
Kemudian mereka turun dari mobilnya dan melangkah menuju kearah pintu utama rumah kediaman keluarga wibawa dimana mereka sudah disambut oleh mamah Anisha dan papah Andre yang duduk diteras depan rumah mereka itu.
Papah Andre dan mamah Anisha tersenyum dan langsung berdiri setelah melihat keluarga dr Roni mendekati mereka berdua.
" Assalamualaikum..." Sapa mamah Raisha
" Waalaikumsalam..." Jawab mamah Anisha.
" Ayo masuk tante..." Ajak mamah Anisha sembari tersenyum dan mengajak mereka memasuki rumahnya tersebut dan dianggukkan mamah Raisha, saat mereka hendak masuk kedalam rumah, sebuah mobil memasuki halaman rumah keluarga wibawa dan siapa lagi kalau bukan mobil papah Boby yang membawa keluarganya tersebut, setelah pulang dari kantor Morgan papah Boby pulang sebentar menjemput Amelia berhubung Nika sudah bisa masuk sekolah jadi mereka hanya menjemput Amelia saja dirumah.
Papah Andre yang mau masuk bersama dengan sang istri dan keluarga dr Roni, akhirnya dia pun berhenti didepan pintu utama rumahnya tersebut seraya menatap mobil papah Boby yang terlihat mereka sudah keluar dari dalam mobilnya tersebut dan langsung tersenyum melangkah menuju kearah papah Andre yang sedang berdiri sembari membalas senyum mereka padanya.
" Assalamu'alaikum Bro..." Ucap Papah Boby.
" Wa'alaikumussalam...Ayo masuk mereka sudah datang, hari ini kita ceritakan semuanya..." Ucap papah Andre sembari merangkul papah Boby memasuki rumahnya, diiringi tatapan mamah Lala dan Amelia dengan heran setelah mendengar papah Andre mengatakan akan menceritakan semuanya.
Memang papah Boby tidak langsung menceritakannya pada mamah Lala, dia memang sengaja karena dia ingin istrinya itu sekalian mendengar semuanya bersamaan dengan Amelia mengetahui siapa sebenarnya kedua orang tua kandungnya tersebut.
Mereka semua sudah duduk diruang tengah rumah besar itu, dengan pikiran yang penuh dengan tanda tanya besar dikepala mereka menanti apa gerangan yang membuat papah Boby dan Papah Andre mengumpulkan mereka dirumahnya ini.
Papah Andre pun menarik nafasnya dengan pelan setelah dia mendaratkan tubuhnya disofa empuk tersebut.
" Maaf nak Andre, ada apa sebenarnya sehingga kami dipinta untuk berada di sini?" Tanya mamah Raisha.
Lagi-lagi papah Andre menarik nafasnya dengan pelan dan membenarkan posisi duduknya tersebut.
" Begini tante...sebelum saya mengatakan semuanya tante dan keluarga harap memakluminya terutama kamu Amelia, mungkin ini akan membuat kamu terkejut, dan Om harap kamu bisa menerimanya dengan iklas dan lapang dada, kalau pun perkataan dan cerita Om nanti bagimu tidak percaya kamu bisa langsung hubungi tante Lucy kamu nak." Ucap Papah Andre yang membuat Amelia langsung menatap papah Andre dengan penuh tanda tanya besar dikepalanya.
" In sya Allah Om " jawabnya pelan dan dia pun langsung menundukkan kepalanya dengan perasaan tidak tenang.
" Apakah om Andre dan om Boby akan memutuskan hubungan ku dengan mas Roni?" Ucap batinnya seraya meremas jari jemarinya dan menggigit bibirnya dengan perlahan.
" Tante Raisa, sebenarnya Amelia bukan lah anak kandung dari mendiang Rendy dan Sinta..." Ucap Papah Andre, membuat Amelia langsung mengangkat wajahnya dan menatap kearah papah Andre seraya ada sambaran petir yang meledak didalam telinganya, dia merasakan telinganya tuli dan tidak mendengar lagi suara yang ada diruangan tersebut, dan dia juga tidak bisa menahan air matanya yang begitu saja keluar dari bolamatanya yang bening dan indah itu, semua orang yang ada disitupun terkejut dengan ucapan papah Andre, begitu juga dengan keluarga Mamah Raisha mereka terdiam tanpa suara sepatah kata pun setelah mendengarnya.
