THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 60



Di kamar Arvin.


Arvin uring uringan dan masih teringat jelas saat Nadine memeluk lelaki itu.


" Kenapa dengan aku setiap detik selalu memikirkan Nadine, aku melangkah pun selalu ingat Nadine, terkadang rindu sampai buat ku rapuh. Keinginan selalu mau disamping Nadine, Tapi saat aku melihat Nadine memeluk lelaki itu betapa sakitnya hati ini, Nadine! kamu tahu rasanya kangen?, kepala pusing tapi tidak sakit, perut lapar tapi mulut nggak mau makan,jauh terasa dekat, senyumanmu, marah mu, bisa ku ingat sampai saat ini. Mataku ngantuk berat,tapi nggak bisa tidur karena ada dirimu di pelupuk mata ini, tapi semua itu begitu aja hilang setelah aku melihat kamu bersama lelaki itu." Ucapnya langsung bangun dari tiduran nya dan duduk di bibir ranjangnya.


" Lebih baik aku mandi dulu dan mempersiapkan diri pasti dia datang nanti malam, Saat itu aku akan bertanya kepadanya dan meminta maaf kepadanya dan mengucapkan selamat karena dia dapat mempertahankan hubungannya dengan lelaki tersebut, dan aku juga akan meminta maaf karena sudah mengganggu dia selama ini" ucapnya Seraya berjalan menuju kearah kamar mandi yang ada di ruangannya tersebut.


*****


Tepat jam 7 malam mereka sudah berkumpul di gedung, karena acara sebentar lagi akan dimulai.


Arvin menengok kiri dan kanan sambil berjalan-jalan mencari keberadaan Nadine,Tapi saat Arvin melihat seseorang membawa pakaian yang mau dikenakan oleh mereka yang memiliki acara, Arvin kemudian mendekati Mbak Ria.


" Malam Mbak" sapanya.


" Oh iya malam Mas, ada apa apa ya?" Ujar mbak Ria.


" Mbak dari butiknya Tante Raisa?" Tanya Arvin.


" Iya saya salah satu dari anak buahnya Mbak Nadine" jawabnya tersenyum.


" Kalau boleh tahu, Mbak Nadine nya dimana ya Mbak?" Tanya Arvin.


"Mbak Nadine ya nggak bisa hadir mas" jawab mbak Ria.


" Kenapa?" Tanya nya Lagi.


" Karena kurang enak badan," katanya.


" Oh iya terima kasih ya Mbak" ucapnya.


" Iya Mas, sama-sama," seraya berlalu dari hadapan Arvin.


Mbak Ria berjalan menuju ke arah ruang ganti,untuk mengantarkan pakaian yang sudah dipesan oleh mereka yang akan dikenakan pada malam hari ini.


Arvin kemudian berjalan kearah samping gedung dan duduk sendiri.


"Nadine sakit? Nadine gak enak badan? apakah karena masalah ini sampai Nadine sakit?" Gumamnya.


Arvin dikejutkan suara Morgan


"Hayo...!ngapain kamu sendirian di sini hah" ucapnya.


" Ya Allah ya Robby" ucap nya seraya memegang dadanya.


" loh kenapa kamu di sini? Bukankah kamu sedang berganti pakaian" ucap Arvin menegurkan sahabatnya yang tiba tiba ada di sampingnya.


" Kalau laki-laki mah sebentar aja ganti pakaiannya, tapi kalau cewek itu lama sekali." Ucap Morgan santai.


"Oh gitu" jawab Arvin singkat


"Terus ngapain kamu di sini? sendirian lagi! nanti kesambet loh malam-malam duduk di sini" ucap Morgan heran pada sahabatnya tersebut.


" Nggak aja kok,aku cuma cari udara segar aja" ucapnya.


" Kamu kecewa ya, Nadine gak datang ke sini " ucap Morgan seraya menatap wajah Arvin.


" Kok kamu tahu,kalau dia nggak datang" tatap Arvin.


" Aku tadi nanya sama mbak yang membawakan pakaian kami," ucap Morgan.


"Terus apa katanya?" Tanya Arvin santai.


