Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Perebutan



🌹VOTE DAN AJAK TEMAN UNTUK MEMBACA STUCK WITH AN ARROGANT CEO🌹


David keluar saat Lily masih membuka matanya.


"Mandinya sudah selesai?"


"Astaga, aku tidak mandi, Lily."


"Oh ya?" Lily mencium aroma sabun mandi yang begitu menyengat. "Kau bau sabun."


"Tentu saja karena aku bermain dengan sabun."


"Apa maksudmu?"


"Astaga!"


Lily tergelonjak kaget saat David menatapnya tajam, dia sedikit ketakutan. "A… ada apa?"


"Aku tahu kenapa kau terus bertanya, kau ingin dipeluk olehku bukan?"


Lily tidak bisa menggeleng, mengingat David kini menariknya ke dalam pelukan lalu memberinya ciuman di pipi. "David… geli…."


Lily menahan tawa saat tangan David merayap di perutnya. "David… ini geli…."


David mengumpat tanpa suara, dia tidak bisa menahan nafsunya jika bersama Lily. Apalagi dirinya belum mengantuk, yang mana membuat David memilih bangun berdiri keluar dari ranjang.


"Mau ke mana?" Tanya Lily sambil membenarkan lingerienya yang terangkat. 


"Pakai kaos, aku tidak tahan melihatmu dalam balutan pakaian itu."


"Eum…." Lily menunduk malu, sebenarnya dia dipaksa Oma. Oma juga tidak mendengrkan penjelasan Lily dahulu. "Baiklah."


Saat Lily mengganti pakaian, David mengambil beberapa anggur dari rak sebelum memutarnya kembali menjadi televisi.


Dia menuangkannya ke dalam dua buah gelas, dengan dilengkapi oleh beberapa biji bijian kering. Saat Lily keluar, David mengisyaratkannya untuk mendekat.


"Kemarilah, duduk di sini."


"Kau belum mengantuk?"


"Kau mengantuk?" David balik bertanya.


"Tidak," jawab Lily sambil menggeleng.


"Kalau begitu ayo menonton film, bagaimana?"


Lily mengangguk, dia menahan senyum manisnya saat David menariknya lebih dekat. Lily menyadarinya, David memperlakukannya dengan baik. Dan itu belum dia rasakan sejak kecil. Keberadaan David dan Oma membuatnya bahagia.


"Di lantai tiga ada bioskop mini, hanya saja lebih intim jika berada di sini, bukan?"


Lily hanya mengangguk ketika David menyuapinya beberapa kacang asin.


"Genre apa yang kau sukai?"


"Horror."


"Horror?" David tertawa. "Wanita sepertimu suka film horror?"


"Kenapa memangnya?" Tanya Lily dengan suara pelan.


"Tidak, hanya saja akan bagus jika kita mengisi otakmu dengan beberepa edukasi bukan."


Mendengarnya, Lily setuju. "Baiklah, aku ikut saja."


David terkekeh, pria yang duduk sambil mensejajarkan kakinya itu memeluk pinggang Lily yang duduk di pangkuannya. 


David mulai memutar film tanpa memberitahukan judulnya.


"Ingin mencoba anggur?"


Lily menggeleng. 


"Cobalah, Sayang, supaya kau tidak aneh saat aku membawamu ke pesta."


Lily menerimanya dan mencoba sedikit. Dia mengerutkan kening. "Aku… tidak suka."


David terkekeh. "Baiklah, kita simpan saja," ucapnya fokus pada film.


Lily mengerutkan keningnya mulai penasaran. "Film apa ini?"


"Edukasi."


"Tentang apa?"


Awalnya semuanya terlihat baik, Lily mengira ini film tentang pembunuhan. Kenyataannya, sepuluh menit selanjutnya dihiasi oleh adegan erotis yang penuh desahan oleh pemeran perempuan yang dipermainkan oleh si pria. Alat mereka tidak diperlihatkan, tapi melihat tubuh mereka bergerak saja, membuat Lily malu.


Dia memalingkan wajah. "Aku rasa aku mengantuk."


"Lily Sayang, apa kau malu?"


"Aku mengantuk."


"Lihatlah mereka, ini pelajaran untukmu, Sayang. Akan bagus jika kau bi--"


"Aku akan tidur duluan," ucap Lily tanpa menatap tv lagi, di pergi ke kamar mandi.


Dan saat itulah David tertawa, ini pertama kalinya dia menjahili seorang wanita. Apalagi dengan tontonan seperti ini. Karena pada kenyataannya, David lebih suka mempraktekan langsung daripada mendapatkan teori.


"Sayang, temani aku…."


🌹🌹🌹


"Tidak usah mengirim makan siang."


