
Setelah reda tangisnya Bella, diapun melepaskan dirinya dari dekapan Derbert, dia menghapus air matanya dan kembali tertunduk seraya meremas tangannya dan sesekali dia menghapus sisa air matanya.
Delbert terus menatap kearah Bella yang sudah lepas dari dekapannya.
" Bell...apakah kamu mau menerima lamarana ku..." ucap Delbert secara langsung mengucapkannya pada Bella, namun Bella hanya terdiam karena dia belum bisa bersahabat dan berdamai dengan rasa yang ada didalam dirinya, antara tidak percaya kalau Delbert sudah mengetahui semuanya dan rasa malu dan sedih yang sekarang dia rasakan saat ini.
" Mungkin saja kak Bella masih marah nih..." ucap Morgan sembari tersnyum.
" Iya tuh,benar jangan-jangan kak Bella masih marah hehehe..." sambung Arvin terkekeh.
" Memang apa juga yang dimarah kan kak Bella pada pak Delbert." sambung Abiyasa.
" Iya kak, janganlah kaka diam aja, kalau kakak diam terus itu sama aja kakak marah besar lho sama pak Delbert..." ucap Ayesha yang duduk disamping sang kakak dianggukkan mereka.
" Bella...benar apa kata Adik-adik kamu, jawablah apa yang dikatakan Delbert.." sambung Abi Yosep.
" Iya nih kak Bella jangan disia-siakan cowok seganteng Pak Delbert hehehe..." ucap Clarissa tersenyum kemudin dia menoleh kearah suaminya yang duduk disampingnya dan sebelum suaminya angkat bicara dia langsung bersuara lagi.
" Tapi jangan geer dulu ya pak Delbert, seganteng-gantengnya bapak masih ganteng suami tercinta aku dong, sama-sama bule hehehe..." ucapnya sembari memegang kedua tangan suaminya tersebut sembari tersenyum lucu dengan sang suami, Marco hanya tersenyum saja dan mengusap kepala sang istri dengan penuh kasih sayang, karena dia tahu Clarissa berkata jujur, dia mengatakan Delbert ganteng hanya mengembalikan suasana yang terlihat agak kaku antara Bella dan Delbert setelah Delbert mengatakan semuanya pada Bella.
" Eh...Rusa ompong, kamu ngomong seperti itu karena takut kak Marco marah dan merajuk kan, makanya kamu ralat kembali ucapanmu iyakah hehehe,..." celetuk Morgan.
" Heh!! adik ipar nggak ada akhlaknya ya...mau aku suntik mati nih! " ucap Clarissa mendelik.
" Emang bisa kamu nyuntik mati aku?" ucap Morgan.
" Iya bisalah..kalau suntik mati kamu itu gampang segampang mengeluarkan upil dari hidung hahahahah..." ucap Clarissa tertawa lepas di ikuti mereka tertawa.
" Mana buktikan, nih aku sudah nyerah hehehe..." ucap Morgan seraya terkekeh.
" Dita laksanakan..." ucap Clarissa terkekeh.
" Lho ke aku sih, nggak ah,ntar aku jadi janda aku nggak siap janda, canda janda heheheh..." ucapnya terkekeh seraya mengacungkan kedua jarinya sembari berpose lucu dan sok imut.
" Bukan aku yang disuntik mati tapi Istriku yang aku suntik hahahahah..." ucap Morgan tertawa lepas, spontan saja mereka yang ada disitupun tertawa lepas mendengar ucapan Morgan,group Abu gosok berusaha mengendalikan suasana agar tidak terlalu kaku, Delbert dan William pun ikut tertawa pelan, begitu juga dengan Bella yang terlihat tersenyum.
" Bagaimana Bel, apakah kamu sudah mau menerima ku?" tanya Delbert pada Bella, tapi Bella hanya terdiam dan dia tetap tidak menjawab pertanyaan Delbert dan dia juga kembali menundukkan kepalanya. Delbert hanya menghela nafasnya dengan pelan dan membenarkan posisi duduknya dan menyingsingkan lengan jaketnya kesiku dan kemudian dia memainkan gawainya dengan cara memutar mutarkannya di tangan dan kelantai dengan pelan.
" Delbert...Jika wanitamu itu sedang marah, dan tidak ada keluar kata-kata sedikitpun dari mulutnya, beri terus dia senyuman, karena kita sebagai laki-laki adalah pelindungnya, kita sebagai lelaki harus tau cara menenangkan hati seorang wanita kita, saat emosi kemarahannya yang sangat meledak, tapi kalau dengan cara memberi senyuman manismu kurang ampuh cari aja yang lain beres kan masalahnya hahahaha..." ucap papah Boby tertawa lepas, dan mereka semua menatap kearah papah Boby dan dengan reflek mamah Lala langsung memegang telinga papah Boby yang tertawa lepas dan langsung saja tawa papah Boby terhenti bertepatan dengan suara Bella.
