
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹EMAK SAYANG KALIAN SEMUA, JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK BUAT EMAK YA. AJAK JUGA YANG LAIN UNTUK MEMBACA NOVEL INI.🌹
Ares menatap terkejut, dia baru tahu ada sebuah museum di daerah ini. “Itu museumnya? Itu bangunan Belanda? Uhhh…, menakutkan, bagaimana bisa ada tempat ini?”
“Kau tidak tahu?” tanya Cantika.
“Oh…, ini mengerikan. Siapa yang mau datang ke sini?”
“Biasanya para pencari sejarah. Maka dari itu tidak ada yang mau bekerja di sini karena jauh dari keramaian, tapi Kakek menyukai sejarah dan tempat ini, dia banyak menghabiskan waktunya di sini,” jelas Cantika keluar dari mobil.
Dia kembali membuka payungnya karena gerimis belum berhenti, membuatnya menarik Ares untuk mendekat. “Awas kau akan kehujanan, Ares,” ucap Cantika.
Ares bahkan mengedikan tubuhnya saat memasuki tempat itu, sungguh sangat mengerikan dengan suasana film horror yang selalu ditonton Athena. Kenapa ada tempat seperti ini di kota ini?
“Ini menyeramkan,” gumam Ares, apalagi saat dia melihat seorang penjaga tua yang duduk di depan pintu. Rambutnya putih dengan tongkat di tangannya, pria tua renta itu tertidur sambil duduk menunduk.
Dan yang diketahui Ares, itu bukanlah sosok yang dicari oleh Cantika.
“Kek….,” ucap Cantika mengguncang tubuhnya pelan. “Kakek.”
“Huhhh?! Hah?! Apa?! Siapa?!” matanya terbuka dan melihat ke segala arah, dia terlihat panic dan linglung.
Yang mana hal tersebut membuat Ares menggedikan tubuhnya, kedua tangannya mengepal berada di dadanya dengan menatap nyalang dan berkata, “Menakutkan.”
“Saya bawa makanan untuk Kakek saya, ini Cantika. Ini untuk Kakek juga.”
Pria tua itu menerima bagiannya, jelas dia terlihat linglung. “Terima kasih, Arini.”
“What?” gumam Ares.
“Simpan bagian yang lain di dalam.”
“Baik, Kek.”
Ares menatap nyalang, apalagi saat kakek tersebut mulai menunduk kembali dan tertidur dengan begitu mudahnya. Bahkan dengkuran halus yang membuat Ares merinding kembali terdengar.
“Kau tidak ingin ikut masuk?” tanya Cantika yang membuat Ares segera melangkah masuk.
“Kau yakin Kakek itu manusia? Bukan dedemit?”
“Tenanglah, aku sudah sering ke sini.”
“Kengerian ini….., uh…., apa Kakekmu berjaga tiap malam? Kenapa dia mau menjaga barang barang ini? bagaimana jika ada setan yang muncul? Apalagi ini di tengah hutan.”
Gumaman Ares memenuhi pendengaran Cantika. Dia menengok sesaat dan melihat pria yang sedang mengedarkan pandangannya.
Selendang, kris, pakaian zaman dulu, tusuk konde dan benda benda kuno lainnya seolah mengintimidasi. “Apa ini kembang kantil Suzana?”
“Omaku selalu mengajakku marathon film itu,” ucap Ares yang masih melihat benda tersebut yang ada di dalam kaca. Dan saat berbalik menengok. “Akhhh! Kau mengagetkanku, Centini!”
Cantika tertawa. “Kau bahkan tampan saat terkejut, astagaaaaa,” gumamnya memuja.
“Dimana kau menyimpan makanan untuk kakekmu?”
“Di ruangannya di sana, ayo keluar.”
“Tunggu, itu ruangan apa?” jarinya menunjuk pada sebuah pintu kayu yang terbuka sedikit. Menampilkan celah satu centi yang gelap gulita.
“Kupikir itu gudang, ingin ke sana?”
“Jangan macam macam,” ucap Ares mencoba menahan tangan Cantika.
Tapi gadis itu melangkah ke sana dan mendorong pintu.
KRIEEEETTTTT….., begitulah suara yang dihasilkan.
“Oh, ini ruang bawah tanah, tidak ada apa apa kurasa.”
“Ayo pulang.”
Cantika yang penasaran itu menyalakan ponselnya, membuka aplikasi baterai untuk menerangi ke bawah sana. Karena penasaran, salah satu tangannya menahan diri saat dirinya condong ke dalam.
“Apa yang kau⸻”
“Akkkhh!”
“⸻Centini!”
Ares langsung berlari saat melihat Cantika jatuh berguling di tangga. Tangan Ares tidak sengaja mendorong pintu saat dirinya sudah di dalam.
BRAK! Suara pintu tertutup mengalihkan pandangan Cantika yang sedang mendesah kesakitan akibat lukanya, dia terkejut.
“Kau tidak apa? Tidak amnesia? Aku siapa? Apa aku masih tampan?”
“Ares…. Pintunya.”
🌹🌹🌹🌹🌹
 
 
TO BE CONTINUE