
Beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi mereka memasuki halaman kantor Wibawa group, Mobil tersebut langsung menuju ke arah tempat parkir, tidak menunggu lama mereka pun semua turun dari mobil dan melangkah mengikuti langkah Abiyasa dan Dokter Roni menuju ke arah lobby dan langsung memasuki lift, mereka berlima pun dibawa oleh lift tersebut menuju ke lantai atas di mana ruangan Abiyasa berada.
Sesampainya di ruangan tersebut mereka berlima menghentakkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu, mereka semua menghela napasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan.
" Aku tidak menyangka akhirnya kita bisa menemukan di mana Lia berada." ucap Abiyasa tersenyum.
" Benar katamu Biy, Aku juga tidak menyangka Akhirnya Aku bisa bertemu kembali dengan Lia, tapi Aku minta maaf dengan kalian semua, Aku tidak bisa ikut nanti malam bersama kalian untuk menemui Lia." ucap Arvin.
" Memangnya kenapa? kenapa kamu tidak ikut?" tanya Clarissa.
" Kalau seandainya Aku ikut menemui Lia, Lia tidak akan pernah percaya kalau Dia memenangkan sebuah undian yang dibuat oleh Clarissa itu, Dia pasti menganggap Aku yang menyuruh kalian mencari Dia, Aku tidak bisa mengikuti kalian semua, Aku menunggu disini aja." ucapnya lagi.
" Maksud kamu,kamu menunggu di kantorku gitu?" tanya Abiyasa tersenyum.
" Ya nggaklah,mana Aku berani tinggal disini, Aku akan menunggu di rumahmu saja Biy, beserta keluargaku." ucap Arvin lagi.
" Memang kenapa sih Vin kalau kamu ikut,kamu kan bisa bilang kalau kamu sebagai anggota yang diperintahkan mengawal kami,kan beres." ucap Clarissa lagi.
" Hmmm, iya sih kalau alasan kaya gitu masuk akal,tapi kan Aku sudah bilang, Aku tidak mungkin ikut langsung bertemu dengan Lia, karena Aku tahu Dia pasti tidak akan mungkin mau bertemu denganku,lagipula Aku ingin berbicara dulu dengan Nadine, kalau Nadine membolehkan Aku untuk bertemu dengan Lia, aku akan bertemu, tapi bersama dengan Nadine." ucapnya.
" Kenapa mesti harus bersama dengan Nadine ?" tanya Morgan.
" Walaupun Nadine dan Lia bersaudara, Tapi mereka kan baru di pertemukan sudah berusia dewasa seperti ini,pasti ada rasa kecanggungan yang tercipta diantara mereka, apalagi dulu kan Dia memang gadis yang aku sukai saat itu pada masanya, dan sekarang Aku sudah ingin membina rumah tangga dengan Nadine, Karena bagiku ada hati yang harus aku jaga walaupun mereka berdua saudara." ucapnya.
Mereka semua menganggukkan kepalanya memaklumi akan kata-kata dari Arvin, Karena bagaimanapun Arvin dulu pernah menyukai dengan Lia, Arvin takut nantinya Lia salah paham dan Nadine juga menjadi merasa tersakiti.
"Arvin Kakak paham akan cintamu yang besar sama Nadine,Kaka bersyukur Nadine mendapatkan pasangan hidup yang sangat baik, Kakak juga menghargai keputusanmu Vin, Kakak yakin kalau kamu memang sekarang tidak ada apa-apa lagi dengan Lia,dan semoga saja Lia bisa menerimanya dan Nadine juga akan memaklumi semua dari kondisi seperti ini." ucap dokter Roni.
Arvin hanya menganggukan kepalanya.
" Tapi Aku salut dengan mu Ris, kamu selalu ada ide yang banyak di kepalamu, di saat kita tidak punya rencana untuk datang ke rumah keluarganya pak Sahrul,kamu mempunyai ide yang sangat cemerlang." ucap Arvin lagi.
