
" Rony, lebih baik kalian pulang aja dulu,maaf bukan om mengusir kalian berdua tapi karena Amelia mungkin ingin menenangkan dirinya dulu." Ucap papah Boby seraya tersenyum.
" Hmmm...iya Om, Kami juga sebenarnya mau pamit pulang, takut mamah nungguin lama,karena tadi bilangnya nggak lama." ucapnya sembari tersenyum.
Dokter Rony memang pintar menyimpan rasa kecewa dihatinya,bahkan dia pun tidak tersinggung dengan ucapan papah Boby yang menyuruhnya untuk pulang kerumah, dia tidak memperlihatkan rasa kecewanya itu di wajahnya dengan penolakan Amelia akan cintanya melalui cara diamnya Amelia itu, dengan senyumannya dia tetap seperti dr Roni yang pertama datang ke rumah papah Bobby tadi.
Papah Bobi menghela nafasnya, dia tersenyum kepada dr Roni.
" Semoga saja Roni tidak merasa tersinggung dengan ucapanku tadi,aku hanya memancing reaksi Amelia aja " ucap batin papah Boby.
" Baiklah Ron, hati-hati di jalan ya." ucap Papa Bobby.
" Amelia maafkan aku ya sekali lagi,kalau kamu mau istirahat, istirahatlah.. tapi jangan sampai kamu melupakan ataupun menghindari aku atas kejadian malam ini, aku minta maaf Yang sebesar-besarnya kepadamu, mau kan kamu tetap menjadi temanku." ucapnya sembari menatap ke arah Amelia, Amelia pun mengangkat wajahnya dia memberanikan dirinya menatap bola mata dr Roni.
" Kamu jangan pergi Mas." ucapnya
Dr Roni terkejut, Amelia langsung mengucapkan kata Mas, Papa Boby pun langsung menatap kearah Amelia, Begitu juga dengan Mama Lala, Clarissa yang sedari tadi menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa pun langsung membenarkan duduknya dan menatap kearah Amelia, Nadine tersenyum.
" Apa Nak? kamu bilang apa tadi.?" Tanya mamah Lala.
" Mas Roni, kamu gak usah pergi dulu, maukah kamu menemani aku hari ini di sini, nanti aja kamu pulangnya."
Giliran dr Roni yang tidak bisa berkata apa-apa, karena dia tertegun dengan ucapan Amelia.
" Aku mau Mas, jadi istri kamu, aku mau menjadi bidadari di hatimu dan aku juga mau menjadi teman hidup mu selama-lamanya, sebenarnya aku juga menyukai kamu saat pertama kali aku melihatmu di rumah sakit itu dan jujur aku katakan padamu setiap aku melihatmu, aku merasa tenang, tatapan matamu menyejukkan relung hatiku, Aku mencintai mu juga Mas." ucapnya.
Tiba-tiba saja papah Boby mengalami kejang dan menggelepar gelepar diatas sofa yang didudukinya, mereka semua terkejut, melihat keadaan papah Boby yang secara tiba-tiba itu.
" Mbeb! Kamu kenapa?" Tanya mamah Lala terkejut melihat papah Boby seperti itu.
" Papah! Papah kenapa?" Ucap Clarissa seraya memegangi tangan papah Boby.
Papah Boby tetap kelejotan kaya orang terkena suatu penyakit.
" Biar Roni periksa dulu tante." Ucap dr Roni seraya mendekati papah Boby,saat dr Roni hendak memegang tangan papah Boby papah Boby pun langsung bangun dan duduk kembali seperti semula sembari tertawa lebar.
" Tapi bohong...hahahaha.." ucap papah Boby dengan gelak tawanya.
" Astaga Om! Roni kira kenpa-kenapa, ternyata hanya candaan." Ucap dr Roni seraya menepuk jidadnya sendiri dan kemudian berjalan kembali ke sofa dimana dia duduk semula.
" Ayang mbeb Ah! Suka aja ngerjain orang mulu deh." Ucap Mamah Lala seraya memukul pelan papah Boby.
" Papah-papah, bikin takut bola aja deh ah!" Ucap Clarissa sembari duduk dikursinya semula.
Amelia menarik bafasnya dengan pelan dan terlihat mengurut dadanya karena dia merasa takut kalau om nya itu terjadi apa-apa.