Dr Roni menatap kearah Amelia, dia menatap dengan sayu wajah wanitanya itu.
" Ingin rasanya aku mendekapnya dan menenangkannya dalam dekapanku agar dia bisa menerima ini semua." Ucap Batinnya seraya dia terus menerus menatap wajah Amelia.
Melihat Amelia yang meneteskan air matanya itu mamah Lala pun langsung merangkulnya dengan dekapan penuh kasih sayang bagaikan seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya yang sedang bersedih.
" Apakah ini benar mas Andre?" Tanya mamah Lala bertanya pada papah Andre, dia berharap ini bukanlah berita benar dan dia berharap kalau ini hanyalah hayalan belaka, tapi sayangnya ternyata ini adalah benar adanya dengan dia melihat papah Andre menganggukkan kepalanya padanya.
Mamah Lala pun langsung menoleh kearah Amelia dan terlihat Amelia tidak bisa berbicara sama sekali dia hanya menangis karena dia tidak menyangka selama bertahun-tahun lamanya dia baru mengetahui kalau dia bukanlah anak dari mendiang kedua orang tuanya tersebut.
" Ayang Mbeb, kenapa kamu nggak kasih tahu dengan aku sih tentang cerita ini?" Tanya mamah Lala seraya menatap kearah papah Boby.
" Iya mbeb aku sengaja tidak mengatakan semuanya padamu, karena aku ingin kamu mendengarnya langsung dari Andre, walaupun sebenarnya aku juga ada disana saat ibu Lucy menceritakan semuanya tentang Amelia." Ucap papah Boby dianggukkan mamah Lala.
" Amelia sayang...kamu tidak usah bersedih, kamu tetaplah calon menantu tante, karena kamu adalah jodoh yang dikirim oleh yang maha kuasa untuk Roni, apapun dan siapapun kamu, tante akan tetap menerima kamu nak." Ucap mamah Raisha.
" Iya Mel, setelah mengetahui siapa kamu sekarang ini, tidak akan mengurangi rasa cintaku padamu Mel, kita akan tetap menikah setelah dua adikku ini menikah." Ucap dr Roni sembari tersenyum.
" Tapi...mas...tante...apakah kalian akan tetap menerima aku apa adanya, bukankah anak adopsi itu tidak tahu siapa kedua orang tua kandungnya, dan saat menikah nanti, orang-orang akan tahu siapa calon istrimu mas, mereka pasti akan beranggapan aku anak yang tidak mempunyai ayah yang tepat." Ucap Amelia sembari terisak.
" Kamu salah Mel...kamu jangan berpikiran seperti itu, kamu anak yang sah dan memiliki orang tua kandung..." Ucap Ayah Candra.
" Tapi siapa Om orang tua kandung Amel?" Tanyanya masih dengan air mata yang menetes.
Ayah Candra terdiam, dan dia hanya bisa menarik nafasnya dengan pelan.
" Kedua orang tua kamu nak sudah sama-sama tiada jauh sebelum kamu diambil mendiang Rendy, ibu kandungmu adalah teman mendiang Sinta mamah mu sekarang ini, kedua orang tua kandungmu itu mengalami kecelakaan...." Ucap Abi Yosep.
Kemudian papah Boby menceritakan semuanya pada Amelia tentang siapa sebenarnya kedua orang tua kandungnya Amelia dan berada dimana saat Amelia dilahirkan dan juga tentang salah satu saudara Amelia yang masih hidup tapi keberadaannya pun tidak diketahui sampai saat ini.
Mereka semua hening tanpa suara mendengarkan cerita papah Boby yang dianggukkan papah Andre, papah Boby terus bicara sampai selesai dan mereka semuanya mendengarkan tanpa sedikitpun tertinggal dari cerita papah Boby tersebut.
" Begitulah Mel, ceritanya, saudara kamu masih selamat saat kecelakaan itu, tapi dia tidak sempat dibawa mamah mu saat itu, dan sekarang keberadaannya pun tidak kita ketahui dimana dia berada." Ucap Papah Boby sembari menghela nafasnya dengan pelan.
" Iya nak, kamu mempunyai saudara laki-laki..." Sambung Papah Andre.
" Bagaimana kalau kita cari mulai sekarang aja Om." Sahut Clarissa dianggukkan Abiyasa,Marco dan Morgan.
