
Papah Andre menekan nomer anak lelakinya dan beberapa saat sudah tersambung dan dijawab oleh sang anak.
" Assalammualaikum...pah, ada apa pah? " ucap Abiyasa merasa heran kalau sang papah menelpon dia.
" Waalaikumsallam nak, papah mau nanya pada mu,kamu nggak akan bohong kan sama papah, oke! kalau mamah mu bisa kamu bohongi, tapi tidak dengan papah, jujur aja pada papah ada apa sebenarnya di tanah air? " ucap papah Andre dengan pertanyaan yang langsung mengena dengan Abiyasa.
Abiyasa terdiam dan menatap semua sahabatnya saling bergantian, mereka saling pandang dan mereka hanya bisa terdiam.
" katakan sayang ada apa? " ulang Papah Andre bertanya pada anaknya.
" Iya pah, terjadi sesuatu yang menimpa Arvin, tapi Abiyasa mohon pah jangan ceritakan pada bunda Adel, karena takut Biyas nantinya Bunda Adel akan sedih dan kepikiran akan Arvin disini pah, maafkan Biyas pah bukan maksud Biyas membohongi mamah, tapi Biyas tidak ingin kalian semua kepikiran akan kami disini. " ucapnya panjang lebar menjelaskan pada sang Papah.
Papah Andre menarik nafasnya dengan pelan...
" Apa yang terjadi nak, memangnya Arvin kenapa nak?"
" Arvin tertusuk pisau lipat nya Misel pah, di bahu nya dan mendapat lima jahitan." ucapnya.
" Astagfirullahhalazim...siapa Misel..?" tanya papah Andre heran, karena dia baru saja mendengar nama Misel.
" Misel teman kuliah Biyas pah " ucapnya.
Abiyasa pun menceritakan kronologi kejadian dari awal sampai akhir. dari dia memecat Sugeng dari kantor dan persekongkolan Sugeng dan Misel dan sampai akhirnya Arvin menjadi korban tusukan pisau Misel.
Papah Andre dengan seksama mendengarkan keterangan dari anak sulungnya itu, dan tanpa disadari oleh papah Andre, mamah Anisha ada berdiri di belakangnya sejak tadi dan mendengarkan cerita papah dan anak tersebut.
" Arvin kenapa mas ?" tanya nya, sontak saja papah Andre langsung melempar gawainya ke sofa karena terkejut dengan teguran sang istri.
" sayang,,,sejak kapan kamu ada di belakang? " tanya papah Andre.
Gawai yang di lempar di sofa tetap tersambung pada Abiyasa.
" papah...papah masih di di situ? " tanya Abiyasa.
Mamah Anisha mengambil gawai suaminya, seraya tersenyum pada suaminya karena melihat reaksi dan sikap reflek sang suami ketahuan bercerita dengan sang anak tentang Arvin.
" Assalamualaikum anak mamah, yang sudah pintar bohong ya sama mamah...dosa lho sayang.." ucap mamah Anisha.
" Mamah, heheheh,,waalaikumsallam mah,maafin Biyas ya mah...bukan maksud biyas untuk berbohong pada mamah tapi Biyas takut mamah dan yang lainnya kepikiran tentang keadaan Arvin di sini " ucap Abiyasa.
" Tolong ya mah, jangan bilang pada bunda Adel tentang semua ini, kerena Biyas tidak ingin bunda Adel menjadi cemas, Alhamdulillah arvin tidak apa apa mah, dia belum sadar lagi mah karena pengaruh obat bius tadi yang diberikan Anindita saat operasi " terangnya.
" iya sayang,,,nanti kalau sudah siuman dan keadaan membaik, cepat kasih kabar pada mamah dan papah, biar papah yang nyari ide supaya bisa memberikan keterangan pada bunda Adel kamu, biar bunda mu tenang." ucapnya lagi.
" lho kok papah sih yang cari idenya. " ucap papah Andre.
" Papah kan hebat, ya kan nak..." senyum mamah Anisha mengembang.
" Papah kan bukan papah Boby yang punya sejuta ide di kepalanya. " ucap nya membela diri.
" Udah diem sayang jangan ngoceh..." ucap mamah Anisha.
" hmmmm..." papah Andre hanya bergumam.
" Biyas, jangan lupa kabarin mamah papah ya sayang..." ucap mamah Anisha.
" Iya mah, pasti Biyas kabarin ya udah ya mah Biyas tutup dulu, Assalamualaikum..."