" Hahahaha....takut ya kalian, itu adalah perwakilan untuk Roni, yang klepek-klepek mendengar kata romantis dari Amelia." Ucap papah Boby lagi-lagi tertawa lepas.
" Hahahaha..." Clarissapun ikut tertawa, sedangkan mamah lala hanya tersenyum saja.
Dr Roni kemudian menggigit bibir bawahnya, dia merasa senang dan dia tersenyum manis, namun dia tidak bisa berkata apa-apa karena dia merasa bahagia sekali, sedangkan Nadine mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Amelia tadi pun langsung memeluk kakaknya tersebut.
" Alhamdulillah ya Allah, Engkau jawab doaku dengan begitu cepatnya." ucap Nadine bahagia.
Dr Roni pun merangkul sang adik, dia merasa senang sekarang, dia tidak sendirian lagi, sebentar lagi dia kan mempersunting Amelia, setelah pulang dari rumah papah Boby nantinya dia akan langsung mengatakan keinginannya untuk menikahi Amelia dengan jujur berkata kepada Mama Raisa.
" Akhirnya Kak, perjuanganmu selama ini mencari tambatan hati pun sudah terwujud." Ucap Nadine.
Dr Roni hanya menganggukkan kepalanya, Nadine melepaskan rangkulannya kepada sang kakak, Dia kemudian menatap ke arah Amelia.
" Terima kasih ya kak Amelia, karena sudah mau menerima Kak Roni." Ucap Nadine lagi sembari tersenyum senang.
Amelia hanya tersenyum dia hanya menganggukkan kepalanya dia pun rasanya plong merasakan dadanya sudah tidak terbebani lagi dengan kata-kata yang sudah keluar dari bibirnya tersebut, dia pun tidak merasa malu ataupun merasa risih mengatakan itu semua di hadapan papah Bobby dan Mamah Lala.
" Perjuangan seorang pangeran pemberantas penyakit pun akhirnya mempunyai tambatan hati hehehe, selamat ya Kak Roni akhirnya kakak akan menyusul kami-kami yang sudah mempunyai pasangan masing-masing hehehe." Ucap Clarissa
" Alhamdulillah jodoh Roni sudah ditemukan." Ucap papah Boby.
" Alhamdulillah Om, akhirnya sekarang rasa bergemuruh di dada ini sudah hilang setelah mendapatkan jawaban dari orang yang dikasihi dan dicintai." ucapnya tersenyum seraya melirik Amelia, Amelia hanya menatap dengan senyuman manisnya.
" Ya sudah kalau seperti itu kita makan dulu jangan pulang dulu kamu Ron."
" Ya iyalah om, Roni nggak jadi pulang nanti aja pulangnya hehehe."
" Katanya tadi mau cepat pulang, takut tante Raysa menunggu lama.." celetuk Clarissa.
Dr Roni terkekeh....
" Oh ya Ron maafin Om ya, karena tadi sudah menyuruh kalian berdua cepat pulang." Ucap Papah Boby seraya menatap dr Roni.
Dr Roni pun mengangguk...
" Iya om, Roni menganggap itu wajar aja Om, karena memang benar apa kata om Boby siapa tahu Amelia butuh istirahat." Ucapnya tersenyum.
Papah Boby dan mamah Lala pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Kemudian Papa Boby pun berdiri mengajak sang istri dan yang lainnya untuk makan malam bersama, papah Boby dan Mama Lala melangkah menuju kearah ruang makan diikuti oleh mereka, tapi Clarissa tidak masuk ke ruang makan, melainkan dia menuju ke arah lantai atas, sebelum dia menapaki anak tangga satu persatu dia pun ditegur kan oleh Mama Lala.
" Bola mama mau kemana?"
" Kekamar mah sebentar."
" Kita kan makan malam bareng."
" Iya Mah,nanti Clarissa nyusul mah, Clarissa mau membersihkan diri dulu dan mengajak Marco sekalian makan bersama." ucapnya sembari tersenyum kemudian melanjutkan menapaki anak tangga satu per satu menuju ke lantai atas di mana kamarnya berada, saat mereka sampai di ruang makan mereka berdua terkejut melihat Nika dan Carlo sedang bercengkrama di meja makan, Carlo pun menoleh ke arah sang papa.
" Kenapa sih Kalian lama banget, kami berdua ini sudah lama menunggu disini, kami sudah kelaparan." Ucap Carlo.
