THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 71



" Kok bisa charlo bawa mobil mu sih sayang?" Tanya Marco seraya menyetir mobil dengan kecepatan di atas standar karena dia dan Risa ingin cepat sampai di tempat lokasi di mana adiknya yang tidak berada di dalam mobilnya.


" Dia memang bawa mobilku katanya mau ketempat temannya sebentar mau ngambil tugas sekolahnya, sedangkan mobilnya berada di bengkel,tapi nggak tahu juga sih kenapa bisa seperti ini,aku takut kalau papah sampai tahu bisa marah besar ntar ini,kalau jagoan nya sampai kenapa napa." Khawatir Clarissa pada adik lelakinya.


Mobil yang di kendarai Marco akhirnya sampai di tempat tujuan di mana para sahabatnya tersebut sudah menunggu mereka.


Clarissa dan Marco turun dari mobil dan setengah berlari mereka berdua menghampiri ketiga sahabatnya.


" Kamu kemana? Sampai Charlo menggunakan mobilmu, mobilnya mana?" Tanya Abiyasa.


" Dia tadi memang sengaja menggunakan mobil ku karena mobilnya masih di bengkel" ucap Risa seraya mengecek isi dalam mobilnya.


" Ini sudah pasti secara paksa di suruh keluar,liat aja nih pintu mobil ada sidik jari tersangkanya" ucap Morgan lagi.


" Coba kalian lihat ini ada jejak kaki menuju kearah sana,gimana kalau kita ikuti saja jejak ini" ucap Marco.


" Kalau nggak salah ini kan menuju rumah tua itu,yang di bilang orang orang sini sangat menyeramkan" ucap Clarissa.


" Glek..!" Arvin menelan ludahnya mendengar kata rumah tua yang menyeramkan.


" Aduh! rumah tua?,aku kan jadi merinding ini,demi sahabatku aku harus berani" ucap nya dalam hati.


Namun Abiyasa menoleh kearah Arvin.


" Kamu kenapa Vin? Takut ya?" Tanya Abiyasa.


Arvin terperanjat dengan teguran Abiyasa,dia berusaha menutupi rasa takutnya.


" Ah...ng..nggak kok,aku nggak takut, santai aja" ucapnya.


Abiyasa tersenyum dia tau benar kalau Arvin memang takut tapi dia berusaha menutupi rasa takutnya.


" Tapi dari mana kamu tahu kalau itu rumah tua yang tidak terpakai dan menyeramkan?" Tanya Abiyasa pada Clarissa.


" Dulu pernah tau dari cerita orang tua temannya charlos saat aku jemput dia di rumah temannya itu,dan ini kan jalan menuju rumah teman nya itu." Ucap Clarissa.


" Ayo kita ikuti jejak kaki ini " ucap Marco lebih dulu berjalan paling depan.


Abiyasa dan yang lainnya mengikuti dari belakang,berhubung hari mulai beranjak gelap dan nampak suasana sangat mencekam.


Mereka berada tidak jauh dari halaman rumah besar yang nampak tua dan memiliki halaman yang lebar dan sudah tidak lagi berpenghuni,nampak terlihat seram keadaan rumah tua tersebut,di tambah lagi keadaan halaman yang di tumbuhi berbagai macam rumput liar.


" Tunggu di sini dulu kalian, aku coba mencari tau apakah di dalam rumah itu ada Charlo." Ucap Clarissa.


Saat dia mau mencari tau keberadaan Charlo lewat ponsel Marco,berhubung ponsel dia mati jadi dia menggunakan ponselnya Marco, saat dia mulai melacak keberadaan adik tersayangnya tiba-tiba terdengar suara teriakan yang berasal dari rumah tua tersebut,dan terdengar sayup sayup seperti seseorang yang di gampar karena sepertinya tidak mau mengatakan kejujuran.


" Sakitttt!! Tau tidak!!" Ucap teriakan tersebut.


Clarissa mengenali suara adik tersayangnya tersebut.


" Charlo!!,itu suara charlo,kalian tunggu disini aku kesana kalau terjadi apa apa pada ku kalian lekas lapor polisi" ucap Clarissa.


" Ngapain lapor polisi Ris,kan polisinya ada di sini " ucap Morgan.


" Maksud aku biar kamu bisa menghubungi anak buah mu Butut! Ni Bule nggak ngerti ngerti sih" delik Clarissa.


" Oke Dan! siap laksanakan!" ucap Morgan seraya terkekeh.


" Kamu kesana sama siapa?" Tanya Marco.


