
🌹Vote ya ghaisss🌹
🌹Ajak yang lain baca ini ya Ghaissss🌹
🌹Jangan lupa follow ige emak ya ghaisss : @Redlily123🌹
🌹Selamat membaca ya Ghaissss🌹
“Bas! Bangun!” teriak David untuk yang kesekian kalinya.
Tidak kunjung bangun, David memeriksa pakaian Sebastian dan Luke untuk mendapatkan ponsel, tapi dia tidak mendapatkan apa apa. Setelah mencari ke beberapa penjuru, tetap saja ponsel itu tidak kunjung ditemukan.
“Bas! Luke! Kalian mati? Ayo bangun!”
Keduanya malah terlelap semakin dalam dengan suara tidur yang nyenyak, yang membuat David menarik kuat rambut Sebastian sekali tarikan.Â
“Aaaarrrgggghhhhh!” teriak Sebastian, dia membuka matanya seketika dan menatap David yang berada di belakangnya. “Apa yang kau lakukan?!”
“Lihat sekelilingmu!” saat itulah Sebastian melihat sekeliling. Dan tanpa diduga, dia malah berdecak lalu mengatakan, “Ini masih mimpi ya?”
Kesal dengan sikap temannya, David kembali menjambak Sebastian.
“Aaarrrrrrggghhhhh!” matanya kembali terbuka dan menatap sekeliling. “Ini bukan mimpi?”
“Kau pikir apa?”
Seketika Sebastian keluar, dia terekejut bukan main melihat sekeliling yang hanya ada pohon pohon lebat. Kenapa mereka bisa ditengah hutan?
Dia kembali menatap David yang ada dalam mobil. “Apa kau memikirkan sesuatu yang sama denganku?” tanya Sebastian.
David mengangguk. “Ya, aku pikir ada hantu yang kita singing dan membuat kita datang.”
“Apa kau bodoh?” tanya Sebastian. “Pasti pembunuh berantai membawa kita kemari.”
“Pembunuh berantai?” tanya David tidak percaya dari dalam mobil.
“Lalu apa lagi? Itu yang paling masuk akal. Cepat berikan ponselmu.”
“Ponselku mati, kenapa tidak memakai ponselmu saja?”
“Apa kau pikun? Semalam saat berpesta dilantai dansa kau menginjak ponselku sampai remuk.”
David diam, dia tidak pernah semabuk itu hingga tidak ingat apa pun. Termasuk bagaimana mereka bisa sampai di hutan dengan mobil jelek.
“Cepat cari punya Luke.”
“Tidak ada, aku sudah mencarinya sejak tadi.”
“Cari dengan benar,” ucap Sebastian di luar mobil, dia berjongkok kesal sambil mengusap wajahnya.
“Aku bilang tidak ada.”
“Kalau begitu bangunkan dia. Dia yang ada di kursi pengemudi, mungkin dia yang mengendarai mobil ke sini dengan ditodong penjahat.”
“Kenapa kau berfikir penjahat?”
“Lalu hantu itu lebih masuk akal? Mobil kita dimana? Apa hantu menjualnya?”
David diam, dia tahu berdebat dengan Sebastian saat temannya dalam posisi marah selalu menang.
“Cepat bangunkan dia.”
David menurut, dia membangunkan Luke dengan cara dia membangunkan Sebastian. Namun itu tidak mempan sama sekali, sekuat apapun David menarik rambut Luke, dia tidak terlelap.
“Lihat! Dia tidak bangun! Pasti sesuatu roh membuatnya tetap terlelap!”
“Lalu kenapa kau meminta aku membangunkannya jika tahu?!”
Sebastian diam, dia menarik napas dalam. Dan nada suaranya mulai pelan. “Kenapa kau tidak keluar dari mobil?”
“Ada ular di luar sana.”
Sebastian memejamkan matanya dan menggeleng, dia bergumam, “Kegilaan apa yang membuat kita berada di sini?”
“Ini pasti karena kekuatan do’a Lily, aku tidak seharusnya keluar dan berpesta dengan kalian!”
🌹🌹🌹🌹
Lily memijat kepalanya sendiri merasa pusing, pelayan pelayan di sekitarnya sedang membereskan kekacauan yang dibuat oleh David dan teman temannya.
“Nyonya, anda belum sarapan sejak tadi. Saya menyiapkan ini.”
“Terima kasih, Nina.”
“Tentu, Nyonya. Apakah anda butuh yang lainnya?”
“Tidak, terima kasih. Tolong bereskan saja kekacauan itu.”
“Baik, Nyonya.”
Memaksakan demi janin dalam tubuhnya, Lily makan dengan pelan. Dia masih menunggu kabar dari Holland.
Dia sangat gelisah tentang keadaan suaminya, apalagi dia mematikan telpon secara tiba tiba. Lily pikir sebelumnya kalau David bercanda perihal dirinya berada di hutan, tapi mengingat nada suara suaminya, kini dia percaya.
Jadi Lily mengirimkan gambar itu pada Holland.
Setelah sarapan dan minum susu yang disediakan Nina, akhirnya Lily mendapatkan telpon dari Holland.
“Hallo, Holland? Apa kau menemukan mereka?”
“Saya dalam perjalanan menuju ke hutan lindung milik Tuan Luke, mereka berada di sana.”
“Bagaimana mereka bisa berada di sana?”
“Saya tidak tahu spesifikasinya, Nyonya. Tapi dari gambar yang Nyonya kirimkan, itu adalah hutan lindung milik Tuan Luke.”
“Dimana itu?”
“Cukup jauh dari kota ini, Nyonya. Hutan lindung itu jauh dari pemukiman.”
Jika hutan itu milik seseorang, Lily berfikir di dalam sana aman. Dia ingin sekali menghukum suaminya. Niatnya, Lily ingin meminta Holland jangan dulu menjemput David hingga suaminya bisa jera, tapi dia juga merasa kasihan.
Namun, sepertinya Tuhan ada di pihaknya. Tiba tiba saja Holland mengatakan, “Astaga!”
Kemudian terdengar suara ledakan. “Ada apa, Holland?”
“Tidak apa, Nyonya. Ban kami hanya meledak.”
“Astaga, apa kau baik baik saja?”
“Ya, tapi saya mohon maaf, Nyonya. Ban meledak di tempat yang terpencil karena saya mengambil jalur memotong. Mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama untuk membawa Tuan David.”
Lily tersenyum di sana. “Tidak apa, Holland. Pergunakan waktumu sebaik mungkin dan santai saja.”
🌹🌹🌹🌹
To Be Continue…