
" Puas tertawanya...terus aja tertawa jangan berhenti..." ucap Morgan seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sambil menyandarkan tubuhnya disofa yang sekarang iya duduki saat ini.
Mereka pun kemudian menghentikan tawanya, Hening! diruangan itu, kemudian Morgan menghela nafasnya dengan pelan lagi.
" Apa yang dikatakan Abiyasa dan Clarissa itu akan aku ingat selalu,ada rasa ketakutan tersendiri dipikiran ini." ucapnya, diapun sesaat menghentikan ucapannya dan menghela nafasnya lagi sembari membenarkan posisi duduknya dan menapongkan kedua tangannya dikedua pahanya untuk memposisikan kedua telapak tangannya menutupi hidung dan sebagian mulutnya.
" Apa yang kamu takutkan? kami bersama dengan mu, kami tak akan sekalipun meninggalkanmu, kami akan ikut bersama dengan mu nanti malam, sebagai saksi, kalau kamu akan menyelesaikan semuanya dengan wanita yang selama ini menghantui kamu dan kami akan berada dibelakang kamu, iya kan Biy, Ris.." ucap Arvin sembari tersenyum sambil menaik turunkan Alisnya kearah Morgan karena Morgan langsung menatap Arvin karena mendengar kata Belakang.
" Hah? dibelakang? maksud kamu Vin? katanya tidak akan meninggalkan aku, tapi kenapa kalian adanya dibelakang..." protes Morgan seraya menatap wajah Arvin dengan tajam.
" Ups?! Salah ya? Maaf ya mas Broo...heheheh.." goda Arvin sambil menyentuh dagu Morgan.
" Asem...!" Delik Morgan sembari mengusap dagunya.
" Jadi maunya dimana kami? " tanya Abiyasa sembari tersenyum.
" Ya harus disamping akulah di kiri kanan ku." protesnya lagi.
" Hhmmm...Morgan, kalau kami berada disamping kamu itu sama aja kamu membawa rombongan say, ntar apa kata wanita tersebut, ntar kamu dibilang nggak berani dengannya sampai membawa bodyguart segala, ya malu lah Mor, misalkan wanita itu sendirian datang gimana coba? apa tanggapannya, adanya kamu ntar dicibir." ucap Arvin sembari menepuk pundak Morgan.
Abiyasa dan Clarissa mengangguk...
" Jadi kalian berada dimana? ntar aku yang lagi ngomomg dengannya nggak terdengar kalian lagi, aku takutnya nantinya ada yang kenal dengan aku dan Anindita dan langsung saja melaporkan kalau aku datang kekafe tersebut menemui seorang wanita. Aku takut istriku bertambah lagi kesalah pahamannya terhadapku, jujur aku takut banget kehilangan kepercayaan istriku, aku sayang banget dengannya, jujur saja ada rasa kegelisahan dihatiku, kalau-kalau yang akan aku temui ini benar adalah wanita yang pernah ada dimasa lalu ku, aku tidak mau masa lalu yang sudah aku kubur dalam-dalam itu terbongkar kembali dan berkembang dirumah tanggaku, kalian tahu kan kalau Istriku marah gempa bumi pun kalah saing dengan dia..." ucap Morgan seraya menatap mereka bertiga saling bergantian.
Mereka bertiga hanya terkekeh mendengar ucapan Morgan kalau istrinya marah...
" Tenang Mor, kami tidak jauh dari meja dimana wanita itu dan kamu berada, soal Anindita serahkan saja dengan Clarissa,ya kan Riss.." ucap Abiyasa sembari tersenyum dan menoleh kearah Clarissa, Clarissa hanya mengangguk sambari tersenyum.
" Terimakasih ya, aku sekarang merasa kuat menghadapi semuanya karena kalian bersama denganku..." ucapnya tersenyum dan terukir senyum manis diwajahnya dan masih tetap rasa kegelisahan diwajah Morgan yang belum sepenuhnya dia kuasai.
Mereka bertiga pun langsung tersenyum membalas senyuman Morgan, setelah semua rencana disepakati, kemudian mereka berdua berpamitan dengan Abiyasa dan Clarissa, karena waktu yang sudah ditentukan untuk nanti malam pun sudah didapat, mereka saling mengucap dan membalas salam, mereka berdua keluar dari ruangan Abiyasa menuju kearah lift dan mereka pun turun menuju arah Lobby kantor Wibawa Group, dan memasuki mobilnya beberapa saat kemudian mobil mereka perlahan-lahan meninggalkan halaman kantor Wibawa Group menuju kearah kantor mereka dan melakukan aktifitas seperti semula.
Tepat pukul Lima sore Abiyasa dan Clarissa sama-sama melajukan mobilnya menuju kearah rumah pribadi mereka, Abiyasa yang melajukan mobilnya itupun tersenyum senyum karena teringat akan Morgan tadi pagi, dia hanya menggelengkan kepalanya saja sembari fokus mengemudikan mobilnya itu. Beberapa saat kemudian mobilnya memasuki halaman rumahnya dan dia melihat diteras rumahnya itu istriya menunggu dengan senyuman khas dari wajah Ayesha, Abiyasa pun tersenyum setelah memarkirkan mobilnya dia pun langsung keluar dari mobil dan mendekati sang istri yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan sang suami, dengan kebiasaannya Abiyasa mencium kening dan pucuk kepala sang istri dan begitu juga dengan Ayesha dia meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya tersebut, setelah saling mengucap dan membalas salam karena itu adalah ritual Abiyasa dan istrinya, Abiyasa menggandeng sang istri memasuki rumahnya tersebut, saat mereka melangkah menuju kamar pribadi mereka, Abiyasa dikejutkan dengan suara sang papah yang berada diruang tamu.
" Biy, kamu sudah pulang? " ucap Papah Andre.
" Iya pah..." ucap Abiyasa seraya menghentikan langkahnya.
" Sini sebentar nak, ada yang ingin papah bicarakan denganmu."
Abiyasa menatap istrinya sesaat dan istrinya itupun tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya langsung mengambil tas kerja sang suami dan membawanya kedalam ruangan kerja suminya dan kemudian dia pun berlalu kedapur untuk mengambilkan minum untuk sang suami, sedangkan Abiyasa langsung duduk disofa ruang tamu rumahnya seraya melepaskan kancing jasnya agar dia bisa duduk dengan leluasa sambil melonggarkan dasinya, dia menghela nafas dengan pelan.
Papah Andre kemudian meletakkan majalah yang sedang dibacanya ketempatnya, dan dia pun tersenyum pada sang anak.
Mamah Anisha terlihat menuruni anak tangga menuju kearah ruang tamu dimana suami dan Anaknya berada.
Diapun langsung duduk disamping sang suami,dan tersenyum manis pada dua lelaki tersayangnya itu,dibalas senyuman manis anak dan suaminya.
" Baru pulang nak?" Tanyanya pada Abiyasa.
" Iya Mah." Ucapnya sembari tersenyum.
" Kenapa belum membersihkan diri?"
" Rencana sih iya mah, namun kata papah ada yang ingin dibicarakn papah pada Biyas mah." Ucapnya sembari menghela nafasnya dengan pelan dan membenarkan posisi duduknya.
" Oh...gitu, memang ada apa pah?" Tanya mamah Anisha sembari menoleh kearah suaminya.
Papah Andre hanya tersenyum pada sang istri sembari meletakkan tangannya disandaran sofa.