" Iya tuh benar...sekarang aja." Lanjut Arvin.
" Hus!! Kalau kami nyari tahu dimana saudara kak Amel kamu nggak boleh ikut! " Ucap Clarissa.
" Iya benar tu!" Sambung Morgan.
" Hooh....yang lagi dipingit nggak boleh jalan jauh!" Sambung Abiyasa.
" Heheheh...benar banget!" Lanjut Marco sembari terkekeh.
Arvin hanya mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan dia hanya bisa menghela nafasnya dengan pelan sembari menyenderkan tubuhnya disandaran sofa tersebut.
Para sahabatnya hanya bisa tersenyum saja melihat ulah Arvin itu.
Sedangkan orang tua mereka hanya tersenyum.
" Hapus air matamu nak, kita akan berusaha mendapatkan saudara kandung kamu tersebut." Ucap mamah Anisha sembari menatap kewajah Amelia.
" Tapi tante apakah masih bisa ditemukan? Bukankah ini sudah sangat lama sekali bukan berhari-hari ataupun berbulan-bulan tapi ini sudah bertahun-tahun." Ucap Amelia.
" In sya Allah sayang, selama kita berdoa pada Allah tidak ada yang tidak mungkin, dengan campur tangan yang maha kuasa kita akan mudah menemukannya, kamu harus yakin nak..." Ucap mamah Anisha.
Amelia mengangguk tapi dia tidak bisa menghentikan air matanya yang mengalir itu, karena dia merasa sedih mendengar semuanya, disatu sisi dia sudah kehilangan kedua orang tuanya baik orang tua kandungnya dan orang tua yang selama ini membesarkan dan mendidiknya sampai sekarang ini, dan disisi lain apakah dia bisa menemukan saudara kandungnya tersebut.
" Ya Allah, aku pasrah dengan skenario yang Engkau tuliskan untuk ku, aku akan menjalankan semuanya ini, dan aku iklas untuk menerima semua ini, ya Allah hanya satu pintaku padamu berikanlah surga terindah untuk keempat orang tua ku ya Allah, dan temukanlah aku dengan saudara kandungku ya Allah..." Ucap Batinnya sembari dia menghapus air matanya dan terlihat mata cantiknya itupun sembab dan terlihat sedikit bengkak, karena dia menangis kesesugukkan.
" Ayah kamu bernama Yoga Kusuma, dan Ibu kamu bernama Sayla Ningrum." Ucapnya sembari tersenyum.
" Roni akan mencari tahu dengan teman Roni yang kebetulan masih bertugas di rumah sakit itu." Ucap dr Roni.
" Dita juga akan hubungi kepala rumah sakit itu, karena Dita kenal dengannya, nanti Dita tanyakan dengannya tentang suster Nellyana saat bertugas dulu, siapa tahu dia bisa membantu kita dan dia bisa menanyakannya dengan orang yang bekerja lebih lama disana." Sambung Anindita.
Dianggukkan mereka semua...
" Semua bisa mencari tahu tentang siapa suster Nellyana itu, pakai apa saja baik menggunakan media sosial ataupun melalui gawai pribadi, siapa yang punya teman di kota B yang bertugas di rumah sakit silahkan hubungi siapa tahu dapat info yang banyak,lebih banyak info lebih memudahkan kita untuk menemukannya." Ucap papah Andre lagi.
" Iya benar banget tuh...." Ucap papah Boby.
Dianggukkan kembali oleh mereka semua....
Hening!! Tidak ada suara sama sekali, mereka larut dalam lamunan mereka sampai akhirnya Ayah Candra memulai lagi bicaranya.
" Ngomong-ngomong Nico kemana ya?" Tanya Ayah Candra.
" Apakah tadi tidak dikasih tahu? Kalau kita ngumpul disini?" Tanya Abi Yosep.
" Iya ya..ada yang gelisah tuh..." Lanjut papah Boby sembari tersenyum menatap kearah Lia, dan mereka semua pun menatap kearah Lia, Lia hanya tersenyum malu-malu, papah Boby memang sengaja mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku.
" Tadi katanya bertemu dengan Client dari luar Negeri Om." Ucap Abiyasa.
" Oh...gitu ya..." Ucap Om Boby.
" Tante Raisha dan yang lainnya jangan pulang dulu ya? Kita makan siang bersama." Ajak mamah Anisha.
