
🌹ayo ajak temen yang lain ya guys🌹
"Selamat pagi, Sayangku," ucap David menarik pinggang Lily supaya jarak mereka berdekatan.
Lily yang belum sadar sepenuhnya itu menggeliat, berbalik ke arah David lalu memejamkan matanya lagi. Lily baru tidur beberapa jam semalam, dia tidak bisa menutup matanya saat mengingat dirinya hamil.
"Bangun, Sayang, ini sudah siang."
Lily menguap lebar, dia malah bersandar di dada David dan memejamkan mata semakin rapat.
"Sayang…."
Lily masih diam, membuat David heran dengan keadaan Lily yang akhir akhir ini malas bangun dari tidur. Lily selalu saja memejamkan matanya, dan sulit bangun.
"Sayang…., Kau boleh tidur lagi, tapi lepaskan aku, aku akan mandi."
Lily menggeleng tanpa sadar, dia malah memeluk dada David semakin erat.
David terkekeh. "Sayang… aku tahu kau tidak bisa hidup tanpaku, tapi aku harus mencari uang untukmu."
Lily masih belum melepaskan pelukannya.
Membuat David mengeluarkan jurus, yaitu ******* dalam bibir Lily dan memangutnya sampai akhirnya Lily membalasnya, tidak lama setelahnya matanya terbuka.Â
"David… jam berapa ini?"
"Sudah jam delapan, Sayang."
"Apa?" Lily terkejut, dia melihat jam di nakas. "Kenapa tidak membangunkanku?"
"Kau tidak kunjung bangun."
"Kau akan ke kantor bukan? Ayo berdiri dan mandi."
"Sayang…." David duduk dan memberi ciuman di pipi Lily. "Aku tidak perlu dimandikan, kau kembali saja tidur lagi."
David beranjak dengan hanya mengenakan boxer, dan Lily segera menyusulnya ke kamar mandi. Di mana dia sedang menggosok gigi di sana.
"Kau tahu jika kita mandi bersama aku akan berakhir dengan memakanmu."
Lily berhenti mendekat. "Aku akan menyiapkan sarapan."
David menyeringai melihat kepergian istrinya.
Lily dengan cekatan menyiapkan sarapan, dia memasak dengan bahan utama sayuran. Sebagai pelengkap, Lily hanya menyajikan sambal goreng ati sapi, itu pun di porsi sangat sedikit. Karena menurut Lily yang penting adalah sayuran.
Tidak seperti biasa, Lily merasakan mual yang begitu berat. Lily berlari ke kamar mandi saat mencium aroma sambal, dia memuntahkan cairan bening dari dalam mulutnya. Sesuatu dari dalam perut ingin dikeluarkan, tapi kenyataannya tidak ada apa pun yang keluar. Namun, rasa mual tetap menyerang.
Lily berada di kamar mandi cukup lama, dan saat itu David yang selesai berpakaian turun menuruni tangga. Saat itulah dia mencium aroma terbakar.Â
Dan melihat wajan yang mengeluarkan asap, otomatis alat pemadam api mengeluarka air dan membunyikan bel. David seketika berlari mematikan kompor listrik. Membuat alarm terhenti, begitu pula dengan airnya.
"Sayang?" Teriak David mencari keberadaan istrinya.
Saat itulah Lily keluar, dia melihat apa yang terjadi. Wajahnya panik, dia masih memegang mulutnya akibat muntah, wajahnya basah akibat mencuci wajah.
"Astaga, David maafkan aku." Lily berjalan mendekat.
Sayagnya, mencium aroma sambal membuatnya ingin muntah lagi, Lily kembali berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semuanya.
Seketika David mengejar. "Sayang, apa ka baik baik saja?"
Lily memuntahkan apa yang tidak ada.
David yang siaga segera memijat bagian punday istrinya dengan pelan. "Sayang…. Keluarkan saja, tidak apa."
Lily membasuh westafel, dia mencuci wajahnya kembali lalu mendudukan diri di atas closet.
"Aku rasa kau masuk angin, kita ke dokter sekarang."
"Tidak, David. Kau pergilah bekerja, aku tahu kau ada rapat penting hari ini."
"Tidak sepenting dirimu."
"Aku akan ke dokter, bersama Oma. Jangan khawatir, pergilah."
David menarik napas dalam, dia kalah pedebatan yang membuatnya mencium kening Lily. "Aku akan memasak."
"Pesan saja dari bawah, kau sudah rapi."
David menatap dirinya sendiri yang memang sudah memakai jas. "Aku tidak keberatan."
"Aku keberatan, aku tahu rapatmu pagi ini."
Karenanya, mereka memesan dari restaurant di bawah. Lily yang masih enggan mencium aroma sambal memilih makan di ruang televisi, dan David hanya mengikuti. Tidak ada kecurigaan sedikit pun pada David tentang kehamilan Lily.
"Aku pulang agak terlambat nanti."
"Tidak apa."
"Jangan berbenah dulu, istirahat, aku akan menyuruh Holland mencari jasa pembersih."
"Baik."
David makan terburu buru, dalam hitungan menit dia sudah selesai. Dan itu membuat Lily juga bergegas, dia mengantarkan David ke pintu depan.
"Diam di sini."
"Baik."
"Jika butuh apa apa hubungi Holland."
"Iya."
"Ehem."
Lily diam, sudah lama David tidak menggunakan kode itu, biasanya dia meminta langsung.
"Ehem ehem ehem."
"David…"
"Apa? Ayo cium aku."
Lily menggeleng. "Aku belum sikat gigi, aku baru saja muntah."
"Aku tidak peduli," ucap David hendak mencium Lily. Sayangnya Lily menutup mulutnya dan menggeleng.
