THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 261



Mobil papah Andre melaju dengan kecepatan sedang dan melewati jalan pintas agar segera sampai dirumahnya.


Benar saja beberapa saat kemudian mobilnya tersebut sudah memasuki halaman rumahnya itu.


Setelah memarkirkan mobilnya tersebut mereka berdua langsung turun dan melangkah menuju mereka yang ada diteras, awalnya berada dihalaman rumah kemudian mereka berdua membawa kedua orang tersebut keteras depan rumah,berhubung teras depan agak terlindung dari dari jalan raya karena halaman rumah papah Andre banyak berbagai macam tumbuhan bunga dan beberapa pohon buah seperti pohon mangga dan pohon rambutan yang tidak terlalu tinggi jadi tidak terlalu tampak dari luar kalau ada keramaian diantara mereka dan tidak mengundang pusat perhatian warga lain yang hilir mudik dijalan raya yang ada didepan rumahnya itu, ditambah lagi suasana malam yang tenang dan sepi, karena penghuni yang lain disarankan sama Abi Yosep dan Ayah Candra untuk berada didalam rumah saja, biar tidak mengundang perhatian.


Dua orang tersebut masih terlihat menundukkan kepalanya, papah Boby dan papah Andre mengambil duduk disamping papah Candra.


" Siapa yang menyuruh mereka Ndra?" tanya papah Andre.


" Mereka tidak mau berbicara sepertinya mereka masih ragu-ragu untuk mengatakannya." ucap Ayah Candra.


" Bagaimana sih kejadian sebenarnya sehingga mereka kalian amankan dan apa benar mereka sangat mencurigakan sekali sehingga mereka dengan mudah ditangkap seperti ini.?" Tanya papah Boby seraya memperhatikan kearah kedua orang tersebut.


" Aku juga sebenarnya tidak tahu juga pastinya gimana, Yosep yang tau pasti bagaimana dia yang menangkapnya." ucap Ayah Candra.


" Yosepnya mana?" Tanya Papah Boby.


" Masih didalam katanya mau kebelakang kebelet." Terang Ayah Candra.


" Astaga! sempat-sempat saja dia kebelakang dalam keadaan genting seperti ini." Ucap papah Boby sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


Papah Andre dan Ayah Candra hanya tersenyum saja.


" Ada apa dengan dia Ndre, kok wajahnya terlihat kesel gitu selepas kalian dari kantor polisi? " Bisik Ayah Candra.


" Biasalah, kaya tidak tahu aja siapa Boby kalau sudah marah kaya apa marahnya si Mak Tom Cruise hehehe.." Ucap Papah Andre sembari tersenyum seraya menatap dua orang tersebut.


Mereka bertiga pun langsung menoleh kearah Abi Yosep yang kebetulan keluar dari dalam dengan membawa secangkir minuman yang berada ditangannya.


" Katanya kebelakang kebelet? Eh ini malah kedapur " Ucap papah Boby.


" Aku pasti lancar dengan segelas minuman yang ada di gelas ini, teh manis buatan sang istri yang sangat manis sekali hehehe." ucapnya terkekeh.


" Heh!! sudah bisa ngomong nggak sih!! " Bentak Abi Yosep membuat mereka semua kaget dan seperti biasa, Ayah candra langsung mengucap salam, papah Andre langsung melempar kontak mobilnya kearah Abi Yosep namun Abi Yosep langsung menghindar sembari tersenyum dan Papah Boby langsung mengucapkan istigfar berkali-kali sembari segera berdiri dan salah satu dari orang tersebut pun langsung menjatuhkan dirinya dengan cara duduk dilantai ubin keramik tersebut.


" Kami sudah bosan ikut mereka! Kami hanya dimanfaatkan!" Ucapnya seraya menelungkupkan wajahnya di ubin keramik lantai teras itu.


Mereka bertiga terkejut dan langsung menatap salah satu orang itu yang sedang bersujud di hadapan mereka.


" Hey tikus got! Ada apa dengan kamu sehingga kamu berkata seperti itu! rupanya kamu ingin dibentak dulu agar kalian berdua ini bisa bersuara hah!!" ucap Abi Yosep sembari berjongkok di hadapan laki-laki yang masih menelungkupkan kepalanya di lantai teras tersebut.


Abi Yosep menepuk pundak laki-laki itu


" Ayo bangun!! tiba saatnya kamu menceritakan semuanya biar kami ini tidak terlalu menunggu lama dengan keterangan kamu!!" ucapnya seraya masih berjongkok di depannya, tapi laki-laki yang sedang menelungkupkan kepalanya itu tidak bergeming sama sekali, dia masih asyik dengan gaya dia sendiri.


