
" Kamu nggak ingin Nadine tahu keadaan mu sekarang ?" Tanya Abiyasa.
" Nggak usah di kasih tahu Biy, karena aku tidak ingin menjadi pikirannya, dia kan baru sembuh dari sakitnya paska kecelakan kemaren." Ucap Arvin.
Abiyasa hanya tersenyum dan mengangguk kan kepalanya,Asik nya mereka bercerita tiba tiba terdengar suara adzan subuh di mushola yang ada di rumah sakit tersebut, Abiyasa berpamitan pada Arvin dan menuju kemushola untuk mengerjakan sholat subuh berjamaah dengan yang lainnya di mushola,tidak lupa dia membangunkan para sahabatnya yang asyik terlelap tidur di sofa.
Satu persatu sahabatnya bergegas memasuki kamar mandi saling bergantian dan membersihkan diri mereka dan segera melaksanakan sholat subuh.
Sehabis sholat tak lupa Abiyasa menghubungi istrinya.
" Assalamualaikum sayang..." Sapa Abiyasa.
" Waalaikumsalam mas..., Gimana sekarang keadaan mas Arvin.?" Tanya Ayesha.
" Alhamdulillah sayang, nggak apa apa,sementara waktu dia akan bertahan dulu dirumah sakit sampai keadaan nya sangat membaik."
" Mas sudah sholat ?'"
" Alhamdulillah... Kalau sudah sholat."
" Iya sayang, kamu sudah sholat, ?" Abiyasa balik bertanya pada sang istri.
" Alhamdulillah sudah mas,"
" Mas kangen sama kamu," ucap Abiyasa.
" Haduh...!pagi pagi jadi klepek klepek nih, Gegara ada yang kangen " celetuk Clarissa.
Abiyasa tersenyum mendengar celetukan Clarissa padanya.
" Ya udah ya sayang, mas matikan dulu, biasa ada yang ganggu " ucapnya.
" Iya mas..."
" Assalamualaikum..." Ucap Abiyasa.
" Waalaikumsalam..." Jawab istrinya.
Abiyasa menyudahi telpon nya dengan istrinya.
" Sejak kapan kamu di situ Ris?" Tanya Abiyasa.
" Sejak tadi...hehehe" kekeh Clarissa.
" Emang dasar ya kamu ini,kaya semut aja nggak di undang datang sendiri." Ucap Abiyasa tersenyum.
" Aku selalu datang kalau ada yang manis manis.." ucap Clarissa terkekeh.
" Berarti aku gula dong" ucap Abiyasa tersenyum lebar.
" Iya kamu gula bercampur empedu,kadang manis kadang pahit...hahahaha...." Ucapnya tertawa lebar.
" Sialan kamu Ris, ganteng ganteng gini di bilang gula campur empedu..." Ucap Abiyasa tertawa seraya berjalan keruangan Arvin beriringan dengan Clarissa sambil tertawa tawa bersama.
Saat mereka berdua membuka pintu ruangan Arvin, Morgan mau keluar dan sangat bergegas, dia di tegur kan Abiyasa...
" Mau kemana kamu Mor ? kenapa sangat tergesa gesa sekali ?" tanya Abiyasa menatap heran pada Morgan.
" PLB.." ucapnya singkat.
" Apa ? PLB ? Pala Lu Benjol, Mor " ucap Clarisa langsung saja memegang kepala Morgan.
" hmmm,apa apa an sih Ris,megang megang kepala ku segala sih, kepala ku tidak apa apa Clarissa Putria Bola, nih kakak ipar bego di pelihara.." ucapnya terkekeh.
" Eh semprul, bego bego gini ada untungnya juga kali, dasar adik ipar durhaka, ntar aku kunciin pintu surga biar kamu nggak bisa masuk sekalian kuncinya aku telan" delik Clarissa.
" Waduh Ris !! kalau kamu telan kuncinya aku nggak bisa masuk dong.." kekeh Abiyasa.
" Buat kamu Biy ada serepnya,tapi kalau kamu durhaka dengan ku sama seperti Morgan yang durhaka, nggak akan ada serepnya lagi, kuncinya habis aku telan semua " ucap Clarissa tersenyum manis.
" Itu sama aja Ris, mending bikin sendiri kuncinya " ucap Abiyasa terkekeh, dan Morgan pun ikut terkekeh.
" Kan benar tuh PLB Pala Lu Benjol, tapi aku liat nggak ada benjol benjolnya tuh " ucap Clarissa lagi.
" Hahahahah...PLB itu dalam instansi kepolisian Panggilan Luar Biasa ! Bola...Bola" kekeh Morgan.
Clarissa langsung tersenyum malu malu, dan langsung bersuara menutupi rasa malunya tersebut.
Abiyasa hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat ulah dua orang sahabatnya tersebut.
" Biy, aku tinggal dulu ya, ntar aku tunggu di kantor polisi ya " ucap Morgan langsung berlari menyusuri koridor rumah sakit menuju kearah mobilnya yang terparkir.
" Iya hati hati..." ucap Abiyasa.
" Yoi broo...." ucapnya dari kejauhan.
Abiyasa menatap Morgan dari kejauhan sampai Morgan hilang di tikungan koridor rumah sakit, lalu dia masuk kedalam dan saat dia mau menutup pintu ruangan Arvin, tiba tiba terdengar suara seorang wanita memanggilnya.
