
Di rumah Ayah Chandra tepatnya di kamar Arvin, Nadine yang sudah selesai makan malam bersama keluarga barunya itu pun dengan malu-malu memasuki kamar pribadi Arvin yang sekarang sudah menjadi suami sahnya.
Arvin yang masih duduk bersama dengan kedua orangtuanya sedang asyik berbicara dan bercengkrama, mereka membiarkan Nadine masuk kamar karena mereka melihat wajah Nadine yang lelah seharian ini,karena ini adalah hari pertama di mana Nadine berada jauh dari Mama Raisha dan dr Roni serta Lia saudara kembarnya tersebut.
Dia kemudian duduk di bibir kasur empuk yang ada di kamar itu, sekarang kamar itu adalah kamar dirinya juga,dia menghela nafas panjangnya dan kemudian merebahkan tubuhnya di kasur Itu seraya menatap langit-langit kamar yang sengaja ditata dengan nuansa romantis dan ditambah lampu yang tidak terlalu terang dan tidak mengganggu penglihatan karena cahanya.
" Ternyata suamiku itu orangnya perfect juga ya, kamarnya terlihat rapi sekali tidak ada terlihat debu sedikit pun di ruangan ini dan tidak ada baju yang kotor berserakan seperti lelaki kebanyakan, saat pertama kali tadi aku masuk ke dalam kamar ini aroma ruangannya sangat wangi tercium, sepertinya kamar ini tidak pernah terjamah oleh siapapun, karena tatanan dan posisi yang ada di dalam kamar ini tidak banyak terlalu berpindah seperti layaknya kamar pribadiku yang ada di rumah mama." ucapnya berbicara sendiri seraya tersenyum, dia pun kemudian memiringkan tubuhnya ke arah kanan dan tidak terasa matanya pun tertutup karena merasa kantuk yang sangat berat melandanya.
Beberapapa saat Arvin pamit pada Bunda dan Ayahnya memasuki kamarnya, Nadine pun juga tidak menyadari kalau suaminya sudah memasuki kamar tersebut.
Arvin tersenyum melihat sang istri yang sedang tidur dengan lelapnya, Dia kemudian mengambil selimut yang berada di atas kursi yang masih terlibat dengan rapi dan menyelimuti tubuh istrinya itu, karena suasana di dalam kamar pribadinya itu terasa sejuk membuat siapa saja yang masuk pasti merasakan kantuk yang berat karena tidak bisa melawan rasa sejuk yang membuat kantuk itu.
Kebiasaan seorang Arvin dimanapun dia harus merasakan kesejukan sampai di kamar pribadinya sendiripun harus sejuk dan terasa nyaman, wajar saja Nadine pun menyukai kesejukan yang ada di kamar suaminya tersebut, Arvin membelai rambut hitam sang istri dan kemudian mendaratkan ciuman manis di kening istrinya itu, Dia kemudian mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang sudah tersedia, Arvin lagi-lagi tersenyum dan Dia tidak ingin mengganggu istrinya yang sedang tidur itu, dia mengetahui istrinya pasti sudah merasa lelah sama dengan dirinya yang juga merasakan lelah dan kantuk yang tidak bisa ditahannya, karena pembawaan rasa capek seharian dalam acara pernikahannya itu, Dia pun kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang istri dan akhirnya mereka berdua pun tertidur dengan lelap tanpa melakukan apapun di malam pertama mereka berdua tidur bersama.
Keesokan paginya tepat jam 8 pagi mereka semua sudah berangkat ke kantor baik Abiyasa, Clarissa, Marco,Morgan dan Anindita.
Kak Nico yang kebetulan berada di rumah kedua orang tuanya langsung mengatakan kepada Mama Melisa dan papa David, kalau dia hari ini akan berangkat ke kota B bersama dengan papa Andre dan papa Boby, Mama Melisa dan papa David hanya menganggukkan kepalanya karena mereka berdua sudah mengetahui cerita dari anaknya tersebut tentang masalah Amelia yang menimpanya itu.
Saat mereka berbicara tiba-tiba gawainya Niko berbunyi dia pun langsung mengambil gawai tersebut yang berada di atas meja ruang tengah rumahnya itu.
