THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 231



Mobil yang dikendarai mereka memasuki halaman rumah sakit Wibawa dan mereka langsung menuju kearah tempat parkir yang sudah disediakan pihak rumah sakit tersebut.


Setelah mereka memarkirkan mobilnya tersebut mereka langsung saja turun dan bersamaan berjalan menuju kearah pintu masuk rumah sakit itu.


Papah Andre kemudian berbicara dengan pihak keamanan rumah sakit,walaupun dia adalah pemilik rumah sakit tersebut, dia tetap mengikuti prosedur yang dibuat oleh rumah sakit tersebut.


" Selamat malam pak Wayan.." sapa papah Andre,sembari tersenyum, berhubung keamanan rumah sakit tersebut berbeda keyakinan dengan papah Andre, dia menyapa pak Yayan seperti pada umumnya.


Pak Wayan yang mengetahui kalau yang datang adalah sang Bos besar dia pun langsung berdiri dan menundukkan sesaat pada papah Andre untuk memberikan hormat dan terlihat sangat sopan sekali, karena dihadapannya itu adalah seorang Bos besar yang sangat berwibawa.


" Selamat malam pak Bos, ada apa ya pak Bos?" tanyanya seraya menatap kearah papah Andre sambil tersenyum membalas senyuman pak Bosnya tersebut.


Papah Andre pun tersenyum ramah...


" Maaf ya pak Wayan saya kesini lewat dari waktu jam besuk, karena ada keluarga kami yang rawat inap dirumah sakit ini." Ucap papah Andre menjelaskan pada pak Wayan.


Pak Wayan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Iya pak nggak apa-apa pak, inikan rumah sakit milik keluarga bapak, dan bisa kapan aja bapak kesini tanpa harus ijin kepada saya pak." ucapnya sedikit hati-hati berbicara dengan pak bosnya tersebut.


" Tidak bisa gitulah pak, walaupun rumah sakit ini milik keluarga saya, saya tidak boleh semena-mena masuk dan keluar tanpa mengikuti peraturan yang ada yang sudah ditetapkan oleh rumah sakit ini." Ucap papah Andre seraya menepuk punda pak Wayan sembari tersenyum.


Pak wayan pun hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ramah.


" Iya pak Bos, maafin kata-kata saya bila kurang berkenan." Ujarnya seraya menangkupkan kedua tangannya didada.


papah Andre tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan pak." Ucapnya sembari mengusap punggung pak Wayan.


" Kalau begitu pak, silahkan masuk aja pak.." Ucapnya sembari mempersilahkan rombongan keluarga papah Andre dan yang lainnya memasuki rumah sakit.


" Iya pak, terimakasih ya pak.." Ucapnya tersenyum lagi.


" Iya pak, sama-sama..." ujarnya seraya menganggukkan kepalanya sesaat dan menatap langkah kaki mereka yang menjauh meninggalkan pos keamanan pak wayan.


" Memang baik banget dan sangat berwibawa sekali pak Andre ini, sangat bersyukur sekali aku mendapatkan Bos seperti pak Andre, bukan pak Andre saja yang bersikap baik dan penuh kewibawaan tapi dokter Anindita anaknya itu juga sangat baik dan sangat berwibawa dalam bertugas ataupun diluar tugas, keluarga yang tidak sombong dan tidak pernah membedakan satu dengan yang lainnya, baik itu orang miskin ataupun orang kaya dan dia begitu baik juga dengan aku yang berbeda keyakinan dengannya,,semoga selalu dilindungi tuhan yang maha kuasa keluarganya." Ucap pak Wayan sembari tersenyum dan dia pun kembali lagi masuk kedalam pos keamanannya tersebut, dengan tersenyum bahagia karena merasa beruntung bekerja dengan papah Andre.


Mereka mendekati pintu rawat inap Nika, terlihat dua orang polisi masih berada didepan ruangan tersebut, dan sedang asyik berbicara dengan salah satu teman rekan kerjanya.


Melihat Abiyasa yang berjalan kearah mereka, kedua anak buah Arvin itupun langsung berdiri sembari tersenyum,mereka pun membalas senyum kedua polisi tersebut, Abiyasa kemudian bertanya pada kedua anak buah Arvin itu.


" Malam pak, dimana Arvin?" tanya Abiyasa.


" Malam juga pak, Pak Arvin lagi kekantin tadi sebentar katanya mau minum kopi " jawab salah satu dari mereka.


Abiyasa hanya menganggukkan kepalanya.


" Boleh kami masuk?ini adalah keluarga dari si korban, dan mereka ingin bertemu dengan Nika, apakah boleh?" Tanya Abiyasa


" Boleh saja pak..silahkan masuk.." Ucapnya mempersilahkan mereka masuk, karena mereka sudah mengenal Abiyasa, jadi mereka mengiyakan kalau Abiyasa bertemu dengan Nika.


