THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 245



Lelaki tersebut melangkah menuju kearah sofa yang ada diruang kamarnya hotelnya itu sembari menghubungi seseorang melalui gawainya.


" Dia harus tahu kalau mereka sekarang dibawah lindungan keluarga Wibawa." Ucapnya seraya menghempaskan tubuhnya disofa dan sambungan bicarapun tersambung.


" Kamu harus menemui aku sekarang aku tunggu,ada yang ingin aku bicarakan ini penting sekali." Ucapnya kemudian sambungan bicara itupun terputus setelah mendapatan jawaban dari seseorang yang ada diseberang sana.


Terdengar helaan nafasnya diapun kemudian melonggarkan dasi yang mengikat lehernya itu dan dia pun menyenderkan tubuhnya disandaran sofa seraya menatap langit-langit ruangan kamar hotel tersebut sembari menunggu seseorang yang dihubunginya itu.


*****


Mobil papah Boby memasuki halaman rumah pribadinya,setelah memarkirkan mobil tersebut mereka langsung bergegas turun dan melangkah menuju kepintu utama rumahnya tersebut.


Dua kali papah Boby menekan Bel rumahnya itu kemudian pintu pun terbuka Asisten rumah tangganya yang membukakan rumah.


" Assalamualaikum, ibu dimana mbak?" Tanya papah Boby.


" Waalaikumsalam pak, ibu ada diruang tamu bersama para tamunya." Jawabnya.


Papah Boby dan anak menantunya langsung melangkah menuju ruang tamu rumahnya itu,dan Asisten rumah tangganya pun langsung menutup kembali pintu utama rumah tuannya tersebut.


" Assalamualaikum mbeb.." sapa papah Boby.


" Waalaikumsalam, udah beres Mbeb semuanya?gimana sopir angkotnya? Apa sudah babak belur? Atau sudah tidak bernyawa?" Tanyanya bertubi-tubi.


Papah Boby, Clarissa dan Marco tersenyum mendengar Mamah Lala bertanya sedemikian rupa.


" Mamah apa-apaan sih, masa sudah tak bernyawa sih? Kalau tidak bernyawa sama aja membuka pintu gerbang terali besi buat Bola,papah dan Marco." Ucap Clarissa tersenyum.


" Terus bagaimana ceritanya?" Tanya Mamah Lala sembari terkekeh.


" Semua sudah diurus Arvin,Morgan dan Abiyasa.


" Syukur deh kalau gitu..." Ucap Mamah lala merasa lega.


" Sopir angkot itu sudah Kakak tangkap? dia tidak akan mengganggu Nika lagi kan kak? dia tidak akan membawa Nika lagi kan kak?" ucap Nika seraya menatap kearah Clarissa.


Clarissa tersenyum menatap kearah Nika, dia merasa iba dengan ketroumaan yang dialami oleh Nika.


" Iya Dek, mereka tidak akan pernah lagi mengganggu kamu, angkot itu tidak akan pernah lagi membawa kamu ke orang jahat itu, karena angkot itu sudah berada di kantor polisi dan sopirnya itu pun akan diproses sesuai hukum yang berlaku, karena kesalahan dia sudah membantu orang-orang jahat itu." ucap Clarissa seraya berdiri dan mendekati Nika yang duduk disebelah Amel sang kakak.


Dia pun mengelus rambut hitam sebahu gadis remaja tersebut, Nika pun kemudian merebahkan kepalanya di pundak Clarissa dan dia pun langsung memeluk Clarissa dengan tidak ada rasa kecanggungan,Nika menganggap Clarissa adalah kakak keduanya yang begitu sangat sayang dan akan selalu melindunginya.


" Terima kasih ya kak, karena kakak membantu Nika dan Kak Amel, semoga semuanya dapat tertangkap." ucapnya seraya berbicara di dalam dekapan Clarissa.


" Iya Dek, Kakak janji Kakak akan menangkap semua orang itu dan tidak akan ada lagi yang mengganggu kamu, percaya dengan kakak dan yang lainnya." ucapnya seraya mencium kening gadis remaja tersebut dengan penuh kasih sayang selayaknya Adiknya sendiri.


Kemudian Nika melepaskan pelukannya dengan Clarissa dia pun menatap kearah papa Boby dan Mama Lala.


" Terima kasih ya Tante, Om, sekali lagi, karena Nika dan Kak Amel di sini diterima dengan baik, kenapa sih nggak dari dulu kita bertemunya, kalau seandainya bertemunya dari dulu, mungkin Nika tidak mengalami kejadian tragis seperti ini." ucapnya pelan tapi penuh dengan nada kesedihan.


Papa Boby dan Mama Lala pun tersenyum...