" Yang sabar toh nak,papah dan mamah kan lagi ada yang dibicarakan." Ucap papah Boby langsung duduk dimeja makan dikursi singgasananya itu.
Amelia tersenyum pada sang Adik.
" Oya Kak tadi Nika terbangun, Nika mencari Kakak, tapi kakak nggak ada di kamar, saat Nika turun dari atas ke lantai bawah dan bertemu kak Carlo, terus kak Carlo mengajak Nika ke ruang makan dia mengatakan kalau Nika pasti lapar." ucapnya.
" Iya Kak Amel,Carlo tadi lihat Nika itu seperti orang yang mau mencari ruang makan, ya udah Carlo bawa aja keruang makan, tapi dia Carlo ajak makan nggak mau, dia malah geleng kepala terus, padahal kalau seandainya Nika mengiyakan saat Carlo ajak makan mungkin kami berdua sudah kenyang dari tadi, tapi Nika malah mengatakan untuk menunggu kalian semua, ya udah deh Kami aja bercerita disini." Ucap Carlo.
" Oh gitu ya ceritanya hehehe " ujar papah Boby terkekeh.
" Carlo nggak tahu lho Pah, kalau Nika ini sebenarnya satu sekolah dengan Carlo." Ucapnya.
" Ya iyalah dia satu sekolah sama kamu dia kan satu kelas sama Almira." ucap papa Boby.
" Iya dia juga cerita seperti itu Kok, jadi Papa telat mau menceritakannya." Ucap Carlo terkekeh membalas kekehan sang papah.
" Idih! anak ini, sudah dikasih tahu malah bilangnya telat ngomongnya." Protes papah Boby.
" Udah nggak usah bertengkar, kita makan dulu." ucap Mama Lala sembari tersenyum.
Merekapun kemudian mengambil piring yang ada di atas meja makan tersebut dan mulai mengambil nasi dan lauk pauknya, Mereka pun menikmati makan malam tersebut sebelum mereka habis makannya Clarissa dan Marco pun sudah bergabung dengan mereka dan menikmati masakan yang ada di atas meja yang sudah terhidang sejak tadi.
Setelah makan malam mereka selesai, Mereka pun kemudian melangkah kembali menuju ke ruang tengah, mereka pun kembali berbicara satu sama lain gelak tawa tercipta diantara mereka, Nika dan Carlo pun mulai berbicara, kadang-kadang terlihat Nika tersenyum mendengar cerita Carlo dia merasa bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang yang sayang dengannya, Mama Lala dan Amelia pun menatap ke arah Nika.
" Alhamdulillah Carlo bisa mencairkan suasana, dia bisa menghibur Nika, terlihat senyuman Nika mengembang." ucap Mamah Lala.
" Alhamdulillah tante mudah-mudahan aja dia tidak teringat lagi dengan kejadian yang dialaminya itu dan tidak bersedih lagi,semoga saja ini adalah awal yang baik untuk kami berdua."
Mama Lala dan papa Boby tersenyum dia menganggukkan kepalanya.
" In sya Allah nak, selama Allah bersama kita tidak ada yang tidak mungkin di hadapannya." ucap Mamah Lala sembari tersenyum.
Terdengar 2 buah mobil memasuki halaman rumah Papah Boby, mereka semua menatap kearah pintu luar,tapi berhubung pintu luar masih tertutup jadi tidak tahu siapa yang datang.
Kemudian papah Boby berdiri dia pun melihat siapa yang datang tersebut melalui tirai jendela rumahnya itu.
Papah Boby pun tersenyum, karena para sahabatnya sudah datang.
" Akhirnya mereka datang juga." Ujarnya
Kemudian papah Boby membukakan pintu sebelum para sahabatnya itu keluar dari mobil mereka masing-masing.
Papah Bobby pun langsung melangkah menuju ke luar teras rumahnya, Papa Andre, Abi Yosep dan Ayah Candra pun turun dari mobil mereka dan langsung melangkah menuju ke arah papa Boby.
" Asalamualaikum." ucap papah Andre.
" Waalaikumsalam, Ayo mari masuk." ujarnya persilahkan ketiga sahabatnya itu, merekapun kemudian melangkah memasuki rumah papah Boby, dan papah Boby kembali mengunci pintu tersebut dia tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di luar sana yang bisa saja mau memata-matain rumahnya kembali seperti rumah keluarga Wibawa karena dalang dari semua itu belum ditemukan.