" Mah, pah, Nico menjawab panggilan dulu ya." ucapnya sembari permisi dengan kedua orang tuanya dan dia pun kemudian melangkah menuju ke arah teras depan dan menghentakkan tubuhnya di kursi teras tersebut.
"Assalamualaikum...sayang...." Sapa Kak Nico
" Waalaikumsalam..."
" Ada apa sayang? kamu menghubungi Mas pagi-pagi begini? Kangen ya? Sabar sayang satu minggu lagi kita akan bersama..." ucapnya pada kekasih hatinya siapa lagi kalau bukan Lia.
" Mas ini....oh ya Mas, kamu jadi hari ini keluar kota?"
" Iya sayang, aku jadi ke luar kotanya, kamu jangan khawatir karena aku berangkat ke keluar kota bersama dengan Om Andre dan Om Bobby, jadi aku tidak bisa macam-macam disana hehehe." ucapnya menggoda sang kekasih.
" Aku percaya kok, walaupun kamu tidak berangkat bersama dengan mereka berdua, aku masih tetap percaya dengan kamu karena aku yakin kalau kamu itu diciptakan hanya untuk ku." ucap Lia sembari tertawa pelan.
" Hehehehe... kamu bisa aja Sayang, nanti kalau sudah berangkat aku akan kasih kabar denganmu, kamu hati-hati ya di rumah jangan kemana-mana, ingat! pesan mama Raisha Kamu tetap berada di rumah sebelum hari pernikahan kita digelar." ucapnya memberi pesan pada calon istrinya itu.
" Iya Sayang... aku akan tetap di rumah, tapi janji ya, setelah urusan kamu selesai di luar kota aku harap kamu segera pulang dan beristirahat, aku tidak ingin kamu sakit, saat nanti hari pernikahan kita." ucapnya sembari tersenyum walaupun dia tidak bisa memberikan senyuman manisnya pada sang kekasih, karena dia tidak ingin menghubungi kekasihnya itu melalui video call tapi melainkan panggilan pribadi saja.
" Iya Sayang, bidadari ku...aku akan ingat pesan kamu itu."
" Ya sudah, hati-hati di jalan ya ya Sayang, Assalamualaikum..."
" Waalaikumsalam." Ucap kak Nico.
Pembicaraan melalui gawai pribadi mereka berdua pun terputus, setelah pembicaraan itu selesai kak Nico menatap layar gawainya sembari tersenyum dan menggelengkan kepalanya, dia menatap wajah cantik Lia dan wajah tampan imut Kevin yang menjadi wallpaper layar gawainya tersebut.
" Kamu berdua adalah yang membuat aku bersemangat, sebentar lagi kalian berdua akan selalu ada disampingku, Sampai kapanpun aku selalu menyayangi kalian berdua, karena kalian berdua adalah kesayanganku." ucapnya sembari tersenyum.
" Ya Allah... selamatkanlah calon suamiku, dimanapun dia berada dan selesaikanlah masalah yang sedang diperjuangkannya untuk saudara kami Amelia, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan mas Nico dan Om Andre serta Om Boby, tapi kenapa perasaanku tidak enak ya? Ya Allah hilangkanlah perasaan tidak enak ini dari pikiranku." ucap Lia sembari menghela nafasnya dengan pelan, Dia pun kemudian meletakkan gawainya di atas meja.
Mama Raisha menatap kearah Lia yang sedang duduk tersebut Mama Raisha pun kemudian mendekati Lia dan duduk di samping anaknya itu.
" Kamu kenapa nak, Kenapa wajahmu terlihat sedih?"
" Lia tidak sedih kok Mah, Lia cuma merasakan suatu perasaan yang tidak enak di hati ini."
" Memangnya ada apa?"
" Lia juga tidak tahu, tapi hari ini Mas Nico mau berangkat ke luar kota."
" Ke luar kota?menemui ibu Nellyana?"
" Iya mah "
" Mudah-mudahan aja dia selalu dilindungi oleh Yang maha kuasa."
" Iya mah, itu yang Lia harapkan."
