
Jam 4 pagi Arvin sudah bangun dan langsung menuju kamar mandi, dia membersihkan dirinya dan pergi ke mushola rumah sakit,dia melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan orang orang yang ada di rumah sakit yang sedang menemani sanak saudaranya yang sedang sakit yang kebetulan melaksanakan sholat subuh di mushola rumah sakit itu.
Setelah dari mushola Arvin kembali lagi keruangan Nadine.
Saat dia masuk di sambut Nadine dengan senyuman yang sangat manis sekali.
" Assalamu'alaikum sayang" ucap Arvin.
" Walaikumsalam mas"
" Hari ini jadi kamu pulang?"
" Iya mas hari ini jadi, Nadine sudah sangat rindu rumah" ucapnya
Arvin hanya tersenyum.
" Ntar kalau sudah pulang kabarin mas ya jam berapa nya biar mas anter pulang "
" Iya mas" ucap Nadine seraya duduk di pinggir ranjang nya,dan perlahan lahan turun dari ranjang dan menuju kearah kamar mandi.
" Mau kemana sayang?"
" Mau kekamar mandi, kenapa mau ikut?" Tanya Nadine terkekeh.
" Kamu ini jangan menggoda mas,ntar khilaf aeke" ucapnya seraya tertawa menirukan gaya ngondek nya.
Nadine hanya tertawa lepas melihat Arvin berlagak ngondek.
Arvin yang sedang duduk di sofa hanya bisa tertawa.
Setelah Nadine keluar dari kamar mandi dia pun duduk di sofa berbincang bincang dengan Arvin sampai mamah Nadine dan dokter Roni akhirnya datang,dan Arvin pun pamit pulang karena mau masuk kantor.
Perlahan lahan Arvin meninggalkan halaman rumah sakit dan menuju kerumahnya.
****
Di kantor polisi...
Morgan terlihat sangat lelah,wajah nya terlihat pucat namun tetap saja dia paksakan untuk pergi kekantor.
Morgan berjalan ke arah ruangannya langsung saja dia merebahkan tubuhnya di sofa karena dia merasa lelah dan merasa tubuhnya kurang sehat dengan tangan menutup matanya dia memejamkan matanya sesaat, Arvin yang melintasi ruangannya menengok ke arah dalam ruangan Morgan, dia melihat sahabatnya antara tidur dan tidak, Arvin menatapnya penuh curiga.
" Kenapa dengan Morgan ?Tidak biasanya dia seperti itu " gumamnya,Arvin terus menatap ke arah Morgan tanpa disadari Arvin ternyata Morgan sudah melihat dia.
" kalau mau masuk itu masuk aja, Nggak usah berdiri di depan pintu situ " ucapnya.
" Woi hahaha! masih hidup rupanya, aku kira sudah jalan-jalan ke surga " ucap Arvin terkekeh.
" Rencananya sih mau jalan-jalan ke surga, tapi setelah melihat kamu gagal deh, pintu surga ditutup kembali " ucapnya terkekeh.
Morgan bangun dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, Arvin pun duduk di hadapan Morgan.
" Memang ada apa sih? kok wajah kamu pucat sekali,kamu sakit ya ?"
" Aku sakit ? Hahaha, sedikit sih, Nggak cuman agak lelah aja kayaknya nggak enak badan "
" ya sama aja itu sakit namanya,nggak ada kata sedikit yang namanya sakit ya sakit, lebih baik kamu periksa ke dokter gih, masa punya pacar dokter tapi enggak mau periksa "
" Bukannya aku nggak mau periksa, bukan juga aku nggak mau ke rumah sakit, tapi aku malas aja ujung-ujungnya nanti dirawat terus di tusuk jarum, ogah ah"
" Kamu pilih mana ?pilih minum obat, apa pilih dirawat?"
" Ya, nggak mau dua-duanya," ucapnya tersenyum.
" Ya udah kamu suntik vitamin aja "
" Waduh... nggak! Nggak! Nggak!" ucapnya.
" Emang kenapa? Kan lebih baik tuh suntik vitamin."
" Memang kenapa kamu nggak mau dibawa ke rumah sakit?"
" Aku masih sehat kok, kalau aku nggak sehat nggak mungkin aku ngobrol sama kamu "
" Ya udahlah terserah kamu, tapi kalau kamu merasa kurang enak badan lebih baik kamu istirahat aja dan kembali ke rumah untuk beristirahat, daripada kamu nanti tambah parah " ucap Arvin.
" Nggak Vin,aku tetap sehat sehat aja "
Kemudian ponsel Arvin berbunyi.
Arvin mengambil ponselnya yang berada di saku celananya dia melihat pemanggilnya, ternyata Clarissa.
Dia kemudian menjawab panggilan dari Clarissa tersebut.
" Halo... Assalamualaikum,Ada apa Ris?"
" Waalaikumsallam, Nggak ada apa-apa sih,cuman aku ingin ngajak makan siang aja nanti, sama kalian"
" Okelah kalau begitu,"
Kemudian sambungan telpon nya mereka terputus.