Mereka yang ada di ruang tengah pun tersenyum melihat kedatangan para tamunya siapa lagi kalau bukan sahabat dari suami dan ayah mereka.
Papah Andre, Abi Yosep dan Ayah Candre pun menyalami mereka semua dan kemudian mengambil duduk di bangku yang masih kosong yang ada di ruangan itu.
" Wah! Rupanya kalian memang spesial ya nungguin kami." ucap Abi Yosep.
" Aku nggak nungguin kamu kok, aku nungguin Andre." Ucap Papah Boby.
" Apa?! Nungguin Andre aja, berarti Candra juga tidak ditunggu dong? Ya udah Ndra Ayo kita pulang sekarang!" Ucap Abi Yosep mengajak Ayah Candra, Ayah Candra hanya terkekeh.
" Hahaha " tawa papah Bobby terdengar renyah.
" Jangan begitu dong Yos, Kita kan sudah tua jangan merajuk, malu dengan umur." Ucap papah boby.
" Eh cacing tanah! aku ini enggak merajuk, kamu kan tidak menungu aku tapi melainkan menunggu Andre, Ya udah daripada aku jadi kambing congek disini mending aku pulang aja." Ucap Abi Yosep terkekeh.
" Heh ulat ompong! emang kamu bawa mobil?" tanya papa Boby tertawa.
" Kenapa diam! Sono kalau mau pulang! Lagian kamu pulang naik apa malam gini hah? nggak ada taksi yang lewat depan rumahku broo, adanya kamu jalan kaki, Ya udah kamu pulangnya jalan kaki aja noh malam-malam gini biar subuh nanti sampai rumah hehehe."
" Bener juga ya,aku kan tadi numpang sama Andre, lagian kenapa aku juga mau diajak ya,mending aku pakai mobil sendiri tadi" ucapnya sembari tertawa.
" Ya iyalah Yos, kamu kan besannya Andre, Masa sih besannya dibiarkan sendirian jalan, entar kalo diculik gimana coba?" Ucap Ayah Candra.
" Aku ini cowok kali nggak ada yang mau nyulik aku, karena aku udah tua nih." Protesnya.
" Siapa tahu juga yang nyulik tuh encong, yang ada di taman kota itu yang dekat rumah ku mau?hai cowok ganteng temanin kita-kita dong." ucap papah Boby seraya menirukan suara wanita palsu,dan papah Boby pun tertawa lepas, mereka yang ada di situ pun kemudian tertawa semua, suasana di ruang tengah rumah Papa Bobby pun kembali rame kalau mereka berempat sudah kumpul ada-ada aja yang dikatakan oleh mereka membuat suasana yang sedih menjadi gembira dan yang suasana gembira pun menjadi tambah gembira, Papa Andre hanya tersenyum saja.
" Gimana Ndre? udah tahu ceritanya dari Abiyasa?" Tanya Papah Boby.
" Abiyasa belum sempat bercerita dia sepertinya kecapean tadi, makanya aku nggak mau ngajak dia ke sini, dia juga tidak tahu kalau aku menemui kamu di sini ini, kalau dia tahu mungkin dia pasti ikut."
" Sama, Arvin juga tadi tidak aku kasih tahu." Sambung Ayah Candra.
" Terus kenapa kamu Yos, bingung? kamu nggak bisa ngomongkan seperti mereka, yang tidak mau mengajak anak lelaki mereka, mau kalau kamu mengajak Ayesha?" Ucap papah Boby lagi.
" Kalau Yosep mengajak Ayesha, Abiyasa pasti akan memecatnya sebagai mertua! hahaha " ucap Ayah Candra.
Abi Yosep tersenyum sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Inilah nasib mempunyai anak pertama perempuan." Ucap Abi Yosep terkekeh.
" Bikin lagi Yos." ucap Ayah Candra.
" Sebenarnya sih pengen lagi bikin, tapi kata Istriku nggak mau, nanti katanya timang anak timang cucu."
" Jujur amat sih Yos.." sambung papah Andre.
" Hahaha..." tawa Mereka pun pecah.
Abi Yosep hanya bisa cengengesan karena sekali bertemu dia bernasib naas karena menjadi bulan-bulanan ketiga sahabatnya tersebut.
Bersambung...
kita bikin santai dulu ya....selamat membaca🥰🥰