" Ya udah kamu tidak usah terlalu memikirkan pikiran yang negatif itu, hilangkanlah dari pikiranmu, lebih baik kamu berdoa dan buat hatimu merasa bahagia, kalau kamu merasa sedih, kejadian yang tidak akan kita harapkan bisa-bisa akan terjadi, in sya Allah semua itu tidak akan terjadi kalau kita selalu berdoa kepada yang maha kuasa." ucap Mama Raisha sembari mengelus rambut sang anak, Lia pun hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum pada sang mama, kemudian Mama Raisha pun berdiri dan meninggalkan kembali Lia sendirian di ruang tamu rumahnya itu.
" Ya Allah semoga perkiraan Lia tidak terjadi apa-apa dengan calon suaminya tersebut, aku hanya sebagai seorang ibu yang memohon kebahagiaan untuk anak-anakku Ya Allah, kabulkanlah doa ku ini ya Allah..." ucapnya sembari melangkah menaiki tangga yang ada di dalam rumahnya tersebut yang menghubungkan lantai atas dengan lantai bawah, Dia pun melangkah menuju ke arah kamarnya.
Di kantor Abiyasa, Clarissa kemudian mengetuk pintu ruangan Abiyasa.
" Tok...tok..."
" Masuk " ucap Abiyasa, Clarissa pun membuka pintu dan langsung melangkah menuju kearah Abiyasa yang sedang memeriksa beberapa dokumen resmi milik clientnya yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan Wibawa group tersebut, Clarissa kemudian menghentakkan tubuhnya di kursi ada didepan Abiyasa.
" Tumben kamu mengetuk pintu segala, biasanya Kamu langsung masuk aja." Ucap Abiyasa menatap sesaat kearah Clarissa, dan kemudian kembali fokus lagi ke pekerjaannya.
" Biasa Biy, olahraga tangan hehehe..." Ucapnya tertawa pelan.
" Ish! mana ada olahraga tangan dengan cara mengetuk pintu, yang ada olahraga tangan itu megang barbel dengan daya beban berkilo-kilo hahaha." ucap Abiyasa tertawa lebar, Clarissa pun ikut tertawa.
" Ada apa Ris?Apakah ada client hari ini yang harus kita temui?"
" Tidak ada Biy, tapi ada yang ingin Aku bicarakan denganmu."
" Bicara soal apa ?"
" Morgan "
" Morgan? Memang kenapa dengan Morgan?"
" Sebentar lagi kan Morgan merayakan hari jadi nih."
" Iya... terus..."
" Aku, Marco dan Anindita beserta Antis dan suaminya ingin membuat kejutan."
" Antis dan suaminya?memangnya siapa dia?" Tanya Abiyasa heran.
" Astaga!!" CLarissa kemudian menepuk jidatnya sendiri.
" Maaf Biy aku lupa menceritakan padamu."
" Ceritakan soal apa?" ucap Abiyasa sembari menghentikan aktivitas kerjanya itu, kemudian Clarisha pun menceritakan semuanya pada Abiyasa, Siapa sebenarnya Antis tersebut dan Dia juga menceritakan tentang mereka yang ingin memberikan kejutan kepada Morgan di hari jadinya itu, Abiyasa pun mendengarkan cerita dari Clarissa, dia pun kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya tersebut, dia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Oke! aku ikut untuk mengerjain Morgan, apakah Arvin sudah tahu?"
" Kalau gitu, ya udah kita setelah pulang kerja nanti ke rumah Arvin untuk mengatakan semuanya, pada Arvin."
" 0ke!" ucap Clarissa kemudian dia berdiri dari duduknya hendak melangkah keluar ruangan.
" Kamu mau ke mana?"
" Ya aku mau ke ruanganku lah, karena aku sudah menceritakan semuanya padamu."
" Nggak... Nggak.. kamu Nggak boleh keluar ruanganku."
" Lho memangnya kenapa?"
" Kamu harus bantuin aku memeriksa ini semua."
Clarissa langsung menatap ke arah mejanya Abiyasa yang penuh dengan kertas-kertas berharga yang ada di depannya tersebut.
" Ogah!" ucapnya singkat.
