
Sesampainya dimeja yang sudah dipesan Arvin, Abiyasa dan Morgan melangkah menemui mereka yang sudah sedari tadi menunggu, dengan senyuman yang khas dari Abiyasa mereka berdua menghempaskan tubuhnya dikursi yang ada didalam cafe tersebut.
" Hai... Ada apa gerangan yang terjadi dengan kamu Mor? Kenapa wajah kamu kaya tomat busuk gitu sih.." ucap Arvin terkekeh.
Morgan spontan berdiri dan langsung merangkul kuat Arvin dan Arvin pun tak sempat menghindar dan dia pun hanya terkekeh menerima serangan mendadak dari Morgan.
" Nih rasakan seranganku, Enak saja ngatain aku kaya tomat busuk." Ucap Morgan tetap dalam posisi merangkul Arvin dan menghujaninya dengan ciuman dipipi Arvin dan orang yang ada di cafe tersebut terheran-heran karena ulah Arvin dan Morgan sedangkan para sahabatnya tertawa lepas.
Kemudian Arvin melepaskan rangkulan Morgan.
" Iihhh...apaan sih Mor....ntar dikira orang jeruk makan jeruk lagi.." ucapnya sembari tersenyum seraya mengusap kedua pipinya dengan kedua tangannya tersebut dan Morgan pun tertawa lepas sembari menyenggol tangan Arvin pelan.
" Lagian kenapa kamu bilang wajah aku kaya tomat busuk segitu jeleknya kah wajah ini? Kan aku paling ganteng diantara kalian berdua hehehehe...." Ucapnya sembari menyentuh kerah bajunya seraya tersenyum sambil memainkan alisnya naik turun.
Dan langsung dibalas para sahabatnya dengan ekpresi Muntah sembari tertawa.
" Ya iyalah aku bilang gitu kenapa? Karena wajah kamu terlihat aneh aja." Sambung Arvin sembari meneguk minuman bersoda yang mereka pesan dicafe itu.
" Ganteng dari mana? Kalau diliat dari lubang pipa air ukuran setengah perempat dari atas patung liberty baru kelihatan gantengnya " sambung Marco tertawa lepas.
" Kak Marco gitu sih, nggak mau bela adiknya semata wayang ini." Ucap Morgan merajuk.
" Hahahaha...kak Marco aja tau mana yang ganteng sebenarnya dan mana yang ganteng tiruan " sambung Arvin tertawa lepas diikuti kedua sahabatnya tertawa, dengan delikkan mautnya Morgan mengarahkan wajahnya kearah Arvin.
Mereka tetap dengan tawanya.
Setelah reda Marco kemudian bertanya pada sang adik.
" Ada apa sih kok wajah kamu kusut gitu, kan kita mau menemui si wanita itu?"
" Ntar aja Morgan ceritakan kak, setelah persoalan dengan wanita misterius ini selesai, karena ceritanya panjang." Ucapnya, dianggukkan para sahabatnya kecuali Abiyasa yang hanya tersenyum saja, tiba-tiba suara gawai Morgan berbunyi dan langsung saja dilihatnya siapa yang memanggilnya.
" Nah!!! Ini yang aku tunggu!!" Ucapnya seraya menjawab langsung sang pemanggil.
" Heh wanita nggak jelas!! Kamu dimana sekarang!! Aku sudah menunggu dicafe yang kamu katakan!!" Ucap Morgan penuh penekanan pada ucapannya.
" Sabar sayang...Aku sudah berada dicafe ini dimeja nomer 21 datanglah kamu kesini, sedari tadi aku sudah melihat kamu datang bersama para teman-teman kamu " ucapnya sembari tersenyum menatap kearah Morgan dan Morgan pun membalikkan tubuhnya kearah belakang seraya mematikan gawainya dan para sahabatnya juga mengikuti tatapan Morgan.
Morgan terus menatap kearah wanita itu dengan tatapan penuh amarah dan wanita itu hanya tersenyum manis padanya.
" Apakah itu Mor wanita yang selama ini mengganggu kamu?" Tanya Arvin seraya berdiri dan merangkul pundak Morgan.
" Sepertinya iya Vin...Aku akan selesaikan semuanya biar dia tidak mengganggu aku lagi." Ucap Morgan seraya hendak melangkah menemui wanita tersebut.
" Tapi...sebentar Mor...apakah kamu mengenalnya?" Tanya Arvin.
Morgan menggeleng ..
" Sepertinya bukan..."
" Cantik banget Mor, melebihi Anindita.." lanjut Arvin lagi, Morgan langsung menatap Arvin.
" Anindita tetap dihati dan tak akan tersaingi kecantikan istriku itu." Ucapnya dengan tegas. Arvin hanya tersenyum.
" Tapi kalau bukan mantan kamu, kenapa dia bisa mengenali kamu Mor? Tanya Abiyasa.
" Aku juga nggak tahu Biy siapa dia, baru kali ini aku liat dia."
" Atau jangan-jangan dia oplas lagi Mor, kamu tidak kenal tapi dia kenal....gimana dong?" Tanya Clarissa lagi sembari mengekpresikan wajah kecemasannya.
