
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Cantika tidak bisa melupakan kejadian tadi pagi, dimana Ares menjadi diam mematung. Apakah sahabatnya itu sakit? Apakah dia masih marah padanya?
Entahlah, Cantika bingung. Dia tidak ingin Ares sakit.
“Hei,” panggil Laura pada Cantika.
Membuat perempuan dengan rambut sebahu itu menoleh. “Iya?”
“Nomor lima, bisakah aku melihat jawabanmu?”
“Um… bukankah ini pendapat masing-masing?”
“Anggap saja sebagai imbalan karena pacarku Ares telah mengantar jemputmu.”
Kalimat itu membuat Cantika tidak berdaya, akhirnya dia memberikan bukunya pada Laura saat guru sedang keluar dari kelas.
Dia kembali melamun, memikirkan Ares.
Sampai seseorang datang ke mejanya.
“Cantika, maaf aku lupa. Tadi Ares menitipkan ini untukmu,” ucap salah satu anak perempuan memberikan bungkusan roti dan juga susu. “Dia bilang kau harus tumbuh dengan baik.”
Sontak, seluruh kelas yang mendengar mengatakan, “Ciiiiieeeeeee…. Cantika Cieeeee…”
Kemudian disusul dengan kalimat kalimat;
“Cantika kau pakai pellet apa? Kau hebat menarik perhatian Ares.”
“Cantika, kau akan menjadi legenda karena menarik perhatiannya.”
“Jangan lupa makan makan jika sudah jadi ya.”
“Selamat ya, Cantika. Kau berpacaran dengan Ares, pantas saja dia memperhatikanmu terus, kalian berpacaran ternyata.”
Yang sontak membuat Cantika menggeleng kuat. “Tidak, kami tidak berpacaran.
“Cieeeee.” Satu kelas kembali meledeknya.
Membuat Laura di belakang sana semakin geram karena tingkah teman temannya, sampai guru akhirnya datang, semua orang diam. “Ada apa?” tanya guru botak itu.
“Cantika sepertinya berpacaran dengan Ares, Pak.”
“Tidak, Pak. Kami bersahabat,” elak Cantika.
Yang membuat guru itu menyipitkan matanya kemudian berkata, “Pacaranlah dengannya, kemudian kau cuci otaknya supaya dia diam di kelas. Oke? Bapak mendukungmu, Cantika, tenang saja.”
🌹🌹🌹🌹
“Cerita sama gue lu kenapa?” tanya Samuel yang mendekati bangku Ares, dia menatap tajam sahabatnya yang lebih banyak diam ketika pembelajaran sedang berlangsung.
Bahkan guru pun bertanya, “Ares, apa kau sakit?”
Karena tidak biasa untuk sosok seorang Ares menjadi diam. Akan lebih normal jika dia berisik, menanyakan pertanyaan absurd dan tidur selama jam pelajaran. Namun yang mereka dapati kali ini, Ares malah melihat papan tulis dengan seksama, mengangguk patuh dan juga tidak membuat kebisingan.
Menarik teman temannya yang lain untuk betanya.
“Ares, kau tidak apa apa?”
“Apa ada masalah, Ares? Kau bisa cerita pada kami.”
“Bro, lu kenapa sih?”
Dan bahkan Ares tidak menanggapinya, dia diam menatap buku matematika tebal yang sebelumnya dipelajari.
Samuel berdecak, dia menatap anak anak lain untuk keluar dari ruangan. “Sana lu pada pergi, Ares butuh soulmate macam gue.”
“Dih najiis,” gumam mereka keluar ruangan kelas, meninggalkan Ares dan Samuel.
“Bilang sama gue, lu itu kenapa?”
Ares tetap diam. Hingga Samuel kesal dan menutup buku paket itu. “Ar! Lu kenapa, bangssat?!”
“Anjiir diem lu, gue mau ngalihin pikiran gue!”
“Pikiran adari apa?” tanya Samuel.
membuatAres menghela napasnya dalam. “Dari dia, gue gak bisa lupain dia. Dia kayak lagi lari-larian di otak gue, bikin gue pusing, Anjiir. Jadi gue belajar biar pusingnya dikalahin sama belajar.”
“Gak normal lu, bilang kenapa? lu ada masalah sama Laura?”
“Kok nyambung sama ntu sih,” ucap Ares kesal.
“Lah terus? Doi lu Cuma dia.”
“Hmmm…”
“Kenapa?”
“Hmmm… anu…”
“Apaan?!”
“Gue… suka sama Centini.”
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
BRAK! Samuel memukul meja dengan begitu keras. “Anjirr lu asli?! Suka sama dia?!”
“Heh! Emangnya kenapa? dia itu emang gak cantik! Tapi hatinya bersih! Dia itu punya hati bidadari! Lu gak tau aja gimana baiknya dia, sopannya dia. Lu mau jelek-jelekin dia hah?! Sini lu, Anjiir. Berani lu ngatain cewek gue hah?!” tanya Ares mencengkram kerah baju Samuel.
“Lah, emang udah jadi cewek lu?”
Seketika cengkramannya mengendur, Ares kembali duduk lunglai. “Belum…”
“Tapi lu mau dia jadi cewek lu?”
Bocah itu mengangguk lucu. “Mau.”
“Gue punya tips nya, mau denger?”
“Lu mau bantuin kagak sih?”
“Oke, karena Centini itu kulitnya cokelat, di⸻”
“Eksotis, Anjiir. Cewek gue eksotis!”
“Iya, cewek lu eksotis,” ucap Samuel menghela napasnya dalam.
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE