
🌹Ini bukan diulang ya, jika kalian nganggap ini diulang, silahkan baca bagian 76, asli itu chapter kelewat. malah loncat ke bagian ini, haha. maaf ya.🌹
Lily menatap apartemen yang dimaksud oleh Oma dan Eta. Apartemen kosong dengan satu kamar, satu kamar mandi, ruang televisi yang menyatu dengan dapur. Ini benar benar sempit untuk Oma, dia tidak bisa membayangkan Lily tinggal di aprtemen kelas menengah ke bawah.Â
Bangunan di sekitarnya pun tidak terlalu strategis.Â
"Maaf, Nyonya Besar, ini tempatnya."
"Lily Sayang, bagaimana kalau ki--"
"Tidak, Oma. David akan menemukanku. Aku akan tinggal di sini, ini kecil dan nyaman untukku."
Oma menarik napas dalam. Jalan menuju tempat ini melewati beberapa daerah perkampungan yang jauh dari keramaian, membuat David tidak akan menyangka.
"Eta, bagaimana dengan barang barangnya?"
"Mereka sudah sampai, Nyonya. Ada di bawah menunggu istruksi."
"Kalau begitu suruh saja di bawa ke mari."
Ketiganya menunggu di balkon kecil apartemen. Balkon yang minim, hanya berbentuk persegi tanpa hiasan apa pun. Berbeda jauh dengan apartemen David. Lily segera menghilangkan ingatan itu.
"Lila, apa kau yakin akan tinggal di sini?"
"Yakin, Oma. Tolong jangan hentikan aku."
"Oma tidak akan melakukannya," ucap Oma menggelengkan kepala. "Ini pilihanmu."
Orang orang datang membawa perabotan baru. Terdiri dari satu kasur, satu lemari, beberapa pakaian baru yang sederhana, kompor gas dan tabungnya, peralatan memasak, kulkas, mesin cuci dan sebagainya. Semuanya lengkap.Â
Oma juga memesan beberapa sayuran dan bahan pokok supaya Lily tidak keluar.
"Lily, kau membuang ponselmu?"
Lily mengangguk, karena kesal dengan foto layarnya yang menampilkan keseksian David, Lily membuangnya begitu saja keluar dari jendela mobil.
"Bagaimana ini, Eta? Sudah malam, kau bisa keluar membeli ponsel?"
"Tidak apa, Oma. Lily bisa membelinya sendiri."
"Sebenarnya, Nyonya Muda…" Eta menggantungkan ucapannya.Â
"Ada apa, Eta?" Tanya Lily.
"Katakan," ucap Oma menggertak.
Eta mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Ini adalah ponsel bekasku, setidaknya ini berfungsi dengan baik dan ju--"
"Tidak apa, Eta. Aku menyukainya, lagipula dengan adanya ini pria itu tidak bisa melacak keberadaanku. Terima kasih."
Oma menatap miris ponsel jadul bermerk nama buah yang hanya memili satu slot sim itu.
"Lily sayang…"
"Oma tidak apa, aku mohon."
"Baiklah," ucap Oma menarik napas panjang.
Setelah Eta selesai berbenah, mereka akhirnya berpamitan.
"Sayang…"
"Oma, tidak apa. Di sini ada televisi," ucap Lily menunjuk satu satunya benda peninggalan anak Eta.
"Maaf, Nyonya Muda."
"Berhenti mengatakan maaf, Eta."
"Kalau begitu Oma pulang dulu, Sayang."
"Baik, Oma."
"Jaga dirimu di sini."
Lily mengangguk dan memeluk Lily lama. Ingin sekali Oma membahas David, tapi ini bukan waktu yang tepat. Oma sendiri enggan untuk menemui David dan mendengar penjelasannya, membuat Oma kesal dalam hati.
"Jangan lupa hubungi, Oma."
"Baik, Oma."
"Sampai jumpa, Nyonya Muda."
"Sampai jumpa, Eta."
Oma menatap Lily, seolah enggan melepaskannya.
"Terima kasih, Oma. Lily akan baik baik saja di sini."
Oma menyeka air matanya, dia melambaikan tangan sebelum berjalan di koridor panjang di apartemen atau lebih tepatnya rumah susun yang agak elit. Mereka hilang di koridor, membuat Lily segera masuk ke dalam.
Sebuah ruangan kecil, dan tidak ada barang mewah seperti sebelumnya.
Lily meyakinkan dalam hati bahwa semuanya akan baik baik saja. Setidaknya berada di sini dia akan tenang.
Sebelum merebahkan diri, Lily memasak untuknya. Dan tanpa dia sadari, dirinya memasak kerang kesukaan David. Setelah selesai memasak, Lily memanggil, "David makanannya siap, turunlah."