" Ya aku tanya Nadine nya kemana? katanya Nadine enggak enak badan,kalau kayak gitu kamu telepon aja gih "ucap Morgan menyuruh Arvin menelpon Nadine.


Morgan masih tetap tidak mengatakan kepada Arvin, kalau Nadine itu sebenarnya tidak memiliki seorang kekasih, Morgan memang sengaja menyembunyikan semuanya dari Arvin, biar Arvin berusaha sendiri untuk mendapatkan cinta sejatinya.


" Oh iya bener juga katamu Mor,lebih baik aku telepon ya,tapi kalau nggak di jawabnya gimana dong?" Ucap Arvin ragu.


"Ya udah kamu chat aja,"


" Kalau nggak dibalasnya?"


"Setidaknya kamu sudah berusaha peak!" ucapnya tersenyum seraya menyenggol tubuh Arvin.


" Iya iya iya bule Iya bule angel bener sih " ucapnya.


"Ya udah buruan sana! Tapi jangan disini nelponnya, ntar kedengeran tuh musik berbunyi, nanti suaramu kalah dengan musik "ucapnya lagi.


"Ya udah kalau kayak gitu, aku nelpon dulu ya" ucapnya seraya berdiri merogoh kantong celananya mengambil ponselnya berada.


" Ya udah buruan sana" ucapnya lagi terkekeh.


Kemudian Arvin berjalan meninggalkan Morgan, Dia berjalan menuju ke arah parkiran yang agak jauh dari area acara.


Sedangkan Morgan hanya terkekeh saja.


" Berusaha lah Arvin semoga kamu mendapatkan cinta sejatimu"


Ucapnya Seraya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


Sambungan seluler nya tersambung ke nomor Nadine,namun tidak di jawab Nadine.


" Kenapa belum dijawab nya" ucapnya.


Kemudian dia menghubungi kembali namun masih tidak dijawab juga oleh Nadine, kemudian dia menchat Nadine


" Nadine tolong angkat telponnya, ini aku Arvin,Aku ingin bicara sama kamu "ucapnya.


Arvin menunggu beberapa saat tapi tidak juga dibalasnya.


Sedangkan di kamar Nadine dia tidak mengetahui kalau ponselnya berbunyi, karena dia hanya menggunakan nada getar tidak menggunakan suara.


Nadine yang asik melamun di sofa didekat jendela Seraya menatap jauh keluar jendela, dia tidak mengetahui kalau ponselnya sedari tadi berbunyi.


"Rupanya Nadin marah besar kepada diriku, sampai chat-ku juga nggak dibalasnya, aku harus meminta maaf kepadanya, besok aku akan ke butiknya dan mengatakan maaf kepadanya" ucapnya Seraya berjalan memasuki ruangan gedung,karena acara sudah dimulai.


" Aku harus tetap bahagia, dan tidak melihatkan kekecewaan dan kesedihan di wajahku ini, karena aku berhak bahagia di tengah kebahagian sahabat sahabat ku sekarang ini" ucapnya.


*****


Setelah Nadine menikmati malam yang sepi serta dingin Dia kemudian mengambil ponselnya dia melihat ada beberapa panggilan dari nomor yang tidak dikenal.


"Siapakah yang menelponku ini malam-malam begini?" ucapnya.


"Waduh dari jam 7 tadi sudah 2 jam lewat aku tidak memperhatikan ponselku,"


Dia kemudian membuka pesan baru yang ada di ponselnya.


" Arvin ?"ucapnya.


"buat apa dia menghubungiku?"


"Apakah dia mencari-cari ku di acara itu? ah... sudahlah aku tidak mau lagi berurusan dengannya, yang akan membuat hatiku sakit, kalau memang aku dan dia berjodoh suatu saat akan bertemu kembali, tapi kalau seandainya aku dan dia tidak berjodoh mungkin sampai disini aja, sebenarnya dia itu ganteng juga orangnya, romantis lagi kelihatannya, tapi...." Nadine menggantung ucapannya.


Kemudian dia menutup wajahnya dengan bantalan kursi yang ada di dekatnya.