Kemudian salah satu dari mereka yang masih duduk di kursi itu pun berbicara.


" Kami sudah lama ikut mereka dan kami juga sudah lama membantu mereka, saat mereka berada di luar negeri pun kami selalu dihubungi kalau seandainya ada tugas yang harus mereka selesaikan di tanah air, saat itu uang yang dijanjikan mereka selalu saja dibayarkan pada kami, tapi akhir-akhir ini mereka mengingkari janjinya, bahkan kami berdua sempat dikurung di salah satu kamar yang ada dirumah tempat mereka berkumpul menyusun rencana, karena kami menagih bayaran pada mereka, padahal kami sudah berusaha menolong mereka untuk selalu mengawasi dua orang wanita target mereka itu, tanpa pernah diketahui oleh wanita tersebut, kedua wanita itu hanya mengetahui bos yang sering memberi kami uang itu saja, karena kami diperintahkan jangan sampai terlihat oleh kedua wanita itu, dia selalu menampakan dirinya di hadapan kedua wanita itu, kami juga tidak tahu kenapa dia selalu bersikap seperti itu di depan kedua wanita tersebut, Sampai suatu hari salah satu dari mereka masuk sebuah angkot dan angkot itu pun kami yang mencarinya, angkot itu hanya disuruh dengan iming-iming uang yang telah dijanjikan oleh Bos kami itu, sopir angkot itu tidak mengetahui sama sekali Apa motif kami untuk menjadikan salah satu wanita itu ikut bersamanya, karena dia juga tergiur akan uang makanya dia mengiyakan saja dengan saran dari kami, tapi karena rencana itu gagal total dan salah satu dari wanita tersebut mendapatkan pertolongan dari seseorang dan membawanya ke rumah sakit, serta kedua wanita itu pasti sudah mengatakan semuanya pada para penolong mereka,dan lebih parahnya lagi kami pun ketahuan dengan para penolong wanita itu, Bos sangat marah sekali dan naik pitam sampai akhirnya bos menyalahkan kami berdua, Kami sempat di katakan bahwa kami ini tidak becus dalam melaksanakan tugas sampai akhirnya kami harus berada di sebuah kamar dan tidak boleh pulang, Untung saja kami berdua masih bujangan tidak mempunyai istri ataupun anak, sampai akhirnya teman saya itu merasa dibohongi dan kami pun berdua kabur dan berniat ingin mengatakan semuanya kepada pemilik rumah besar ini, karena sempat kami dengar mereka merencanakan sesuatu agar bisa membawa kedua wanita tersebut dari rumah ini, awalnya kami memang tidak tahu rumah besar yang di mana mereka maksud, tapi setelah mereka mengatakan alamat rumah dan nomor rumah ini dan siapa pemilik rumah tersebut,kami berniat ingin mengatakan semuanya dan ingin menggagalkan rencana mereka dengan cara keluar dari rumah itu,Sampai akhirnya kami pun bisa keluar dari kamar itu yang sudah mengurung kami beberapa hari, dengan bermodal nama yang disebutkan bos kami itu, kami akhirnya kami menemukan rumah ini, kami juga sebenarnya ketakutan mondar-mandir berada di depan rumah keluarga ini, tapi karena niat kami ingin mengatakan Yang sejujurnya dan kami tidak ingin mempunyai dosa lagi yang sangat besar, akhirnya kami pun dipergoki oleh Bapak ini dan kami tidak melawan sama sekali antara takut dan tidak untuk mengatakan semuanya, tolong kami pak berikan... berikan... kami perlindungan sementara ini, kami janji akan memberikan keterangan dan alamat rumah yang mereka tempati sampai saat ini, tolong kami pak! tolong! " ucapnya seraya menangkupkan kedua tangannya dan menatap kearah Papa Andre, Ayah Candra, dan Abi Yosep.


Kemudian terdengar 2 buah mobil memasuki halaman rumah papah Andre, Siapa lagi kalau bukan Abiyasa, kak Niko dan Arvin, Mereka kemudian turun dari mobil dan bergegas melangkah menuju ke arah teras, karena terlihat mereka masih berada di teras.


Abiyasa melihat kedua orang yang ada di depan orang tuanya tersebut dan satunya masih berada di lantai.


" Apakah ini mereka pah?" tanya Abiyasa.


" Iya nak! mereka adalah orang yang sudah diamankan oleh mertuamu dan om kamu."


