
Tepat jam satu siang Morgan bergegas menuju kearah parkiran mobilnya dia ingin segera menuju kerumah orang tuanya karena dia ingin mengantarkan kedua orang tuanya tersebut kebandara.
Mobil yang dikendarainya pun melaju dijalan beraspal dengan kecepatan sedang dan dengan tenangnya dia mengendalikan stir kuda besinya tersebut menuju kearah rumah pribadi mamahnya, karena mamah dan papahnya belum lagi rujuk dan rencana rujuk mereka berdua setelag keberangkatan mereka ketempat tanah kelahiran sang mamah yaitu kampung neneknya Morgan yang berada di kota M.
Morgan sengaja berangkat kerumah orang tuanya itu lebih awal karena dia tidak ingin terlambat.
Sesampainya dia dirumah kediaman mamahnya itu dia pun langsung memarkirkan mobilnya dan dia langsung turun dari mobilnya saat dia turun dia melihat mobil sang kaka yaitu mobil Marco,dia pun tersenyum dan melangkah menuju pintu utama rumah mamahnya itu.
" Assalammualaikum ..." ucapnya seraya melangkah menuju kearah mereka yang sedang duduk lesehan diruang tengah tersebut, mereka semua tersenyum padanya. dan Morganpun langsung mencium tangan kedua orang tuanya dan juga sang kaka, dan tangan Clarissa dilewatkannya begitu saja padahal Clarissa sudah mengulurkan tangannya sedari tadi sembari terkekeh.
" Morgan! aku ini nih kaka ipar kamu, berarti aku ini otomatis jadi yang lebih tua dari mu kenapa tangan ku tidak di cium Mor..." ucapnya terkekeh sembari melempar Morgan dengan bantalan sofa yang sedari tadi dia rebahi semenjak berada dirumah mertuanya tersebut.
" Hahaha... Ngapain aku mencium tangan kamu yang bau terasi itu, cuci tangan dulu biar bersih, setelah itu pakai tissu basah biar steril hehehe.." Morgan lagi-lagi tertawa lepas, sedangkan Clarissa hanya mendengus dengan kesal seraya mendelik kearah Morgan.
Morgan masih tertawa lepas...
" Dasar adik ipar durhaka, aku sumpahi kamu nanti masuk surga! ucap Clarissa terkekeh dan yang lainnya juga ikut terkekeh mendengar ucapan Clarissa.
" Mah jam berapa penerbangannya?" tanya Morgan seraya mengambil kue yang ada didalam piring yang tersedia didepannya.
" Setengah jam lagi kayanya nak"
" Ya udah kalau gitu kita berangkat sekarang." ucapnya sembari berdiri dan mengajak mereka berangkat menuju bandara.
Dianggukkan sang mama, kemudian mereka pun memasuki mobil Morgan dan Clarissa bersama dengan suaminya memasuki mobilnya dan ikut mengantarkan papah dan mamahnya, awalnya mereka berdua tidak mengantarkan kedua orang tuanya karena mau kerumah sakit untuk memeriksakan keadaan Clarissa, tapi pikiran mereka berduapun berubah dan ingin mengantarkan kedua orang tuanya itu kebandara.
*****
Setelah sampai dibandara internasional Kanada mereka langsung di sambut dua orang anak buah Abiyasa yang bertugas dikantor cabang yang ada di Kanada, mereka langsung memasuki mobil dan melaju menuju arah villa mereka yang ada disana, dengan terlihat cape Almira dan Nika tertidur didalam mobil.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di villa keluarga wibawa dan mereka pun memasuki villa tersebut, dan mereka beristirahat sebantar, Abiyasa pun langsung menghubungi sang istri yang berada ditanah air, begitu juga dengan papah Andre dan papah Boby langsung juga menghubungi istri mereka.
"Assalamualaikum sayang.." sapa papah Andre
" Waalaikumsalam salam pah, sudah sampai "
" Iya sayang sudah sampai di villa kita sekarang ini "
" Alhamdulillah kalau sudah sampai, oh ya pah kalau sudah selesai segera pulang ya, karena tadi Morgan sudah bilang kepihak sekolah Almira, kalau Almira ijin, tapi pah dia diharuskan cepat pulang karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas, jadi diharapkan jangan lama lama ijinnya takut ketinggalan pelajarannya kata pihak sekolah." terang mamah Anisha.
" Oh, iya sayang..kami segera kembali kalau urusan disini sudah selesai." Ucap papah Andre.
Mereka berdua memutus sambungan bicaranya setelah sama-sama mengucap dan membalas salam.
