
Setelah menghubungi Niko, Papa Andre meletakkan kembali gawainya di atas meja, tidak ada pembicaraan yang terdengar diantara mereka, semuanya terdiam larut dalam lamunan mereka masing-masing.
" Ya sudah kalau seperti itu, kami pulang dulu karena tadi Clara tinggal sama Art di rumah." ucap Mama Melisa.
" Kenapa kamu nggak ajak Clara sekalian tadi ke sini?" tanya Mama Anisha pada Mama Melisa.
" Tadi Clara sedang tertidur, karena Kak Andre menghubungi dan mengatakan agar segera kesini, makanya Mel tinggal." jawabnya.
" Kalian nginap disini aja dulu, sementara waktu sampai Niko pulang dari luar Negeri,besok Kakak ditemani ketiga sahabat Kakak mau menyelesaikan perusahaan disingapura dan langsung pulang bersama dengan Niko." ucap Papa Andre.
" Ya Kak, Mel pulang sebentar ingin jemput Clara dulu ya."
" Ya udah silakan, hati-hati di jalan,kamu jangan terlalu banyak pikiran David jaga kesehatan jangan karena pikiran keluarga kamu dengan pekerjaan kamu dijadikan satu, nggak baik untuk kesehatan kamu, kalau kamu merasa capek bekerja, kamu istirahat aja dulu." pesan Papah Andre kepada David.
" Iya Kak " ucap David singkat, kemudian mereka berduapun berpamitan dengan keluarga mereka yang berada diruangan itu beserta yang lainnya.
Setelah mengucapkan salam mereka berdua pun melangkah meninggalkan mereka yang berada di ruang tengah tersebut.
Mama Anisha dan Papa Andre mengikuti mereka dari belakang mengantarkan Adik semata wayangnya itu keluar dari rumah dan memasuki mobilnya.
Beberapa saat kemudian mobil Melisa pun meninggalkan halaman rumah Kakaknya itu.
Di dalam mobil David dan melisa pun berbicara.
" Apakah dengan cara kita memberitahukan tentang Nayra ini akan merepotkan keluarga Kak Andre.?"
" Sebenarnya Aku tidak ingin menceritakannya dengan Kak Andre tentang masalah Nayra, Aku ingin sendiri menyelesaikan semuanya, tapi kalau Aku mau berangkat ke sana tidak mungkin secara sembunyi-sembunyi,dan tidak bilang dengan Kak Andre, biar bagaimanapun Kak Andre adalah pengganti dari kedua orang tuaku yang sudah tiada." ucap Mama Melisa.
Papa David hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian menggenggam tangan istrinya itu,Dia menoleh sesaat pada sang istri yang terlihat kesedihan di matanya,Mama Melisa memang sangat terbawa perasaan, waktu itu saat perpisahan Niko dengan istrinya Mama Melisa dapat menerima itu semua, Dia berpikir mungkin Niko dan istrinya tidak panjang jodoh, Tapi saat Nayra bersikap seperti ini, Mama Melisa sangat tertekan, hari-harinya memikirkan sang Anak, walaupun Anaknya sudah memiliki pendamping hidupnya, tapi ya namanya orang tua pasti selalu memikirkan Anaknya itu.
Mobil pun terus melaju melewati jalan beraspal tanpa hambatan menuju kearah rumah kediaman mereka, setelah beberapa saat mobil itu pun memasuki halaman rumah besar milik Papa David dan Mama Melisa.
Mama Melisa turun dari mobil saat Papa David ingin turun Dia melarangnya.
" Kamu Mas nggak usah turun lebih baik kamu langsung berangkat kerja aja." ucapnya.
" Kamu tidak apa-apa di rumah?"
" Tidak apa-apa,sebentar lagi juga Aku mau minta jemput kok dengan Abiyasa untuk nginap di tempat Kak Andre."
" Oh ya sudah kalau seperti itu, Aku pergi dulu ya." ucapnya
Kemudian Mama Melissa pun meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya tersebut,papa David pun mencium pucuk kepala istrinya,setelah mengucapkan salam Papa David pun berlalu dari rumahnya dan menuju kembali ke kantornya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, dan dia pun berpikir ingin cepat-cepat pulang dan ingin selalu mendampingi Mama Melisa dalam keadaan seperti itu.