" Kak Biyas..."
Abiyasa menoleh ternyata Nadine yang setengah berlari menghampirinya.
" Nadine...? " ucapnya.
" kak, mas Arvin sudah sadar dari komanya?" tanya Nadine pada Abiyasa.
Mendengar kata ' koma ' Abiyasa bengong, siapa yang mengatakan pada Nadine kalau Arvin mengalami koma ?padahal Arvin baik baik saja .
Sebelum dia menanyakan dan menjelaskan pada Nadine, Nadine keburu masuk kedalam dan mendekati Arvin yang sedang tertidur.
Tanpa basa basi lagi dia langsung menggenggam tangan Arvin dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Arvin.
Nadine menangis kesesesuguk kan, Clarissa dan Abiyasa keheranan melihat Nadine tiba tiba datang dan langsung menangis.
" Mas bangun, sadar mas, maafin Nadine karena baru sekarang datang kesini, seharusnya Nadine dari kemaren berada di samping mas disaat mas mengalami musibah ini, memang kurang ajar begal itu, kalau sampai terjadi apa apa sama kamu mas dan kamu belum bisa sadar dari koma mu, Nadine akan buat perhitungan dengan begal itu, mas bangun, jangan diemin Nadine seperti ini mas, cepatlah sadar mas, ini semua gara gara kak Roni yang memberikan kabar nya telat. " ucapnya yang masih menangis dan menunduk kan kepalanya di kasur ranjang rawat inap Arvin.
" Koma ?, begal ?, aku jadi nggak ngerti, apa yang di ucapkan sama Nadine " ucap Clarissa bingung.
" Kenapa Ris..? " tegur Abiyasa karena melihat Clarissa merasa bingung sama dengan dirinya.
" Aku bingung BIy..." ucapnya sembari melihat kearah Nadine yang masih tampak menangis.
" Jangan kan kamu, aku juga makin bingung dan heran, nggak ada hujan dan angin Nadine tiba tiba datang membaca cerita kalau Arvin di tusuk begal dan mengalami koma " ucap Abiyasa seraya melangkah menuju sofa dan menghenyak kan tubuhnya.
Arvin yang terbangun dari tadi mendengar Nadine berbicara tanpa jeda, namun dia tetap memejamkan matanya dan tetap mendengarkan bicara Nadine dengan tangisan nya.
Arvin ingin tertawa sekeras kerasnya melihat sang kekasih menangis dan membawa kabar berita dia koma dan di tusuk begal.
Sedangkan Abiyasa, dan Clarissa terdiam mereka berdua membiarkan Nadine larut dalam tangisnya dan menikmati kabar yang di bawanya tersebut, sedangkan Marco masih mencari sarapan pagi buat mereka. beberapa saat pintu terbuka dan Marco datang,membawa bungkusan makanan untuk mereka sarapan pagi.
" Nadine ? kamu kenapa menangis ? " tanya nya langsung mendekati Nadine yang menelungkup kan wajahnya di kasur Arvin.
Nadine mengangkat kepalanya dan menoleh pada suara yang menegurnya itu.
" kak Marco..."
kemudian Abiyasa dan Clarissa mendekati nadine.
" Kamu sudah salah paham Nadine, Arvin tidak Apa apa, dia tidak koma atau di tusuk begal, dia mengalami penusukan dari seorang wanita yang memang jadi targetnya Arvin, tapi syukur luka tersebut tidak terlalu dalam," terang Clarissa.
Nadine mendengar penjelasan Clarissa langsung menghapus Air matanya dan tersenyum pada Clarissa.
" Benaran mbak? kalau mas Arvin tidak apa apa " ucapnya seraya menatap wajah kekasih hatinya yang masih menutup matanya.
Clarissa mengangguk dan tersenyum pada nadine sembari mengelus pundak wanita cantik yang ada di sampingnya tersebut.
" Iya Nad, dia itu pura pura tidur, karena dia sudah bangun aku rasa dari tadi. " ucap Abiyasa lagi seraya menarik jempol kaki Arvin dan terdengar teriakan kecil dari mulut Arvin.
" Mas Arvin...! kamu tega mas membohongi Nadine dan membiarkan Nadine menangis " ucapnya seraya mendelik pada Arvin.
Arvin hanya terkekeh dan merasa gemes melihat wajah sang kekasihnya yang cemberut.
" Jangan salahkan mas dong sayang, salahkan kak Roni yang memberikan kabar begitu pada mu, mas memang nggak ingin memberi kan kamu kabar tentang keadaan mas sekarang, karena mas tidak ingin kamu kepikiran, kan kamu baru membaik paska kecelakan itu." ucap Arvin panjang lebar menjelaskan pada Nadine.
Nadine hanya bisa tersenyum saja.
" Makanya sayangku, jangan percaya dengan berita yang belum tentu benar adanya, itu sama aja dengan berita Hoax " ucapnya tersenyum pada Nadine.
" Kak Roni, memang keterlaluan.." gerutunya
Arvin hanya tersenyum saja melihat wanitanya menggerutu.
Abiyasa, Clarissa dan Marco membiarkan Nadine dan Arvin berbicara sedangkan mereka menikmati sarapan pagi mereka,mereka mengajak Arvin dan Nadine untuk sarapan pagi bersama, namun mereka menolak dan memilih bercengkrama berdua.