THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 102



Di kamar Abiyasa dan Ayesha merebahkan tubuh mereka di kasur king size nya, Ayesha memiringkan tubuhnya menghadap sang suami yang sama sama memiringkan tubuhnya saling berhadapan.


" Mas..."


" Hmmm...ya sayang..." Jawab Abiyasa seraya membelai rambut sang istri.


" Yesha ikut ya besok?" Ucapnya.


" Hah?! Ikut ?" Ucapnya terkejut dengan ucapan Ayesha istrinya.Ayesha hanya mengangguk saja.


" Nggak...nggak...Mas nggak mau kalau istri mas ini jadi perhatian si bangkotan itu " ucapnya seraya membelai pipi sang istri dan mencium kening istrinya.


" Yesha mau liat kak Bella mas.." ucapnya.


" Sayang ... Mas belum pastikan kalau itu adalah kak Bella nya kamu sayang, mudah mudahan aja itu bukan kak Bella kita,kita tinggu saja kabar dari Morgan, kalau sudah ada kabarnya baru kita tahu siapa Bella istri nya Bimo itu." Ucapnya pada istrinya.


Ayesha hanya mengangguk saja dan tersenyum pada suaminya mesra.


" Sayang..." Panggil Abiyasa lembut dengan kemesraan.


" Hmmm..." Jawab Ayesha seraya menepuk nepuk pelan pipi sang suami.


" Boleh nggak..." Ucap Abiyasa lembut hampir tak terdengar.


Tapi Ayesha mengerti akan ucapan suami tercintanya, dia hanya mengangguk. Melihat anggukan sang istri, Abiyasa seakan akan mendapatkan tenaga ekstra,dan dia pun bertubi tubi melabuhkan ciuman hangatnya pada istrinya yang di sambut Ayesha dengan hangat juga.


Abiyasa seperti berada di gurun pasir dan mendapatkan air segar yang menyegarkan dahaga nya,dengan desahan demi desahan yang memburu diantara kedua nya, yang keluar dari mulut mereka menghantarkan pada kenikmatan yang luar biasa di rasakan keduanya itu, dan nuansa kamar mereka dengan lampu tidur yang ada di ruangan itu menambah keromantisan yang mereka ciptakan sendiri,di tambah lagi dengan ruangan kedap suara yang menjadi saksi bisu dua insan yang sedang mendaki gunung tertinggi,dan sampai akhirnya mereka sama sama mencapai puncaknya,senyuman manis dan bahagia terpancar di kedua wajah pasangan suami istri tersebut,dan mereka sama sama menarik selimut dan larut dalam kelelahan yang di buat mereka berdua, mata mereka pun akhirnya terpejam larut dalam alam mimpi mereka.


*****


Sesampainya Morgan di kota S dia langsung di jemput teman satu letingnya dan membawanya ke rumah kediaman pribadi Rahmat,karena Rahmat tidak ingin sang kawan menginap di hotel atau sejenis nya,dia ingin menjamu langsung sang kawan tersebut, mau tidak mau akhirnya Morgan mengiyakan saja ajakan sang kawan, disamping sudah malam dan dirinya juga sangat lelah akhirnya pun dia mengikuti langkah kaki Rahmat yang membawanha langsung kerumahnya.


Memang,sebelum berangkat ke kota S, Morgan sempat menghubungi kawan satu letingnya tersebut untuk meminta di jemput di bandara malam ini,dan Morgan minta di temani mencari persinggahan buat dirinya beristirahat semalam saja,dengan senang hati Rahmat mengiyakan perkataan Morgan,dan saat diajak mencari persinggahan untuk dirinya, Morgan malah di ajak Rahmat menginap di rumahnya tersebut.


Mobil yang di kendarai Rahmat dan Morgan melaju di jalanan menuju kearah rumah Rahmat.


Selang beberapa saat kemudian mobil putih yang di kemudikan oleh Rahmat memasuki halaman rumah yang lumayan besar,mobil tersebut parkir tepat di tempat garasi yang berada di samping rumah nya itu.


Mereka berdua turun dan melangkah memasuki rumah besar milik Rahmat, di dalam mereka berdua di sambut sama istri Rahmat dan mempersilahkan Morgan menempati kamar khusus tamu.


Dengan senyuman khas Morgan mengucapkan terimakasih pada istri kawan nya itu, dia pun di persilahkan membersihkan dirinya,dan beristirahat, karena besok Morgan akan melaksanakan tugas nya menemui Reno.


*****


Keesokan harinya setelah sarapan pagi Abiyasa, Clarissa dan Arvin bersiap siap mau menemui si Bimo dirumahnya.