Begitu juga dengan Abiyasa dan papah Boby, mereka juga mengakhiri panggilan mereka dengan sang istri, mereka kemudian duduk disofa sembari bercerita, Abiyasa kemudian menghubungi teman kuliahnya tersebut, dan mereka berdua pun berbicara serius membahas tentang perusahaan yang mau dijualnya pada sang teman, setelah sekian menit berbicara mereka pun mengangkiri pembicaraannya tersebut dan terdengar helaan nafas Abiyasa.
" Bagaimana Biy, apakah dia masih tetap menginginkan perusahaan itu?" tanya papah Andre
" Iya pah, dia masih menginginkannya dan meminta Abiyasa tidak menjualnya kesiapapun dan dia jua mau membayar mahal untuk perusahaan Almarhum Om Rendy, nanti malam dia mau kesini pah, dia katanya sudah tidak sabar untuk membayarnya katanya perusahaan itu sangat berkembang dengan pesat dan banyak relasi yang bekerjasama diperusahaan itu, jadi katanya berpeluang menjadi tambah besar dengan sedikit polesan saja terangnya." Terang Abiyasa.
Mereka berdua papah Andre dan papah Boby menganggukkan kepalanya sembari tersenyum bahagia.
" Setelah urusan ini selesai kita berjiarah kemakam Sinta dan Rendy, syukur-syukur kalau urusan ntar malam selesai dan besok paginya kita langsung berkunjung kemakam tersebut." ucap papah Andre
" Alhamdulillah ya Ndre temannya Abiyasa ini tidak sombong dan tidak merepotkan kita." ucap papah Boby .
" Maksudnya?"
" Maksud aku, dia ini kan pembeli, pihak kita yang menawarkan padanya, dan dengan senang hati dia yang mau menemui kita langsung, inikan penjualan gede tuh, seharusnya kita yang datang kesana, bukannya dia yang kesini, itu yang aku maksud Ndre." terang papah Boby.
" Iya juga sih.." sahut papah Andre.
" Mudah-mudahan aja berjalan dengan lancar urusan kita ini." sambung papah Boby lagi.
Mereka pun menikmati waktu istirahatnya divilla keluarga wibawa yang ada diluar negeri sembari tersenyum dan bercerita sesekali terdengar tawa kecil mereka bertiga.
Amelia dan Adiknya beserta Almira berada didalam kamar mereka untuk beristirahat, Nika dan Almira satu kamar dan terlihat mereka berdua melanjutkan tidurnya kembali dikamarnya itu, sedangkan Amelia duduk disisi tempat tidurnya, dia terlihat tidak bisa beristirahat dengan tenang, karena dia teringat masa saat-saat bersama dengan kedua orang tuanya tersebut, Dia melangkah menuju kearah jendela dan menatap keluar dan dia pun teringat masa itu, dimana dia dan kedua orang tuanya disaat waktu libur mereka mengisinya dengan jalan-jalan bersama menikmati indahnya panorama kata Kanada, tapi semua itu sirna begitu saja dan tidak bisa di ulang kembali dan tak akan pernah bisa lagi untuk diulang.
Amelia menghela nafasnya dengan berat dan dia melangkah duduk disofa yang ada diruang kamar yang ditempatinya itu.
" Mamah, papah, kalian pergi dan tak akan pernah kembali lagi, papah, mamah, Amel sangat merindukan kalian, jika seandainya waktu bisa dirubah dan kembali seperti semula, Amelia ingin kalian berdua berada disamping Amelia dan Nika, kita bersama-sama selamanya dan tidak ada yang bisa memisahkan kita, tapi itu hanyalah keinginan Amel sesaat saja, itu semua adalah kehendak tuhan yang maha kuasa, Mamah, papah, Amel kembali kesini, tapi untuk sesaat, maafkan Amel ya pah, Mah, bukannya Amel tidak sayang dengan kalian berdua dan bukan juga Amel tidak menghargai jerih payah Papah dalam usaha Papah selama ini dalam merintis semuanya, sekarang ini, maafkan Amel ya Pah, Mah, karena Amel akan menjual perusahaan Papah dan maafkan Amel yang tidak bisa untuk meneruskan usaha Papah, maafkan Amel pah, mah, maaf kan Amel." ucapnya seraya meneteskan air matanya dan menelungkupkan wajahnya disofa sembari kesesugukkan, dan dia pun merasa ada yang membelai rambutnya dia membuka matanya dan mengangkat wajahnya tersebut dan diapun menatap kearah dua orang lelaki dan perempuan berada didepannya itu
Amelia terperangah dan antara sadar dan tidak wanita yang dilihatnya yang berada didepannya itupun langsung mengusap wajahnya dan menghapus buliran bening yang mengalir dipipi cantiknya itu, wanita itu dan lelaki tersebut tersenyum, Amelia tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena sudah sangat bahagia dia rasakan dan tidak bisa dia ungkapkan, lelaki itupun menggelengkan kepalanya sembari tersenyum mengisyaratkan pada Amelia agar tidak menangis, dan dia memejamkan matanya sesaat dan tetap tersenyum seakan akan dia memberikan dukungan pada Amelia untuk tetap semangat.