" Makanya sayang, kalau mau nelpon itu bilang saja mau menanyakan perihal Arvin bukan karena kangen aja, ketahuan kan akhirnya " ucap mamah Anisha tersenyum.
Papah Andre tersenyum dia tidak bisa membela dirinya karena dia sudah ketahuan sama istrinya.
" Ya udah ayo kita istirahat...." ajak mamah Anisha pada suaminya.
Papah Andre tersenyum dan mengangguk kan kepalanya seraya mengikuti langkah sang istri.
*****
Dirumah sakit di tanah air tepatnya dirumah sakit keluarga Wibawa...
Mereka berempat duduk di sofa sambil menunggui kesadaran dari sahabat mereka Arvin. Di samping ranjang rawat inap sang adik menunggui sang kakak yang belum sadar kan diri karena pengaruh obat bius yang di berikan pada nya.
Jam dinding rumah sakit tepatnya di ruangan Arvin sudah menunjuk kan jam 12 malam. Abiyasa membalas chat sang istri, dia mengatakan pada istrinya kalau dia masih berada di rumah sakit karena Arvin mengalami musibah.
" Kalau kalian mau tidur silahkan tidur dulu nanti aku yang akan menunggui Arvin " ucap Abiyasa pada ketiga sahabatnya tersebut.
" Ris kalau kamu mau pulang, silahkan pulang aja dulu, istirahat dan besok kita akan kekantor polisi memberikan keterangan " ucap Abiyasa pada Clarissa.
" Iya Ris, kasian adik mu Charlo di rumah sendirian " ucap Morgan seraya menatap Clarissa yang terlihat lelah.
" Iya sayang ... lebih baik kamu istirahat aja, ntar aku antar pulang kerumah. " sambung Marco.
" Kalian nggak usah mikirin aku dan adik ku, karena adik ku sudah aku kirim ke planet mercurius, jadi dia aman di sana " ucapnya tersenyum.
" Apa ? ada ada aja kamu itu Ris, ntar kalau om Boby tahu pasti marah besar dia jagoan nya kamu kirim ke planet " kekeh Morgan
" Tenang aja aman kok, planet nya... hehehe " ucap Clarissa.
" Di mana sayang kamu titipkan Charlo..? " tanya Marco.
" hehehe ...di tempat Abiyasa lah, Aku suruh tidur ditempat Biyas " ucapnya seraya terkekeh.
" Berarti rumah nya Biyas planet nya dong hehehe..." Kekeh Morgan.
" Hehehehe..." Mereka hanya bisa terkekeh pelan.
Mereka asyik berbicara dan sampai akhirnya mereka pun tertidur, tepat jam tiga pagi Abiyasa terjaga dan langsung bangun dari tidurnya dia melangkah menuju kamar mandi di ruangan rawat Arvin dan dia membersihkan dirinya, dan dia pun mengerjakan sholat malamnya. sehabis sholat dia membaca ayat suci Alquran melalui aplikasi yang ada di gawainya, setelah selesai dia berdiri dan mau duduk di sofa kembali tiba tiba Arvin memanggilnya.
" Biyas..." panggilnya, Biyas menoleh kearah Arvin, dia tersenyum dan mendekati Arvin,Arvin duduk bersandar di tempat tidurnya,Abiyasa duduk di samping Arvin.
" Gimana sekarang rasa nya Vin..?" tanya Abiyasa.
" Alhamdulillah Biy,aku nggak apa apa, tapi kamu nggak bilang kan pada bunda?" ucapnya.
Abiyasa mengangguk,dan tersenyum.
" Tapi Bunda Adel, Merasakan kalau kamu sudah mendapatkan musibah, namanya juga perasaan seorang ibu, pasti dia merasakan apa yang dirasakan oleh anak anak nya, apa lagi kalau anaknya mengalami musibah, orang pertama yang akan merasakan pasti lah orang tua perempuan kita.' ucap Abiyasa.
" Tapi kamu tidak bilang kan pada bunda kalau perasaan bunda itu benar, ? " Tanya Arvin.
" Tidak Vin, tapi aku tidak bisa bohong sama papah, awalnya aku bohong pada mamah, tapi pada papah aku tidak bisa bohong kamu kan tahu papah itu insting nya kuat banget tidak bisa di bohongi, tapi insya Allah papah dan mamah tidak akan bilang pada bunda Adel, nanti kamu telpon bunda Adel biar menyakinkan kalau kamu itu tidak apa apa," terang Abiyasa pada Arvin.
Arvin hanya mengangguk kan kepalanya ...