Mama Melisa langsung memasuki rumahnya Dia pun langsung mengambil gawainya dan menghubungi Abiyasa, gawai Abiyasa pun berbunyi
" Assalamualaikum Tante ada apa?"
" Waalaikumsalam jemput Tante ya sekarang bersama Clara."
" Oh ya sudah tunggu di rumah ya Tante." ucapnya mengakhiri sambungan tersebut.
" Ada apa Nak?" tanya Papa Andre.
" Tante Melisa ingin minta jemput."
" Oh ya sudah sekarang cepat dijemput."
" Iya pah, Biyas pamit dulu ya." ucap Abiyasa.
Kemudian Abiyasa berpamitan dengan kedua orang tuanya beserta istrinya,Ayesha mengiringi langkah kaki suaminya, mengantarkannya sampai di depan rumahnya tersebut.
Mobil yang dikendarai oleh Abiyasa meninggalkan rumahnya dan menuju ke tempat Mama Melisa.
*****
Sesampainya di rumah Tante Raisa Pak Sahrul dan istrinya beserta Sarah pun dipersilahkan untuk istirahat di kamar yang sudah disediakan oleh tante Raisa, sedangkan Lia dan anaknya dipersilahkan memasuki kamarnya di samping kamar Nadine, saat di kamar Pak Sahrul pun menghentakkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan kamar tidur tersebut.
Dia meletakkan barang bawaannya,begitu juga dengan gawai yang beberapa hari memang sudah tidak diaktifkannya itu, Dia pun segera mengaktifkan gawainya dan selang beberapa menit setelah aktif, gawainya Pak Sahrul pun berdering.
Pak sahrul menatap kelayar gawai tersebut, ternyata saudaranya yang bernama Bowo menghubunginya.
" Hmmm...pasti dia mencari keberadaanku." gumamnya, tapi Pak Sahrul tidak mau menjawab panggilan tersebut, Dia hanya menatapi gawainya itu yang sedang berbunyi,Bu Sari menoleh kearah suaminya dan menatapnya dengan heran.
" Memang kenapa Pak, Bapak tidak mau menjawab panggilan dari Kak Bowo?"
" Bapak tidak ingin menjawab panggilan Kak Bowo Bu."
" Memang kenapa?"
" Ibu kan tahu sendiri dia,seperti apa,pasti akan bertanya Bapak ada di mana? Bapak sudah yakin kalau Dia masih menyuruh anak buahnya untuk mengawasi rumah kita." ucap Pak Bowo.
" Setidaknya Bapak angkat aja,Nanti Dia tambah curiga, dan Bapak jangan mengatakan kalau kita berada di tempat Bu Raisa."
Pak Sahrul hanya terdiam,sedangkan Gawainya terus berbunyi, beberapa kali pak Bowo menghubungi pak Sahrul tapi sebanyak itu pun Pak Sahrul tidak mau menjawab panggilan saudaranya tersebut.
" Ya sudah terserah Bapak, mau dijawab juga syukur, kalau tidak dijawab ya tidak apa-apa, tapi nanti bisa menimbulkan suatu masalah Pak, kalau seandainya Bapak tidak menjawab panggilan dari nya." ucap istrinya lagi. Pak Sahrul pun menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.
Kemudian gawai itu pun berbunyi kembali.
" Angkat saja Pak, bapak kan tahu sifatnya Kak Bowo itu seperti apa, sebelum Dia mendengar jawaban dari Bapak,Dia tak akan henti-hentinya menghubungi Bapak." ucapnya lagi.
Pak Sahrul pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia menjawab panggilan Pak Bowo.
" Assalamualaikum " Sapa Pak Sahrul tapi Pak Bowo tidak menjawab salam dari Pak Sahrul tersebut.
" Kamu di mana sekarang Rul? Kenapa seharian ini kamu tidak ada di rumah? sekarang Aku ada di depan rumahmu." ucapnya terdengar marah dari nada bicaranya.
" Kamu di mana? jangan-jangan kamu bersama dengan Lia kan sekarang ini?!"
" Aku tidak bersama dengan Lia tapi aku sedang berada di kebun." jawab pak Sahrul.
" Kebun? di mana? Biar aku temui sekarang juga " tanyanya sedikit emosi terhadap Adiknya tersebut.
