"Jam berapa ini?"
"Pukul delapan malam."
"Dan kau masih bekerja?"
David mengangkat tangannya, dia mendekat sambip berkata, "Resiko."
Lily masih mengucek matanya layaknya anak kecil, dia tidak memakai celana dan hanya diselimuti oleh selimut tebal.
David duduk di pinggir ranjang. "Kau ingin makan malam?"
"Kau sudah makan?"
"Aku memesan dari caffe di bawah."
"Aku akan masak sendiri," ucap Lily mengikat rambutnya.
Setiap David melihat adegan itu, membuatnya menelan ludah. Pasalnya Lily terlihat sangat menggairahkan dalam keadaan apa pun.
"Aku akan mandi dahulu."
"Ingin aku mandikan?"
"Kau belum mandi?"
David berdecak. "Aku sudah mandi, lihat aku sudah setampan ini."
Dan fokus Lily tertuju pada celana David. Dia tampak aneh, dengan jas dan celana pendek. Dari bagian perut sampai kepala, David terlihat elegan layaknya pengusaha. Namun, dari bagian perut ke bawah, dia terlihat seperti pria yang siap berlibur.
"Oh.. aku telah selesai memimpin rapat."
"Di jam seperti ini?"
David mengangkat bahu. "Tidak ada cara, keputusan harus diambil."
"Aku akan mandi sendiri," ucap Lily hendak berdiri, dia memakai kain putih untuk menutupi bagian bawahnya. "Kau selesaikan saja pekerjaanmu."
"Aku sudah selesai," ucap David memegang tangan Lily. "Yakin tidak ingin aku bantu? Jika saja mungkin kau ingin menggosok punggungmu?"
Lily menggeleng kuat, pasalnya dia tahu apa yang akan mereka lakukan jika mandi bersama.Â
"Oke, aku akan berganti pakaian. Mandi yang bersih, jangan merindukanku."
David melepaskan tangan Lily setelah memberikan ciuman di pergelangan tangan istrinya. Lily bergegas pergi, dia masuk ke kamar mandi. Membuka seluruh pakaiannya dan menuju westafel lebih dulu.
Dia menyikat gigi di sana, sampai Lily melihat seluruh tubuhnya tanpa penutup apa pun dari lewat kaca. Lily merasa beberapa bagian tubuhnya membengkak, seperti dada, bokong dan bibir. Bagian bagian itu agak membengkak besar.Â
Lily memegang perutnya, dia ingat David selalu memuntahkan banyak cairan di dalam sana. Membuat Lily bergumam, "Apa perutku akan penuh dengan cairan putih itu?"
Berhenti dengan gumamannya, Lily keramas di bawah air shower yang hangat. Dia merasa sanga rileks, apalagi dengan sabun beraroma menenangkan.Â
Dan setiap Lily memejamkan matanya, Lily ingat bagaimana ganas dan liarnya dia di atas ranjang ketika bersama David.
"Astaga… itu memalukan," ucap Lily memegang pipinya yang terasa panas.
Lily pikir, hidupnya akan didekasikan untuk bekerja dan bekerja. Menikah di umur 25 tahunan dan memiliki rumah sederhana.
Kenyataannya, belum juga genap 20 tahun, Lily sudah menikah dengan nasib yang seratus delapan puluh derajat terbalik. Hidupnya sangat berkecukupan, dan Lily memiliki suami yang selalu ada untuknya.
Ketika keluar dan hanya mengenakan handuk saja, saat itu David yang hanya memakai kaos dan celana pendek saja mendekat.
"Sayang…."Â
Lily tahu arti kalimat itu, dia segera mentatap dengan lesu.
"Sayang…"
"David… aku lapar," ucapnya dengan suara pelan.
David berhenti, dia menarik napas dan mengangkat bahunya. "Baiklah, buatkan untukku juga. Jika sekretarisku datang, biarkan dia masuk. Dia pria, jangan khawatir."
Lily mengangguk kaku, dia segera berpakaian dengan diawasi oleh tatapan David yang tidak kunjung berpaling.
Setelah selesai, Lily segera turun. Dia memasak untuk dirinya sendiri dan David. Sebelum masakannya siap, dia mendengar bel pintu berbunyi.
"Sebentar!" Teriak Lily mematikan kompor sebelum berlari kecil, dia melihat dari monitor seorang pria yang memakai masker. "Siapa di sana?"
"Saya sekretaris Tuan David, Nyonya."
"Sebentar."
Bersamaan ketika pintu dibuka, pria yang ada di balik pintu itu membuka maskernya.
Saat itulah keduanya bertatapan, Lily terkejut bukan main. "Kak Radit?"
"Tina?"
"Kak Radit!" Teriak Lily girang, dia bahkan memeluk pria itu antusias disertai dengan tangisan. Lily melakukannya spontan.
Saat itu pula, Radit membalas pelukan Lily dengan penuh haru. "Tina… astaga… kau sudah besar…"
Ketika itu, David turun dari lantai dua. Dia melihat keduanya saling berpelukan. "Lily? Apa ini?"
🌹🌹🌹
siapa sih Radit? nyampe Lily nangis gitu?
to be Continue... ha ha ha