THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 253



"Assalamualaikum.." sapa Clarissa.


" Waalaikumsalam " jawab mereka yang ada didalam rumah tersebut, mereka pun langsung melangkah menuju kearah mereka, semua memang berkumpul diruang tengah rumah papah Boby.


Mereka pun langsung mengambil duduk di sofa, terdengar helaan nafas dari mereka.


" Kalian kenapa? seperti berlari jauh sekali, kan kalian naik mobil?kaya main kejar-kejaran aja, kalau kejar-kejaran dengan polisi ya nggak mungkin kan,polisinya aja ada disini."ucap Papah Boby


" Bukan begitu pah, kami mengejar waktu." Jawab Clarissa.


" Memang kalian mau kemana?" Tanya papah Boby.


" Kami mau berangkat ke luar negeri." Sambung Abiyasa dianggukkan Clarissa.


" Sekarang?!"


" Enggak Om, tahun depan." ucap Morgan terkekeh.


" Kamu itu ya, masih Nggak Ada matinya,nyahut aja heheh, seharusnya kamu itu jadi anaknya Abi Yosep noh, bukan anaknya pak Charlos." Papah Boby membalas kekehan Morgan papa Charlos tersenyum.


" Papah dari tadi berada di sini?" tanya Morgan, sebelum papa Charlos menjawab sudah dijawab papah Boby langsung.


" Papa kamu dari jaman purba, sudah berada di sini." Ucap papa Bobby sembari tertawa lepas.


" Ngebalas nih ceritanya." ucap Morgan seraya tersenyum.


Papah Boby masih tetap dengan tertawa lepasnya, mereka yang ada di situ pun tertawa.


" Mama di mana pah.?"


" Mama ada di tempat mertuamu, sedang ngerumpi di sana hehehe." Lanjut papah Charlos.


Morgan pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


" Kalian mau ke luar negeri ngapain? Apakah kalian sudah mendapatkan informasi?" Tanya papah Andre.


" Sudah pah, kami sudah mendapatkan informasinya." Jawab Abiyasa.


" Bagus, sedikit demi sedikit sudah ada titik terangnya." ucap papa Andre, mereka semua menganggukkan kepalanya.


" Ada kabar dari sana pah?" Tanya Morgan pada papah Charlos


" Papah juga lagi menunggu kabar dari sana,menunggu teman papah menghubungi,berhubung teman papah masih bertugas di sana." ucap Papa Carlos.


" Bagaimana informasi semuanya?" Tanya Ayah Candra lagi.


" Sudah Abiyasa ketahui Om, makanya hari ini setelah anak buah Abiyasa menyelesaikan semua urusannya agar kami bisa secepatnya berangkat hari ini." Terang Abiyasa.


" Tapi menurut papa kamu jangan berangkat hari ini dulu, kalau yang di luar negeri rasanya tidak terlalu mengkhawatirkan, karena orang-orang yang ada di didalam negeri ini yang sangat menghawatirkan,perasaan papah tidak cuma diluar negeri tapi ada dua musuh yaitu yang ada didalam negeri, lebih baik kita selesaikan yang disini dulu, baru yang disana, kalau kalian ada disini semuanya bisa dengan mudah memberantasnya,tapi kamu harus menghubungi dulu anak buah mu, agar membatalkan urusannya itu." ucap papa Andre membuat Abiyasa menoleh kearah sang Papah, begitu jua Morgan dan yang lainnya.


" Memangnya kenapa Om?" tanya Clarissa.


" Firasatku mengatakan malam ini kayaknya kita harus kumpul di rumah Papa Boby ini, karena target utamanya sepertinya di rumah papah Bobby ini, karena Nika dan Amelia ada di rumah ini, sebab tadi malam aja kan sudah ada teror yang sangat meresahkan, bisa-bisa aja teror diulangi lagi dan bisa membahayakan isi rumah." terang papa Andre.


Mereka pun menganggukkan kepalanya.