" papah...mamah...kalian datang? Amelia sangat senang sekali." ucapnya lagi-lagi kedua orang itu hanya tersenyum dan wanita tersebut mengusap kembali rambutnya dan membelai pelan pipi sang anak.
" Mamah...papah...maafkan Amelia, karena Amelia tidak bisa meneruskan jerih payah papah selama ini dan membiarkan perusahaan ini akan jadi milik orang lain dengan cara menjualnya, maafkan Amelia pah, mah, maafkan Amelia.." ucapnya seraya menelungkupkan wajahnya dipangkuan kedua orang tuanya tersebut.
Papah Rendy menyentuh pundak sang anak, dia membelai pipi anaknya tersebut sembari tersenyum, seolah-olah mengatakan pada sang anak kalau keputusan anaknya itu benar dengan menjual perusahaan yang sejak sedari dulu dirintisnya, akhirnya jadi milik orang lain, tidak ada guratan marah diwajah mereka berdua yang terlihat hanyalah wajah yang selalu tersenyum.
" Mamah, papah, Amel pinta tetaplah bersama kami disini, jangan tinggalkan kami berdua mah, pah..." ucapnya sembari menyentuh kedua tangan sang orang taunya itu.
Mereka berdua lagi-lagi tersenyum dan mereka berdua pun berdiri dan langsung berbalik arah dan melangkah menuju pintu kamar tersebut, namun sebelum sampai dipintu kamar, mereka berdua menatap kearah Amelia dan melambaikan tangan mereka tanda perpisahan pada sang anak, tiada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua yang hanya mereka lakukan adalah hanya terus tersenyum dan tersenyum, Amelia pun terus memanggil mamah dan papahnya tersebut.
Papah Boby kemudian menyentuh tangan Amelia dan membangunkannya.
" Nak...nak... bangun,,, bangun Amelia, bangun!..." panggilnya.
Kemudian Amelia membuka matanya, dia terkejut dan langsung bangun dan duduk dari tidurnya, karena papah Boby dan papah Andre beserta Abiyasa ada didalam kamarnya.
" Om boby, Om Andre, ada apa, ada apa dengan Amelia? sehingga kalian ada disini?" tanyanya pada mereka bertiga.
" Kamu kenapa, teriak teriak sangat keras seperti itu dan memanggil mamah dan papahmu, kamu bermimpi.?" tanya papah Boby
Amelia mengusap wajahnya dan menganggukkan kepalanya dengan lemah sembari meneteskn air matanya.
" Kamu nggak usah sedih nak, iklaskan mereka." ucap papah Andre.
" Amelia setengah sadar dan tidak om,antara bermimpi dan nyata, begitu terasa sekali mamah membelai lembut kepala Amel dan begitu juga papah, Amel rindu mereka om.. " ucapnya sembari merangkul kedua kakinya dan meneteskan air matanya.
Tiba-tiba Nika dan Almira memasuki kamar Amelia, dia langsung memeluk Amelia dengan deraian air matanya, Amelia terkejut karena Nika langsung begitu saja menghambur kearahnya.
" Ada apa Almi kenapa Nika menangis?" tanya Abiyasa menatap heran Almira.
" Katanya dia bertemu dengan mamah dan papahnya kak, dan dia ingin ikut mereka, tapi ditahan sama kedua orang tuanya dan kedua orang tuanya itu pergi begitu saja setelah memberikan senyumannya dan mereka tidak berbicara sama sekali dengan Nika..." terang Almira pada sang kakak.
Abiyasa menganggukkan kepalanya,.
" Sama dengan kak Amel, rupanya mereka mengunjungi sang anak melalui mimpi mereka, kasihan kak Amel dan Nika, mereka pasti sangat sedih sekali." gumam Abiyasa dalam batinnya seraya merangkul pundak sang adik.
" Ada apa dek, kenapa kamu seperti ini.?" tanya Amelia sembari menatap sang adik dan menghapus air matanya.
