THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 222



Setelah semuanya urusan selesai di kantor anak cabang yang baru, Abiyasa dan Clarissa pun berpamitan dengan mereka semua, mereka kemudian berjalan meninggalkan ruangan rapat tersebut dan dia langsung menuju ke arah lobby dengan diantar oleh Pak Toto sampai keluar pintu utama kantor.


" Mari pak,Biar saya antar bapak ke bandara." ucap pak Toto.


" Tidak usah pak Toto, saya sudah minta tolong sama Pak Maman, lebih baik Pak Toto silakan memulai pekerjaan Pak Toto saja." ucap Abiyasa sembari tersenyum di anggukan oleh Clarissa.


Pak Toto pun tersenyum dan mengangguk.


Kemudian Pak Maman pun mendekati mereka.


" Mari pak Abiyasa, kita berangkat sekarang."


" Oh iya pak ayo .."


" Dek Mas berangkat sekarang ya, mengantarkan pak Abiyasa dulu." Ucap pak Maman berpamitan dengan Pak Toto.


" Iya mas, hati-hati ya." Ucapnya dianggukkan pak Maman,Kemudian mereka pun berpamitan setelah satu sama lain mengucapkan salam dan membalas salam, Abiyasa dan Clarissa memasuki mobil Pak Maman dan mobil tersebut perlahan-lahan meninggalkan kantor itu dan menuju ke arah bandara.


Di dalam mobil tidak ada pembicaraan diantara mereka tidak ada suara sedikitpun sampai beberapa menit kemudian, mobil memasuki halaman parkir bandara, pak Maman membukakan pintu mobil untuk mereka berdua, kemudian Abiyasa dan Clarissa pun berpamitan dan berterima kasih dengan Pak Maman, Pak Maman pun menganggukkan kepalanya Abiyasa dan Clarissa kemudian melangkah memasuki bandara diiringi dengan tatapan Pak Maman dari kejauhan, kemudian Pak Maman pun masuk kembali kedalam mobilnya tersebut, dan perlahan-lahan mobil meninggalkan bandara menuju ke arah kantor Pak Toto lagi.


Pak Maman memang belum berangkat ke kota sebelah karena dia ingin menghabiskan waktunya sementara dengan adiknya tersebut beberapa hari lagi.


*****


Di kota kediaman Abiyasa..


Setelah sidang BP4R digelar di aula tempat kerja Marco selesai, Arvin yang memang masih berada di kantor itu pun langsung memasuki ruangan pribadinya, dia pun kemudian mengerjakan sebagian pekerjaannya yang beberapa hari tertunda dengan cekatan dia mengerjakannya sampai akhirnya pun pekerjaan itu selesai.


Dia kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sembari menatap kearah langit-langit ruangannya, kemudian dia mengusap wajahnya dengan kasar.


" Alhamdulillah,hari ini sidang BP4R nya Marco sudah selesai, sebentar lagi mereka sah menjadi pasangan suami istri, kemudian nanti giliran aku lagi yang mengadakan sidang itu bersama Nadine, aku sudah tidak sabar untuk menanti waktu itu, seminggu saja rasanya bertahun-tahun menunggunya." Gumamnya sembari tersenyum.


Kemudian dia dikagetkan dengan suara gawainya yang berbunyi, Dia kemudian mengambil gawainya dan menatap layar gawainya itu, ternyata Abiyasa yang memanggilnya.


" Assalamualaikum Biy.."


" Waalaikumsalam,Vin kamu berada di mana sekarang.?"


" Saat ini aku berada di kantor.?"


" Apakah kamu sibuk?"


" Tidak! kenapa Biy?"


" Bisa nggak kamu jemput aku sekarang dibandara? Aku males menggunakan taksi." ucapnya.


" Oke tunggu sebentar ya, aku akan menjemput kalian." Ucapnya.


Kemudian telepon pun terputus, dan mereka sama-sama memutus sambungan bicaranya, Arvin pun kemudian mengambil jaket kulitnya yang tergantung di gantungan khusus jaket yang ada di dalam ruangannya itu, dan tidak lupa dia mengambil kunci kontak mobilnya,terlihat sedikit tergesa-gesa dia melangkah menuju ke arah parkiran yang ada dikantornya itu, lokasi parkir sangat berdekatan dengan pintu gerbang masuk ke halaman kantornya, dia melihat seorang wanita yang sedari tadi sedikit ragu-ragu ingin masuk ke dalam halaman kantor tersebut.


Arvin pun menatap ke arah wanita tersebut dan wanita itu pun menatap kearah Arvin.


" Siapa wanita itu?" tanya Arvin dalam hati, kemudian dia pun bergegas mendekati wanita yang sedari tadi terlihat kebingungan ingin masuk kedalam halaman kantornya, terlihat Arvin mendekati wanita itu, wanita itu pun langsung bergegas meninggalkan depan kantornya Arvin, terlihat sangat tergesa-gesa Arvin pun melihat sosok wanita itu memberhentikan taksi yang kebetulan lewat di depan kantornya Arvin.


