THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 285



Sesampainya dirumah Arvin, mobil Morgan langsung memasuki halaman rumah tersebut dan dia langsung turun dan melangkah menuju pintu utama rumahnya Arvin itu.


" Assalamualaikum..." sapa Morgan.


" Waalaikumsallam..." jawab Bunda Adel seraya menoleh kearah pintu utama rumahnya.


Terlihat Morgan melangkah mendekati Ayah Candra dan Bunda Adel, dimana mereka berempat sedang mengecek surat undangan pernikahan Arvin dan Nadine, disitu juga ada Smith dan Alena.


Morgan pun menyalami kedua suami istri tersebut begitu juga dengan Smith dan Alena.


" Morgan... nggak kerja ya kamu nak?" tanya Ayah Candra.


" Kerja Om, baru aja dari kantor, tapi karena bosen dikantor nggak ada Arvin, makanya Morgan kabur dari sana dan lari kesini." kekehnya sembari berjalan meninggalkan mereka menuju kearah lantai atas hendak menuju kekamar Arvin.


" Arvin ada diteras belakang nak." sambung Bunda Adel sembari tersenyum.


" Oh.. iya Tante, teras belakang ya." Ucapnya tersenyum.


" Makanya kak Morgan, kalau mau menemui orang itu, tanya dulu dimana orangnya, jangan asal masuk aja, jadinya salahkan, heheheh..." ucap Alena sembari terkekeh.


Morgan hanya garuk-garuk kepalanya sembari terkekeh dan menghentikan langkahnya sembari menghadap kearah mereka.


" Hehehe,,,pembawaan hati yang resah dan gelisah hahahaha..." ucapnya tertawa lepas sembari hendak melangkah menuju kearah teras belakang dimana Arvin berada.


" Dasar Bule...hehehe." ucap Ayah Candra.


" Hahaha... Om juga akan punya menantu Bule, tuh didepan Om hahaa..." ucapnya Morgan tertawa lepas,


" Hehehe.. oh... iya ya Om lupa, maaf ya Smith saya lupa mau punya menantu Bule hehehe..." ucapnya tersenyum seraya menatap Smith dan Smith hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, sedangkan Morgan masih terdengar tawanya sampai teras belakang.


" Ada apa sih Mor? ketawa lepas gitu, bikin aku kaget aja." ucap Arvin yang sedang memainkan game yang ada digawainya.


" Nggak ada apa-apa Vin, tapi ada orang yang senjata makan tuan." ucapnya terkekeh dan mengambil duduknya disamping Arvin.


" Senjata makan tuan?" tanya Arvin heran.


" Iya senjata makan tuan itu, Om Candra."


" Memangnya kenapa dengan Ayah?" Tanya Arvin heran sembari menatap Morgan sesaat.


" Dia bilang aku Bule, tapi Om Candra tidak sadar kalau dia akan mempunyai menantu Bule juga... hahahaha"


Arvin pun ikut tertawa, mereka pun langsung tertawa lepas diteras belang tersebut bersama-sama.


" Oh ya Vin, besok sidang BP4R kamu sudah digelar jam delapan pagi."


" Iya, aku tadi juga sudah dikasih tahu pihak kantor."


" Nadine sudah kamu kasih tahu?" Tanya Morgan.


" Sudah, baru aja." jawab Arvin tapi dia tidak menoleh kearah Morgan dan matanya tetap menatap layar gawainya.


" Vin..." panggil Morgan


" Hmmmmm..." jawab singkat Arvin


" Aku lagi resah dan gelisah nih."


" Resah kenapa dan gelisah kenapa?" tanya Arvin tapi dia tetap fokus kelayar gawainya.


" Aku diteror Vin..." Jawab singkat Morgan.


Arvin terkejut dan langsung menghentikan bermain gamenya, diapun langsung meletakkan gawainya diatas mejanya dan menatap Morgan yang fokus menatap langit-langit teras belakang rumah Arvin seraya menyenderkan tubuhnya disofa tersebut.


" Diteror? yang benar Mor..?"


" Iya Vin..."


" Sama siapa?"


" Mana aku tahu Vin, kalau aku tahu itu namanya bukan diteror tau nggak, iih..! Ini teman kok oon sih hadeh...." ucap Morgan menepuk jidadnya seraya menarik nafasnya dengan pelan dan membenarkan posisi duduknya


" Hahahahhaha...." Arvin malahan tertawa lebar.


" Terus aja tertawa Vin, menari dan tertawalah kamu diatas penderitaanku." Delik Morgan.


" Maaf-maaf Mor, aku keceplosan tertawanya, tapi kamu tidak tahu sama sekali siapa si peneror itu."


Dianggukkan oleh Morgan.


" Kamu diterornya melalui apa? surat kaleng? atau telpon atau juga lewat chat pribadi?"


" Ditelpon dan chat pribadi Vin."


" Terus, kalau ditelpon kamu pasti kenal dong dengan suaranya cewek atau cowok?"