" Terus kenapa dengan dia ini? Kenapa dia menelungkupkan kepalanya di lantai, apa sudah diselesaikan Om Boby?" tanya kak Niko.


Papah Boby langsung menoleh kearah kak Niko, kak Niko tersenyum seraya menaik turunkan Alisnya.


" Ni anak,ada-ada aja ngomongnya, dia itu lagi stress!" ucap ucap papah Boby tersenyum dengan santai.


Abi Yosep kembali duduk di samping papa Bobby, kemudian lelaki yang ada dilantai itupun langsung duduk bersila di lantai ubin keramik teras rumah Papa Andre itu, Abiyasa Kemudian berjongkok menatap kearah lelaki itu.


" Kamu kenapa? kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanya Abiyasa.


Namun lelaki itupun hanya terdiam.


" Dia sudah menceritakan semuanya dengan kita Biy." ucap papa Boby.


" Apakah keterangannya itu benar?"


" Mudah-mudahan aja itu benar dan mudah-mudahan saja mereka ini tidak berkata bohong." Ucap papah Boby.


Abiyasa menganggukkan kepalanya.


" Kalian mau aman?" tanya Abi Yosep.


Mereka berdua menganggukan kepalanya.


" Kalian tinggal saja di hotel prodeo." Ucapnya lagi.


Mereka berdua langsung menatap ke arah Abi Yosep,dengan muka terkejutnya.


" Kenapa kami harus ke penjara pak? kami minta tempat yang aman untuk kami sementara waktu ini, tapi jangan dipenjara Pak." Ucap salah satu dari mereka berdua.


" Kalian memang harus dipenjara! karena kalian sudah mengikuti mereka, seharusnya kalian memikirkan 2 wanita itu seperti apa nantinya kalau terjadi apa-apa dengan mereka, kamu tahu wanita yang kalian bawa melalui angkot itu masih labil, apa kamu bisa menanggung deritanya Hah!!" ucap Abi Yosep lagi.


Mereka terdiam sesaat...


" Tapi Pak, kami mengaku bersalah tapi tolong jangan dibawa kami ke kantor polisi." Ucapnya.


" Karena kantor Polisi adalah tempat yang aman bagi kalian berdua, kalau kalian berada di rumah ini, rumah ini yang tidak aman!! Tau tidak!!" Sambung papah Boby.


" Tapi sebelum kalian berangkat ke kantor polisi, lebih baik kalian mengatakan di mana alamat tersebut?!" Tanya Papa Boby lagi kepada salah satu laki-laki itu.


" Apakah alamatnya di Jalan patriot?" tanya Arvin, mereka semua menatap kearah Arvin, laki-laki yang ada di hadapan papah Boby Itu pun terkejut dan dia langsung menoleh kearah Arvin.


" Iya kan?! Jalan patriot.?" tanya lagi.


" Iya Pak Jalan patriot nomor 201 di situlah mereka berkumpul."


" Di rumah itu ada berapa orang?" tanya Arvin lagi.


" 5 orang pak."


" Apakah di situ ada bosnya?"


" Tidak pak, bosnya ada di hotel berbintang, karena sekali-kali saja dia ada di rumah tersebut."


Arvin, Abiyasa dan yang lainnya pun menganggukkan kepalanya seraya memahami keterangan laki-laki itu.


" Kenapa kamu tahu Nak Jalan patriot?" tanya Ayah Chandra.


" Karena saat ini anak buah Morgan dan Arvin sedang mengawasi rumah itu dari jauh."


" Apakah kamu yang mengawasi rumah sakit itu?" tanya Papah Bobby lagi.


Dia menggeleng...


" Apakah kamu, hey! laki-laki stress!!" Tanya papah Boby sembari menoleh kearah laki-laki yang sedang duduk di lantai ubin keramik tersebut.


Dia pun menggeleng.


" Yang mengawasi perempuan di rumah sakit itu adalah teman kami, Dia masih di rumah itu."


" Apakah mereka tahu kalian sudah keluar dari rumah itu?" Tanya Abiyasa.


" Kami tidak tahu, apakah mereka sudah mengetahui kalau kamar tempat mengunci kami itu sudah kosong, karena kami saat itu keluar dari ventilasi udara yang ada di kamar tersebut."


" Ventilasi udara? Kamu jangan bohong! Jangan-jangan ini kamu hanya membuat rencana saja agar kami percaya dengan ucapan kamu! kamu kira kami bodoh! ventilasi udara itu mana muat dengan badan manusia!" ucap kak Niko mensedekapkan tangannya didada.