" Iya Abiyasa, tadi Tante Lala ke rumah nenek Rena mu, semuanya sudah dijelaskan oleh nenekmu, karena dari penjelasan nenek mu itu keterlibatan keluarganya Sinta dan Rendy sangat dicurigainya, nenek Rena sudah mendengar kalau Rendy dan Shinta di luar negeri itu menjalankan usahanya dengan lancar tapi nenek Rena baru tahu juga tadi kalau mereka berdua sudah tiada dan kedua anaknya ada bersama dengan tante disini,Nenek Rena sedih dan dia ingin rasanya bertemu dengan mereka berdua, tapi nenek Rena masih sibuk dan tante Lala juga tidak mengatakan kalau rumah tante Lala diteror dengan orang yang tidak bertanggung jawab, kalau sampai tante Lala cerita dengan nenek Rena kamu, mungkin dia pasti sudah berada di sini dan ingin mengetahui pasti Apa penyebab semuanya" terang Mamah Lala.


Abiyasa pun menganggukkan kepalanya.


" Kalau menurut Morgan, lebih baik Kak Amel dan Nika tinggal di rumah kita sementara waktu pah, karena melihat kondisi yang ada ini, sepertinya tidak memungkinkan kita untuk semuanya berada di rumah Om Bobby." Ucap Morgan.


" Benar kata Morgan, lebih baik kita kumpul di rumahmu aja Ndre." sahut Ayah Chandra lagi.


" Benar juga, Kalau mereka ingin meneror lagi, pasti mereka akan berpikir dua kali, walaupun rumah kamu pernah jadi targetnya, karena sekarang pengamanan di rumahmu itu sangat ketat." Sambung Papah Boby.


" Setuju!" ucap yang lainnya.


Kemudian gawai Papa Carlos berbunyi.


Dia kemudian mengambil gawainya itu dan melihat siapa yang menghubunginya, diapun memohon pamit dengan mereka semua sedikit menjauh dari mereka, papah Carlos pun menjawab panggilan digawai pribadinya tersebut, bukan tidak ingin mereka mengetahuinya tapi agar dia fokus mendengarkan cerita dari temannya yang masih bertugas di kantor polisi diluar Negeri..


Mereka pun di ruangan itu terdiam menunggu kabar dari Papa Charlos sedangkan, di luar pagar sebuah mobil berhenti didepan pagar rumah tersebut, berhubung pagar rumah itu tertutup serta terkunci dan security rumah itu hanya menatap ke arah mobil itu. Pengemudi mobil yang ada di dalamnya pun bergumam sendiri.


" Kenapa security ini tidak membukakan pintu ya,apa dia tidak mengenali aku? atau memang dia sengaja tidak mau memperbolehkan aku masuk kedalam?" ucap dokter Roni.


Kemudian dokter Roni pun turun dari mobilnya dan mendekati pos security yang tidak jauh dari pagar rumah keluarga papah Bobyi Itu.


" Maaf pak, tolong bukakan pintu pagar ini pak, Saya mau masuk kedalam." Pintanya.


"Maaf Pak, keluarga ini tidak mau menerima sales yang tidak ada sertifikatnya." Ucapnya santai.


" Sales?sales apa Pak? Saya ini dokter Roni, dokter rumah sakit keluarga Wibawa Pak."


" Pak, lebih baik bapak pergi aja, jaman sekarang Bapak jangan ngaku-ngaku bisa bekerja di rumah sakit keluarga Wibawa, rumah sakit itu adalah rumah sakit terkenal di mana orangnya baik semua pak, Mana ada orang mau menerima bapak yang bekerja di sana tidak jujur itu, ngaku-ngaku lagi kenal dengan mereka yang ada di dalam itu, memang Bapak ini siapa? Jangan ngaku-ngaku sebagai seorang dokter pak " ucapnya sembari tetap memasang muka marahnya.


" Astaghfirullahaladzim pak,saya ini benaran dokter pak, tadi malam saya ke sini."