" Iya nih Mor, kalau benar apa yang dikatakan Risa kasian dong Anindita?" Sambung Abiyasa.
" Aduh!!!...kasihan Dita ....bagaimana nasibnya nanti? Kalau itu benar mantannya kamu Mor...Aku tidak bisa membayangkannya Mor..." Ucap Clarissa lagi seraya bersikap sedih dan cemas.
Morgan langsung menatap para sahabatnya...
" Kalian jangan khawatir, aku tidak akan berpaling dari Anindita, kalau memang dia itu adalah mantanku yang sudah melakukan perubahan wajah dan bentuk tubuh aku tidak sedikitpun kembali padanya karena aku sudah memiliki keluarga, kalian tidak tahu bagaimana perjuanganku mendapatkan Dita istriku itu, Kalian percaya kan padaku, aku akan menyelesaikan semuanya...yakinlah padaku aku tidak akan pernah mengecewakan kalian dan istriku sendiri..." Ucapnya langsung berlalu dari hadapan mereka dan melangkah pasti menuju kearah wanita yang sudah menunggunya dari tadi, siapa lagi kalau bukan Antis teman masa kecil Morgan, langkah Morgan di iringi tatapan mata para sahabat dan sang istri dibalik layar pertemuan mereka berdua dengan Antis dan di iringi juga dengan senyuman para sahabatnya tersebut. Morgan melangkah dengan pasti menuju kearah Antis dengan tatapan amarahnya.
Sesampainya didepan Antis, Morgan mentap tajam kearah Antis, sedangkan Antis tersenyum semanis mungkin, dan langsung berdiri menyambut kedatangan Morgan, walaupun wajah Morgan diselimuti dengan kejengkelan dan kemarahan pada dirinya.
" Morgan sayang,,, Akhirnya kamu datang juga sudah lama diriku menunggu kamu selama ini." ucap Antis sembari hendak menyentuh pipi Morgan, Namun tangan Morgan menepis cepat tangan Antis dengan salah satu tangannya dan disambut Antis dengan senyuman yang sangat manis dan terlalu manis. Kemudian Morgan memasukkan kembali tangannya kedalam saku celananya dan membuang pandangannya kearah lain dengan muka kesalnya.
" Wah...Wah..! keren banget gaya Morgan karena mengindahkan perhatian dari wanita cantik dihadapannya tersebut." ucap Arvin terkekeh.
" Iya dia bersikap seperti itu karena dia takut dengan Abiyasa kali." sambung Clarissa terkekeh.
" Kayanya nggak deh, tapi memang Morgan sangat mencintai Adikku, jadi dia bersikap seperti itu keluar langsung dari hatinya kareana dia tipe lelaki sejati dan setia, seperti aku ini hehehe..." ucap Abiyasa yang langsung diserang kedua sahabatnya dengan gumpalan Tissu yang berada ditangan Clarissa dan Arvin dan mereka pun tertawa pelan dan kembali melihat Morgan dan Antis bertemu.
" Morgan...kenapa kamu bersikap seperti itu?aku ingin menyentuh pipi kamu seperti waktu dulu saat kita bersama."
" Heh!!jaga sikap mu! ini ditempat umum, jangan sampai ada fitnah diantara aku dan kamu, dan perlu kamu ingat aku sudah berkeluarga dan jangan sekali-kali menyentuh ku, karena aku tidak sedikitpun mengenal kamu!!" ucap Morgan penuh dengan penekanan di ucapannya sembari menatap tajam kearah Antis. Antis hanya tertawa pelan.
" Oke, aku tidak akan menyentuh kamu, Silahkan duduk, kita bicara baik-baik." ucap Antis sembari mempersilahkan Morgan duduk.Morgan mendengus dengan kesal dan langsung saja menghentakkan tubuhnya dikursi didepan Antis dan Antis tetap memberikan senyuman yang sagat manis.
" Apa maumu sekarang? " ucap Morgan dengan muka tetap yang tidak bersahabt dengan wanita yang berada didepannya terebut.
" Sabar sayang... jangan ditekuk seperti itu wajahnya, kalau kamu bersikap seperti itu kamu terlihat tambah ganteng dan mengundang rasa yang ada dihati ku ini semakin bergejolak ingin selalu bersama kamu, seperti yang pernah kita lalui beberapa tahun silam." ucap Antis bersikap genit dan mengedipkan sebelah matanya pada Morgan. Melihat Antis bersikap seperti itu Morgan bertambah jengkel.
" IIsssth hah!! Mau kamu apa sebenarnya tidak usah berbelit-belit, sejak kapan aku bisa mengingat kamu beberapa tahun silam dengan wajah kamu seperti ini, aku sendiri tidak mengenali kamu, jadi jangan berharap kamu bisa ingin bersama denganku!!" Ucap Morgan dengan tatapan yang sangat dongkol dan menyimpan rasa kemarahan yang sangat dia tahan agar dia tidak membuat kemarahan diluar nalarnya.
Antis tertawa terdengar tawanya itu sangat menggoda, namun Morgan hanya menatap wanita yang ada dihadapannya tersebut dengan tatapan kemarahannya, sedangkan Antis selalu menggoda dengan tatapan manjanya pada Morgan.