
Kemudian papah Boby mengambil gawainya yang ada di dalam saku celananya, kemudian dia mencari-cari nomor Mr.Robert yang masih tersimpan di dalam gawainya.
" Alhamdulillah ternyata nomornya masih kusimpan di dalam gawai ku." ucapnya Seraya berdiri dan berjalan keluar sambil menghubungi pak Robert.
Mereka yang ada disitu hanya menatap langkah kaki papah Bobby menuju keluar
" Mudah-mudahan ini akan berhasil Dan kita mengetahui kenapa seperti itu Ginos bertindak." ucap Ayah Chandra.
" Pasti itu Yah, dan di pastikan dia yang akan mendekam di penjara" sambung Arvin.
Mereka mengangguk semua...
Beberapa saat kemudian papah Boby melangkah masuk dan duduk kembali bersama mereka.
" Gimana Bob?" Tanya Yosep.
" Aman sayang...sudah aku bilang mau bertemu besok pagi, dan dia langsung mengiyakan,dan aku tadi berbasa basi aja ngomong sama dia, biar dia tidak langsung mengetahuinya terlebih dahulu." Ucapnya tersenyum pada sang sahabat dan pada yang lainnya.
" Ya udah kalau gitu kita siap siap aja dulu buat besok pagi." Ucap Ayah Candra.
Abiyasa sedari tadi menatap Clarissa dengan tatapan penuh selidik setelah dia menatap layar gawainya yang berbunyi,dan setelah membaca chat tersebut dia terlihat menghubungi seseorang namun terlihat tidak nyambung, terlihat jelas di wajahnya kegelisahan terpancar dari wajah cantiknya.
" Kenapa kamu terlihat gelisah Ris" tegur Abiyasa karena melihat kegelisahan Clarissa di wajahnya.
Semua mata langsung tertuju pada nya, Clarissa terkejut dan langsung cengengesan.
" Ah...nggak, nggak ada apa apa kok, biasa aja nih liat wajah ku bersinar dan berseri seri kan." Ucap nya seraya menoleh kekanan dan kekiri memperlihatkan senyuman nya pada semua orang.
" Ada apa nak?" Tanya Papah Boby.
" Hah? Anu pah nggak ada apa kok pah, Bola biasa aja.." ucapnya.
" Ris...kalau kamu ada sesuatu bilang sama kita, biar kita selesaikan bersama sama " sambung Morgan.
" Bola sayang, Bola kan anak papah, papah harap Bola nggak ada yang di sembunyikan dari papah dan dari sahabat sahabat mu." Ucap nya seraya meraih pundak sang anak dan merangkulnya.
" Ada apa Bola?" Tanya papah Andre.
Clarissa hanya terdiam, dia sebenarnya kepikiran dengan Marco dan dia juga sudah mendapatkan chat dari Marco dengan kata kata putus yang hanya dia yang tahu.Clarissa mencoba menghubunginya tapi belum bisa di hubungi, dan Nomer Marco tidak aktif lagi.
Dia tidak ingin mengatakan semuanya pada sahabat dan keluarganya, karena dia tidak ingin membuat tumpang tindih suatu masalah, dia ingin mengetahui langsung ada apa yang di lakukan Marco terhadapnya dengan mengirimkan sebuah chat pribadi padanya dengan berisikan kata putus dan ingin melangsungkan pernikahan di kota bandung dengan seorang wanita yang sudah lama dia inginkan.
Clarissa mencoba sabar dalam menghadapi cobaan yang menerpa nya.
" Nggak ada apa pah, benaran nggak ada apa apa, Bola hanya kepikiran Marco aja." Ucapnya.
Namun Abiyasa masih tak percaya dengan ucapan Clarissa, karena Clarissa nggak pernah bersikap seperti itu kalau ada masalah atau pun terjadi hal hal yang mengganggu diri dan pikirannya.
" Marco? Memang kenapa dengan dia?" Tanya mamah Lala yang datang dari arah dapur sambil membawa dua piring berisi cemilan yang sudah mereka buat.
" Nggak kenapa napa mah, Bola hanya kangen saja." Ucap Clarissa.
Abiyasa, Arvin dan Morgan saling pandang karena mereka bertiga merasa ada yang kurang beres.
Kemudian Morgan mengambil gawainya dan langsung menghubungi abang nya tersebut. Namun beberapa kali di hubungi tidak nyambung dan di luar jangkauan.
" Ada yang aneh dengan kak Marco, tidak biasanya dia tidak mengaktifkan gawainya,aku harus mencari tahu keberadaan nya." Gumamnya seraya menatap kearah Clarissa dan kemudian beralih kearah Abiyasa dan Arvin.