" Aku tidak mau sakit hati aku sudah disakiti dia, enak-enak nya dia ngobrol dengan wanita lain, yang aku tidak tahu apakah itu kekasihnya, teman,atau sahabatnya. karena mereka begitu dekat sekali,aku belum sanggup untuk menjadi pendamping hidupnya kalau dia aja bersikap seperti itu kepada para teman wanitanya" ucapnya.


Kemudian dia berjalan ke tempat tidurnya dan menarik selimutnya kemudian dia terlelap dalam tidurnya.


Setelah acara selesai mereka semua berpamitan pulang dan para undangan juga sudah meninggalkan gedung acara, kemudian satu persatu semua sudah berlalu.


Arvin kemudian pamit terlebih dahulu,karena dia merasa capek pikirannya apalagi dia tidak menemukan Nadine di acara tersebut.


Mereka sahabatnya semua memahami akan keadaan Arvin tidak dengan Anindita dan Morgan karena mereka berdua mengetahui kalau Nadine dan Arvin hanya terjadi kesalahpahaman antara mereka berdua.


Nadine mengira Arvin sudah terlalu banyak cewek yang dipermainkan, sedangkan Arvin menganggap Nadine dan dokter Roni adalah sepasang kekasih.


Hanya Anindita dan Morgan yang tahu semua itu, Morgan dan Anindita tersenyum melihat ulah Arvin seperti itu.


Kemudian Clarissa mendekati mereka.


"Kenapa kamu tersenyum mor?"tanya nya penuh selidik.


"Kita kan harus merasakan kesedihan Arvin, bagaimanapun Arvin adalah sahabat kita" ucap Clarissa.


" Iya nih Kenapa kamu bisa tersenyum seperti itu di atas penderitaan Arvin ?" tanya Abiyasa lagi.


"Gimana aku nggak senyum, Arvin sama Nadine itu adalah salah paham,yang dipeluk oleh Nadine itu adalah kakak kandungnya Nadine, dokter Roni namanya." Terang Morgan.


" Iya kak,dokter Roni adalah dokter ahli bedah yang ada di rumah sakit kita "ucap Anindita.


"Nah sedangkan Nadine merasa cemburu dan curiga kalau Arvin itu adalah lelaki playboy,yang banyak pacarnya di mana-mana, dan suka menyakiti hati wanita" sambung Morgan lagi.


" hahaha "mereka tertawa lepas.


Abiyasa hanya menganggukkan kepalanya.


" Biarkan saja Arvin larut dalam kesedihan nya, kalau memang dia sudah merasa sedih banget dan tidak bisa dia kendalikan,baru kita katakan ini semua" ucapnya jiwa kejahilannya mulai meronta.


"Berarti masih ada dong kesempatan Arvin untuk bersama dengan Nadine" ucap clarissa.


"Ya pasti ada lah, dokter Roni aja suka kalau Nadine dengan Arvin, malah dokter Roni berharap kalau Arvin akan menjadi pendamping adiknya, karena dokter Roni menyukai kepribadian Arvin" sambung Anindita.


" wah mantap itu,berarti sudah ada lampu hijau dong dari sang kakak nya "ucap Clarissa lagi.


Mereka semua Kemudian meninggalkan gedung tersebut dan memasuki mobil mereka masing-masing dan menuju ke rumah mereka masing-masing juga.


Sedangkan Arvin yang berada di dalam mobil yang menuju ke arah rumahnya merasa galau,rasa sakit rasa kecewa dan kesedihan yang sangat mendalam di hatinya membuat dia merasa tidak ada tempat untuk meluahkan semuanya.


Mobilnya terus melaju ke arah rumahnya.


" Aku harus menyelesaikan ini semua besok,aku harus menemui Nadine di butiknya, Aku akan menjelaskan ini semua" ucapnya.


Kemudian mobil Arvin memasuki halaman rumahnya, dia keluar dengan langkah gontai nya, dia memasuki rumahnya tersebut dan langsung menuju ke kamar pribadinya.


Setelah dia membersihkan dirinya dia mengambil pakaian tidurnya dan menuju tempat tidurnya.


Arvin menarik selimutnya dan melupakan kelelahan dalam pikirannya akhirnya dia tertidur dengan lelap nya membawa sejuta kesedihan dan kekecewaan di hatinya.