THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 186



Urusan Morgan di kantor polisi belum selesai dan Morgan pun menyuruh Arvin untuk mengantarkan Ayah Candra pulang dan menjelaskan kepada Bunda Adel semua yang terjadi,Arvin hanya menganggukkan kepalanya.


Sebelum mereka pergi mereka membicarakan sesuatu hal diantara Abiyasa, Arvin, Morgan dan para orang tua mereka asyik berbicara dengan para anggota yang lain yang masih menjabat dan bekerja di kantor tersebut, dan Pak Sahrul beserta istrinya diantar pulang oleh anak buahnya Morgan, sedangkan Niko terus menatap Lia.


" Semakin Aku melihat Lia semakin berdebar rasa jantung ini,apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama." batinnya seraya menatap terus Lia yang sedari tadi mengusap sisa air matanya yang berada di samping Dokter Roni dan Nadine.


Nico tidak menyadari karena Abiyasa, Arvin, Morgan menatap kearah Niko. kemudian bergantian menatap kearah Lia yang sedang berbicara serius dengan Dokter Roni dan Nadine.


" Sepertinya ada yang lagi jatuh cinta nih." ucap Morgan.


" Iya Aku juga menduga bang Niko jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Lia." lanjut Abiyasa.


" Kalau Aku sih mendukung aja, tapi kalau seandainya mereka berjodoh, Aku dululah yang menuju ke pelaminan karena udah lama menunggu waktu ini." ucapnya terkekeh.


" Nah ini tugas kita untuk mempersatukan mereka." ucap Morgan lagi.


" Yap!tugas kita harus satukan mereka." ucap Abiyasa sembari terkekeh.


Sedangkan Lia tidak sadar ada pemilik hati yang sangat menginginkannya,dan Dia tidak sama sekali memperhatikan Nico atau yang lainnya, Dia sangat bahagia karena sudah terbalaskan derita selama bertahun-tahun lamanya dengan tertangkapnya Ariel dan yang lainnya.


Nico baru sadar kalau Dia yang berdiri didekat mobil sambil menyandarkan tubuhnya tersebut dengan tangan di dada bersedekap dan kedua kaki menyilang menatap ke arah ketiga orang yang sedang membicarakannya tersebut, Dia pun kemudian tersenyum dan melangkah menuju kearah mereka.


" Lagi ngapain kalian? ngomongin Aku ya?" tanya Niko sembari tersenyum.


" Oh nggak bang, Abang aja kali yang sensi." ucap Abiyasa terkekeh.


" Tapi kalau boleh jujur Morgan ingin bicara sama Abang Niko nih."


" Bicara apa?"


" Kayaknya ada yang sedang jatuh cinta nih.' ucap Morgan lagi sembari mencolek lengan Niko.


Wajah Niko langsung bersemu merah.


" Tahu dari mana kamu kalau ada yang jatuh cinta?tapi bukan Aku lho ya yang jatuh cinta." kilahnya sembari tersenyum.


" Kalau bukan bang Niko kenapa wajah bang Niko bersemu merah gitu? ayo bang Niko jatuh cinta dengan siapa ini? terus terang aja dengan kami, Kalau bang Niko tidak mau jujur dengan kami jangan salahkan kami akan menyebutkan nama wanita yang sudah menyentuh hati bang Niko." ucap Morgan terkekeh.


" Kamu ini ada-ada aja." ucap Niko sembari melemparkan senyumannya kepada Morgan dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain menutupi rasa kegugupannya karena sudah kepergok kalau dirinya diketahui oleh mereka sedang jatuh cinta.


" Ayo kita pulang!" ajak Papa Andre mengajak mereka kembali ke rumah karena mereka sudah berbicara dengan anggota kepolisian yang mereka kenal selagi Ayah Chandra dan Abi Yosep menjabat di kantor tersebut.


Belum selesai mereka berbicara dengan Niko, akhirnya mereka pun menghentikan pembicaraannya dan langsung melangkah menuju mobil mereka masing-masing dan menuju ke arah tujuan mereka yaitu tujuan akhir mereka kembali ke rumah mereka masing-masing.


*****


Abiyasa, Papa Andre, Papa Bobby, Ayah Chandra, Abi Yosep, dan Arvin menuju ke arah rumah kediaman keluarga Wibawa,sedangkan Nadine Dokter Roni dan Lia menuju kembali ke rumah mereka, di dalam mobil tidak ada yang berbicara satu sama lain, mereka hanya terdiam dan ingin cepat-cepat sampai di rumah, beberapa menit kemudian kedua mobil tersebut pun memasuki halaman rumah mereka.