" Maaf Pak sekali lagi, lebih baik bapak pergi dan jangan sampai kesabaran saya habis pak! tadi malam saya tidak bertugas! jadi maaf saya tidak bisa memperbolehkan bapak untuk masuk ke dalam." Ucapnya dengan ketus.


Pak Yoan security-nya papa Boby itu cuma diamanati untuk menerima tamu 2 orang perempuan yang mirip wajahnya saja, Papa Boby lupa menceritakan kepada Pak Yoan tentang keberadaan dokter Roni yang akan datang nantinya ke rumahnya tersebut.


Memang! Pak Yoan belum pernah bertemu dengan dokter Roni, karena Pak Yoan baru beberapa bulan bekerja di rumah Papah Bobby menggantikan security yang lama berhenti karena mendapatkan pekerjaan yang terbaik bagi dirinya tersebut,jadi security lama mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai security di rumah keluarga Papa Bobby.


Pak Yoan tetap diam saja dia tidak menghiraukan dokter Roni yang mengatakan kalau dia mengenali keluarga papah Boby.


" Cepat pak! Lebih baik Bapak pergi saja, jangan lama-lama berada di depan pagar Tuan saya, karena Tuan saya tidak akan pernah mau menerima bapak, apalagi bapak berani sekali mengaku sebagai seorang dokter yang bekerja di rumah sakit Wibawa yang terkenal itu, jangan ngarep Pak! Ngimpi bapak." ucapnya kemudian memasuki pos security-nya tersebut dan dia pun asyik kembali menonton layar televisi yang ada di ruangan posnya tersebut.


Dokter Roni kemudian mengeluarkan gawainya dan dia pun menghubungi Nadine yang ada di dalam, Namun sayang! Nadine meletakkan gawainya berada di dalam tasnya jadi gawai itu hanya berbunyi tapi tidak bernada.


" Kenapa Nadine tidak menjawab panggilanku." ucapnya lalu dia kemudian menghubungi Arvin karena dia melihat mobil Arvin yang parkir di dalam halaman rumah kediaman papah Boby tersebut.


Gawai Arvin berbunyi, Arvin kemudian mengambil gawainya tersebut dia melihat ke layar gawainya, ternyata dr Roni yang memanggilnya, dia pun langsung menjawab dengan cepat panggilan tersebut.


" Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam, Arvin! kamu ada di dalam kan?"


" Iya kak, Kakak di mana? Kok kakak tahu kalau Arvin ada di tempatnya Om Bobby."


" Aku ada di luar pagar, Pak Security tidak mau membukakan pagarnya, katanya aku ini adalah sales yang tidak bersertifikat."


" Hahaha..." Alvin pun tertawa dengan lepas, Mereka pun kaget mendengar tawa Arvin.


" Ada apa Vin?" Tanya Abiyasa.


Tapi Arvin tidak menghiraukan pertanyaan dari Abiyasa yang ada di sampingnya itu.


" Kamu jangan tertawa aja Vin, cepetan keluar, Biar Pak securitynya itu tahu kalau aku memang kenal dengan keluarga Om Bobby." ucapnya.


" Ya udah, kalau kayak gitu Arvin segera keluar."


Kemudian sambungan bicara itu pun terputus, Arvin kembali memasukkan gawainya ke saku celananya tersebut.


" Ada apa sih Vin?" Abiyasa mengulang pertanyaannya.


" Kak Roni ada di luar, tapi Pak security tidak membukakan pintu pagarnya, katanya Kak Roni adalah sales yang tidak bersertifikat." Terang Arvin sembari tertawa.


Mereka mendengar itu pun langsung tertawa dengan lepas Arvin kemudian berdiri,Begitu juga dengan papah Bobby.


" Ada-ada saja Pak Yoan ini, kenapa dia tidak memperbolehkan Roni masuk ke dalam." Ucapnya.


Arvin dan papah Boby pun melangkah menuju pintu keluar dengan senyuman khasnya, Mereka pun menuju ke pagar rumah tersebut, Arvin pun membukakan pintu pagar itu dan dokter Roni pun kemudian memasukkan mobilnya menuju ke arah parkiran.


