THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 284



" Kenapa kalian diam? lanjutkan cerita kalian biar aku mendengar semuanya, biar tidak ada yang disembunyikan dariku." ucapnya tersenyum dan menatap wajah mereka bertiga secara bergantian.


" Kamu salah sangka mbak...tidak ada yang disembunyikan kok mbak, kami disini hanya membicarakan tentang masalah Morgan aja." Ucap Antis.


" Masalah Morgan? memang ada apa?sehingga kalian membicarakan suamiku? memang suamiku ada masalah apa dengan kalian?" tanya Anindita.


" Oh mbak istrinya Morgan ya,? kalau gitu kenalkan nama saya Antis temannya Morgan sewaktu kecil, saya disini mengikuti suami saya yang bertugas disini." Ucap Antis seraya mengulurkan tangannya dan disambut Anindita uluran tangannya.


" Anindita .." ucap Anindita tersenyum, karena dia tidak merasa marah setelah bertemu dengan Antis, karena terlihat dari wajah Antis yang tidak nampak sebagai pengganggu rumah tangganya.


" Begini Anindita, biar aku jelaskan semuanya.." ucap Clarissa.


" Baiklah, sekarang kalian jelaskan semuanya dan jangan ada yang tertinggal." ucap Anindita tersenyum.


Terlihat tidak ada kemarahan diwajah Anindita dan terlihat diwajahnya hanya guratan senyuman saja menghiasinya.


" Begini Anindita..." Ucap Clarissa memulai ceritanya.


Clarissa pun menceritakan semuanya dari awal sampai akhir dan Anindita mendengarkannya dengan seksama dan tidak ada cerita yang terlewatkan darinya, setelah selesai cerita Clarissa Anindita hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba ada seseorang datang menemui mereka.


" Sayang..." ucapnya seraya mencium kening sang istri, siapa lagi kalau bukan suami Antis.


Dia pun langsung mengambil duduk di sebelah sang istri.


" Oh ya ini perkenalkan suami saya Dion " ucap Antis memperkenalkan suaminya pada mereka dan suaminya pun menyalami mereka satu persatu, dan Dion menatap kearah Anindita.


" Dr Anindita... "ucapnya


" Iya kamu kenal dengan saya?" Ucap Anindita sembari tersenyum.


" Kalau kenal langsung sih enggak dok, saya pernah satu kali mengikuti seminar anda bu dokter." Ucapnya sembari terkekeh pelan.


Anindita hanya tersenyum saja seraya menganggukkan kepalanya.


" Saya bertugas dirumah sakit harapan kita bu." Ucapnya lagi.


" Oh gitu ya,kemarin dimana, sebelum kesini?" tanya Anindita


" Saya dulu dikalimantan dan dipindah tugaskan di kota ini dirumah sakit tersebut." Jawabnya.


" Oh gitu ya."


Mereka berdua pun kemudian berbicara satu sama lain soal kedokteran, sedangkan Clarissa Marco dan Antis hanya terdiam.


Kemudian Clarissa pun memanggil..


Anindita menoleh kearah Clarissa.


" Ya Ris?"


" Kami berada di sini ingin membicarakan masalah Morgan."


" Aku tahu.."


" Kamu tahu dari mana?" Tanya Clarissa.


" Aku kemaren mendengar Morgan dan kamu bicara."


" Kalau kamu mengetahui aku bicara dengan Morgan kenapa kamu mengetahui Kalau kami janjian di kedai kopi ini? Padahal kan aku dan Morgan tidak menyinggung masalah kedai." Ucap Clarissa.


" Maaf Ris, tadi malam aku mendengar kamu dan Marco berbicara di ruang tv, bersama Morgan, Morgan ingin mengatakan semuanya kepadaku tentang si penelpon misterius tersebut,tapi kamu melarangnya sebelum kamu tahu siapa sebenarnya si penelpon, Morgan pun mengiyakan, saat dia memasuki kamar, aku yang keluar kamar sebentar dengan alasan mau mengambil air minum dan aku mendengar kamu berbicara dengan Marco, Kalau hari ini Kalian mau bertemu seseorang, aku kemudian berniat ingin mengikuti kalian dari rumah sampai ke sini, aku tidak tahu ternyata kalian bertemu dengan perempuan misterius itu yaitu Antis." Ucapnya.


Clarissa dan Marco menganggukkan kepalanya.


" Maafkan kami Anindita, Bukannya kami tidak mau bercerita dengan kamu, tapi kami takutnya kamu akan marah kalau kamu tau yang sebenarnya." Sambung Marco.


" Tidak apa-apa, sebenarnya kalau aku tidak mencari tahu sendiri pun, Kalian pasti akan memberitahukannya kepadaku, marah atau enggaknya itu urusan belakangan hehehe." ucapnya sembari terkekeh, seraya menyentuh tangan Clarissa.


