
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Sesuai keinginan dari Ares, Cantika sekarang sedang melangkah menuju ke parkiran. Seharian ini, dia terus diledek teman temannya, mereka menggodanya dengan memberi ucapan selamat. Bahkan sekarang ini Cantika menghindari Arin dan yang lainnya demi tidak mendapatkan pertanyaan yang membuatnya malu.
Namun juga, tidak sedikit yang memberikannya tatapan sinis, seolah mengatakan, ‘Hei, dia tidak cantik. Kenapa Ares bisa jatuh cinta padanya?’
Namun Cantika mengabaikannya, dia memilih untuk melangkah menuju parkiran, sampai akhirnya manik Cantika mendapati Ares yang sedang bicara dengan pelatih basket.
“Woaaah, pacarmu datang, Ares,” ucap Sang pelatih saat melihat kedatangan Cantika. “Hallo, Cantika, tolong datang ke pertandingan ya, supaya Ares lebih semangat. Dan suruh dia membelikan AC baru, hehehe.”
Cantika hanya tersenyum, semua orang kini mengenalinya. Padahal sebelumnya, tidak ada guru yang tau namanya.
“Bapak tinggal ya, awas kalau kalian mainnya salah.”
“Tenang, Pak. Saya sebagai orang yang paling dewasa akan membimbing Cantika.”
“Halah matamu,” gumam pelatih itu. “Tonjok aja jika dia bertingkah, Cantika. Hahah! Bapak tinggal dulu ya.”
“Iya, Pak.”
“Dari tadi napa,” ucap Ares yang mana membuat Cantika menepuk tangannya kesal.
Ares hanya terkekeh dan memandang Cantika sambil tersenyum, sungguh lucu perempuan di depannya. “Iya ‘kan? Kita pacaran kan?”
“Iya,” ucap Cantika pelan.
“Apa? Aku tidak dengar?”
“Iya, kau bilang tidak menerima penolakan.”
“Benar sekali. Ah, kekasihku. Kemarilah, biarkan kau mendapatkan energy dari pria tampan ini,” ucap Ares merentangkan tangannya hendak memeluk Cantika.
Namun, perempuan itu mendorong dada Ares sambil melotot kesal. “Jangan seperti ini, ayo pergi dari sini.”
“Di luar nanto boleh?”
“Ares, banyak mata menatap kita, ayo segera pergi dari sini.”
“Centini, kau tidak sabaran,” ucap Ares sambil berdecak. Sesaat kemudian dia menyisir rambutnya ke belakang, kemudian berkata, “Tidak aneh, aku pria tampan dan sekarang aku pacarmu. Pakai helm ini, ayo kita berangkat.”
Cantika mengulum senyumannya, dia juga tidak bisa mengontrol detak jantungnya. Pacar? Pria tampan ini pacarnya? Oh, Cantika ingin menenggelamkan dirinya sendiri. ares adalah pujaannya sepanjang masa.
🌹🌹🌹🌹
Menunggangi kuda besi, Cantika membiarkan Ares membawanya ke jalan yang belum pernah dia lewati. Kini ada perasaan yang berbeda. Jika dulu dirinya mencoba mengabaikannya dan tidak mempermasalahkannya, tapi kini Cantika menikmatinya.
“Ares, kita akan kemana?”
“Suatu tempat, Centini.”
“Kemana?”
“Jangan banyak tanya, aku lapar dan sedang menuju rumah makan yang enak tempat Mommy-ku. Nanti kita jalan jalan jika sudah makan, kau harus tumbuh, kau masih bocah.”
“Dia mengantarkan Oma ke Bandara, dia ingin tinggal di tempat kelahiran suaminya.”
“Wah, apa kau juga?”
“Aku? Tidak, aku akan di sini. Yang lainnya juga.”
“Oh, benarkah?”
“Kenapa? kau takut akan ditinggal?”
“Tidak,” ucap Cantika malu malu.
Yang mana membuat Ares semakin gemas dengan kekasihnya itu, dia ingin menggigitnya dengan kuat. “Kau menggemaskan, Centini,” gumamnya menahan gemeltuk gigi.
Sampai akhirnya motor itu terparkir di depan sebuah rumah makan yang dikelilingi pohon rindang, Cantika terpana melihat tempat sejuk seperti ini. “Wahhh…, masih ada tempat seperti ini ya?”
“Ck ck ck, kau perlu bermain denganku lebih sering,” ucapnya menggenggam tangan Cantika saat mereka turun, kemudian membawanya melangkah menuju ke dalam. “Tunggu di sini, aku akan memesan.”
“Baiklah.”
Cantika duduk di lesehan, yang langsung menghadap ke sebuah perkebunan karet di bawah sana. Menunggu Ares sambil melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Entah kapan Cantika merasakan perasaan yang begitu penuh, seperti sekarang ini.
“Berhenti melamun, kecuali rencana untuk kencan.”
“Hah? Memangnya kita akan kemana?”
“Aku tidak tau.”
“Bukankah kau yang mengajaku?” tanya Cantika heran. Karena seharusnya Ares mungkin sudah mempersiapkannya.
“Ya, tapi aku tidak suka menerka-nerka, Cantika. Jadi katakana apa yang kau suka,” ucap Ares duduk di samping Cantika dan menatap perempuan itu lekat.
Yang mana membuat Cantika langsung gugup, berhadapan dengan manik yang sangat indah, dan wajah yang tampan membuatnya malu.
“Tarik napas, Cantika. Tarik napas, kenapa kau tidak bernapas? Kenapa diam saja? tenang saja, ketampananku hanya untukmu. Tarik napas ayo.” Ares sedikit panic.
“Jangan menatapku seperti itu kalau begitu, aku malu,” ucap Cantika memalingkah wajahnya.
“Eiiii, kekasihku ini malu? Coba pandang lebih lama supaya kau terbiasa.”
“Tidak mau.”
“Ayo cepat.”
“Tidak usah.”
“Centini.”
Cantika pun melakukannya dengan bibir mengerucut, dia memandang Ares. Dan kini, giliran Ares yang dilanda oleh perasaan itu. “Ja… jangan menatapku seperti itu, Centini.”
🌹🌹🌹🌹
TBC