" Pak Yoan, apa-apaan sih pak, Kenapa tidak disuruh masuk? tamu saya?"


" Bapak kenal dengannya?"


" Ya iyalah pak Yoan."


" Astaga Pak Yoan, hehehe, itu dr Roni, dia bekerja di rumah sakit keluarga Wibawa dia adalah calon menantu saya."


" Ya Allah, maafkan saya Pak Bos, Saya nggak tahu, kira saya bapak itu ngaku-ngaku sebagai dokter, karena saya tidak pernah bertemu dengan Pak dokter itu."


" Ya udah nggak apa-apa pak, itu juga salah saya Pak, tidak mengatakan kalau si Roni akan datang kesini." ucapnya sambil tersenyum.


Dokter Roni pun kemudian mendekati Pak Yoan beserta Arvin yang masih tersenyum.


" Hehehe... Sudah tahu kan Pak, Saya ini siapa? apakah masih mirip dengan sales tidak bersertifikat?"


Kemudian pak Yoan mengulurkan tangannya.


" Maafkan saya ya Pak Dokter, Saya tidak tahu, karena saya memang baru kali ini melihat pak Dokter."


Dr Roni pun tertawa, Dia kemudian menyambut uluran tangan Pak Yoan, Kemudian mereka pun tertawa bersamaan.


" Iya Pak sama-sama tidak apa-apa Pak."


" Ya sudah Pak Yoan silakan bertugas kembali jangan lupa pintu dikunci." Ucap papah Boby.


Kemudian mereka bertiga pun langsung melangkah kembali menuju ke ruang tengah, Dimana mereka sedang duduk bersama, Dokter Roni pun menoleh ke kiri dan ke kanan dia tidak menemukan Amelia, Mama Lala pun mengerti.


" Amelia masih ada di atas, dia masih bersama dengan Nika.". Ucap mamah Lala


Dr Roni pun mengangguk, ia kemudian duduk di sebelah Abiyasa, Mama Lala berdiri dia pun langsung melangkah naik ke atas di mana kamar Amelia berada.


" tok tok tok"


Pintu pun dibuka oleh Amelia.


" Iya tante.."


" Di bawah ada dokter Roni, lebih baik kalian turun."


" Nika sepertinya kurang enak badan tante.."


"Apa? Sudah Dikasih obat?"


Amelia mengangguk.


" Syukurlah kalau gitu, Ya udah nggak apa-apa, biar aja dia istirahat.


" Iya tante lagipula dia tertidur."


"Ya sudah, ayo kita turun."


Kemudian pintu pun ditutup kembali mereka berdua menapaki anak tangga turun ke lantai bawah rumah mamah Lala.


" Kemana Nika?"tanya Ayah Candra.


" Nika kurang enak badan Om, badannya sedikit anget tadi, tapi sudah dikasih obat kok sama asisten rumah tangga Om Bobby.'


" Kenapa kamu nggak bilang?" tanya papah Boby.


" Karena kalian sedang bicara di sini jadi Amelia tidak mau mengganggu kalian semua." ucap Amelia.


" Ya sudah kalau nanti badannya masih hangat langsung bawa aja ke rumah sakit." ucap papa Andre.


" Ya Om."


Papa Carlos kemudian melangkah menemui mereka kembali dan dia kembali duduk di tempatnya semula.


" Bagaimana Charlos apa kabar dari mereka?" Tanya papah Andre.


Papah Charlos menundukkan kepalanya dan menghela napasnya dengan dalam, dia meletakkan gawainya di atas meja di depannya, dia terdiam hening tidak ada suara sama sekali, penuh tanda tanya besar dikepala mereka, karena papah Charlos belum mengatakan yang sebenarnya.


Papah Boby pun kemudian berbicara memecah keheningan tersebut.


" Apa kabarnya Charlos tentang Rendy di dalam penjara?"


lagi-lagi papah Charlos menghela napasnya dengan dalam, dia mengusap wajahnya dengan kasar.