David mengangkat bahu. "Aku tidak peduli," ucapnya lalu mencium tangan Lily yang menutupi bibir.
"Oke, aku pergi."
🌹🌹🌹
"Lily?" Oma menekan kembali bell apartemen. "Lily?"
Dan saat Lily membuka pintu, dia tertawa, "Lily hamil, Oma!"
"Aaa aaaaa aaaa!" Oma berteriak lalu memeluk Lily erat, Eta yang melihat itu hanya tersenyum.
"Sudah ke dokter?"
Lily menggeleng. "Lily baru memakai test pack kemarin malam."
"Kenapa tidak langsung ke dokter?"
"Apa?"
"Oma ingin lihat test pack nya?"
"Mana itu?"
"Masuklah dulu, Oma."
Eta dan Oma masuk dengan membawa berbagai macam makanan sehat untuk Lily. Ketika Lily naik ke lantai dua, Oma melihat apartemen mulai berubah. Ada banyak tanaman hidup di beberapa titik, membuat Oma tersenyum melihat perubahan besar ini.Â
Awalnya, David tidak suka perubahan pada diri sendiri. Semula Oma melihat David dengan hidupnya yang sederhana dan tanpa warna. Namun, kini hidup David mula berwana. Ada tanaman hidup yang mewarnai, mempercantik ruangan dan membuat apartemen ini nampak hidup.
"Lihat, Eta, cucuku mulai berubah."
"Saya melihatnya, Nyonya."
"Ya, ini alasannya aku sangat menyayangi Lily."
Eta tersenyum melihat majikannya bahagia. "Anda ingin teh hangat, Nyonya?"
"Buatkan aku jahe dengan gula merah, buatkan ramuan herbal untuk kehamilan Lily."
"Baik, Nyonya."
Sambil menunggu Lily, Oma menuju balkon lantai satu, di mana ada taman di sana, yang lebih luas dari lantai dua. Oma duduk di sofa empuk di sana, menunggu Lily seorang diri.
"Oma, ini dia hasilnya."
Oma melihat apa yang diperlihatkan Lily dalam kotak. Sebuah test pack dengan garis dua. Oma terharu, dia menangis menatap Lily.
"Oma… jangan menangis," ucap Lily merangkul Oma dan menyimpan kotak itu di meja.
"Sudah, Oma."
Kenyataannya, Oma malah semakin kuat menangis.
"Oma…. Jangan menangis lagi."
"Oma sangat bahagia, ini akan menjadi hadiah terindah untuk David."
Lily ikut tersenyum bahagia, dia merasa mendapatkan kehidupan yang baru, memulai semuanya bersama David.
"Oma…"
"Sayang, ada satu yang kurang."
"Apa itu, Oma?"
"Eta!" Teriak Oma memanggil tangan kanannya.
"Sebentar, Nyonya Besar. Hampir selesai."
"Aku ingin kau ke sini dulu!" Teriak Oma.
Membuat Eta bergegas datang dan mendekati keduanya. "Ada apa, Nyonya Besar?"
"Panggil dokter kandungan wanita, bawa alat pemeriksaan ke sini. Tapi pastikan tidak ada yang tahu sampau ulang tahun David beberapa hari lagi."
"Baik, Nyonya Besar."
Setelah kepergian Eta, baru Lily mengatakan, "Oma, kenapa tidak kita saja yang keluar?"
"Kenapa harus keluar dan menghabiskan tenaga sementara kita punya banyak uang untuk memanggil mereka."
Dan karena itulah Lily tau dari mana asalnya kearoganan David. Dia hanya diam.
"Apa kau mual?"
"Ya, beberapa kali dalam sehari."
"David curiga?"
"Dia mengira aku masuk angin dan menyuruhku memanggil dokter, tapi Lily bilang yang Lily butuhkan adalah pelukan."
Oma menahan tawa dengan kekehan. "Lalu apa yang dia katakan?"
"Dia memeluk Lily seketika."
"Kalian bertempur semalam?"
Lily diam merasa malu.
"Benar kan?!"
"Tidak, Oma. Sudah dua malam David menahannya, karena Lily merasa pusing dan tidak enak badan."
"Bagus!" Oma semakin suka pada Lily. "Oma suka David mulai menurut!"
"Oma…."
Tidak lama kemudian, Eta datang dan memberi informasi, "Dokternya tiba, Nyonya."
"Bagus, kami akan ke sana."
"Bagaimana dengan jahe hangat anda, Nyonya Besar?"
"Sebentar, Lily lebih dulu."
Kini bahkan Oma yang menuntun Lily menuju dokter kandungan yang membawa dua perawat dengan berbagai alat.
"Oma, tidak usah menggandeng Lily."
"Tidak apa."
"Nyonya Besar," ucap wanita yang diyakini Lily sebagai dokternya.
"Hallo, ini istrinya David."
"Oh, beliau sudah punya istri?"
"Ya, dia sedang mengandung, kami ingin melihat janinnya."
"Silahkan berbaring di sini, Nyonya Muda."
"Baik."
Lily mengikuti semua instruksi, dia menatap Oma yang tidak berhenti tersenyum. Apalagi saat monitor mulai memperlihatkan isi kandungan Lily.
"Bagaimana, Dok?" Tanya Oma.
"Janinnya berkembang dengan baik, usianya masih rentan yaitu tiga minggu."
Lily tersenyum dengan air mata yang hampir tumpah.
"Dan selamat, Nyonya Muda. Anda akan mendapatkan dua bayi sekaligus."
Oma tertawa bahagia. "Terpujilah, Tuhan. Lila kau akan menjadi seorang ibu muda."
🌹🌹🌹
to be continue..
ha ha ha ha ha.