" Ya Aku akui Risa memang hebat,empat jempol untuk Risa" ucap Morgan seraya mengacungkan kedua jempol tangannya dan mengangkat kedua kakinya.
" Isshhh! nggak sopan banget sih Bule nyasar ini, ngangkat kaki tuh jangan pakai sepatu Mor sepada butut,lagian kamu baru tahu ya kalau Aku hebat heheh" ucap Clarissa terkekeh.
Morgan hanya terkekeh saja.
" Sebenarnya dari mana kamu mempunyai rencana seperti itu Ris?" tanya Abiyasa.
" Dulu Papa pernah bilang denganku kalau kita dalam keadaan terdesak bikinlah sesuatu yang meyakinkan seseorang yang ingin kita minta keterangannya, ataupun kita mencari sesuatu untuk menjalankan sebuah misi, makanya aku langsung bilang kalau Lia memenangkan sebuah undian." terang Clarissa tertawa pelan.
" Tapi ngomong-ngomong nih, Lia kan orang yang terpelajar tidak mungkin Dia langsung mengakui kalau Dia memenangkan sebuah undian yang sebenarnya Dia tidak pernah mengirimkan undian tersebut,Lia tidak bodoh orangnya, Apa yang harus kita lakukan nantinya,apalagi Risa mengatakan kalau Dia memenangkannya di sebuah Minimarket, kalau Lianya pengen bukti Minimarketnya itu dimana,kita jawab apa dong?" tanya Morgan.
" Bule...Bule.. tenang aja, saudara Kakekku mempunyai sebuah Minimarket ya tinggal foto aja, dan nanti Mamah yang bisa mengatakannya kepada nenek kalau Lia memang menginginkan bukti yang akurat,bereskan." ucap Clarissa.
" Mantap!" ucap Morgan.
Mereka semua menganggukkan kepalanya.
" Nah sekarang kita menunggu nya dimana?" tanya Morgan.
" Terserah maunya di mana,bagaimana kalau dirumahku aja." ucap Abiyasa.
" Aku akan menemui Nadine Setelah dari kantor ini, Aku menunggu kabar dari kalian aja ya." ucap Arvin.
Dokter Roni melihat sesaat ke jam yang melingkar ditangan kanannya tersebut.
" Waktunya masih lama juga sih, kalau begitu Aku ke rumah sakit dulu." ucap dokter Roni berbicara.
" Ya udah kalau begitu aku juga mau ke kantor nanti kita bertemu dirumah Abiyasa." ucap Morgan.
" kita bertemu di rumahku sebelum magrib ya." ucap Abiyasa.
" Oke! " ucap mereka.
" Sekalian kita merencanakannya sebelum maghrib kita sudah ada di rumah, kita ceritakan semuanya dengan orang tua kita masing-masing, biar bagaimanapun mereka juga harus tahu rencana kita ini, biar kita tidak gegabah dan juga kedua orang tua kita tidak boros dengan rencana mereka, siapa tahu kan mereka juga merencanakan sesuatu yang kita belum tahu, kita harus berkoordinasi dengan mereka dulu." ucap Abiyasa, Mereka kemudian mengangguk dan sama-sama tersenyum.
" Kamu hebat Ris, karena dalam keadaan seperti ini kamu langsung membuat suatu rencana yang sangat di luar dugaan, Apakah kamu sudah merencanakan ini semua?" tanya dokter Roni tersenyum karena tidak menyangka rencana Risa mantap sekali.
" Aku sebenarnya tidak merencanakannya Kak, cuma Aku tadi iseng aja membuat sebuah undian, ya sapa tahu kan ini menjadi rencana yang terakhir, Aku kira mereka kak sudah punya rencana karena ingin bertemu dengan keluarganya Lia ya contohnya Pak Sahrul mereka sudah ada rencana buat ke sana, Biar mereka tidak curiga, tapi nyatanya tidak ada, makanya Aku langsung membawa kertas tadi agar meyakinkan keluarga Pak Sahrul bahwa Lia memang memenangkan undian tersebut." terangnya pada Dokter Roni.