" Ya aku sendiri aja,"


" Ris jangan sendiri kita ada berlima kita yang sama sama kesana" ucap Abiyasa.


" Yah! Kita sama sama group abu gosok beraksi! " Ucap Arvin bersemangat.


" Ya udah ayo kita kesana" ajak Risa seraya berjalan lebih dulu.


Saat saat asyiknya mereka mengendap dengan suasana yang sedikit mencekam karena mereka berada di suasana rumah tua yang tidak terurus lagi, tiba tiba Morgan tersandung dahan kayu yang lumayan besar dan tak urung lagi dia pun terjatuh dan tersungkur seraya berkata.


"Subhanallah,walhamdulillah,wallaillahaillallah, Wallahu Akbar" ucapnya.


Karena tidak sadar kalau Morgan hanya tersandung, Arvin yang berada pas di belakang Morgan dan lagi pembawaan dirinya yang terlihat sedikit gugup dan takut,ditambah lagi sedikit merinding karena suasana yang mencekam apalagi mereka berada di tengah tengah suasana rumah besar tua yang tidak terurus,melihat morgan tersungkur Arvin mengira Morgan di lahap seseorang yang kasat mata tanpa basa basi lagi dia langsung mengangkat satu tangan kanan Morgan dan satu kaki kanan morgan,seperti mempunyai kekuatan yang super kuat dia berlari membawa tubuh Morgan kebangunan tua yang ada di komplek area tanah kosong yang membuat bulu kuduk merinding tersebut.


Morgan terkejut,dan tak di pungkirin lagi tangan dan kakinya pun terkena gundukan bongkahan tanah dan kayu serta ranting ranting kecil dan wajahnya juga menabrak rerumputan liar yang tumbuh di halaman rumah besar tua yang tidak terpakai lagi itu.


Tanpa suara Morgan hanya merasakan kalau tubuhnya di angkat Arvin dan di bawa lari Arvin.


" Wusssh...!" Arvin berlari sekencang kencangnya tanpa menghiraukan ketiga orang yang ada di depannya.


" Widih...! Angin apa ini" ucap Abiyasa langsung menghindar.


" Astaghfirullahaladzim,Arvin?!" Ucap Clarissa.


" Apakah itu Arvin? Itu Arvin kan Biy" ucap Clarissa kaget.


Marco dan Abiyasa hanya mengangguk keheranan melihat Arvin berlari kencang sambil membawa Morgan.


Clarissa,Abiyasa dan Marco hanya melongo melihat Arvin berlari kencang sambil membawa tubuh Morgan, tidak ada angin dan tidak ada hujan serta tidak ada yang mengejarnya dia telah sampai terlebih dahulu di pintu utama bangunan itu.


" Hooh.." ucap singkat Abiyasa dan Clarissa.


Setelah sampai dia langsung meletakkan tubuh Morgan.


" Lho? kenapa cuma kita berdua Mor sampai disini,kemana mereka bertiga? Jangan jangan mereka di makan seseorang yang kasat mata lagi Mor" ucap Arvin.


" Kasat mata kamu bilang?,matamu pikun tuh," ujar Morgan seraya mengusap tangan kakinya yang terkena sentuhan kayu dan ranting serta mengusap wajahnya yang terkena rerumputan liar karena di bawa Arvin berlari.


" Lho? Kamu kenapa Mor,kok sewot gitu kaya cewek lagi dapet aja sih?" Ucap Arvin.


" Siapa yang sewot! Dasar semprul !kamu tuh yang berlari kencang ninggalin mereka bertiga noh di belakang!, bawa bawa tubuhku lagi berlarinya " ucap Morgan tersenyum karena merasa lucu juga sih tiba tiba saja Arvin langsung mengangkat tubuhnya.


Arvin garuk garuk kepalanya yang tidak gatal,dan dia hanya tersenyum saja karena tidak yakin dengan kata katanya Morgan tentang dirinya yang mampu membawa Morgan sambil berlari,dia lalu menatap tubuhnya sendiri dan beralih menatap tubuh morgan.


" Apa tatap tatap! Nggak nyangka kan? Sama, aku juga nggak nyangka kalau kamu mempunyai kekuatan super hehehe" kekeh Morgan.


" Masa sih aku mampu ngangkat tubuh mu yang besar dari aku." Ucapnya.


Kemudian ketiga sahabatnya setengah berlari mendekati kedua orang tersebut yang berada di teras rumah tua itu.


" Gimana kita langsung saja masuk kah?" Ucap Arvin.


" Kita langsung aja masuk,kelihatannya mereka ada di ruangan belakang,karena aku melihat tadi ada cahaya dari ruangan belakang itu" ucap Abiyasa.