" Ada apa dengan wanita itu? siapa dia? kenapa dia terlihat sangat ragu-ragu mau masuk ke kantor ini? Ada apa sebenarnya? Terlihat jelas di wajahnya kecemasan yang sangat mendalam, siapa dia? Kenapa dia tidak langsung masuk saja kalau dia ingin melaporkan sesuatu, Ah! sudahlah mending aku menjemput Abiyasa nanti terlalu lama dia menunggu." gumam Arvin kemudian melangkah menuju ke arah mobilnya dan dia pun meninggalkan kantornya tersebut menuju ke arah bandara ingin menjemput kedua sahabatnya tersebut, dengan kecepatan sedang dia mengendarai mobilnya di atas jalan beraspal tanpa hambatan mobilnya pun lancar meluncur dengan kecepatan sedang, beberapa menit kemudian dia pun sampai di depan bandara dan langsung menuju ke arah parkir yang ada di bandara tersebut,tapi sebelum Arvin turun dari mobil kedua sahabatnya tersebut sudah mengetahui kalau mobil Arvin sudah datang, mereka berdua pun langsung mendekati mobil Arvin, Abiyasa mengetuk jendela mobil Arvin, Arvin tersenyum,,, dia pun langsung membukakan kunci pintu mobilnya dan kedua sahabatnya itu langsung masuk ke dalam mobilnya, beberapa saat kemudian mobil Arvin pun perlahan-lahan meninggalkan halaman parkir bandara menuju kembali melaju di jalan beraspal tersebut.


" Oh ya kalian mau diantar ke mana? Langsung pulang ke rumah kah? atau mau jalan-jalan." Ucap Arvin sembari tersenyum.


" Gila kamu Vin, aku udah capek,malah mau kamu ajak jalan-jalan." ucapan Abiyasa terkekeh.


" Hehehe,,, Ya siapa tahu aja kan kalian bergelut dengan pekerjaan yang rumit, siapa tahu sebelum pulang kalian ingin melonggarkan otak kalian terlebih dahulu."


" Memang otak kami diikat atau dikunci di kamar gitu, sehingga mau di longgarkan." lanjut Clarissa tersenyum.


" Ya, setidaknya aja lah Ris." Kekeh Arvin lagi.


" Aku ingin diantar langsung pulang ke rumah aja." Ucap Abiyasa.


" Kamu Ris, apa kamu mau ke tempat Abiyasa atau ke rumahku hahaha." Tawa Arvin mengembang.


" Ngapain Aku ke rumah kamu, lebih baik aku pulang ke rumah aku sendiri, aku kan sudah ada yang menunggu, sang pangeran pujaan hatiku hehehe."


" Idih... yang pengantin baru, nggak mau lepas dari sang suami." Goda Arvin.


" Ya iyalah aku tidak mau lepas dari suamiku, entar kalau kamu udah menikah nanti kamu juga pasti tidak akan lepas dari istrimu, contohnya Abiyasa hehehe."


" Kenapa lari ke aku Ris?" Delik Abiyasa.


" Kan emang benar, kamu pasti tidak akan pernah lepas dari Ayesha, heheh."


" Iya juga ya, kalau masalah itu ya memang benar Ris,aku tidak akan pernah lepas dari Ayesha, karena dia istriku satu-satunya." Kelakar Abiyasa sambil terkekeh.


Merekapun kemudian tertawa lebar di dalam mobil.


" Aku rindu suasana ini, tapi sayang Morgan tidak bisa berkumpul dengan kita, Setelah dia mengadakan sidang BP4R dia dipingit kembali oleh orang tuanya." ucap Arvin.


" Oh ya, bagaimana sidangnya Apakah lancar.?" tanya Clarissa.


" Alhamdulillah lancar Ris."


" Sebenarnya aku ingin sekali menghadirinya, tapi apalah daya Kami, karena ada urusan yang tidak bisa kami tinggalkan dan harus selesai dalam waktu yang sesingkat-singkatnya." Ucap Clarissa.


" Yaiyalah kalau tidak singkat, kami tidak akan pulang ke sini hari ini, Kalau kami tidak mengerjakannya dengan secepat kilat." ucap Clarissa lagi sembari terkekeh juga.


Lagi-lagi mereka pun tertawa lepas, canda-canda kecil pun tercipta di dalam mobil sampai akhirnya mobil yang dikendarai oleh Arvin pun sampai di depan rumah Clarissa, Clarissa pun turun dari mobil Arvin.


" Kalian tidak mau mampir dulu?"


" Nggak usah Ris, Aku pengen cepat pulang." Ucap Abiyasa.


" Sama! Aku juga nih, ingin lanjut kerja lagi." ucap Arvin.


" Ya udah, terima kasih ya, Assalamualaikum."


" Sama-sama Ris, wa'alaikumsalam "


Kemudian mobil pun melaju kembali menuju ke rumah Abiyasa.