Dokter Roni tersenyum bangga pada Clarissa yang dianugerahi kepintaran diatas rata-rata tentang suatu trik yang tak terduga.
" Iya sebenarnya Aku juga lupa untuk mengatakannya dengan Abiyasa rencana apa yang akan kita katakan setelah bertemu dengan keluarga Lia." ucap Morgan.
" Aku juga nggak kepikiran sampai disitu." sambung Arvin.
" Jangankan Kalian, Kakak juga tidak ada kepikiran ke situ,bagaimana rencananya dan apa tujuannya kita kerumah pak Sahrul, Kakak pikirkan hanyalah ingin melihat wajah Adik Kakak selama bertahun-tahun tidak pernah melihat sama sekali,karena Mama juga tidak pernah cerita kalau Nadine itu adalah kembarannya Lia, yang kakak lihat saat itu di album foto terpampang cuma sepasang bayi mungil ada dua,itu aja." ucap Dokter Roni.
" Tapi ngomong-ngomong bagaimana kalau seandainya rencana ini adalah tidak benar kalau Lia memenangkan undian tersebut, Aku jadi khawatir kalau seandainya kita berbohong, Apakah Lia akan menerimanya " lanjut Morgan.
" Morgan... kita tidak berbohong kalau yang diucapkan oleh Clarisa tentang hadiah utama tersebut sebesar dua ratus juta itu, kamu jangan memikirkannya itu adalah urusanku." ucap Abiyasa.
" Terus uangnya apakah Lia mau menerimanya?" tanya Morgan lagi.
" Pasti Lia tidak mau menerimanya." ucap Arvin, karena sejak Aku mengenal Lia, waktu kuliah dulu,walaupun kami baru kenal beberapa bulan tapi Lia tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan dalam terjadinya masalah ini, bisa saja kan dia mengatakan kalau Aku yang menodainya, dan saat Aku menawarkan bahwa Aku yang akan bertanggung jawab dengannya Dia menolak mentah-mentah, karena memang Lia tidak seperti wanita-wanita yang ada di luar sana yang memanfaatkan keadaan demi menjaga nama baiknya." ucap Arvin lagi.
" Terus uangnya buat apa.?"
" Ya kita berikan untuk Pak Sahrul, kamu lihatkan kehidupan Pak Sahrul sangat sederhana sekali,jadi uang itu biar kita berikan untuk pak Sahrul siapa tahu buat modal usahanya." ucap Abiyasa.
" Apakah nanti tidak dibilang kalau kita menyuap pak Sahrul?" tanya Morgan lagi.
" Aku yang akan jelaskan semuanya kepada Pak Sahrul nantinya." ucap Abiyasa sembari tersenyum.
Merekapun semua mengangguk Kemudian beberapa saat hening di dalam ruangan tersebut, hanya terdengar suara cicak saja yang berbunyi.
" Ya sudah kalau seperti itu, Aku pamit dulu ya." ucap Arvin.
" Sama aku juga mau pamit." Lanjut Morgan.
" Iya Kakak juga mau pamit."ucap Dokter Roni.
Mereka bertiga kemudian berpamitan di anggukan Abiyasa dan Clarissa setelah berpamitan dengan mereka berdua, Mereka pun meninggalkan ruangan Abiyasa menuju ke arah lobby dan memasuki mobil mereka masing-masing yang masih berada manis di tempat parkiran, beberapa saat kemudian perlahan-lahan mobil yang mereka tumpangi itu pun meninggalkan halaman kantor Abiyasa, sesuai dengan rencana mereka yang sudah disepakati,mereka akan berkumpul sebelum maghrib dirumah Abiyasa.