" Anak buahmu Morgan sudah di hubungi belum ?" Tanya Marco.


" Sudah kak, sudah juga aku kirim alamatnya " ucap Morgan.


" Kita harus hati hati masuknya,aku biar disini menunggu anak buah ku datang, jadi kalau terjadi apa apa dengan kalian masih ada aku yang bisa bertindak" ucap Morgan lagi.


" Wah, hebat nih setelah di jedok kan Arvin di kayu dan ranting itu" celetuk Abiyasa.


" Heheh...kekuatan super Arvin yang tak terduga dan keluar bila dalam keadaan terdesak." Ucap Clarissa seraya menepuk pundak Arvin.


Arvin hanya bisa tersenyum saja.


" Ya udah ayo kita segera masuk" ajak Marco.


Marco perlahan lahan membuka pintu utama tersebut, dan mereka masuk tanpa menggunakan penerangan,memang terlihat agak gelap dan Arvin hanya bisa berpegangan dengan Abiyasa.


" Jangan salah pegang Vin,istri aku belum ngerasain nya,karena masih bersegel nih punya ku" bisik Abiyasa karena Arvin berpegangan di pinggangnya Abiyasa.


" Ish..ish...ngeres aja pikirannya" ucap Arvin terkekeh.


" Ya iyalah, karena aku takut kalau aku lagi nanti nya jadi sasaran kekuatan super kamu,dan siapa tahu ntar burungku lepas lagi dari kandang nya karena kaget dengan kekuatan super kamu itu" ucap Abiyasa tertawa pelan.


Arvin pun tertawa pelan seraya mendorong pelan Abiyasa.


Mereka berempat mengendap ngendap menyusuri ruangan rumah tua yang lumayan besar itu,terlihat sekilas cahaya yang berada di ruangan paling akhir.


Mereka kemudian mendekati ruangan yang terkunci itu,dan terdengar suara yang lagi menanyai Charlo adiknya Clarissa.


" Bilang dimana Clarissa sekarang hah!!" Ucap seseorang yang ada di dalam ruangan.


" Sudah aku bilang,aku tidak tahu dimana dia!!" Ucap Charlo lebih keras dari orang itu.


" Kamu pasti tahu,dia berada di mana!! Kalau kamu tidak tahu,kenapa kamu menggunakan mobilnya! Berarti kamu tahu keberadaan nya!"


" Ya iya lah aku menggunakan mobilnya,sudah aku katakan pada kamu kalau aku ini adik nya!! Adik kandung nya !! Bukan pacar nya yang kamu tuduhkan padaku!! Dasar gila nih botak!!" Ucap Charlo.


" Kampret!! Aku di katain nya Botak!" Ucapnya marah pada Charlo.


" Ya memang situ botak! Ngapain aku bilang ada rambut nya jelas jelas botak kok!" Ucap Charlo terkekeh.


" Sialan! Mau aku gampar lagi hah!!" Ucapnya geram di bilang Botak.


" Coba aja kalau berani!! Kalau sampai kakak ku tahu,adiknya di aniaya habis lah sudah riwayatmu botak tengil !!kakak ku pasti akan memakan kalian semua! Kalian nggak tahukan kalau kakak ku itu suka makan Orang!! Jangan kan orang, singa hidup pun di lahapnya!! Mau kalian di makan nya jadi santapan makan malam nya mau!!" Ucap Charlo dengan tegas.


" Waduh Ris,baru tahu aku kamu bisa makan singa hidup" ucap Abiyasa.


" Adik nggak ada Akhlaknya," ucapnya tersenyum.


" Plak!! " Terdengar tamparan di pipi seseorang dari dalam ruangan tersebut.


" Aww!Jangan jangan pipinya Charlo lagi yang di Tampar" ucap Arvin.


" Ayo kita masuk aja!" Ucap Marco.


" Tunggu dulu, kalau Charlo yang di gampar dia pasti akan teriak, tapi dia tidak teriak," ucap Clarissa.


" Jadi siapa yang di gamparl?" Tanya Biyas.


" Kita dengarkan sebentar" ucap Risa.


" Bodoh!! Kamu ini sudah salah sasaran,bentak bentak lagi dengan adiknya! Kamu tuh nggak tahu siapa kakak nya! Makanya kamu itu dengar dulu penjelasan saya yang di culik itu wanita bukan cowok kaya gini! Makanya di liat dulu yang menggunakan mobil itu siapa jangan asal culik aja! Bisa gawat ini!!" Ucap salah satu dari penculik itu.