Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW  DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


"Samuel itu orang yang romantis, dia sangat penyayang dan sabar. Orang bilang dia playboy, tapi dia setia padaku," ucap Arin memejamkan matanya dan membayangkan hari hari yang telah dia lewati bersama dengan kekasihnya.


Yang mana imajinasi itu diruntuhkan seketika oleh Athena yang berkata, "Kalian baru berkencan selama beberapa minggu. Satu bulan juga belum."


"Ayolah, Thea. Jangan merusak imajinasiku, ini satu satunya cara agar aku bisa melupakan patah hati karena Ares. Rasanya begitu menyakitkan hiks… Ares bersama perempuan lain, bukan begitu Cantika?"


Cantika hanya mengangguk anggukan kepalanya. Kali ini dia benar benar tidak fokus. "Selama dia bahagia bukankah tidak apa apa."


"Memang benar."


"Dia sudah dewasa berhenti membicarakannya," ucap Athena yang kesal.


Athena benar benar malas. Maksudnya, heii Ares tau apa yang akan dia ambil dalam hidupnya. Terlepas itu baik dan buruk.


Sampai kaki Athena berhenti karena sampai di toko buku, berbeda dengan keduanya yang terus berjalan dengan tatapan sendu.


"Astaga, bagaimana jika satu sekolah tau Ares bersama Laura? Apakah akan menjadi lautan zombie?" Athena melangkah lebar dan memegang bahu kedua temannya kemudian menariknya untuk masuk ke dalam toko buku. "Kalian salah ruangan."


Mendorong pelan agar masuk ke toko buku tersebut. "Ayo, kita memilih buku. Cantika tolong pilihkan buku untuk aku memperdalam pelajaran kimia."


Cantika mengangguk, dia mengambil keranjang untuk buku buku yang akan dibeli Athena. Sebelumnya Cantika membawa sebungkus ayam KFC dengan Athena yang membayar, dia meletakan dahulu kantong kresek itu di dalam keranjang.


Karena Athena dan Arin berjalan lambat, itu membuat Cantika berjalan seorang diri mencari buku kimia yang bagus.


Sampai matanya menemukan beberapa buku yang menarik perhatiannya. Ada dua macam buku di sana, membuat Cantika memegang keduanya dan menimang mana yang akan dia beli.


"Yang mana ya? Keduanya bagus dan sangat membantu dalam pelajaran Kimia."


"Yang warna hijau lebih bagus."


Sebuah jawaban yang membuat Cantika menengok dan mendapati sosok pria tampan khas wajah Sunda di sampingnya.


"Oh hai Galuh, kau di sini juga?"


"Kau tertarik dengan kimia?"


"Sebenarnya tidak, aku tertarik dengan Biologi. Tapi keahlianku ternyata hanya di Kimia saja."


"Yang hijau lebih bagus, banyak zat baru dan penjelasannya."


"Tapi yang ini lebih bagus untuk pemula."


"Ini bukan untukmu?" Tanya Galuh.


"Bukan, ini untuk Athena."


"Ohh, ingin rekomendasi beberapa buku lainnya?"


Cantika menggeleng untuk menolak secara halus. Dia ingat Ares pernah memberikannya peringatan untuk tidak terlalu dekat dengan Galuh. Membuat Cantika penasaran apa yang terjadi.


Dan Galuh menyadari Athena yang tidak nyaman dengannya. "Kau dekat dengan Ares?"


"Kami bersahabat."


Keheningan melanda, mengingat Galuh juga memilih beberapa buku di rak yang sama dengan Cantika. Tidak tahan hanya diam, Cantika menatap Galuh.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Maaf, tapi aku benar benar penasaran. Apa yang terjadi antara dirimu dan Ares? Athena memberitahuku kalau kalian sebelumnya sangat dekat."


Galuh tersenyum. "Aku berbuat kesalahan, aku tidak tahu bagaimana caranya agar Ares memaafkanku."


"Apakah parah?"


"Cukup untuk membuat dia membenciku."


"Cantika!" Panggil Athena dari arah lain sedang mencarinya di antara rak. "Dimana kau?!"


"Disini. Aku pergi dulu ya, semoga kau bisa berbaikan lagi dengannya. Bye!" Cantika berlari mencari sosok Athena. "Aku dapat bukunya. Lihat, ini yang paling bagus."


"Oke, ayo ke kasir. Kita harus pulang," ucap Athena.


"Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Cantika bingung.


"Aku harus pulang, ada kerabatku yang datang. Kita mengantarkanmu dulu ayo."


