Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Kabar



🌹VOTE YEE GAISS🌹


Suasana liburan terasa sangat bermakna untuk Lily, dia menghabiskan waktu berduaan dengan David. Anak anak selalu ke sana ke mari di temani Holland.


Seperti sekarang, anak anak ingin berenang. Karena mereka meminta David, jadi terpaksa pria itu turun ke danau dan berenang.


Sementara Lily melihat mereka dari dalam penginapan.


Tangan Lily mengambai saat melihat Athena di sana.


"Tunggu, dimana Ares?" Gumam Lily saat tidak mendapati Ares berenang di sekitar penginapan aquarium, di mana David dan Athena berada di dalamnya.


Lily mengetuk ngetuk kaca supaya David melihatnya.


"Dimana Ares?!" Teriak Lily dari dalam


David yang memakai tabung oksigen tidak dapat mendengarnya.


"Ares?! Dimana dia, David?!"


Tanpa diduga, David malah mengacungkan kedua jempolnya sebelum mengajak Athena berenang ke arah lain.


"Ya Tuhan, dimana Ares?" Gumam Lily panik.


Saat dia hendak menaiki tangga, seseorant turun dari sana. "Mom?!"


"Ares? Kenapa kau di sini? Astaga! Kau membuat Mommy khawatir," ucap Lily memeluk putranya begitu sampai di hadapannya. "Kenapa kau keluar dari air? Kapan?"


Ares yang memakai kimono handuk itu membalas pelukan sang mommy. "Ares ingin video call dengan Oma."


"Ya? Ingin Video call?"


Ares mengangguk.


"Apa ini alasanmu keluar dari air?"


Ares kembali mengangguk. "Aku tidak ingin Oma kesepian, Mom."


"Oke, berpakaianlah dulu dengan Nanny. Mom akan mempersiapkan Oma untukmu."


"Thank you, Mommy."


Ares mencium pipi mommy nya sebelum menemui sang pengasuh. Bukan tanpa alasan dirinya ingin menghubungi Oma. Ares ingat Oma merasa sangat kesepian sampai dia jatuh cinta dengan mantak sekretaris daddy nya. Sayang, Rio sudah meninggal yang membuat Oma semakin kesepian.


"Ares, Oma sudah terhubung!" Teriak Lily.


Seketika Ares yang selesai berpakaian itu lari. "Omaaaa!"


Oma yang ada dalam panggilan itu tersenyum. "Astaga, cicitku yang tampan. Apa kau senang di sana?"


"Yes!"


"Dimana Daddy dan adikmu?"


"Sedang berenang di danau. Apa yang Oma lakukan? Sudah makan?"


Oma tertawa di sana melihat perhatian cicitnya. "Oma baik baik saja jika kau bawakan Oma hadiah besar dari sana."


Ares mengangguk. "Apa yang Oma inginkan? Buaya?"


"Di dalam danau," jawab Ares yang seketika membuat Lily panik.


Ketika dia melihat ke arah kaca, seekor buaya lewat di sana. Kepanikan langsung melanda. "Holland! Holland! Suruh David keluar dari air! Holland!"


🌹🌹🌹


David diam saat dia dimarahi oleh Lily, jantungnya berdetak kencang merasa bersalah. Apalagi Lily sampai meneteskan air mata.


"David, itu buaya! Sifat alami mereka takkan berubah meskipun gigi mereka kau cabut semua."


"Maaf, Sayang. Sebenarnya itu hanya satu, itu peliharaan Holland. Dia jinak."


"Sejinak apa pun dia, aku tidak suka! Apalagi melibatkan anak anak. Bagaimana kalau mereka terluka?"


Sebenarnya buaya itu adalah salah satu dari percobaan David. Di mana hewan itu dipasang sejenis pelacak. Jika sensor mendeteksi mereka mendekati manusia dengan jarak lebih dari lima meter, maka akan ada setruman kecil sehingga mereka menjauh. David ingin membuat taman hewan di mana anak anak bebas tanpa rasa takut.


"Jangan ulangi lagi, David. Apa kau paham? Aku hampir jantungan."


David berdiri dan bersimpuh di hadapan istrinya yang duduk. David memeluk Lily dan mengubur kepalanya di perut istrinya. "Maaf, tidak akan aku ulangi lagi."


Lily menghela napas dalam, dia mengusap kepala David. "Bisakah kita pergi membeli oleh oleh besok?"


"Tentu, Sayang."


"Aku akan memeriksa anak anak dulu," ucap Lily ingin David beranjak dari pangkuannya.


David mengadah, tapi tangannya tetap melingkar enggan melepaskan Lily.


"David…..," ucap Lily pelan.


"Kau tidak akan mengabaikan pria tampan dan kaya ini bukan? Kau beruntung memilikiku, tapi aku akan lebih merasa beruntung memilikimu jika kau menciumku."


Lily tersenyum tipis.


CUP.


Dia mendaratkan kecupan di bibir suaminya.


"Terima kasih, Sayang." David melepaskan kukungannya. "Pastikan anak anak terlelap sampai dalam. Karena malam ini kita akan membuat adonan di bawah cahaya bulan."


"Astaga," gumam Lily malu sambil beranjak pergi.


Membuat David tertawa di sana. Saat David hendak menghubungi Holland untuk menarik kembali peliharaannya, ada telpon dari Oma.


David berdehem sebelum mengangkatnya.


"Hallo, Oma? Jangan katakan kau hampir mati karena merindukan anak anakku yang kaya? Juga diriku yang tampan dan selalu mengirimi Oma uang karena aku kaya?"


"Jangan bercanda sekarang, Bule tengik. Cepat pulang."


Saat itu pula raut wajah David berubah mendengar suara tegas Oma. "Apa yang terjadi Oma?"


"Dena meninggal."


🌹🌹🌹


TBC