
🌹VOTE🌹
Beberapa bulan kemudian...
Hari demi hari Lily jalani dengan penuh rasa bahagia bersama sang suami. David yang semakin perhatian. Kini tiap pagi David selalu mengajak Lily berjalan di taman bawah guna menjaga kebugarannya.
Kandungannya semakin besar dalam tubuh Lily yang kecil. Membuncit dan selalu membuat David gemas.Â
Pagi ini, mereka berjalan seperti biasanya. David mengajak istrinya berhenti sejenak di bangku taman. Melihat kaki Lily yang agak membengkak membuat David khawatir.
Dan Lily menyadari tatapan itu.
"Tidak apa, dokter bilang ini normal."
"Ini tidak norman untukku, Sayang. Aku merasa bersalah membuat tubuh cantikmu berubah demi mengandung anak anakku. Maafkan aku."
Lily terdiam, kali ini dia melihat David yang tidak narsis dan menjunjung harga dirinya. Dia melihat sosok lain, yakni David yang semakin dewasa dengan jiwa sebagai ayah.
"Bayi bayi Daddy tersayang, kalian harus lihat perjuangan Mommy. Saat besar nanti, cintai Mommy dengan tulus dan tanpa batas."
Lily tersenyum, dia mengusap surai rambut David yang halus.
"Ayo ke atas, kau ingin sarapan apa?" Tanya Lily.
"Sarapan apa pun aku makan, asal bersamamu."
"Gombal," guman Lily dengan tangan yang digenggam David menuju ke lantai atas. Sesampainya di apartemen, Lily segera menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Apa Mete akan ke sini lagi?"
"Tidak, kali ini aku yang akan ke sana. Aku lupa izin padamu, Oma bilang temannya akan datang ke mansion Oma untuk makan malam, dia meminta kita untuk bergabung. Bagaimana?" Tanya Lily penuh keraguan dan rasa malu. Sifatnya yang satu ini tidak bisa dihilangkan dari depan David.
Yang mana membuat David selalu gemas dengan suara pelan dan lembut milik istrinya itu.
"Tentu saja, Sayang, apa pun yang kau katakan."
David mengambil laptopnya untuk mengerjakan sesuatu di ruang keluarga, dia tidak ingin kehilangan setiap momennya bersama sang istri.
"David, kau ingin susu jahe?"
"Ya, buatkan aku itu," ucap David tanpa mengalihkan fokus dari layar monitor.
Lily yang selesai membuatnya segera menyimpan di meja, dia menatap suaminya yang sangat fokus. "Minum ini."
"Baik, sebentar."
Lily merasa David terlalu fokus, membuatnya memilih untuk tidak mengganggu.
Ketika sedang fokus membaca sesuatu, ponsel David berbunyi.
Tanpa melihat, David mengangkatnya. "Hallo?"
"Tuan, saya pikir anda harus pergi ke Amerika. Sesuatu terjadi di sana."
🌹🌹🌹
Lily turun dari mobil yang dikendarai oleh Nina. Dengan membawa sebuah papper bag berisi bahan makanan untuk Oma.
"Biar saya bantu, Nyonya."
"Tidak usah, Nina. Biar aku saja."
"Apakah anda perlu sesuatu yang lain?"
"Tidak," jawab LilyÂ
"Kalau begitu tolong hubungi saya jika anda butuh sesuatu."
Lily mengangguk, dia melangkah menuju mansion Oma untuk menyiapkan makan malam. Akan ada teman Oma yang makan malam di sini, Oma meminta Lily membantu mengingay dia bisa memasak makanan Sunda.
"Omaaa?"
"Masuklah, Lila."
Lily mendekat ke sumber suara, di sana ada Oma yang duduk di dekat meja dapur sambil memakan strawberry cream.
"Astaga, perutmu semakin besar."
Lily teresenyum, dia mengusap perutnya.
"Dalam beberapa bulan semuanya akan berubah bukan?"
Lily mengangguk. "Hanya dua bulan lagi, David akan memiliki bayi bayi nya."
"Aku tidak menyangka David akan memiliki anak, secara pikirannya masih seperti balita," decak Oma.
Lily hanya tersenyum, dia menyerahkan papper bag pada Eta. David memang kekanakan, tapi jika bersama Oma. Jika bersamanya, David seperti remaja yang baru jatuh cinta dengan sejuta kenarsisannya. Namun, jika bersama orang lain, di luar sana David sangat arogan dan ditakuti, dia terlihat seperti pria dewasa yang begitu dingin.