" Kami setuju..." suara mereka serempak, membuat William dan Delbert tersenyum bahagia terutama Delbert dan diapun langsung mengucap syukur dan menelungkupkan wajahnya dilantai ruangan tersebut yang terbungkus dengan karpet lembut, terlihat semua bahgia, dibalik kesedihan ada segumpal kebahagian mereka.
" Bella,,, Om sangat setuju sekali sebelum kamu menanyakan apakah Om mu ini setuju atau tidaknya Om sudah merestui dan menyetujui lamaran dari Delbert untuk menjadikan kamu sebagai calon istrinya dan yang membuat Om bangga dan kagum dengan Delbert dia dengan gigih mencari kamu sampai kesini walaupun dia sudah mengetahui semua masa lalu kamu yang sangat kelam, tapi dia tetap ingin menjadikan kamu sebagai istrinya dan dia ingin bahagia bersama denganmu mengarungi rumah tangga bersamamu." ucap Abi Yosep dan Bella tersenyum menganggukkan kepalanya.
" Wah mantap kata mutiara dari Om Boby walaupun ujung-ujungnya membuat orang geram, tapi membuat seorang mengakui perasaannya." ucap Morgan terkekeh, dianggukkan mereka semua.
" Iya sih mantap tapi telinga Om kaya orang korea memerah, iya jika jadi orang korea telinga merah karena kedinginan, Lhahhhh ini telinga Om merah karena kesakitan di jewer sama ayang mbeb..." ucapnya tersenyum seraya menoleh kearah sang istri, Mamah Lala hanya tersenyum saja.
" Oh ya pak William, boleh saya bertanya pada bapak..." tanya Abiyasa.
" Nggak usah panggil bapak, kesannya kaya gimana gitu,panggil saja saya ini kakak, karena sebentar lagi kita akan jadi keluarga kan hehehhe..." ucap William terkekeh.
" Oh...baiklah kak William, saya mau tanya, sebenarnya kakak bukan jadi karyawan biasakan, tapi pemilik dari perusahaan tersebut, dan juga Delbert adalah pemilik perusahaan yang ada diluar Negei." ucap Abiyasa sembari tersenyum.
William dan Delbert tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Maafkan kami karena telah berbohong pada kalian semua..." ucap William.
" Nggak apa-apa, santai aja karena kami sudah tahu dari tadi kalau kalian berdua adalah pemilik perusahaan yang kalian rintis dari enol sampai sekarang berkembang dengan pesat sampai saat ini." ucap papah Andre sembari tersenyum.
Mereka semua tersenyum dan kemudian mereka membahas tentang pernikahan Delbert dan Bella, saat asyiknya mereka mengutarakan pendapatnya tiba-tiba gawai Morgan berbunyi dan diapun langsung mengambil gawainya disaku celananya dan melihat dilayar gawainya terlihat wajahnya agak kesal dan berdiri mohon ijin pada mereka semua untuk menjawab panggilan tersebut, dan Morgan pun menjauh dari mereka agar tidak terdengar yang lain dia berbicara dengan si pemanggil.
" Buat apa kamu menghubungi aku diwaktu yang tidak tepat sih! dasar kuntilanak!!!!" ucap Morgan terdengar marah dan kesal.
" Aku menunggu kamu besok jam delapan malam dikafe flowers tidak jauh dari kantor kamu, kalau kamu ingin bertemu aku!" ucap si penelpon.
" Baiklah aku akan menemui kamu besok!" ucap Morgan seraya memutus sambungan bicaranya dan diapun langsung berbalik arah untuk berkumpul dengan mereka lagi dan Morgan terkejut karena Anindita berada dibelakangnya.
" Sayang...sejak kapan kamu ada disitu..?" tanya Morgan terkejut karena dia mendapati sang istri sudah ada bersamanya.
" Siapa yang mau bertemu denganmu! "
" Bukan siapa-siapa sayang...itu teman kantor mengadakan acara di kafe Flowers tidak jauh dari kantor acara ultah pernikahannya." ucapnya berbohong pada Istrinya.
" Maafkan aku sayang aku terpaksa berbohong karena aku tidak ingin kamu mengtahui si kuntilanak itu, yang selalu mengganggu ku selama ini, dan aku akan membereskannya sendiri agar rumah tangga kita tenang." ucapnya dalam batinnya.
" Oh gitu, ya udah kalau gitu kita kembali gabung lagi." ucap Anindita sembari meraih tangan suaminya dan membawanya kembali ketempat berkumpulnya dengan keluarganya, Clarissa menatap kearah Anindita dan Dita pun mengacungkan jempol tangannya kearah Clarissa dan mereka pun tertawa misterius.