Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Minta Jatah



🌹VOTEEE YEEE GHAISSS🌹


"Mereka akan pulang hari ini!" Teriak Oma girang, dia menari ke sana ke mari hingga membuat Eta merasa ngilu melihat tulang tua rentanya yang terus berdecit.


"Nyonya…. Nyonya…..," ucap Eta mencoba menghentikan gerakan majikannya. "Tulang anda, Nyonya…."


"Santuyyy, Eta, kenapa kau sangat tidak santuy." Oma tetap berjoget mengikuti irama lagu jaran goyang dari radio yang ada di dekat ruangan makan. 


"Etaaaaaaa!" Teriak Oma dengan nada dangdut. "Naikan volumenya! Asek! Jaran goyang! Jaran goyang!"


Goyangan Oma semakin liar, membuat Sebastian yang baru saja datang terdiam kaget. Dia menarik napasnya dalam dengan memperlihatkan wajah seolah ilfeel. 


Sebelum akhirnya Sebastian membuka mantel hangatnya dan ikut bergoyang dengan Oma.


"Jaran goyang, Omaaaa!"


Oma yang belum sadar dengan kedatangan wajah itu malah menari bersama Sebastian.


Beginilah jika sudah kenal bagian dalam Luke, Sebastian dan David, mereka semua streess.


"Jaran goyang! Jaran goyang!" Teriak keduanya.


Eta menutup matanya, dia bahkan merasa malu melihat majikannya menari kuda lumping dengan Sebastian yang menjadi pawang.


Sampai akhirnya Oma sadar siapa yang menari dengannya. "Hei, kau bule tua."


"Hah?" Sebastian kelelahan menari. "Apa, Oma?"


"Etaaa! Matikan radio!"


Eta melakukannya. Saat itu Oma menatap tajam Sebastian yang melangkah menuju dapur dan minum. "Astaga, aku lapar, Oma. Kemarilah dan sarapan bersama."


Oma berdecak, dia menjitak kepala Sebastian sebelum duduk di sana.


DUK!


"Aduh sakit, Oma."


"Kenapa kau ke sini?"


"Kenapa? Karena aku takut Oma sarapan sendirian."


Oma berdecak. "Bilang saja kau tidak punya makanan, bule tua. Kenapa kembali ke sini? Bukankah orangtuamu memanggilmu ke Amerika?"


Sebastian mencoba tidak mendengarkan. "Oma kutuk kau menjadi tuli sungguhan."


"Oma, aku betah di sini. Supaya bisa makan bersama Oma."


"Alasan, kau tidak punya uang bukan?"


Sebastian berdecak. "Aku ingin bertanya, Oma."


"Kapan kau mati?"


"Astaga," gumam Sebastian sambil berdecak. "Tega sekali."


"Apa? Kau mau tanya apa?"


Sebasyian berdehem, dia mendekatkan kursinya pada Oma. Yang mana membuat Oma mengerutkan keningnya. "Jangan bilang kau bertanya apa Oma punya uang atau tidak. Apa kau benar benar bangkrut?"


Sebastian menggeleng. "Oma, kapal pesiar itu masih milikku. Ayahku hanya mengambil perusahaan yang dia buat."


"Ya, perusahaan ayah dan ibuku. Dia hendak memberikannya pada anak wanita itu."


Oma yang tahu permasalahan Sebastian itu mengusap rambutnya. "Semoga kau melambat menua, kapan kau menikah?"


"Itu dia yang ingin aku tanyakan, Oma. Kau sudah hidup lama. Apakah inisial N bagus untukku?"


"Astaga! Jangan bilang kau akan menikahi Nina!"


🌹🌹🌹


David memeluk kedua anaknya yang terlelap saat keluar dari pesawat. Dia memasuki mobil yang sama dengan istrinya.


Tidak kalah manja, Lily ikut menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Dia menarik napas dalam merasa lelah perjalanan, tangannya terus saja mengusap perutnya yang buncit.


"Tunggu sampai di rumah, aku akan mengusap perutmu, Sayang."


Lily tersenyum. "Apa yang sebenarnya anak anak katakan semalam?"


David diam, dia belum menceritakannya pada Lily karena dirinya ikut terpikirkan.


"David?"


"Maaf, Sayang."


"Kau melamun?"


"Mereka mimpi kalau kau meninggalkan mereka. Kau pergi membawa Baby."


"Astaga, mereka ini ada ada saja," gumam Lily sambil tertawa kecil. "Mana mungkin aku meninggalkan dua malaikat kecil ini. Lalu apa yang dikatakan mereka padamu?"


"Mereka ingin aku menjagamu."


Jika ada orang, contohnya supir yang mengendarai mobil saat ini, David memilih diam dan menahan diri melambungkan kenarsisannya. 


Hanya Lily dan orang orang tertentu saja yang bisa mendapatkannya.


Saat sampai di rumah, anak anak belum juga bangun. Membuat David sedikit kesulitan saat membawanya keluar.


"Apa butuh bantuan?" Tanya Lily.


"Bantuan? Yang benar saja, aku ini pria kuat, Sayang."


Lily terkekeh mendengarnya, dia mengikuti David masuk dan menidurkan mereka. 


Lily mendekat dan mencium satu per satu anaknya. Sampai akhirnya David memeluknya dari belakang.


"Aku mencintaimu," ucap David.


"Aku juga sangat mencintaimu."


Kalimat Lily membuat David melambung tinggi, dia menyeringai. "Tidak dapat dipungkiri, Sayang. Aku ini tampan dan sangat kaya juga baik dan aku adalah suami idaman. Tentu kau mencintaiku."


Lily berbalik menghadap David.


Pria itu menelan ludahnya kasar. "Bisa kita membuat adonan? Anak anak sudah tidur."


🌹🌹🌹


TBC