
🌹VOTEE YEE GAISSSHHH🌹
"Sayang…..," gumam David yang memeluk Lily, dia menggesekan kepalanya di dada istrinya.
David sangat manja, membuat Lily terpaksa harus mengakhiri rasa marahnya.
"Ingin aku buatkan teh hangat?"
"Tidak, peluk aku."
Lily melakukannya, dia mengusap rambut suaminya penuh kasih sayang.
Dan saat itu pelukan David turun kr bawah, dia mencium perut Lily. "Wellcome, Darling. Aku ingat kapan membuatmu."
Lily kesal ingat kejadian tadi, dia menyentil kepala David.
PLETAK!
"Adaw," ucap David, dia mengadah menatap istrinya. "Sayang?"
"Kau melakukan itu padanya. Kenapa kau mengira aku badut? Jelas jelas ini kejutan untukmu."
"Maaf, Sayang. Aku hanya mendengarkan Ares dan Athena."
Lily diam, dia ingat jika David membuatnya kesal, kedua tentaranya selalu menyerang.
Tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya, David menggeleng. "Jangan, Sayang. Mendengar keributan mereka saja aku hampir meledak, bagaimana jika aku dipukuli dengan tangan mungil mereka?"
Lily berdecak.
"Apa mereka tahu?"
"Tentu saja aku tidak memberitahu mereka, bibir mereka ember bocor. Bisa bisa memberitahumu."
Memang Lily hanya mengatakan pada anak anak kalau perutnya sedang berkembang. Ares yang punya pemikiran lain mendeklarasilannya pada Athena, beruntung juga tidak memberitahu daddy mereka.
"Happy birthday, Sayang."
"Itu tiga minggu yang lalu," ucap Lily. "Aku 23 tahun tiga minggu yang lalu. Apa kau membawa hadiah?"
"Ya, tapi di Thailand. Kita akan berlibur ke sana."
"Kapan?" Tanya Lily antusias.
"Saat si kembar libur."
"Janji?"
"Janji, Sayang."
 "Terima kasih, David," ucap Lily mencium puncak kepala suaminya.
Yang mana membuat David cengengesan. "Apa kau tahu, aku merindukanmu dan juga ingin berkenalan dengan anak kita, Sayang. Boleh aku mengunjunginya? Memberi anak kita baloon supaya tumbuh lebih besar?"
Lily menatap manik suaminya yang penuh napsu, dia tidak bisa menolak. "Tapi kau baru pulang."
"Kau menyiapkan gaun polkadot ini untukku bukan?"
Lily mengangguk malu malu, meskipun menikah bertahun tahun, pipinya tetap memerah jika sudah berduaan dengan David.
"Jangan malu, Sayang. Suamimu yang kaya dan tampan ini adalah milikmu, kau tidak akan kehilangannya."
Lily mulai memejamkan matanya saat menerima sapuan bibir oleh suaminya. Menyalurkan kerinduan diantara mereka yang terpisah jarak cukup lama.
"David….," Ucap Lily malu.
"Tidak apa, Sayang. Suamimu yang tampan dan kaya ini juga pengertian. Ayo kita makan sesuatu supaya si mungil di dalam sana bersiap menerima kedatangan tamu."
"Tap--"
"Kali ini tidak akan terpentuk, Sayang. Aku janji."
🌹🌹🌹
Pagi hari, Lily terbangun dengan sebuah usapan di punggung telanjangnya.
"Selamat pagi, Sayang," ucap David begitu matanya terbuka.
"Kau sudah bangun?"
"Aku siap kau mandikan," ucap David mengingatkan Lily suaminya belum mandi sejak semalam.
Apalagi kegiatan sampai dini hari menguras tenaga. David tahu maksud tatapan istrinya, dia berucap, "Jangan khawatir, Sayang. Aku memakai hand body khusus agar tidak bau badan. Apa kau tahu? Saat di Thailand aku muntah mencium bau badanku, hal itu membuatku memasang pewangi supaya saat bangun tidur tidak bau."
"Keringatmu baik baik saja, tidak sebau itu."
"Tapi hidungku menciumnya dengan cara lain," ucap David. "Aku pikir itu keajaiban dunia aku muntah karena kerintatku sendiri, ternyata itu peringatan dari bayi kecil kita."
Lily segera menutup perutnya saat mata David kembali diwarnai gairah.
"Kau tidak akan pergi?"
"Akhir pekan ini milikmu, Sayang. Aku akan mengunjungi anak kita setiap saat."
"Tap--"
"Aku tahu kau bahagia dan merindukanku. Maka darinya aku menitipkan anak anak di rumah Oma sampai hari sekolah datang."
Lily menarik napasnya dalam, dia beranjak duduk untuk memungut gaunnya.
"Ingin mandi?" Tanya David.
"Aku lapar," jawab Lily.
"Sudah aku duga, aku membuat sesuatu untukmu."
David keluar dari kamar, dan tanpa diketahuinya Lily malah mengikuti.Â
"Sayang, kenapa kau ikut?"
"Aku tidak ingin sendirian."
"Ya Tuhan, kau sangat mencintaiku," gumam David membuat Lily menatap dengan wajah kebingungan.
Dengan jujur, Lily berkata, "Dena menelponku, David."
Saat itu juga David menatap istrinya. "Apa yang dia katakan?"
"Dia masih tidak suka aku," ucap Lily dengan berat hati. "Bahkan anak anak kita."
Saat itulah David mendekat, dia memeluk istrinya. "Kita ganti nomormu, dan memblokir semua hubungan dengannya. Dia tidak akan melukaimu dan anak anak, tidak selama aku masih hidup."
🌹🌹🌹
TBC.