" Terima kasih ya Pak " ucap Abiyasa sembari menganggukkan kepalanya pada kedua anak buah Arvin itu, Begitu juga dengan anak buah arvin dia menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan mereka masuk kedalam.


Kemudian mereka berdua pun duduk kembali di tempat duduknya semula, dan keluarga Abiyasa pun langsung memasuki ruangan rawat inap Nika itu.


Anak buah Arvin yang ada di depan pun langsung kembali bercerita seperti semula, saat salah satu dari mereka merentangkan tangannya untuk berpindah posisi duduknya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang ada di depan ruang inap Nika itu pun melihat seseorang yang berada di balik tiang tembok seperti mengawasi kearah mereka, dia pun langsung berdiri dan temannya pun menegurnya.


" Kenapa kamu berdiri ?Ada apa ? " tanyanya.


" Sssttttt...!sebentar! kamu tetap di sini aku akan kesana." ucapnya sembari melangkah dengan tergesa-gesa, dan temannya tersebut hanya terdiam sembari menatap kepergian temannya itu.


" Hey...!! siapa itu?! teriaknya pelan menegur kan seseorang yang sudah ketahuan terlihat olehnya, namun secepat kilat lelaki yang mencurigakan itupun langsung melangkah setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit tersebut, salah satu dari anak buahnya Arvin pun terus mengejarnya sampai keluar ruangan rumah sakit itu, laki-laki yang mencurigakan itupun langsung saja mengendarai sepeda motornya dan meninggalkan halaman rumah sakit tersebut tanpa menghiraukan kejaran dari anggota polisi anak buahnya Arvin.


Anak buah Arvin itupun secepatnya menuju kearah pos penjagaan yang ada di rumah sakit itu.


" Selamat malam Pak.." sapanya.


" Oh ya pak, malam Pak Polisi, ada apa ya?" ucap pak Wayan merasa heran dengan kedatangan pak polisi ke pos keamanannya.


" Saya tadi melihat ada seorang laki-laki yang mengendarai sebuah motor melintasi pos ini." ucapnya.


" Iya pak ada, motor merah bernopol xxxx." ucap Pak Wayan.


" Iya pak.."


" Iya pak " jawabnya


" Saya kurang kenal pak, tapi dia itu sejak tadi sudah ada di rumah sakit ini, saya juga tidak tahu siapa yang dijenguknya? ada apa ya pak polisi?"


" Ada sesuatu pak, oh ya pak... bisa saya minta rekaman cctv-nya.?" tanya pak polisi anak buah Arvin tersebut.


" Siap pak! bisa..." jawab pak Wayan.


" Kalau begitu nanti saya minta kopiannya ya pak, kasihkan saja kepada saya, saya berada di ruangan VViP anggrek."


" Oh iya Pak siap, nanti salah satu dari kami akan memberikan salinan copy cctv-nya." jawabnya sembari tersenyum.


" Terima kasih ya Pak." ujar anak buah Arvin seraya tersenyum juga sambul menganggukkan kepalanya.


Kemudian dia pun kembali lagi menemui teman rekan kerjanya yang berada di depan ruangan Nika tersebut, sesampainya didepan ruangan itu pun temannya yang berada sejak tadi merasa heran.


" Ada apa ?Kenapa kamu langsung berlari ke sana ?"


" Aku tadi melihat ada seseorang yang berada tidak jauh dari sini terlihat mencurigakan dan sepertinya memata-matai kita sejak tadi sore, hampir saja kita kecolongan, dan dia ternyata berada di sini sudah lama sepertinya dia ada hubungannya dengan korban yang sedang kita jaga ini, kalau dia tidak ingin berbuat jahat dengan korban yang ada di dalam tidak mungkin dia aku kejar dan aku hentikan tidak mau berhenti dan dia langsung pergi begitu saja, tapi aku langsung meminta copy-an rekaman CCTV rumah sakit ini, nanti kalau sudah Pak Arvin datang aku akan mengatakan semuanya padanya."


Teman kerjanya itu pun menganggukkan kepalanya, Mereka kemudian duduk kembali dan sama-sama terdiam.


Mereka yang berada di dalam ruangan itu pun duduk di sofa yang sudah tersedia di ruangan VVIP anggrek tersebut, Amelia yang tertidur di samping adiknya itu tidak dibangunkan oleh mereka, mereka membiarkan saja Amelia tertidur dengan lelapnya.


Mama Lala yang sejak tadi berdiri disamping Amelia dan membelai lembut rambut Amelia yang sedang tertidur di samping adiknya yang masih belum sadarkan diri itu, dia tak kuasa menahan air matanya, akhirnya air mata Mama Lala pun mengalir melihat anak dari sepupunya itu luntang lantung di kota kelahiran mama dan Papanya Rendy dan Sinta.