Mereka berdua hanya terdiam, Arvin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Abiyasa menatap kearah Arvin, karena Arvin merasa Abiyasa menatapnya dia pun menoleh sesaat ke arah Abiyasa.


" Kamu kenapa Biy, menatap aku seperti itu?"


" Tidak apa-apa, tapi sepertinya ada sesuatu di wajah kamu.?"


" Ada apa? perasaan tidak ada apa-apa deh." ucapnya seraya berkaca yang ada di dalam mobilnya itu.


" Biasa aja wajahku Biy." ucapnya lagi.


" Sepertinya kamu memikirkan sesuatu, Ada apa sih?"


" Oh...tadi itu saat aku mau menjemput Kalian, ada seorang wanita yang sepertinya ragu-ragu ingin masuk ke kantorku, aku juga tidak tahu siapa wanita itu, tapi terlihat jelas sekali wajahnya itu menyimpan rasa kecemasan, kekawatiran, yah jadi satu gitu sih, aku juga baru lihat wanita itu, entah dia itu mau melapor atau gimana juga, aku nggak tahu, tapi yang aku lihat sikap dia itu tidak ada mencurigakan sama sekali, cuma sepertinya dia itu ragu-ragu aja mau masuk ke kantor."


" Terus kenapa kamu tidak menghampirinya?"


" Saat aku mau menghampiri dia keburu pergi dan dia langsung menghentikan taksi dan berlalu dari depan kantor, jadi aku tidak tahu wanita itu siapa." ucapnya.


Abiyasa menganggukkan kepalanya.


" Mungkin saja salah satu orang yang ingin melapor aja kali Vin, tapi dia mungkin tidak tahu bagaimana cara melapor ke kantor kamu." ucap Abiyasa.


" Mungkin kali ya." jawabnya singkat sembari tersenyum.


Mobil pun terus melaju sampai akhirnya mobil sampai di depan rumah Abiyasa, Abiyasa turun dari mobil Arvin.


" Aku lanjut kantor ya Biy, karena ada yang ingin kukerjakan lagi sama yang lainnya."


" Oke....Ya udah kalau seperti itu Terima kasih ya Vin."


" Iya Biy sama-sama."


" Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam "


Kemudian mobil Arvin pun meninggalkan rumah kediaman Abiyasa dengan di iringi tatapan Abiyasa dari kejauhan.


Abiyasa kemudian melangkah menuju ke arah pintu utama rumahnya tersebut, Abiyasa melihat sang istri yang duduk manis di teras seorang diri dan sedang melamun, istrinya tidak menyadari kalau dirinya sudah berada dekat dengannya, Abiyasa memandangi wajah sang istri.


" Masya Allah, cantik sekali istriku, aku rindu sekali dengannya, karena beberapa hari ini aku tidak menghubunginya." Gumam Abiyasa sembari tersenyum, Ayesha tidak mengetahui kedatangan suaminya itu, dia tetap menyandarkan tubuhnya disandaran kursi teras dan menatap ke langit lepas.


" Assalamualaikum sayang." Sapa Abiyasa, Ayesha terkejut dan langsung menjawab salam Abiyasa.


" Waalaikumsalam..Mas kamu sudah pulang?" ucapnya Seraya berdiri dan langsung memeluk Abiyasa.


Abiyasa pun langsung membalas pelukan sang istri, terlihat sekali Ayesha sangat rindu dengan Abiyasa.


Abiyasa tersenyum dan langsung mencium pucuk kepala Ayesha, Ayesha bahagia dan diapun mengeratkan pelukannya pada Abiyasa, begitu juga Abiyasa pun membalas mengeratkan pelukannya juga pada sang istri.


Beberapa saat kemudian, Ayesha melepaskan pelukannya, Dia terlihat malu-malu menatap sang suami.


" Kamu kenapa Sayang? kok malu seperti itu sih? masa memeluk suaminya aja kok malu-malu gitu? rindu ya sama Mas?" Goda Abiyasa pada sang istri, Ayesha menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, kemudian Abiyasa merangkul sang istri dan mereka berdua melangkah menuju ke arah dalam rumah.


Arvin yang mengendarai mobilnya menuju ke arah kantor dikejutkan dengan suara gawainya yang berbunyi, kemudian dia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, dia melihat layar gawainya, ternyata dokter Ronny yang memanggilnya.


" Ada apa kak Roni memanggilku?" Ucapnya dan dia pun menjawab segera panggilan dari dokter Ronny tersebut.


" Assalamualaikum Kak.."


" Waalaikumsalam, Vin kamu dimana?"


" Arvin di jalan, kenapa ya Kak?"


" Kamu segera ke jalan Ki Hajar Dewantara."


" Ada apa ya Kak?"


" Ada kecelakaan " ucap dokter Roni terlihat nada kecemasan di bicaranya.


" Baiklah lah kak, Arvin segera ke sana." ucap Arvin kemudian memutuskan sambungan bicaranya tersebut dan segera melajukan mobilnya menuju arah tempat yang sudah dikatakan oleh dokter Roni.