Mereka menganggukkan kepalanya.
" Kayanya aku dan keluargaku tidak bisa makan siang bersama Ndre." Ucap Abi Yosep.
" Kenapa Yos..?" Tanya papah Andre.
" Aku mau kerumah sakit lagi mau melihat keadaan kak Dwi, karena baru aja Reno mengirim chat pribadi keaku kalau kak Dwi drop lagi." Ucap Abi Yosep.
" Yesha ikut ya Abi..." Pintanya.
" Nggak usah nak.." ucap Abi Yosep dianggukkan Umi Vita.
" Iya sayang, nanti kita setelah makan siang berangkat kerumah sakit." Ucap Abiyasa lalu dianggukkan Ayesha.
Setelah berpamitan dengan mereka semua dan papah Andre pun mengantarkan keluarga besannya itu menuju kearah pintu depan papah Andre juga mengatakan kalau mereka juga sehabis makan siang akan segera berangkat kerumah sakit untuk menjenguk kak Dwi.
Setelah saling mengucap dan membalas salam mobil keluarga Abi Yosep melaju menuju kearah rumah sakit Wibawa.
Kemudian papah Andre menghubungi kak Nico agar segera pulang kerumahnya untuk makan siang dirumah papah Andre dan ada yang ditanyakannya juga pada Nico tentang perusahaan yang ditanganinya yaitu anak cabang Wibawa Group.
Mereka pun diajak oleh papah Andre dan mamah Anisha untuk makan siang bersama.
Tapi Amelia menolak untuk makan dengan alasan masih kenyang dan dia ingin berada diruang tengah saja.
Mereka pun tidak bisa memaksakan kehendaknya, dan membiarkan Amelia sendiri, dr Roni pun ingin menemani Amelia diruang tengah tersebut, tapi ditahan mamah Raisha, dengan alasan membiarkan sesaat Amelia sendiri, dr Roni pun hanya bisa menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah sang mamah menuju kearah ruang makan.
Beberapa saat saja mereka berada diruang makan dan terdengar suara sebuah mobil memasuki halaman rumah tersebut, ternyata itu adalah mobil Kak Nico yang baru saja datang.
Dia bergegas menuju kearah pintu rumah tersebut.
" Assalamu'alaikum..." Sapanya.
" Waalaikumsalam..." Jawab Amelia terdengar pelan.
Kak Niko melangkah mendekati Amelia, kak Nico melihat wajah Amelia yang sembab dan masih terlihat buliran bening dikedua pipinya.
" Amel? Kamu menangis? Ada apa?" Tanyanya.
Amelia terkejut dengan teguran kak Nico karena dia baru sadar dan dia juga lupa menghapus air matanya saat kak Nico berjalan menuju kearahnya tadi.
" Ah...nggak kok kak, kakak nggak makan bareng mereka?" Tanya Amelia sembari menghapus air matanya dan melihat kak Nico duduk di sofa.
" Aku sudah makan tadi bareng clien, ada apa sih? Sebenarnya ada apa?"
" Amel tidak bisa cerita kak, Amel tidak kuasa menceritakannya, kaka tanya aja sama Om Andre dan yang lainnya." Ucapnya sembari tertunduk.
Terdengar helaan nafas kak Nico dengan pelan, dan menyenderkan kepalanya disandaran sofa yang dia duduki sekarang.
Mereka berdua pun terdiam bersama...beberapa saat mereka menunggu sampai akhirnya mereka selesai makan siang dan kembali lagi keruang tengah tersebut.
" Nico..." Ucap papah Andre
" Kenapa nggak langsung makan?" Tanya mamah Anisha.
" Nico udah makan tadi sama Client Om, tante..." Ucapnya.
Papah Andre dan mamah Anisha beserta yang lainnya langsung duduk kembali.
" Oh ya om, ada apa sebenarnya? Sehingga semua ada disini dan kenapa Amelia menagis?" Tanya Nico.
Papah Andre pun kemudian menceritakan semuanya dan Nico mendengarkan semuanya, dan diakhir cerita papah Andre menyebutkan nama Nellyana dan Nico pun terkejut...
" Nelyana?!" Ucapnya
Mereka semua menatap kearah Nico dengan penuh pertanyaan dan penasaran apakah Nico kenal dengan suster Nellyana itu.