Mereka semua turun dari dalam mobil tersebut dan para istri mereka pun sudah menyambut kedatangan mereka, karena mereka juga merasa khawatir dikarenakan setelah datang dari singapura yang sampai kerumahnya hanyalah barang-barangnya saja sedangkan orangnya tidak sampai itulah yang dikawatirkan para istri mereka.


Seperti biasa para istri tersebut langsung meraih tangan suaminya masing-masing dan mencium punggung tangan suaminya tersebut, Begitu juga dengan para suaminya mencium kening dan pucuk kepala para istrinya.


Kemudian mereka menghentakkan tubuh mereka di sofa dan terdengar helaan napas mereka yang terasa lega sekali.


" Pah sebenarnya ada apa yang terjadi.?" tanya Mamah Anisha pada Papa Andre.


Papah Andre hanya tersenyum pada sang istri,Dia tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya tersebut.


" Gimana nih Aku yang cerita apa kalian yang cerita dengan istri-istri kita?" tanya papa Andre pada mereka semua.


" Lebih baik kamu aja deh Ndre yang cerita." ucap Papa Bobby


" Ada apa sih ini?jelaskan Mbeb kami kan jadi kepikiran masa cuma barang aja yang sampai kerumah orangnya enggak ada, dihubungi juga enggak diangkat-angkat padahal nomor gawai kalian aktif semua jelaskan dong Ada apa sebenarnya ini." tanya mamah Lala pada Papah Bobby.


" Iya Pah,ada apa? Mama Kan tadi nanya kenapa Papa enggak jawab,malah dijawab dengan senyuman" ucap Mama Anisha


Papa Andre menarik nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.


" Tadi saat kami berada di bandara si Candra mau ke kamar kecil katanya jangan menghubungi Abiyasa dulu sebelum dia keluar dari kamar kecil,ya Papa mengiyakan aja tapi Candra di kamar kecil lama banget makanya papa nyariin Candra,tapi nggak ketemu ternyata Candra diculik." terang papa Andre.


" Apa? kamu diculik Yah?" tanya Bunda Adel.


" Iya Bunda, orang salah sasaran." ucap Ayah Candra seraya meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.


" Bagaimana bisa? kenapa sampai diculik?" tanya Mama Anisa menatap kearah Papa Andre.


" Ternyata yang menculik itu adalah anak buahnya Pak bowo dan Pak Rizal orang tua dari si Ariel, untung saja Abiyasa mengetahui semuanya dan papa langsung menghubungi Abiyasa,tapi semuanya sudah beres, kalian nggak usah khawatir yang menculik sudah berada di kantor polisi." ucap Papah Andre lagi.


" Syukurlah kalau seperti itu." ucap Mama Anisha.


" Tapi kamu nggak kenapa-napa kan Yah?" tanya Bunda Adel terlihat cemas.


" Ya Bunda, Ayah tidak kenapa-napa."


" Tidak ada yang luka, tidak ada yang lebam? Ayah tidak dipukulin kan." ucap Bunda Adel lagi terlihat khawatir di wajahnya.


" Sayang Ayah kan ada di depan kamu sekarang, lihat nih keadaan Ayah baik-baik aja, mereka tidak sempat memukul Ayah karena Arvin sudah berada di sana." terang Ayah Candra seraya tersenyum melihat kekhawatiran sang istri.


" Kenapa mereka begitu jahat sekali sih sampai memperlakukan orang seperti itu, main culik segala." ucap Bunda Adel terlihat kesal.


" Bunda mereka itu mengira Ayah adalah Arvin, anak buahnya si Bowo itu tidak tahu kalau yang diculik mereka itu adalah Ayahnya Arvin, bukan Arvin jadi mereka itu salah sasaran Bunda." ucap Arvin menjelaskan kepada Bundanya.


"Maafkan Arvin ya Bunda, Ayah karena gara-gara Arvin Ayah yang jadi sasarannya." ucap Arvin.


" Kamu nggak salah Nak, merekalah yang salah." ucap Mamah Anisha dianggukkan Bunda Adel.


" Tapi kalian benar-benar enggak kenapa-napa kan? tidak ada yang sakit kan? tidak dianiaya atau dipukul kan?memang tidak terlihat pukulannya tapi sakit di dalam,benaran gak ada kan enggak boleh bohong loh sama Bunda." ucap Bunda Adel lagi.


" Ya Bunda Arvin dan Ayah tidak apa-apa semuanya aman! dijamin deh Arvin dan Ayah tidak bohong kok." ucap Arvin sembari menoleh ke arah Ayah Candra seraya tersenyum.


" Iya sayang kami berdua tidak apa-apa tuh, tanya dengan yang lainnya." ucap Ayah Candra seraya memberikan isyarat agar Bunda Adel menanyakan dengan yang lainnya,dan mereka semua pun hanya mengangguk saja.