" Oke! kalau kamu ogah, kamu enggak akan bakalan dapat gaji bulan ini! Bereskan hehehe..."
" Jahat kamu Biy...iya.. iya deh, kalau kayak gitu, Ini apa yang aku mau periksa nih." Ucapnya pasrah sembari duduk kembali dikursinya.
" Periksa bagian yang ini." ucap Abiyasa sembari tersenyum penuh kemengangan, dan memberikan beberapa kertas dalam satu map berwarna hijau muda, Clarissa pun kemudian mengambil map tersebut dan mulai memeriksanya, mereka berdua pun mengerjakan pekerjaan mereka bersama-sama di ruangan Abiyasa.
Tepat jam 10 pagi sebuah mobil memasuki halaman rumah Mamah Melisa, papah Bobby dan papa Andre pun turun dari mobil dan melangkah menuju pintu utama rumah tersebut, kebetulan pintu rumah itu terbuka dengan lebar.
" Assalamualaikum..." Sapa papah Andre.
" Waalaikumsalam..." ucap Mamah Melisa yang kebetulan duduk di ruang tamu, Mama Melisa dan papa David pun keluar dari ruang tamu dan menghampiri mereka berdua, Mama Melisa dan papa David menyalami kedua lelaki yang yang masih terlihat tampan walaupun sudah tua.
" Mana Nico Mel?" tanya papa Andre.
" Kakak nggak masuk dulu?" Tanya Mamah Melisa.
" Nggak Mel, kakak mau segera menyelesaikan permasalahan ini." Ucap papah Andre.
Dianggukkan mamah Melisa dan papah David.
Kak Niko yang kebetulan sudah mengetahui kedatangan kedua Omnya itu pun segera menuruni anak tangga satu per satu menuju mereka, sesampainya kak Nico dihadapan Mereka pun langsung berpamitan dengan kedua orang tuanya.
" hati-hati ya nak.." ucap Mamah Melisa...
" Iya mah..." Ucap kak Nico.
" Hati-hati ya kak..." Ucap mamah Melisa pada sang kakak.
Dianggukkan papah Andre sembari tersenyum.
" Mah, pah, Nico berangkat dulu ya." ucapnya pada mama dan Papanya.
" Hati-hati nak." ucap papa David sembari menepuk pundak sang anak, Kemudian mereka pun melangkah menuju mobil Papa Bobby yang sudah menunggu sedari tadi, karena mereka ingin berangkat keluar kota tepatnya ke kota B Dimana mereka mencari kebenaran tentang ibu Nellyana itu, karena ibu Nellyana menyimpan semua rahasia tentang saudara kandungnya Amelia, setelah mengucap dan membalas salam mobil itu pun perlahan-lahan meninggalkan rumah kediaman keluarga Mamah Melisa menuju ke arah bandara.
Arvin yang memang terbangun agak siang setelah sholat subuh dia malah pergi tidur kembali, karena dia tidak bisa melawan rasa kantuk dan rasa lelahnya itu dan saat bangun melihat sang istri sudah tidak ada di sampingnya, Dia kemudian cepat-cepat bangun dan setengah berlari menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya, Setelah membersihkan wajahnya dia pun kemudian mengambil handuk yang memang sudah tersedia.
Dia keluar kamar dan melangkah menuruni anak tangga rumahnya dia menengok kiri dan kanan hanya melihat ruang tengah dan ruang tamu serta ruang tv kosong tidak ada orang sama sekali.
" Sayang... panggilnya pelan tapi tidak ada sahutan.
" Bunda " ucapnya sambil melangkah menuju ke teras depan rumahnya tersebut, tapi dia tidak menemukan bundanya dan sang istri, Dia kemudian melangkah menuju ke arah dapur dia menghela nafasnya dengan dalam karena istri dan bundanya itu sedang berada di dapur yang sedang berkreasi membuat kue, menantu dan mertua itu terlihat tertawa pelan dan berbicara sangat serius, kemudian Arvin menyandarkan tubuhnya di pintu ruang dapur dengan posisi memiringkan badannya dengan kepala menyentuh tiang pintu tersebut dan mensedekapkan tangannya didada sembari mengawasi kedua wanita yang sangat disayanginya itu berada di dapur, sesekali terdengar gelak tawa diantara mereka berdua, mereka berdua tidak menyadari kalau Arvin sedang memperhatikan mereka.