" Iya nak kamu sudah bertemu dengan om dan tante, Kamu tidak akan pernah sedih lagi, dan kamu juga tidak akan pernah merasa takut lagi, percaya dengan om dan tante, kamu aman tinggal bersama dengan om dan tante tidak ada orang yang bisa mengganggumu lagi." ucap papa Boby sembari tersenyum.


Nika terlihat memberikan senyuman termanisnya kepada Papa Bobby dan Mama Lala, walaupun senyuman itu masih ada rasa sedih yang mendalam, terlihat jelas di wajahnya itu.


Amelia pun tidak bisa menahan rasa harunya dengan kata-kata adiknya tersebut, tak terasa air matanya pun mengalir tapi dia langsung buru-buru menghapusnya, dia tidak ingin adiknya melihat kesedihan yang terlihat di wajahnya itu, karena dia ingin menyembunyikan rasa sedihnya itu di hadapan adiknya tersebut.


" Aku harus kuat, Aku harus tegar, Ya Allah berikan aku kekuatan agar aku tetap dilihat adik semata wayang ku ini terlihat sebagai kakak yang sangat tegar, tidak ada kesedihan di wajahku ini, kalau seandainya Nika melihat aku bersedih seperti ini, dia pasti akan merasa sedih juga, Ya Allah berikanlah kekuatan untuk Nika agar dia bisa melawan rasa trauma yang dihadapinya ini, ya Allah mudahkanlah Ya Allah Om Bobby dan yang lainnya untuk bisa menemukan para penjahat itu." ucap batin Amelia, Clarissa menatap kearah Amelia yang duduk di sebelah Nika, dia melihat Amelia menghapus air matanya yang sudah terlanjur jatuh di kedua matanya tersebut, Dia pun kemudian mengusap pundak Amelia dengan penuh kelembutan, Amelia menatap ke arah Clarissa dan Clarissa pun memberikan isyarat dengan cara memejamkan mata sesaat dan menganggukkan kepalanya pelan agar Amelia tidak menangis, karena sekarang Amelia tidak sendirian lagi untuk menghadapi segala macam masalah yang telah menimpa dia berdua dengan Nika, karena sekarang ada Papah Boby dan yang lainnya beserta dengan Dirinya bersama sahabat-sahabatnya.


Amelia pun menganggukkan kepalanya dia berusaha menyembunyikan rasa sedihnya itu di hadapan adiknya, Nika kemudian menoleh kearah kakaknya, Amelia tersenyum dengan adik semata wayangnya itu, kemudian Nika pun memeluk sang kakak.


" Terima kasih ya kak Amel, kakak begitu sabar menjadi Kakak Nika, Nika sayang sama Kakak, nanti kalau sudah keadaan Nika baik dan sehat kembali seperti semula, kita kembali ke luar negeri ya kak dan itupun kalau Kakak punya uang yang banyak, Nika rindu dengan mama dan papah, Nika ingin bertemu dengan mama dan papah, Nika ingin jiarah ke makam mama dan papa." ucapnya dengan nada permohonan dan keinginan yang dalam.


Amelia tidak bisa menahan rasa tangisnya, Dia pun akhirnya menumpahkan tangisnya itu, Biar bagaimanapun Amelia adalah seorang gadis yang memiliki rasa sedih dan rasa rindunya kepada kedua orang tuanya yang sudah tiada. Hening! di dalam ruangan itu tidak ada sepatah katapun, mereka membiarkan Amelia meneteskan air matanya, karena dia merasa kesedihannya itu.


Mamah Lala mendekati Amelia dan dia pun duduk di samping Amelia seraya memeluk Amelia dan memberikan kesabaran kepada Amelia, Karena sekarang Amelia dan Nika adalah tanggung jawab Mamah Lala, sebenarnya Amelia dan Nika masih mempunyai keluarga di kota ini selain dirinya, Tapi semenjak Sinta dan Rendy memutuskan pergi ke luar negeri untuk memulai hidup yang baru, keluarganya yang ada di kota inipun tidak pernah lagi mencari kabar mereka berdua.


Clarissa merasa sedih,dan tak terasa air matanya pun mengalir juga mendengar Nika berbicara seperti itu, Marco bergerak dengan cepat dia langsung mendekati istrinya dan merangkul sang istri, Amelia hanya bisa menganggukkan kepalanya seraya mengeratkan pelukannya kepada adiknya itu.


" Nika, tidak usah nunggu kak Amel puya uang banyak, setelah kamu benar-benar sehat kita semua akan berangkat keluar negeri dan berkunjung kemakam kedua orang tua mu." Ucap papah Boby dianggukkan mamah Lala, Clarissa dan Marco.