Lily berjongkok menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku tidak bisa melupakannya, dia terlalu banyak mengendalikan. Tuhan, maafkan aku membawa jalan ini. Aku membencinya saat ini."
🌹🌹🌹
Lily terbangun dari tidurnya, dia menatap jam. Ini sudah pukul enam pagi. Lily segera bangun, dia hendak menyiapkan sarapan untuknya dan mulai mencari pekerjaan.Â
Beruntungnya, anak Eta juga meninggalkan laptop yang sebagian layarnya sudah retak. Setidaknya itu membantu Lily dan menemaninya di kala sendiri.
Ketika Lily hendak membuat sup, dia mendengar seseorang baru saja berdiri di depan pintu masuk.
"Siapa di sana?" Tanya Lily.
Tidak ada jawaban. Dan saat Lily keluar, tidak ada siapa pun di sana. Hingga akhirnya Lily sadar, itu adalah pengantar makanan. Oma yang memesan pada pedagang setempat untuk membawakan Lily bahan makanan dan bahan pokok setiap pagi, yang terdiri dari beras, daging, sayuran dan buah buahan. Oma kemarin meminta untuk membawakan hal yang berbeda setiap harinya.
Lily mengambil papper bag itu, di dalamnya ada beras merah, daging sapi, brokoli dan sawi, juga buah naga dan alpukat.
"Wow, selamat makan anak anak mama."
"Tina?"Â
Lily menoleh seketika, dia terkejut melihat keberadaan pria yang dia kenal. "Kak Radit?"
"Astaga." Radit yang baru selesai olahraga mendekati Lily. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku tinggal di sini."
Radit terlihat bingung, tapi dia tidak ingin menyinggung Lily.
"Kakak tinggal di sini?"
"Ya, aku di sana." Tunjuknya pada pintu di samping Lily.
"Astaga, kita bertetangga."
"Ya, astaga, Tina… aku mencium aroma masakan."
"Aku sedang memasak, aku akan mengirimkannya padamu nanti."
"Wow, benarkah? Aku diundang sarapan?"
"Tidak, aku yang akan mengirimkannya padamu."
"Baiklah, berikan salamku pada suamimu, Tina. Aku akan mandi dulu."
Setelah Radit pergi, baru Lily sadar bahwa alasan dia melarang Radit masuk karena dia pikir David ada di dalam. Lily kembali masuk, dia termenung. Hari harinya terlalu lekat dengan David, bahkan sampai saat ini. Membuat Lily tanpa sadar menangis kembali, dia selalu ada dalam setiap bayangan. David selalu datang begitu saja.
Lily menyeka air matanya, dia mencoba fokus dengan kembali memasak lalu pergi ke apartemen Radit. Di sana dia melihat pria itu sudah rapi.
"Kau mau masuk, Tina?"
Lily merasa tidak etis jika masuk ke apartemen seorang pria sementara statusnya masih menjadi istri orang lain.
Seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Lily, Radit mengatakan, "Aku akan membukakan pintunya."
"Baiklah."
Lily menyimpa sup yang dia bawa. "Kakak mau ke mana sudah rapi?"
"Bekerja."
"Bekerja di mana?"
"Aku kini banting stir menjadi seorang fotographer."
Lily menunduk malu mengingat David memecatnya. "Kakak tinggal di sini sudah lama?"
"Kenapa? Tempat ini jelek?"
"Jika tempat ini jelek aku tidak akan tinggal di sini, Kak."
Radit terkekeh. "Sebenarnya tempat tinggalku berpindah pindah, kebetulan aku sedang menyewa tempat ini untuk kebutuhan pekerjaan."
Lily diam mengerti.
Hingga akhirnya rasa penasaran Radit tidak bisa di tahan. "Tina, apa yang kau lakukan di sini?"
Dan saat itulah Lily mulai menceritakan segalanya, sampai dia menangis dan terseguk seguk.
"Tina, kau seharusnya tidak pergi. Kau harus menyelesaikan masalahmu dengannya."
"Aku membencinya, Kak. Dia hanya memanfaatkanku sebagai bahan taruhan."
Radit terkekeh. "Jika itu terjadi, dia tidak mungkin datang ke rumahku dan memintamu secara baik baik."
"Apa?"
Radit menarik napasnya. "Ingat saat Tuan David menyelipkan sertifikat pernikahan kalian? Dia membawanya ke rumahku, dan aku pikir dia akan marah padaku atau menyuruhku menjauhimu. Ternyata, dia bilang dia akan menjagamu, dia tahu kau menganggapku sebagai kakak sendiri, maka dari itu dia memintamu dengan baik, dia akan menjagamu dan menggengam tanganmu selamanya. Dia menjanjikan sesuatu yang tidak setiap pria lakukan, dia ingin hidup bersamamu, Tina."
🌹🌹🌹
to be continue...