" Kebunku di tengah hutan Kak, Apakah kakak mau berangkat menemui Aku di tengah hutan? Banyak Kodoknya lho Kak? Kakak kan paling tidak suka bertemu kodok." ucap Pak Sahrul tersenyum,karena Dia tahu sang Kakak itu paling takut dengan hewan yang kecil seperti kodok,Badannya saja yang besar tapi nyalinya kecil kalau ketemu dengan hewan yang bernama Kodok.
Pak bowo hanya terdiam, setelah mendengar Adiknya berbicara seperti itu.
" Daripada Aku dimakan kodok,lebih baik kamu aja yang dimakan kodok sana." ucapnya lagi seraya bergidik.
" Kapan kamu pulang dari kebun?"
" Aku tidak tahu Kak "
" Jangan-jangan disana ada Lia"
" Tidak ada, Aku tidak bersama dengan Dia, semenjak Kakak mengancam Aku, Aku tidak pernah lagi melihat Lia,dan Aku juga tidak tahu lagi sekarang keberadaannya dimana."
" Tidak mungkin Aku tidak percaya dengan ucapanmu,jangan bohong kamu denganku " ucapnya sembari membentak sang Adik.
" Terserah Kakak, kalau Kakak ingin bertemu denganku temui saja Aku di hutan didekat kampung sebelah." Ucap pak Sahrul kemudian dia mengakhiri pembicaraannya dengan Pak Bowo secara sepihak.
" Sahrul ini pasti saja berbohong padaku! masa dia tinggal di hutan, Aku tidak percaya, jangan-jangan dia dihutan bersama dengan Lia dan Anaknya itu, ini tidak bisa dibiarkan!" ucapnya menahan amarahnya.
Istrinya mendengar suaminya berbicara seperti itu, Dia langsung berbicara kepada sang suami.
" Mas yakin kalau si Sahrul ada di kebun?" Tanya Bu Yetni merasa curiga dengan omongan Pak Sahrul.
" Iya,Dia sendiri yang bilang ada di kebunnya yang ada didalam hutan."
" Apa mas tidak curiga dengan omongannya, mana ada sih di dalam hutan sinyal gawai dan Mas dengan leluasa menghubunginya dengan lancar seperti itu." ucap istrinya tersebut.
Pak Bowo kemudian menatap kearah istrinya, dia baru sadar dengan apa yang dikatakan oleh istrinya barusan.
" Iya juga sih,benar juga apa kata kamu Dek, berarti Dia sekarang berada di kota dan dia pasti bersama dengan Lia,Dia pasti menghindariku agar Aku tidak mengetahui kalau Dia masih memberikan perhatiannya kepada Lia dan Anaknya itu."
" Memang kamu yakin Mas Lia membesarkan Anaknya."
" Aku pasti yakin karena saat itu Aku menyuruh Dia untuk membuang Anak itu,Tapi Dia tidak mau dan Dia tetap mempertahankannya berarti sekarang Anaknya mungkin sudah besar."
Bu Yetni menganggukkan kepalanya.
" Coba sekali lagi Mas hubungi." ucap Bu Yetni mengatakan kepada sang suami dengan sigap Pak bowo langsung menghubungi pak Sahrul ternyata nomor yang dihubungi sudah tidak aktif lagi .
" Kurang ajar Sahrul !! Dia pasti sudah mengetahui kalau Aku curiga dengannya, jadi gawainya di nonaktifkannya lagi." ucapnya merasa dibohongi oleh sang Adik.
" Itulah bodohnya kamu Mas!!" ucap istrinya.
Pak Bowo hanya bisa mendengus dengan kesal.
" Dia bilang berada di hutan kok masih bisa dihubungi,makanya kalau jadi orang itu Jangan berpikiran pendek!! ucap istrinya sembari menghempaskan majalah yang Dia pegang keatas meja dekat suaminya, dan Dia pun langsung melangkah menuju ke dalam kamar serta menutup pintu kamarnya dengan keras.
Pak Bowo menghela nafasnya dengan berat.
" Huuh!! Dasar wanita tahunya bisa berbicara seperti itu, jika seandainya dia berada di posisi Aku yang sebagai laki-laki ini, Dia juga pasti akan Gegabah dalam mencari informasi tersebut! Kalau sudah melihat uang di depannya, matanya langsung biru sekali dan sangat berbinar-binar melihatnya dan pasti merasa senang!" ucap Pak bowo seraya menyenderkan tubuhnya disandaran sofa rumahnya tersebut.