Tiba-tiba mereka berdua dikagetkan oleh Art rumah tersebut karena menegur Arvin yang sedang berdiri didekat pintu masuk dapur.
Art itu baru datang dari arah luar membawa keranjang belanjaan, ternyata Art itu baru selesai belanja kebutuhan di dapur.
" Maaf Den Arvin, permisi ya Den." ucapnya.
" Oh iya maaf Mbak, saya menghalangi jalan mbak." ucap Arvin mengagetkan kedua wanita yang ada dihadapannya tersebut, kemudian Art yang sering dipanggil Arvin dengan sebutan Mbak itu langsung menuju ke arah mereka berdua, Bunda Adel dan Nadine pun menoleh kearah Arvin .
Arvin kemudian melangkah mendekati mereka berdua dan duduk di meja makan yang tidak jauh dari kedua wanita yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka itu.
" Kamu sudah bangun mas." Ucap Nadine.
Arvin mengangguk dan tersenyum.
" Kamu mau Nadine buatkan teh atau kopi?"
" Tidak usah sayang... kopi dan teh tidak cukup bagiku selain memandang wajahmu." Ucap Arvin menggoda sang istri.
Nadine hanya tersipu malu, karena dia merasa sangat tersanjung dengan ucapan Arvin, tapi dia juga merasa malu-malu karena Arvin mengatakannya di depan mertuanya tersebut.
Bunda Adel hanya tersenyum saja...
" Mulai deh gombalnya, Nadine kan sudah jadi istrimu jangan digombalin mulu deh." ucap Bunda Adel sembari terkekeh.
Arvin pun ikut terkekeh juga, Mereka kemudian melanjutkan pekerjaannya dan Arvin mengambil gawainya yang ada di saku celananya itu dan kemudian memainkan gawainya tersebut sembari sesekali dia menatap ke arah kedua wanita itu, terdengar suara Bunda Adel menjelaskan kepada Nadine cara-cara memasak kue yang sedang mereka praktikkan tersebut.
Jet pribadi yang papah Andre tumpangi pun tiba di bandara di kota yang mereka tuju, mereka berberempat kemudian turun dan melangkah menuju ke arah lobby bandara, papa Andre kemudian berbicara sesaat dengan pihak bandara, setelah selesai berbicara mereka berempat melangkah menuju ke arah parkiran di mana taksi khusus bandara sudah nongkrong berada di parkiran khusus untuk taksi bandara, Mereka kemudian memasuki taksi tersebut, kak Nico pun kemudian mengatakan alamat yang akan dituju mereka kepada sopir taksi itu, karena alamat berada tidak jauh dari bandara dan juga taksi yang mereka tumpangi itu memang melewati jalur yang dituju, mereka menikmati kota B karena sudah beberapa bulan mereka tidak pernah lagi menginjakkan kaki di kota B itu, setelah Abi Yosep kembali ke kota mereka, kota B adalah kota orang tuanya Abi Yosep dan kota orang tua Umi Vita.
Kak Nico pun kemudian menghubungi Amir, beberapa saat kemudian sambungan dari gawai pribadi tersebut pun tersambung.
" Assalamualaikum..." terdengar suara dari seberang.
" Waalaikumsalam..." Jawab kaka Nico.
" Ada apa Nic?" tanya Amir.
" Aku sudah berada di kota B dan menuju ke arah alamat rumah kamu."
" Ach.... yang benar kamu."
" Iya dong! tolong ditunggu di depan rumah ya, biasa orang penting mau bertemu, jangan lupa karpet merahnya digelar dekat pintu masuk hahaha." ucap Kak Nico sembari tertawa lepas.
" Beres! aku akan menunggunya." ucap Amir sembari tertawa juga.
Kemudian sambungan telepon pun terputus karena memang mereka mengakhiri panggilan itu bersama-sama, taksi terus melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah tempat dimana Amir sekarang berada.