Mereka hanya terdiam! Tidak ada yang mereka bicarakan sama sekali, kemudian Amelia pun menggerakkan tubuhnya dan dia pun bangun dari tidurnya tersebut.


Dia terkejut melihat beberapa orang sudah ada di ruangan rawat inap sang adik, dia langsung berdiri dan menatap satu persatu dari mereka, terlihat dari tatapannya dia merasa heran dan penuh tanda tanya besar dikepalanya.


" Siapa mereka?" batinnya dengan masih menatap kearah mereka satu persatu yang hanya dikenalnya hanyalah Abiyasa yang tadi sore dilihatnya.


Almira yang baru saja keluar dari kamar kecil, karena saat dia masuk ke kamar itu dia langsung menuju ke arah kamar kecil yang tersedia di ruangan itu, dia menatap kearah Amelia yang merasa heran dengan kedatangan keluarga Almira dan keluarga Om Bobby.


Almira pun kemudian mendekati Amelia, dia menyentuh pundak Amelia dengan pelan, Amelia pun terkejut dia langsung menoleh kearah Almira, dia menatap Almira dengan lekat seakan-akan ingin mengutarakan pertanyaan tapi bibirnya terasa kelu, Almira tahu itu dan dia pun tersenyum pada Amelia.


Dia kemudian mengajak Amelia duduk kembali di kursi di samping tempat tidur adiknya tersebut.


" Kak Amel, kakak pasti terkejut melihat kedatangan kami, itu adalah mama dan Papanya Almira, itu adalah kakak iparnya Almira istri dari kakak Almira dan itu adalah Om Bobby dan tante Lala dan itu anaknya, Almira sudah bercerita kepada mereka semua, kejadian yang menimpa kalian dan saat kak Amel mendengar Almira bercerita tentang om Bobby dan tante Lala, itulah mereka berdua, Om Bobby dan tante Lala." ucap Almira.


Papah dan Mamah Lala pun hanya menganggukkan kepalanya, Mama Lala menghapus air matanya yang masih menetes di kedua pipi cantiknya itu, Papa Bobby pun kemudian mendekati Amelia.


" Amelia... Kamu adalah anaknya Sinta dan Rendy kan Nak?"


Amelia terkejut dan menatap kearah Papah Bobby...


" Apakah mereka berdua ini yang diinginkan Almarhumah mamah, agar aku mencari mereka." batin Amelia.


Sekali lagi papa Boby bertanya dengan Amelia.


" Amel, apakah kedua orang tuamu itu bernama Rendy dan Shinta?"


Amelia hanya menganggukkan kepalanya.


" Dari mana Om tahu kalau kedua orang tua saya itu bernama Rendy dan Sinta?"


Kemudian Mama Lala pun mengambil gawainya yang ada di dalam tas yang dibawanya itu, dia membuka layar gawainya itu dan memperlihatkan sebuah foto, foto sepupunya Rendy tersebut.


" Amelia, Apakah ini Ayah kamu ?" tanya Mamah Lala kepada Amelia.


Amelia mengambil gawai itu dan menatap layar gawainya Mamah Lala, Amelia pun tak kuasa menahan tangisnya sembari menganggukkan kepalanya dan dia pun tidak bisa bersuara lagi langsung saja dia menundukkan kepalanya menelungkupkan wajahnya di ranjang rawat inap adiknya tersebut dan dia pun menangis kesesugukkannya.


Mamah Lala pun membelai rambut lembut anak sepupunya tersebut


" Amelia.. Ayahmu itu adalah sepupunya Tante, nak... Kenapa kalian selama ada di sini, kalian tidak menghubungi Tante? Kenapa kedua orang tuamu meninggal dunia kamu tidak menghubungi tante juga?" ucap Mamah Lala disela tangisnya tersebut.


Papa Boby langsung merangkul Mama Lala dan menenangkannya sembari tangannya pun mengusap lembut pundak Amelia, Almira kemudian merangkul Amelia dan Amelia pun memeluk Almira, dia menumpahkan tangisnya di pelukan Almira, dia tidak bisa berbicara lagi, Dia hanya bisa mengeluarkan tangisnya dengan kesesugukkan.


Papa Andre pun mendekati mereka....


" Biarkan Amelia menumpahkan tangisnya, mungkin dia merasa rindu dengan kedua orang tuanya, apalagi ditambah adiknya yang berada di rumah sakit ini belum sadarkan diri, setelah dia tenang barulah kita akan bertanya lebih lanjut lagi." ucap Papa Andre.


Mereka pun menganggukkan kepalanya dan membiarkan Amelia menangis di pelukan Almira.