" Cuma kangen aja nih sama Marco?" Tanya Papah Boby, walaupun sebenarnya dia merasa ada yang aneh pada putri sulung nya itu, tapi dia tidak ingin memaksakan kehendaknya untuk mencari tahu tentang kegelisahan sang anak.
" Pah, om dan yang lainnya, bisa nggak Bola nggak ikut kalian kekota S, Bola mau di kantor aja, karena banyak pekerjaan yang harus di kerjakan." Pintanya.
Kemudian Arvin pun bersuara...
" Arvin juga nggak ikut, karena di kantor banyak tugas." Ucapnya.
" Ya udah kalau kaya gitu, berarti kita aja yang berangkat, dan Morgan juga ikut, karena Morgan yang tahu semuanya."
" Siap pah..!" Ucapnya seraya memberi hormat pada Papah Andre.
Setelah kesepakatan mereka akhirnya menikmati cemilan yang di buat dengan orang tua mereka.
Setelah selesai ngobrol dan membahas semuanya, mereka pun langsung kembali ketempat mereka masing masing.
Papah Boby dan keluarganya pulang kerumah mereka begitu juga dengan Ayah Candra dan keluarganya pulang kekediamannya, namun Arvin masih berada di rumah Abiyasa, Abi Yosep dan keluarganya masih berada di rumah Abiyasa karena masih tidak di perbolehkan pulang dengan Papah Andre.
Mereka bertiga kemudian berkumpul di teras belakang.
" Kamu menangkap ada yang aneh nggak dengan Clarissa?" Tanya Arvin.
" Iya ada, aku sudah menangkap kegelisahan di wajahnya sejak dia menerima chat pribadi di gawainya,dan dia juga menghubungi seseorang tapi kayaknya tidak tersambung." Sambung Abiyasa.
" Kamu sudah menghubungi Marco?" Tanya Arvin pada Morgan.
" Nggak nyambung Vin, sudah berulang kali, tidak biasanya dia mematikan gawainya, aku coba hubungi salah satu karyawan yang sangat di percaya dia." Ucap Morgan seraya memencet gawainya dan menghubungi Arafik salah satu anak buah di pabrik teh milik Marco yang ada di kota Bandung.
" Ya Hallo ada apa pak?"
" Fik, ada kak Marco nggak di pabrik?"
" Pak Marco? Nggak ada pak, beliau nggak ada menghubungi saya, biasanya kalau mau kesini beliau menghubungi saya pak, tapi ini nggak ada sama sekali." Ucapnya.
" Apa? Nggak ada di pabrik?"
" Iya pak."
" Kemana dia? Padahal dia pamit kebandung." Ucapnya.
" Iya pak nggak ada, nanti saya coba mencari tahu keberadaan pak Marco" ucapnya lagi.
" Ya udah kalau gitu, tolong infokan ya pada ku kalau kamu sudah ada kabar dari nya."
" Siap pak!" Ucapnya seraya sama sama menutup panggilan mereka.
Morgan terdiam dan menarik nafasnya dengan berat.
" Kenapa Mor? Kemana Marco?" Tanya Abiyasa
" Dia nggak nyampai nyampai di bandung, aku jadi kuatir dengan kakak ku itu, karena dia nggak pernah berbuat seperti ini, walaupun ada apa pun dia selalu mengabari aku, tapi aku sudah menyuruh Arafik untuk mencari tahu dimana dia berada." Ucap Morgan.
" Makanya aku nggak ikut,aku yakin pasti Bola akan bergulir kebandung sendirian, makanya aku akan mengikutinya tanpa sepengetahuan dia,syukur syukur kalau dia tahu aku akan menemaninya ke bandung. Kalian fokus aja yang di sana aku yang akan menemani Bola kebandung bersama beberapa orang anak buah ku." Ucap nya.
" Baiklah kalau kaya gitu, besok kami ikut mengurus si Ginos dan kamu kami percayakan untuk menemani Clarissa." Ucap Abiyasa
" Sip..." Ucap Arvin
" Kalau ada apa apa, secepatnya kasih kabar..." Lanjut Morgan.
" Oke, tenang aja.." ucap Arvin tersenyum.
Mereka kemudian menyudahi pembicaraan dan beranjak berdiri melangkah menuju kearah luar setelah berpamitan pada kedua orang tua Abiyasa dan mertuanya. Mobil Morgan yang di kemudikan Arvin melaju meninggalkan kediaman Abiyasa dan menuju kembali kearah kantor.