
Akhirnya yang dinantipun tiba Pak penghulu sudah datang semua mata tertuju pada sesosok yang ditunggu-tunggu sedari tadi.
" Assalamualaikum.." sapa salah satu petugas KUA yang datang bersama Pak penghulu tersebut.
" Waalaikumsalam.." jawab mereka semua yang ada di ruangan itu, berhubung yang menghadiri pernikahan Morgan dan Anindita hanya dari pihak keluarga masing-masing kedua pasangan tersebut.
" Sekali lagi ku ingatkan Mor...awas loh! Jangan sampai salah, kalau salah bikin ancur abu gosok aja ntar hehehe..." ucap Arvin tertawa tertahan.
" Hmmm...aku sudah mempelajarinya Vin,dan sudah mengingatnya, tak akan lupa, dijamin Vin,Morgan gitu loh... hehehe." balasnya seraya mendelik,seakan mengejek Arvin dengan tatapan kedua belah matanya tersebut.
" Masa sih?" tanya Arvin tersenyum.
" Iya nih,pasti ada aja yang salah ntar." ucap Abiyasa menyambung omongan dari Arvin sembari terkekeh.
" Wah parah nih! Abang ipar nggak ada akhlaknya!" ucap Morgan sedikit berbisik, Mereka pun terkekeh bersamaan, lagi-lagi papah Andre menatap ke arah mereka dan mereka kemudian tersenyum serta langsung terdiam.
Pak penghulu itu pun tersenyum melihat mereka berempat yang terkekeh pelan.
Anindita yang memang tidak didampingkan dengan Morgan saat ijab kabul, Dia sedang berada di dalam ruangan khusus untuknya yang ditemani oleh si kembar Lia dan Nadine serta Clarissa, begitu juga mama Anisha dan Ayesha,yang memang berada di dalam ruangan itu pun tersenyum melihat kebahagian yang terpancar diwajah Anindita.
Mama Anisa memberikan senyumannya pada anaknya itu.
" Mama..." ucap Anindita.
Mama Anisha tersenyum dan mendekati sang anak dengan senyuman kebahagiaan seorang ibu yang sedang merasakan kebahagian sang buah hati tercintanya.
Mama Anisha duduk di samping putrinya itu meraih tangan Anindita dan menggenggamnya.
" Mah..." panggil Anindita.
" Ya nak..." jawabnya dengan penuh kelembutan seraya menatap wajah cantik putrinya yang sudah di make up begitu cantiknya.
" Mama tahu kalau kamu gugup dan bercampur bahagia, Mama juga dulu mengalaminya sama seperti mu nak." ucapnya sembari menyentuh dagu putrinya itu, Anindita menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman sang mama,. Kemudian terdengar suara dari luar karena ijab kabul segera dimulai, mereka yang ada di dalam kamar tersebut langsung hening.
" Bagaimana Morgan? Kamu sudah siap?" tanya papa Andre dengan anggukan mantap Morgan pun menyahut.
" Ya pah! Morgan siap, lahir dan batin." ucapnya.
Papah Andre pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar jawaban sang calon mantu.
Lalu Papah Andre menoleh sesaat pada Pak penghulu dan Bapak penghulu pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya juga, untuk mempersilahkan papa Andri menjalankan tugasnya untuk menikahkan langsung sang Putri tercintanya, sejenak Papa Andre menatap Morgan dan kemudian dia meraih tangan Morgan, namun saat Papah Andre menggenggam tangan Morgan terasa sekali tangannya itu berkeringat dan sedikit gemetar,papah Andre tersenyum.
" Kamu sakit Mor?"tanya papa Andre.
" Em... itu... anu...nggak pah." ucapnya sedikit gugup.
" Hey! Jangan gugup broo.... santai rileks." ucap papa Andre terkekeh, kembali Morgan hanya bisa mengusap wajahnya pelan dengan tangan kirinya yang lain hanya bisa tersenyum saja melihat calan mertua dan calon mantu berbicara.
" Baiklah kita mulai saja." ucap papa Andre di anggukan oleh Morgan.
" Bismillahirohmanirohim..." ucap papa Andre dan Morgan pun bersiap dengan bersemangatnya.
" Saudara Morgan Prawira Bin Charlos Prawira, saya nikahkan dan saya kawinkan anak kandung saya Anindita Putri Wibawa binti Andre praja Wibawa kepada engkau dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan 20 gram emas tunai."
" Saya terima nikahnya Anisha Putri Wibawa dengan.." belum selesai Morgan mengucapkan ijab kabul papah Andre langsung bersuara.
" Hey! semprul bocah iki!! Anisa itu calon mertua mu broo! kalau mau menikahi mertua mu itu langkahi dulu trotoar dan langsung kita gelut aja!" ucap papa Andre seraya menatap tajam ke arah Morgan.
" Hahahaha.." terdengar tawa mereka pecah, Papa Andre pun tertawa lepas.
" Olah Mor...tikungan tajam banget sih Mor! Hahaha..." Tawa papah Boby lepas...
" Suit...suit...saingan mu Ndre...terang-terangan..hahahaha " sambung Abi Yosep tertawa lepas.
" Oalah nak-nak...gimana ini hehehe..." Ucap papa Charlos.
" Abiyasa hampir saja punya papah kedua..." Celetuk Arvin.
" Hahahaha...." Tawa Abiyasa mengembang.