" Mamah, papah, tidak mau mengajak Nika kak, Mamah dan Papah pergi begitu saja." ucap Nika polos sembari menyeka air matanyanya.
" Kamu bermimpi mamah dan papah?" tanya Amelia
" Iya kak, Nika bertemu mamah dan papah kak, Nika ingin bersama dengan mereka." ucapnya sembari menangis, dan Amelia langsung memeluk sang adik untuk menenangkan tangisnya, papah Boby dan papah Andre hanya menghela nafasnya dengan pelan.
Mereka kemudian keluar dari kamar Amelia, mereka membiarkan kakak beradik itu tenang dengan sendirinya, mereka kemudian duduk disofa kembali.
" Memang sangat berat sekali kehilangan kedua orang tua." Ucap papah Boby
" Iya Bob, sama dengan istriku saat itu, dia juga kehilangan kedua orang tuanya dan berjuang untuk hidup bersama sang adik, sama dengan Amel sekarang ini, ini adalah pukulan yang sangat sakit dihati mereka berdua." ucap papah andre.
" Benar katamu Ndre." ucap papah Boby sembari menghela nafasnya dengan pelan.
" Berarti mamah dulu seperti mereka juga ya pah, sama tante Adel.?" tanya Abiyasa.
" Iya nak, bedanya nenek dan kakek mu waktu itu meninggal dalam kecelakaan, dan mamahmu berusaha bekerja demi menyekolahkan tante Adel kamu." Terang papah Andre.
" Mamah kuat sekali ya pah..." ucap Abiyasa.
" Iya nak, mamahmu adalah wanita yang hebat yang papah kenal selama ini sampai sekarang, mamahmu adalah wanita dan istri yang kuat bagi papah."
" Iya pah, bagi kami bertiga juga pah.." ucap Abiyasa dianggukkan Papah Andre.
Terdengar isak tangis Almira, dan mereka bertigapun baru menyadari kalau Almira menangis.
Mereka kemudian menatap kearah Almira.
" Kamu kenapa sayang...?" tanya papah Andre seraya menatap sang anak dengan rasa heran.
Almira langsung berdiri dan memeluk sang papah, Almira memang sangat dekat dengan papah Andre ketimbang dengan mamahnya, tapi dia tetap sangat menyayangi keduanya.
" Almira sedih dan membayangkan kalau seandainya Almira ada diposisi Nika sekarang ini, dan Almira juga sedih mendengar mamah waktu dulu berjuang sangat keras setelah ditinggalkan kakek dan nenek waktu itu." ucapnya mengeratkan pelukannya pada sang papah, papah Andre tersenyum dan menyenderkan kepelanya kearah kepala anaknya tersebut.
" Almira sayang, semua yang hidup akan meninggal, dan tinggal menunggu gilirannya saja sayang, kita yang bernyawa pasti akan kembali pada penciptanya dan sebelum kita kembali padaNya, kita harus membawa bekal yang banyak biar kita disana bahagia." ucap Papah Andre.
" Bekal.?"
" Iya Almi, bekalnya ikan, beras, air.." ucap Abiyasa terkekeh.
" Iih...kak Biyas...!!apaan sih...,!!" ucapnya sembari mendelik kearah Abiyasa... Abiyasa hanya tersenyum melihat wajah sang adik yang menggemaskan itu.
" Almira sayang... bekal yang dimaksud papahmu itu, adalah amal ibadah yang kita kerjakan dan lakukan semasa hidup kita didunia. jika dimasa hidupnya seseorang itu melakukan amal sholeh dan beribadah dengan tepat waktunya in sya Allah, Allah akan membalasnya di akhirat kelak, tapi kalau kita tidak pernah melakukakn perbuatan baik dan hanya berbuat jahat saja bisanya, jangan harap kita disana akan bahagia. itu menurut om Boby, persi ceritanya hehehe, tapi kalau menurut orang lain persinya pasti berbeda beda tapi intinya sama aja mencari kebahagian diakhirat yang kekal abadi." terang papah Boby tersenyum.
Almira mengangguk dan tersenyum tapi dia masih dengan posisinya memeluk sang papah.
" Pah Almi kangen mamah..."
" Ya udah, hubungi mamah sana gih,ngobrollah sama mamah sana, mamah juga pasti kangen dengan Almi." ucap papah Andre sembari mengambil gawaiya dan memberikannya pada sang anak, Almira mengambil gawai tersebut dan melangkah menuju kearah kamarnya sembari menghubungi sang mamah.
Mereka bertiga hanya tersenyum sembari menatap langkah Almira yang menjauhi mereka untuk menghubungi mamah Anisha yang berada didalam Negeri.