" Begini, Rendy sebenarnya di dalam penjara tidak diapa-apain ataupun diberi racun bahkan bunuh diri."


" Terus kenapa dia bisa meninggal dunia ?" Tanya papah Boby


" Sebenarnya Rendy mengidap penyakit dalam yang disembunyikannya dari keluarganya, ditambah lagi beban pikiran yang dia derita, dia sempat curhat dengan temanku yang menghubungi aku tadi, katanya dia tidak sanggup untuk meninggalkan keluarganya seorang diri tanpa dia, karena di luar negeri itu mereka tidak ada sanak saudara sama sekali, Kalau terjadi apa-apa dengannya Bagaimana nasib istri dan anaknya, Rendy curhat dengan temanku itu saat dibawa ke rumah sakit, dia sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit, tapi karena penyakit yang dideritanya memang sudah lama akut, terpaksa dia menginginkan untuk kembali ke sel lagi dan dia tidak mau dirawat di rumah sakit dan dia juga mengatakan kepada temanku itu untuk tidak mengatakan kepada keluarganya." Terang Papah Charlos.


" Apa ?Papa ada penyakit yang disembunyikannya dari kami ?"ucap Amelia sembari terkejut karena selama ini sang papa tidak pernah mengeluhkan rasa sakitnya dengan dirinya ataupun almarhumah mamahnya.


" Apakah kamu tidak melihat kecurigaan di diri papamu?"


" Tidak ada om?papa terlihat sehat-sehat saja dan tidak terlihat sama sekali sakit yang dideritanya, Berarti Papa di dalam penjara tidak dianiaya, ataupun diberi racun ataupun bunuh diri ?ternyata Papa di dalam penjara penyakitnya kambuh,ya Allah pasti papah merasakan sakit itu seorang diri..." ucap Amelia nyaris tidak terdengar, dia pun meneteskan air matanya setelah mendengar cerita tersebut.


" Tapi kenapa pihak Polisi tidak berbicara dengan kami tentang perihal meninggalnya papa dan kami juga tidak bisa melihatnya secara langsung, Kami cuma dikabarkan kalau Papah meninggal dunia dan siap untuk dimakamkan." ucap Amelia mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


" Mungkin itu adalah amanat dari Almarhum papah mu, karena dia tidak ingin kalian terbebani." ucap Papah Andre lagi.


" Benar itu, kalian harus sabar menjalani ini semua, setidaknya Papah mu sangat peduli di akhir hidupnya, dia tidak ingin kalian mengetahui penyakitnya dan diakhir dihidupnya." ucap Abi Yosep lagi.


Amelia pun terus menangis kemudian Mama Lala merangkulnya dengan penuh kasih sayang, Mama Lala pun tidak kuasa menahan perih di bola matanya akhirnya kedua matanya pun meloloskan buliran bening tersebut mengalir di pipinya itu.


Dokter Roni merasa kasihan melihat sang kekasih yang dirundung kesedihan itu, tapi apalah daya dia, dia tidak bisa untuk merangkul sang kekasihnya tersebut.


Mereka semua terdiam, lagi-lagi hening di ruangan itu, tidak ada satu katapun keluar dari mereka, mereka kembali larut dalam lamunan mereka masing-masing.


" Ya sudah om Boby, kalau seperti itu lebih baik kita segera berangkat ke rumah Papa Andre, dan kita bisa membicarakannya lagi di sana." ucapnya Morgan memecah keheningan diantara mereka, mereka pun menganggukkan kepalanya.


" Oh ya Biy, sudah kamu hubungi anak buahmu?" tanya papa Andre.


" Sudah pah Abiyasa sudah mengirim chat pribadi padanya, dan baru aja dibalasnya dan sekarang dia sudah berada di kantor kembali."


" Baguslah kalau seperti itu, tapi bagaimana informasi yang kamu dapat dari anak buahmu di luar negeri sana?" tanya papa Andre lagi.