*****
Sedangkan dikamar di kediaman rumah Tanta Raisa, Pak Sahrul langsung mengambil SIM card yang ada di gawainya itu.
" Kenapa Bapak ambil sim card tersebut?" tanya Sarah.
" Biarkan saja sim card ini mau Bapak hancurkan, biar pamanmu itu tidak lagi mencari Bapak dan tidak menemukan Bapak lagi." ucapnya kepada Sarah karena kebetulan saat itu Sarah berada di kamar kedua orang tuanya itu.
" Maafkan Aku Kak sementara waktu Aku tidak ingin kakak menghubungiku karena Aku tidak ingin Lia terganggu karena ulah kamu Kak" batinnya seraya menatap sim card yang sudah dikeluarkan nya dari gawainya tersebut.
Apakah Bapak yakin untuk membuang sim card ini ?"tanya Sarah.
" Ya Nak, bapak akan membuangnya, sim card bisa dibeli lagi tapi kebahagiaan Kakakmu Lia tidak bisa untuk dibeli, Karena Dia sudah selama ini menahan derita bertahun-tahun lamanya karena ulah pamanmu itu,kalau seandainya pamanmu menemukan kita disini terpaksa Bapak yang akan menghadapinya, Biar bagaimanapun Bapak yang bertanggung jawab di sini, pamanmu tidak mengetahui kalau Lia bukanlah darah daging dari keluarga kita, Lia ada keluarganya sendiri dan tidak mungkin juga keluarganya akan membiarkan Dia diganggu lagi oleh pamanmu itu, kalau sampai Dia diganggu lagi oleh Paman mu,Bapak tidak akan segan-segan untuk memenjarakan pamanmu itu, karena pamanmu sudah kelewat batas." ucapnya menjelaskan kepada sang Anak.
Sarah hanya menganggukkan kepalanya.
" Oh ya Nak ada apa kamu menemui Bapak dan Ibu?" tanya Bu Sari.
" Sarah takut aja Bu." ucap Sarah sembari menatap kearah kedua orang tuanya tersebut.
" Takut apa sayang?" tanya Pak Sahrul.
" Sarah takutnya kalau Paman Bowo tahu Kak Lia bukan keponakannya, terus Sarah lagi nantinya yang jadi sasarannya Pak, Sarah nggak mau Pak,Sarah ingin melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi lagi Pak." ucapnya terlihat sedih.
Pak Sahrul menghela napasnya dalam.
" Anakku, kamu nggak usah takut, Bapak akan selalu menjaga kamu,dan kamu jangan berpikiran kalau Bapak ini seperti tante Yuni kamu,tidak Nak! Bapak tidak akan membiarkan kalau kamu dimanfaatkan oleh pamanmu itu, Dia tidak berhak atas dirimu Nak! yang berhak itu adalah Bapak dan Ibu, bukan Dia, karena Kamu adalah Anak Bapak, Bukan Anak Dia, kamu dan Dia hanya sebatas Paman dan ponakan, sekarang kamu nggak usah berpikiran yang tidak-tidak lagi,kamu akan melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi lagi,Bapak akan tetap berusaha untukmu Nak." ucapnya panjang lebar pada sang Anak.
Sarah hanya mengangguk dan tersenyum manis pada kedua orang tuanya tersebut.
" Ya sudah sekarang kamu istirahat saja kelihatannya kamu juga sudah capek." ucap Pak Sahrul pada Sarah.
" Ya Pak kalau begitu Sarah kembali ke kamar ya Pak, Bu " ucapnya.
" Iya "sahut pendek sepasang suami istri tersebut sembari menatap kearah langkah sang Anak yang melangkah meninggalkan kamar tidur mereka.
" Ya sudah Bu sekarang kita istirahat aja dulu, nanti lagi kita bicarakan Bagaimana caranya menghadapi Kak Bowo." ajak Pak Sahrul kemudian melangkah mendekati kasur King size yang ada didalam kamar tersebut, dan Dia pun langsung merebahkan tubuhnya begitu pula dengan Bu Sari istrinya itu, Dia merebahkan tubuhnya di samping sang suami menikmati istirahat siang mereka.