Arvin menatap Morgan dia memang merasa morgan tidak sehat saat ini,tapi Morgan tidak mengatakannya pada mereka,karena Arvin melihat dari wajahnya yang pucat.
" Ya udah, kalau gitu,aku pamit keruangan ku dulu ya,istirahat aja " ucap Arvin.
Arvin keluar dan Morgan hanya memandangi kepergian Arvin.
Di kantor Abiyasa, Clarissa dan Biyas sedang membicarakan sesuatu.
" Biy mata mata ku mengatakan kalau selingkuhan Sugeng bukan dua wanita yang kita pecat tersebut, "
" Nanti kita tunggu kiriman Fhoto dari anak buah ku"
" Aku jadi penasaran "
" Aku juga"
Tiba tiba ponsel Clarissa berbunyi,dan Clarissa langsung menjawab telpon dari Arvin.
" Ada Apa Vin?"
"Aku nggak bisa datang Ris makan siang barengnya"
" Kemapa?
" Aku lagi di jalan membawa Morgan kerumah sakit kayanya dia harus di rawat deh"
" Ya udah kalau gitu kami segera kesana"
Kemudian telpon langsung di tutup dan Clarissa mengajak Abiyasa menjenguk Morgan yang sakit dan di bawa kerumah sakit.
" Sakit apa Morgan?"
" Kurang tahu juga, mungkin kecapean kali, secara kerjaan dia menguras emosi dan tenaga"
" Iya juga sih, ya udah kalau gitu ayo kita langsung berangkat kesana"
Diangguk kan oleh Clarissa dan mereka langsung menuju kearah lobby melangkah menuju kearah mobilnya Abiyasa dan perlahan lahan mobil tersebut meninggalkan parkiran kantornya.
Sesampainya di rumah sakit milik keluarganya tersebut Abiyasa memarkirkan mobilnya mereka berdua langsung keluar dari mobil,dan menuju kearah UGD.
Mereka berdua keheranan di ruang UGD terdengar teriakan yang keras.
" Morgan!" Ucap Clarissa setengah berlari.
" Ada apa ini?" Tanya Abiyasa setelah sampai di UGD,dia bertanya dengam salah satu perawat yang ada di ruangan tersebut.
" Ini pak, pasien yang baru masuk itu nggak mau di pasang infus"
" Kenapa?"
" Kayanya dia takut dengan jarum suntik."
Abiyasa dan Clarissa tersenyum.
" Boleh saya masuk,?" Tanya Biyas.
" Boleh pak,silahkan."
Abiyasa dan Clarissa masuk ke kamar dimana Morgan di tangani.
Morgan menoleh pada Abiyasa.
" Biyas....biyas...,syukur deh kamu datang, tolong lah bilang sama mereka aku jangan di suntik,tolong" ucapnya.
" Kenapa ? Kan ada banyak nih suster yang nemenin, cantik cantik lagi,jadi kalau di suntik tidak akan terasa sakit,"
" Ada yang lebih cantik lagi nggak susternya" tanya Morgan.
" Ini sudah yang paling cantik" ucap Biyas seraya menunjuk salah satu suster yang bermata indah dan sedang menggunakan masker,karena di ruangan itu hanya ada satu suster dan dokter Ina serta biyas,Clarissa dan Arvin.
" Benarkan ? Coba buka sus maskernya.
Saat suster membuka maskernya Dan langsung saja mereka terkejut.
Suster itu pun tersenyum sumbringah.
" Ting!" Terlihat sinar di giginya yang putih di saat dia tersenyum.
" Silau men!" Ucap Arvin dan langsung di tutup Clarissa mulutnya.
" Aww!! Aku ketimpa tangga, ini gigi apa remote kontrol sih, aduh badan ku makin panas" ucap Morgan langsung merebahkan tubuhnya.
" Ini bukan remote kontrol pak,tapi bajai mudik" ujar suater Mia tertawa lepas.
Yah! Suster Mia memang suster yang lucu dan bisa menghibur para pasiennya, walaupun memiliki kekurangan tapi dengan kekurangan nya itu lah dia bisa membuat orang tersenyum.
" Sekarang bisakan sudah memasang infusnya,? " Tanya dokter Ina.
Morgan menggeleng...
" Apa bapak mau pakai infus lewat gigi saya yang putih mulus ini?" Ucap suster Mia terkekeh.
" Ogah! Adanya badanku mengelepar kaya ikan kurang air" ucap Morgan.
Abiyasa,Arvin dan Clarissa mengajak Morgan ngobrol dan dokter Ina dan Suster Mia masangkan Infus di tangan Morgan.
" Sudah selesaikan?" Ucap Abiyasa.
" Hah? Beneran, ?" Ucap Morgan heran.
" Ternyata tidak sakit ya" ucapnya lagi.
" Makanya Butut kalau takut jarum suntik itu nggak usah sakit" ucap Clarissa tersenyum.
" Hehehe..." Morgan hanya tersenyum.
Dokter Ina mengatakan kalau Morgan tidak apa apa,cuma kelelahan saja dan daya tahan tubuhnya menurun.
Meraka merasa lega karena sahabat mereka tidak apa apa.