" Ya bisa aja Niko, ventilasi udara itu mengeluarkan tubuh mereka berdua, lihat aja tubuh mereka itu seperti kucing kering kaya gini, karena banyak dosa dengan cara membantu orang jahat, jadikan mudah keluar dari ventilasi." ucap Abi Yosep lagi mereka terkekeh, sedangkan kedua orang itu hanya menundukkan kepalanya.


" Kami tidak bohong Pak! kami memang benar sungguh-sungguh keluar dari ventilasi udara itu, berhubung badan kami memang kurus dan memudahkan kami juga untuk menyusup keluar dari kamar yang mengurung kami itu." ucapnya


" Coba kamu lihat aku, aku akan menerawang kamu berdua, Apakah kamu itu benar-benar berkata jujur atau tidak." Ucap Papah Boby.


Laki-laki yang di hadapan papah Bobby itu pun kemudian mengangkat wajahnya dan menatap lurus kearah Papah Boby, papah Boby menatap kearah laki-laki itu dan langsung menatap kebola matanya.


" Ternyata dia memang tidak berbohong, terlihat jelas di wajahnya dari sinar matanya pun dia tidak menyembunyikan kebohongan itu, berarti memang dia ini kabur dari laki-laki yang menyuruhnya tersebut." Ucap batinnya.


" Siapa nama laki-laki yang ada di hotel berbintang itu dan hotel berbintang mana yang dia tempati." ucap papa Bobby sembari tetap menatap wajahnya.


" Hotel berbintang permata, dia bernama Pak Johanes, setahu saya Pak Johanes adalah orang suruhan dari kakaknya tersebut, kakaknya berada di luar negeri." ucapnya.


" Apakah kamu tahu sapa nama kakaknya itu?" tanya papa Bobby.


Dia menggelengkan kepalanya.


" Pak Johanes tidak pernah bercerita tentang sosok kakaknya tersebut dia pernah bercerita dengan kami-kami sebagai pesuruhnya ini, dia hanya membantu kakaknya yang telah dikhianati oleh sahabatnya sendiri, kami juga tidak tahu siapa sahabatnya itu dan kami juga tidak tahu apa hubungannya dengan 2 wanita tersebut, Tapi menurut Pak Johanes dua wanita itu memang sengaja diikuti agar mereka merasa terus ketakutan, dan Pak Johanes pun selalu mendatangi kantor-kantor dimana salah satu dari perempuan itu melamar pekerjaan agar tidak mendapatkan pekerjaan yang layak, Pak Johanes ingin menghukum kedua perempuan itu dengan rasa kesulitan dan kesedihan yang sangat mendalam, karena pak Johanes ingin kedua perempuan itu menanggung kesalahan kedua orang tuanya." Terangnya.


" Memang kurang ajar itu si Johanes! sehebat apa dia sehingga mempunyai niat seperti itu!! Kamu mau tahu siapa kedua perempuan itu?! Mereka berdua adalah keponakan ku! karena Johanes dan kakaknya itu sudah mengganggu keponakanku dan mereka berdua juga akan merasakan akibatnya sama seperti kalian! kalian juga harus merasakan akibatnya!!" Ucap papah Boby.


" Tolong Pak, jangan tangkap kami, jangan bawa kami ke kantor polisi, niat kami baik Pak, kami ingin memberikan keterangan semuanya kepada pihak Bapak, karena mereka ingin melancarkan aksi mereka tengah malam ini, karena mereka sudah mengetahui kalau kedua Wanita itu sudah berada di rumah ini, salah satu dari teman kami sudah mengikuti kemana arah Bapak membawa 2 perempuan tersebut." Ucapnya


" Kalian berdua tetap salah! Biar bagaimanapun kalian sudah menolong orang jahat sekarang kalian memang harus merasakan hotel prodeo dan menjalani prosesnya." Ucap Ayah Candra.


Terdengar tangis lelaki yang ada duduk dilantai ubin itu.


" Woy!! Jangan nangis! Malu sama cicak!!" Ucap Abi Yosep, tangis itupun sedikit mereda.


" Baiklah Pak, kami mengaku salah dan Kami juga akan menjalani hukum yang berlaku di negara ini dan kami memang sudah salah membantu mereka, ternyata selama ini juga kami membantu mereka tidak ada balas baliknya, karena kesalahan sedikit saja membuat pak Johanes marah, Jadi kami di berikan hukuman oleh pak Johanes. sebenarnya saat kejadian di angkot itu dan di sebuah rumah itu Pak Johanes lah yang menyuruh kami seperti itu, agar salah satu dari perempuan itu merasa tertekan, sebenarnya dia tidak kami apa-apa kan." Terangnya.