Abiyasa pun kemudian menceritakan semuanya dari awal sampai akhir,Mereka mendengarkan cerita darinya tentang informasi yang diberikan oleh salah satu dari anak buahnya beserta rencana yang akan dijalankannya tersebut, ceritanya pun selesai.


" Begitulah Pah, ceritanya." ucap Abiyasa.


" Baguslah kalau seperti itu, rencana kamu papa akan mendukung semuanya."


" Tapi masalahnya Abiyasa tidak tahu perusahaan apa namanya milik almarhum Om Rendi itu." tanya biasa.


" Sinar Group, itu adalah nama perusahaan papa, orang yang saering mengikuti kami itu adalah anak buah Papa, orang kepercayaan papa, tapi di saat Papa dipenjara Dia kemudian berpihak dengan Om Kris, Om Kris itu adalah yang dipercayakan oleh Papah untuk menjalankan perusahaan anak cabang dari Papa, setelah itu Amelia tidak tahu lagi ceritanya bagaimana, tahu-tahu malam itu sekitar pukul 9 malam waktu luar negeri saat kami bercengkrama di ruang tamu bersama dengan mama dan papa, padahal waktu itu Mamah memang dalam keadaan sakit makanya Amel terkejut mendengar Papa mengalami sakit yang disembunyikan, sedangkan Amel cuma tahu kalau mamah mengalami sakit udah lama kata Mama sih sakit yang diderita oleh mamah itu saat Mamah mengandung Amel, nah saat itulah polisi luar negeri menangkap papa dan membawa Papa ke kantor polisi sejak saat itulah kami tidak bisa bertemu hampir beberapa minggu, Sampai suatu hari pak Berto menghubungi ke gawai Mamah dan memperbolehkan kami untuk bertemu lama di kantor polisi." terang nikah mengenang kejadian beberapa tahun yang lalu.


" Nah Berto itu,adalah teman Om, dialah yang menceritakan semuanya kepada Om." ucap Papa Charlos lagi.


" Om Berto lah yang selalu menolong kami dan memberitahukan keadaan papa, tapi sayang om Berto itu tidak pernah mengatakan kalau Papah mengalami sakit dan pernah masuk rumah sakit." ucap Amelia dengan nada sedihnya.


" Om Bero sudah menjaga amanat dari papamu, agar tidak mengatakan tentang penyakit dan keadaan Papa kamu di saat dirawat di rumah sakit." terang Papa Bobby.


Amelia pun kemudian menundukkan kepalanya dia masih membiarkan buliran bening terus mengalir di kedua matanya tersebut.


" Ya sudah kalau seperti itu hari ini Abiyasa dan yang lainnya tidak perlu berangkat langsung ke luar negeri, jadi malam ini kita harus berkumpul di rumah keluarga besar kita." ucap papa Andre, merekapun kemudian menganggukkan kepalanya.


" Kalau begitu kami bersiap-siap dulu." ucap papa Bobby.


" Sayang kamu tetap di sini aja, nanti tante yang akan mempersiapkan semua keperluan kamu." ucap Mama Lala.


" ya udah Clarisa bantu ya Mah."


Mamah Lala pun mengangguk mereka berdua pun melangkah menaiki anak tangga menuju ke lantai atas rumahnya itu.


Beberapa saat kemudian mereka pun sudah siap, setelah itu pun mereka keluar dari rumah papah Boby, Tapi sebelumnya Papa Boby memberikan pesan kepada asisten rumah tangganya dan security rumahnya tersebut, Mereka pun kemudian memasuki mobil mereka masing-masing Nika yang masih dalam keadaan lemas pun di digendong oleh dokter Ronny menuju ke arah mobilnya, kemudian mobil tersebut perlahan-lahan meninggalkan rumah Papa Boby menuju kearah rumah keluarga Wibawa dari kejauhan sepasang mata menatap mereka.


" Mau kemana mereka? Kenapa mereka meninggalkan rumah itu? menuju kemana mereka?" Ucapnya masih terus menatap tajam kearah beberapa mobil yang sudah mulai jauh meninggalkan rumah kediaman papah Boby.