" Hus! Papah Andre tidak bisa terkalahkan." Celetuk papah Andre tersenyum, pak penghulu pun ikut tertawa.
" Hehehe... maaf pah, biasa kebawa gugup dan saking semangatnya pah." ucap Morgan terkekeh juga seraya cengengesan.
" Hahaha santai bro... Tapi kali ini kalau kamu salah lagi kita gelut beneran ya!" ucap papa Andre tersenyum.
" Santai broo... rileks..." ucap Abiyasa tertawa diikuti oleh Marco dan Arvin serta Niko, sedangkan papa Charlo hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Begitu juga dengan Abi Yosep, papah Boby dan Ayah Candra hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Morgan.
" Kita mulai lagi ya, kali ini harus benar jangan salah lagi." ucap papah Andre pada Morgan sembari menoleh kearah pak penghulu dan beliau pun menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan papa Andre untuk melaksanakan kembali ijab kabulnya Morgan, kemudian Papa Andre pun kembali mengucapkannya dan dengan tarikan nafas dan tenang serta fokus akhirnya Morgan pun lantang menjawab dan tidak salah lagi.
" Bagaimana saksi ?" tanya Pak penghulu."
" Sah!" ucap para saksi yang hadir!"
" Alhamdulillah..." Ucap mereka semua.
"Alhamdulillah..Yaa...Allah akhirnya sah juga......akhirnya aku nikah juga!!" teriak Morgan pelan dan berdiri kegirangan yang lain pun tersenyum dan begitu juga para sahabatnya merasa bahagia, karena sudah menyaksikan salah satu sahabatnya telah melaksanakan pernikahan yang sakral, Walaupun ada kesalahan sedikit tapi dapat diperbaiki dan tidak mengganggu momen bahagia sahabatnya itu.
" Heh!...heh!...belum selesai..." Ucap papa Charlos sambil tersenyum melihat sang anak yang sangat bahagia,Morgan pun tersenyum dan dapat menguasai rasa bahagianya itu, diapun langsung duduk kembali.
Kemudian Anindita dibawa keluar dan didampingkan duduknya dengan Morgan.
Morgan yang melihat sang istri sangat terpesona karena sangat cantik dengan balutan kebaya putih menambah kecantikan yang terpancar di wajah istrinya itu.
" Kamu cantik banget sayang..." bisiknya di telinga Anindita, Anindita tersipu malu.
" Sabar woi!!masih banyak orang! Hehehe." Ucap Arvin pelan sambil tertawa.
" Iri ya? bilang Bos!" ucap Morgan tersenyum,Arvin tersipu malu dan mengusap wajahnya dengan pelan, tiba saatnya mereka berdua menyelesaikan semuanya, setelah penandatanganan berkas pernikahan mereka,dan dilanjutkan sungkeman dengan kedua orang tuanya, Tapi sebelumnya Morgan menyematkan cincin pernikahan mereka satu sama lain dan Anindita meraih tangan suaminya dan menciumnya, begitu juga Morgan langsung mencium kening sang istri, lalu dilanjutkan acara yaitu acara pedang pora sama seperti Ayah Candra dan Abi Yosep saat mempersunting para istri mereka,Bunda Adel dan Umi Vita.
Setelah acara pedang pora selesai dengan hikmatnya acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan, semua tamu undangan sudah datang dan silih berganti memberikan kata selamat berbahagia untuk kedua mempelai, tidak ketinggalan para sahabatnya juga memberikan ucapan pada Morgan dan Anindita, mereka semua terlihat bahagia sekali dari keluarga dua belah pihak, sahabat, rekan kerja dan para tetangga yang turut hadir dalam pernikahan mereka.
*****
Di rumah sakit...
" Kak, Nika ingin cepat pulang kerumah."
" Sabar ya dek, nanti kita akan segera pulang." Ucap Amellia.
" Tapi kita nanti tinggal di mana Kak? Nika tidak mau lagi tinggal di kontrakan itu Kak, Nika tidak tenang kalau tinggal di sana lagi." ucapnya terlihat ada rasa ketakutan yang sangat mendalam.
Amelia menatap sang adik dengan terkejut, karena adiknya itu tidak pernah bilang padanya kalau dia merasa takut di rumah kontrakannya itu.
" Ada apa dengan Nika? sehingga dia merasa takut " gumam Amelia dalam hatinya, Amelia terus menatap sang adik Nika hanya bisa menatap sesaat wajah kakaknya itu, karena Nika tahu kakaknya pasti bertanya-tanya kenapa dia tidak mau lagi tinggal di rumah kontrakan tersebut.
" Kak..." panggilnya lagi.
" Ya Dek..." sahut Amelia.
" Nika rindu dengan mama dan papa."
Lagi-lagi Amelia terkejut dengan ucapan sang adik, baru kali ini Nika mengatakan sejujurnya kalau dia sangat merindukan kedua orang tuanya, sebenarnya Amelia tahu kalau adiknya itu memang sangat merindukan kedua orang tuanya, tapi dia tidak pernah mengatakannya kepada dirinya, Amelia Hanya bisa menarik napasnya dengan pelan dan dia pun langsung mengusap kepala adiknya itu,dia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena dia juga sangat merindukan kedua orang tuanya, hanya air matanya yang menetes membasahi kedua pipinya yang mulus tersebut, Nika pun hanya memejamkan matanya, karena kerinduan di hatinya begitu mendalam dengan almarhum kedua orang tuanya tersebut.