"Di mana David?"
"Dia akan ke sini nanti, ada pekerjaan yang harus dia bereskan bersama dengan Holland."
Lily mengerutkan keningnya, dia menggeleng pelan tidak tahu apa pun. "Tidak ada, memangnya kenapa, Oma?"
"Yah… biasanya jika mereka diskusi saat senja jika ada sesuatu yang penting."
Lily terkekeh. "Oma terlalu banyak khawatir."
"Apa yang sedang kau buat?"Â
"Pisang goreng, Oma. Lily ingin sekali memakannya."
"Biar saya saja, Nyonya Muda," ucap Eta.
"Tidak usah, biarkan aku bergerak."
Oma masih memakan cream strawberry sambil menatap Eta dan Lily yang sedang memasak. Oma masih menerka apa yang terjadi pada David. Jika tentang rumah, itu sudah selesai.
"Lila?"
"Ya, Oma?"
"Apa celana dalam itu benar benar David bakar?"
Lily diam, dia tidak tahu apa yang David lakukan pada celana itu. Karena saat itu, Lily enggan mencobanya. Celana itu berat, ditambah lagi David berargumen kalau Lily adalah hak nya.
"Apakah teman Oma akan datang sendirian?"
"Tidak, bersama suaminya. Sebenarnya bukan teman, dia adalah mahasiswi di tempat Oma mengajar dulu."
Lily tampak terkejut. "Oma dulu mengajar?"
"Hei, Lila! Jangan kau anggap Oma ini hanya bisa duduk. Oma dulunya adalah pengajar di universitas ternama, Oma banyak dipuja dan disukai oleh mahasiswa. Sampai Oma menikah, Oma berhenti mengajar."
Lily tersenyum mendengarkan Oma. Dia kembali fokus pada pisang goreng yang sudah matang.
"Oma mengajar apa dulu?"
"Ahh.. bukan hal yang mudah, Oma ini bergelar Profesor. Oma mengajar ilmu ekonomi. Keren bukan?"
"Itu sangat hebat, Oma."
Dan karena Lily kehilangan fokus, dia tidak sengaja menyenggol piring pisang goreng.Â
PRANK!!!!!
"Astaga, Lila! Hati-hati!"
"Biar saya saja, Nyonya Muda," ucap Eta mengejar pisang molen yang menggelinding terpencar.
"Lila, kau tidak apa?"
"Tidak apa, Oma." Lily mengambil piring lain. "Kumpulkan di sini dulu, Eta," ucapnya pada Eta yang masih mengejar pisag yang menggelinding.
"Astaga! Lantai itu baru saja di bersihkan dengan garam," gumam Oma menatap banyaknya pisang yang berjalan.
"Biar saya yang membersihkan kaca itu, Nyonya," ucap Eta menyimpan pisang yang jatuh di piring di atas meja.
"Lila kemarilah, biarkan Eta yang melakukannya."
"Baik, Oma."
Dan saat itulah David datang. "Sayang… aku datang. Astaga, apa yang pecah?"
"Kepalamu," gumam Oma menjawab.
"Ya ampun, kenapa Oma menjawab? Sayangku ada di sini," ucap David mencium pipi istrinya.
"Kau ingin mandi?" Tanya Lily.
"Ya, nanti saja. Aku akan istirahat di kamar."
"Ingin makanan?"
"Aku ingin ini," ucap David mengambil pisang di meja. Sepersekian detik dia memakannya, dan itu mendahului Lily dan Oma yang ingin mengatakan kebenaran.
"David…."
"Kenapa, Sayang?" Tanya David sambil menguyah pisag itu. "Pisang ini unik, agak asin dan berbau apek. Tapi enak," puji David karena tahu Lily sebelumnya akan mengatakan akan membuat pisang molen.
"David… itu… se--"
"Aku akan ke atas, tolong bawakan pisang ini juga ya."
Dan ketika David menaiki lift, Oma menatap Lily yang terlihat khawatir. "Tidak apa, Lila, sebelumnya David pernah memakan lontong tengik. Perutnya akan kuat. Dia menyukainya tadi, dia bilang apek dan asin, sudah jangan dipikirkan."
🌹🌹🌹
Tbc.