Setelah berpamitan dengan sang istri Abiyasa melajukan mobilnya menuju kearah yang di tuju yaitu tempat kediaman pribadi pak Bimo.


Sedangkan di kota S setelah di jamu dengan sarapan pagi,Morgan dan Rahmat berangkat kekantor tempat bertugas nya Rahmat kawan satu letingnya Morgan.


" Kenapa kamu mau menemui si Reno Mor?" Tanya Rahmat ingin tahu, karena tadi malam dia tidak sempat bertanya dengan Morgan di karenakan Morgan terlihat sangat lelah.


" Karena ada yang aku tanyakan padanya "


" Perihal apa? Jadi kepo aku Mor, karena aku yakin melihat kondisi Reno itu kayanya dia tidak melakukan hal yang membuat dia sampai di penjara itu."


" Kok kamu yakin Mat, memang nya kenapa dia ? Bukan kah bukti bukti sangat menyudutkan dia?" Tanya Morhan heran.


" Iya, aku merasa yakin kalau dia itu tidak berbuat seperti yang di tuduh kan padanya, wong orangnya ahli ibadah gitu,sering ngaji juga di setiap waktu dan kesempatan, sholat pun nggak ketinggalan waktu, selalu ramah dengan setiap orang." Ucap Rahmat menjelaskan.


" Dia pernah cerita nggak? Kalau dia punya keluarga selain kakak dan ibunya itu?"


" Waktu senggang saat itu dia sempat terlontar kalau dia juga punya om adik dari ibunya itu yang berkerja di kepolisian."


" Polisi? Dia nyebutkan namanya tidak saat itu?"


Rahmat menggeleng, seraya fokus menatap kedepan.


" Aku nggak nanya siapa om nya itu, Katanya sih jauh om nya berada,dan semenjak om nya itu berpindah tugas kemudian hilang kontak sampai sekarang." Ucap Rahmat lagi.


Morgan hanya mengangguk kan kepalanya saja mendengar cerita yang di berikan Rahmat.


Kemudian mobil yang di kendarai mereka memasuki halaman kantor dan mereka berdua turun setelah mobil tersebut di parkirkan di tempat parkir yang sudah di sediakan.


Kedua lelaki yang sama sama perwira polisi itu melangkah dengan gagah nya menuju kearah dalam.


Rahmat mempersilahkan Morgan masuk kedalam ruangan nya,dan mereka menghentak kan tubuh mereka di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Rahmat mengambil gawainya dan menghubungi salah satu anggota nya dan berbicara sesaat,setelah selesai bicara dia meletak kan gawainya di atas meja yang ada di hadapannya,sembari menunggu salah satu anggota yang di hubungi nya datang.


Sedangkan mobil Abiyasa memasuki sebuah halaman yang terlihat luas,cukup kalau lima sampai Tujuh mobil diparkir di halaman rumah pak Bimo.


Abiyasa menghentikan mobilnya pas di depan rumah pak Bimo, terlihat pintu rumah terbuka lebar seakan akan memang khusus menunggu kedatangan mereka.


Abiyasa dan kedua sahabat nya turun dari mobil dan melangkah menuju kearah pintu utama rumah kediaman pak Bimo, sebelum mereka menyapa pemilik rumah tersebut mereka sudah di sambut langsung sama pak Bimo seorang diri saja, mata Clarissa dan Arvin memutar keseluruh area rumah mencari sosok Bella, namun tidak mereka temukan, begitu juga dengan Abiyasa yang ingin sekali melihat rupa Bella itu seperti siapa.


" Selamat pagi pak Abiyasa, silahkan masuk di gubuk saya ini" ucapnya merendah pada Abiyasa.


" Dasar kurap!! Sok sok merendah segala!! Padahal takut sekali melarat.!!" Ucap pelan Clarissa yang pura pura menyampingkan mukanya kearah Arvin.


" Ssshhhttt.., Ntar antena di kepalanya denger kamu ngomong." Ucap Arvin seraya tersenyum pada pak Bimo namun berbicara pada Clarissa.


Mereka melangkah menuju arah masuk kedalam rumah pak Bimo, saat mereka melintasi ruangan yang tidak terlalu jauh dari pintu utama rumah tersebut, mereka bertiga menoleh kearah seorang ibu yang sedang duduk menggunakan kursi roda, Abiyasa menatap kearah ibu tersebut jauh di bola mata ibu itu,terlihat buliran bening menetes dari kedua matanya itu,dan kedua tangan ibu tersebut menangkup seakan akan memohon ampun dan maaf, Abiyasa terus menatap kearah ibu tersebut, begitu pula dengan Clarissa dan Arvin.


Pak Bimo tersenyum senang karena ketiga tamunya melihat sang mertua yang akan menjadi tamengnya itu.