" Tidak Kalian apa-apa kan?enak kalian berbicara seperti itu ya!! Kalian sudah mngacak-acak pakaiannya seperti itu, kalian tidak berpikir dia itu masih belia, dia itu juga labil dan memiliki tingkat ketakutan yang sangat tinggi dengan keadaan yang kalian berbuat seperti itu! dia mengalami trauma yang berkepanjangan!! seharusnya kalian sadar!! kalau memperlakukan seorang wanita itu seperti apa, itu sama aja kalian sudah bersalah, disisi lain kalian sudah menyalahi aturan Bagaimana seharusnya kalian memperlakukan seorang anak gadis remaja seperti dia, kalian memang tidak ada otaknya!! kalian tidak ada perasaan!!" Ucap Abi Yosep.


" Seharusnya kalian itu berpikir suatu saat kalian mempunyai seorang anak perempuan dan dibuat seperti itu, apakah kalian terima? Tidak kan!! jangan mentang-mentang kalian berdua belum mempunyai istri dan mempunyai anak kalian semudah itu menghancurkan mental gadis remaja yang perjalanannya masih panjang, suatu saat kalian akan mempunyai keluarga, disitulah kalian merasakan bagaimana kalau seandainya salah satu keluarga kalian dibuat seperti itu." Ucap Ayah Candra.


" Apakah kalian mempunyai adik perempuan?" Tanya Papah Andre.


Mereka berdua pun mengangguk...


" Kalau kalian mempunyai Adik perempuan seharusnya kalian berpikir, kalau seandainya adik perempuan kalian dibuat seperti itu, bagaimana rasanya? Pasti sakit kan?!!" ucap papah Andre menatap mereka berdua saling bergantian, mereka berdua hanya menundukkan kepalanya saja.


" Baiklah Pak, kami akan mempertanggung jawabkan salah kami, setidaknya kami bisa mengurangi rasa bersalah kami ini, silakan Pak bawalah kami ke kantor polisi, sebelum mereka melancarkan aksinya di rumah Bapak ini, dan saya berharap bapak bisa menangkap mereka semua, agar mereka juga bisa mempertanggungjawabkan perbuatan mereka." ucapnya pelan berbicara.


" Abiyasa,Niko, Arvin papah minta tolong dengan kalian, bawa mereka ke kantor polisi segera! biarkan pihak yang berwajib memprosesnya!" Titah papah Andre


Abiyasa dan yang lainnya pun menganggukkan kepalanya.


" Ayo sekarang kalian harus kuantar ke hotel prodeo!" ucap Arvin seraya meraih tangan salah satu lelaki yang ada di depan Papah Bobby, kemudian kak Niko pun meraih tangan laki-laki yang sedang duduk di lantai ubin keramik teras rumah tersebut.


Mereka kemudian melangkah menuju ke mobilnya Arvin belum sampai mereka ke mobil tersebut, sebuah mobil memasuki halaman rumah keluarga Wibawa, Siapa lagi kalau bukan mobilnya Morgan.


Morgan turun dengan 3 orang anggotanya, Papa Andre dan yang lainnya pun langsung mendekati Morgan.


" Nah kebetulan sekali kamu datang Mor,sekarang tolong bawa mereka berdua ini ke hotel prodeo mu, biarkan pihak kalian yang memprosesnya." Ucap papah Andre


" Apakah sudah dapat keterangan dari mereka pah?" Tanya Morgan.


" Sudah kami kantongi semuanya." Sahut Papah Boby


" Mantap! kalau seperti itu Morgan akan membawanya ke kantor polisi, tapi kalian jangan bertindak terlebih dahulu ya Pah, tunggu Morgan ya, habis mengantar mereka Morgan langsung cepat pulang." pesannya.


Papah Andre mengangguk...


" Siap komandan!" ucap papa Bobby sembari terkekeh, Morgan pun tersenyum, kemudian memasuki mobilnya kembali bersama ke-4 anggotanya dan dua lelaki tersebut, beberapa saat kemudian mobil itu pun langsung meninggalkan halaman rumah Papa Andre menuju ke kantor polisi, mereka semua memandang kepergian mobil Morgan sampai mobil itu pun hilang dari pandangan mereka, Pak security rumah tersebut langsung menutup pagar rumah Bosnya itu dan menguncinya.