" Begini Mbak Anindita, Bukannya saya mau mengganggu rumah tangga Mbak dengan Morgan, tapi karena saya dan Morgan memang sudah lama menjadi teman, semenjak kami kecil, kemudian setelah kami sama-sama dewasa dan saya mengikuti kedua orang tua saya ke Kalimantan dan sampai akhirnya saya bertemu dengan suami saya sekarang dan saat itu juga saya tidak tahu lagi kabar Morgan dan kak Marco, terakhir kabar dari kak Marco beberapa bulan yang lalu, yang mengatakan kalau Morgan sudah mempunyai tambatan hati, sayangnya gawai saya yang ada nomer kak Marco dan Morgan hilang, jadi kami tidak bisa saling kontak lagi, sampai akhirnya ibu saya pernah bertemu dengan ibunya Morgan, dan sama-sama bertukar nomer gawai dan saat itu ibu menghubungi ibunya Morgan dan saya langsung meminta nomer gawainya Morgan disitulah terjadinya teror meneror...hehehe...dan ditambah lagi saya masih ingat hari kelahiran Morgan, saya ingin memberikan kejutan kepadanya, makanya saya memang sengaja mengganggunya, tapi saya tidak ada niat untuk menghancurkan rumah tangga Mbak beneran deh, jangan salah sangka ya mbak..." Ucap Antis seraya menangkupkan kedua tangannya didada memohon maaf.


Anindita tersenyum...


" Antis, kalau kamu mau mengerjain suami saya, jangan sendirian, ajak-ajak dong Aku heheh, kita sama-sama membuat kejutan itu, Aku juga ingin memberikan kejutan di hari ulang tahunnya nanti, gimana Ris, bagaimana pendapat mu?" ucapnya seraya menatap kearah Clarissa dan Marco.


" Oke!kebetulan tuh, jadi biarkan saja Morgan merasa penasaran siapa si penelpon itu hehehe." ucapnya sembari terkekeh.


Merekapun kemudian merencanakan kejutan terindah untuk Morgan di hari ulang tahunnya Morgan, Setelah semuanya disepakati akhirnya mereka pun saling berpamitan dan meninggalkan kedai kopi memasuki mobil mereka masing-masing dan menuju ke arah yang akan mereka tuju yaitu kantor mereka masing-masing.


*****


Tepat jam 2 waktu Kanada Mereka pun sudah bersiap-siap dan memasuki mobil yang sudah menunggu sedari tadi, setelah berpamitan dengan pengurus Villa yang ada di Kanada mereka pun kemudian menuju ke bandara internasional yang ada di Kanada, beberapa saat setelah pembicaraan dengan pihak bandara, Jet pribadi milik keluarga Wibawa pun meninggalkan bandara menuju ke tanah air, membawa segudang kebenaran yang sudah mereka ketahui.


Dan akan papah Andre mencari siapa saudara kandung Amelia sebelum pernikahan Amelia berlangsung, dan papah Andre juga akan mengatakan pada keluarga mereka masing-masing, dan juga akan papah Andre katakan siapa sebenarnya Amelia pada keluarga dr Roni biar mereka tahu dan tidak berpikiran yang tidak-tidak tentang Amelia nantinya.


Morgan yang berada di kantornya pun merasa tidak bersemangat dengan menjalankan pekerjaannya, Dia kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang dia duduki sekarang ini.


" Ahh!! kenapa aku hari ini tidak semangat sekali sih kerjanya, Apa karena nggak ada Arvin ya, biasanya kan Arvin yang membawa Aku berbicara di ruanganku ini, Tapi saat dia dipingit terasa sepi di ruanganku." ucapnya sembari berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kearah sofa, memang biasanya di ruangannya itu Ada anak buahnya, tapi karena tidak ada yang diselesaikan makanya anak buahnya tidak berada di dalam ruangan Morgan, dia pun kemudian merebahkan tubuhnya di sofa tersebut, namun dia tidak bisa menyimpan rasa tidak semangatnya itu, kemudian dia mengambil gawainya saat dia mau mencari nomor seseorang dan ingin dihubunginya, kemudian gawai itu pun berbunyi, Morgan menatap layar gawainya tersebut.


" Lagi-lagi si penelepon gelap ini yang menghubungiku, siapa sih dia dan apa maunya dia ini, selalu saja menghubungiku, dasar orang gak jelas seperti ini." Ucapnya, tapi Morgan tidak menjawab panggilan tersebut, chat pribadi pun masuk ke gawainya dan Morgan membacanya saja, tapi dia tidak membalasnya,Dia kemudian bangun dari duduknya melangkah menuju ke arah parkiran mobilnya Dia memasuki mobilnya itu dan meninggalkan kantornya tersebut menuju ke rumah Arvin untuk menghilangkan keresahan hati yang melandanya.