Lily yang sedang memakaikan dasi pada David itu terdiam sesaat, pikirnya David hendak berduaan atau bersama sekretarisnya yang baru.


"Kau pulang cepat?"


"Ya." David menatap dirinya yang sudah siap, dia sudah sarapan sebelumnya di kamar bersama Lily. "Ambilkan sapu tanganku."


"Baik."


Saat Lily memilih sapu tangan, dia melihat ada sebuah foto wanita matang yang sangat cantik sekali. Dia mirip David.


"Itu ibuku," ucap David kembali masuk ke dalam walk in closet. 


Lily segera menyimpannya kembali. "Benarkah?"


"Ya, dia ada di Amerika sekarang. Dia sekolah di Indonesia, jatuh cinta pada Papaku hingga akhirnya…. Ya Mama kembali ke Amerika."


Lily melihat David sedih, dia mendekat dan memasukan sapu tangan ke saku David lalu berkata, "Kau akan baik baik saja."


David tersenyum kecil, dan tanpa aba aba dia menarik Lily ke dalam pelukannya. Egonya dia runtuhkan, tidak ingat lagi semua kearoganannya. David hanya diam memeluk Lily.


"Aku belum mandi," ucap Lily.


Saat David diam, Lily akhirnya membalas pelukannya.


"Panggil saja ibuku dengan nama Dena, nama aslinya terlalu panjang. Dia pandai berbicara bahasa Indonesia, jadi tidak perlu khawatir jika dia datang."


Lily mengangguk, dia mengusap punggung David hingga akhirnya dia melepaskannya.


"Ehem."


Lily diam mematung.


"Lily, aku berdehem."


"Aku belum mandi."


"Ehem."


"Masih ada rasa cabai di mulutku."


"Ehem."


"David."


"Semakin banyak kau menunda, semakin sering aku berdehem. Ehem."


Lily diam, hingga akhirnya tangannya terangkat merangkup pipi David. Dia berjinjit, yang segera dibalas David dengan menunduk.


CUP.


CUP.


CUP.


CUP.


David merasakannya, bibir Lily agak pedas.


"Hati hati di rumah."


"Ya."


David pergi, seperti biasa dia mencium pipi Oma sebelum pergi. Mengendarai mobil seorang diri, David mengalami kemacetan di jalan. Yang mana membuatnya kesal, apalagi saat itu matahari sangat terik.


David yang tahu tidak ada pekerjaan penting selain menandatangani memilih memutar mobil menuju ke sebuah hotel untuk mendinginkan badan. Jakarta semakin panas, David ingin pekerjaannya di bawa ke hotel oleh sekretaris barunya. Karena dia terjebak macet di tengah, jika kembali ke mansion akan sama lamanya.


"Holland, pesankan aku hotel di daerah XXXX."


"Baik, Tuan."


Dipesankan hotel oleh Holland, David tinggal masuk saja. 


Namun, saat David hendak masuk ke kamar, dia melihat wanita mabuk mencoba masuk ke dalam kamar hotel. Dia terlihat kesulitan, apalagi dia baru saja muntah di pot bunga.


David berdecak. "Jam berapa ini, kenapa dia mabuk," ucap David mendekat hendak membantunya membuka kamar.


"Mari saya bantu," ucap David mendekat.


Sayangnya, di saat bersamaan pengunjung lain datang dan dia mengenali David. Pengunjung itu tidak lain adalah Luke, dia mengira David sedang bersenang senang dengan wanita lain sementara Lily di rumah menunggunya.


Tidak tahan dengan itu, Luke melangkah dan menarik kerah baju David.


"Apa yang kau lakukan di sini?!"


"Luke? Lepaskan aku!"


"Beraninya kau bermain di siang bolong dan melupakan istrimu di rumah!"


"Apa masalahmu?"


Tanpa diduga, Luke meluncurkan pukulan pada rahang David hingga pria itu hampir terjatuh jika saja tidak berpegangan pada dinding.


"Hentikan kegilaanmu dan Sebastian! Hentikan taruhannya, hentikan permainannya, wanita itu tidak pantas menapatkannya. Jika kau hanya ingin kapal, akan aku berikan, tapi lepaskan Lily."


David tertawa hambar. "Kenapa kau peduli pada Lily?"


"Dia wanita baik, tidak pantas disakiti. Jika kau tidak bisa menjaganya, aku yang akan melakukannya."


"Beraninya kau!" David yang dipenuhi amarah memukul Luke kuat, dan itu bukan hanya sekali. "Jauhi istriku!"


🌹🌹🌹


**Jangan lupa vote, cerita ini akan berlanjut sampai tamat.


TO BE CONTINUE**...