"Tidak perlu, pulanglah lebih dulu. Aku bisa memesan grab sendiri. Sana pulang."


Athena terdiam, merasa tidak enak.


"Maaf ya," ucap Athena memeluk Cantika sesaat. Kemudian tatapan Athena beralih pada Arin yang sibuk dengan ponselnya. "Rin, antarkan Cantika ya."


"Iya, jangan khawatir," jawabnya sambil tertawa memandang layar ponselnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Cantika mendapatkan telpon dari Mamanya, yang mana membuatnya menghentikan langkah untuk sesaat dan mengangkatnya. "Hallo?"


"Cantika Sayang, kamu dimana? Ini sudah larut, Nak."


"Iya, Cantika sebentar lagi pulang," jawabnya menatap Arin yang sedang memilih berbagai kosmetik di rak.


Sadar kalau sahabatnya menghentikan langkah, membuat Arin mendekat dan bertanya tanpa suara, "Siapa?"


"Mama."


"Biarkan aku bicara sebentar."


"Huh?"


Tanpa meminta lagi, Arin mengambil ponsel Cantika. "Hallo, Mama? Maaf Arin sedang mengajak Cantika di gerai kosmetik. Setelah ini kami akan pulang. Mama jangan khawatir ya."


"Jangan terlalu larut, Nak. Kalian ini perempuan."


"Iya, Ma. Sebentar lagi saja. Terima kasih, Mama."


Kemudian panggilan tertutup. "Nah, sudah. Ayo aku tinggal membeli blush on."


Cantika tersenyum, dia tidak tega jika harus meninggalkan sahabatnya ini. Apalagi dia sangat antusias berbelanja dengannya. "Let's gooo!" Ucap Cantika penuh semangat.


Arin tidak bisa berhenti memuji Cantika, sosok sahabat barunya itu bisa dengan mudah berbaur dengannya. Bahkan sering kali Arin memberikan pujian dengan kalimat ;


"Kau sangat ceria."


"Bagaimana caramu bisa beradaptasi dengan mudah?"


"Kenapa kau mudah sekali tertawa?"


Sampai ketika Arin sedang memilih beberapa make up, seseorang dari belakang tiba tiba memeluknya. Yang membuatnya berbalik seketika. "Sam?"


"Holla, Sayang."


"Astaga! Kau bilang ada acara keluarga."


"Aku datang secepat yang aku bisa setelah acaranya selesai," jawab Samuel kemudian menatap gadis mungil yang sedang melihat lihat lipstik. "Yoo, Cantika. Kau akan berdandan?"


"Wah, Sam. Sejak kapan kau di sini?"


Keduanya bersalaman ala ala sahabat pada umumnya. "Baru saja, dimana pangeran berkuda besimu?"


Cantika menaikan alisnya bingung.


"Ares, kau pasti paham bukan."


Yang mana membuat Arin langsung berkata, "Kau tau? Ares pergi bersama Laura dengan mobil. Mereka sepertinya akan ke suatu tempat. Ck, aku iri."


"Hei, kita juga akan ke suatu tempat. Ada pembukaan pasar malam di dekat danau, ayo ke sana."


Mata Arin berbinar, kemudian dia menatap Cantika. Dimana gadis itu menggeleng dengan raut wajah bersalah. "Aku harus pulang. Maaf."


"Umm… tidak seru. Kalau begitu kita antarkan dulu Cantika ya, Sam."


"Tidak perlu, aku akan memesan ojek online sendiri, rumahku cukup jauh. Itu menghabiskan banyak waktu."


"Kau yakin?"


Cantika mengangguk, yang mana membuat sahabat perempuannya itu memeluknya erat. "Oke kalau begitu. Hati hati di jalan ya."


"Ajak Ares, Cantika. Kita mungkin bisa melakukan double date."


"Hei, kau harus mengajak Laura, bukan aku," ucap Cantika polos kemudian melambaikan tangannya menjauh.


Dia keluar dari gedung itu kemudian memesan ojek online melalui ponselnya. Tapi sayang, saat hendak menekan tanda pesan, ponselnya mati tiba tiba.


"Ah jangan  sekarang. Aduh bagaimana ini, mana ada ibu peri di sini," gumam Cantika yang baru ingat kalau ponselnya memiliki masalah baterai saat ini.


Sampai dia terpikir untuk kembali ke dalam dan minta dipesankan oleh Arin. Namun sayang, saat kembali ke dalam, dia tidak menemukan sahabatnya itu dimanapun.


🌹🌹🌹


TBC