" Cewek..." ucapnya singkat.


" Hahahhahaha...kalau cewe berarti itu mantan pacar kamu Mor."


" Aku juga mengira begitu...tapi masa iya kalau mantan pacarku menghubungi ku lagi"


" Memang kenapa dengan mantan kamu?"


" mantan ku sudah meninggal Vin.."


" Memang kamu yakin ?"


" Maybe no maybe yes! "


" Coba kamu cari tau tentang mantan kamu itu, siapa tahu dia masih hidup dan bisa jadi yang menghubungimu itu dia, semua bisa saja terjadi Mor, itulah godaan ditahun pernikahan pertama, maksudnya menuju tahun pertama gitu Mor."


" Iya juga ya.."


" Memang Anindita sudah tahu ?"


" Nehi..." Ucapnya tersenyum...


" Lagak kamu Mor bahasa hindi, taunya cuma Nehi doang hahahah..." Ucap Arvin tertawa lagi.


Morgan hanya tertawa...


" Kenapa kamu tidak kasih tahu Mor?"


" Ya udah tunggu saja intruksi srikandi abu gosok, kalau sudah jatuh ketangan dia itu semua urusan beres,heheh."


Kemudian gawainya morgan pun berbunyi.


" Ini pasti dari dia lagi Vin menghubungiku." ucapnya seraya merogoh saku celananya dan mengambil gawainya.


" Ya udah angkat sekarang..."


" Kalau dia yang menghubungiku, aku akan maki dia habis-habisan." ucapnya emosi sambil menatap layar gawainya tersebut.


" Ternyata salah, ternyata mamah mertuaku..." Ucapnya tersenyum.


" Hahahahahaha... maki tuh Tante Anisha, kalau sampai terjadi memakinya tidak lama dipecatnya jadi mantu." ucap Arvin tertawa lepas.


Morgan terkekeh sembari menatap kearah Arvin dan menjawab panggilan mamah mertuanya


" Assalamualaikum mah..."


" waalaikumsalam nak."


" Ada apa mah?"


" Bisa kamu menjemput mamah dan Ayesha kerumah tante Adel nak, mamah mau menemui tante kamu, kebetulan pak sopir yang ada dirumah lagi tidak enak badan bisakah nak? kalau kamu banyak kerjaan nggak apa-apa biar mamah naik taksi, karena tante Lala lagi jenguk rumahnya." ucap Mamah Anisha.


" Oh bisa mah, ya udah Mamah dan Ayesha siap-siap aja dulu ya, Morgan segera berangkat jemput Mamah, kebetulan sekarang Morgan ada ditempat Om Candra mah."


" Oh gitu ya, ya udah kalau gitu Mamah tunggu ya."


" Iya mah ..."


Pembicaraan pun terputus setelah saling sama-sama mengucap salam dan membalas salam.


" Aku pulang dulu ya, mau jemput mamah mertua katanya dia mau kerumah ini." ucap Morgan bergegas meninggalkan Arvin dianggukkannya dan melangkah menuju kearah luar.


" Mau pulang Mor?" tanya Ayah Candra.


" Mau jemput Mamah Anisha Om, katanya mau berkunjung kesini."


" Oh gitu ya..hati-hati ya...."


" Ya Om..."


" Assalamualaikum..."


" Wa'alaikumussalam..."


" Kenapa mbak Anisha nggak menghubungi Ayah ya Bun untuk minta jemput."


" Iya juga Yah... " ucap Bunda Adel tersenyum kemudian melanjutkan mengecek surat undangan tersebut.


*****


Dirumah sakit wibawa...


Dokter Roni dan dr Ilham sedang berkonsultasi dengan Anindita tentang masalah penyakit seorang pasien yang sedang ditangani dr Ilham. saat mereka sedang asyik berbicara tiba-tiba mereka dikejutkan dengan ketukan diruangannya tersebut,


" Ya suster..." Ucap Anindita.


" Maaf mengganggu dok, ada telpon dari istrinya dr Ilham katanya penting."


Kemudian dr Ilham pun beranjak dari duduknya dan berpamitan dengan mereka berdua, dr Ilham dan dr Roni adalah dr senior dirumah sakit Wibawa tersebut, setelah kepergian dr Ilham mereka berdua kemudian berbicara perihal yang lain.


" Maaf ya tadi pagi aku sedikit terlambat karena aku tadi menemui si penelpon gelap yang pernah aku bicarakan padamu itu."


Anindita memang menceritakan semuanya pada dr Roni, karena bagi Anindita selain Abiyasa saudara laki-lakinya, dr Roni sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri.


" Maksud kamu yang sering menghubungi Morgan itu ?"


" Iya..." ucapnya singkat


" Terus bagaimana reaksinya setelah kamu bertemu dengannya."


" Ternyata dia adalah teman kecil Morgan dan suaminya bekerta di rumah sakit Harapan Kita, mereka baru saja dipindahkan dikota ini dari Kalimantan."


" Terus apa motifnya dia sering menghubungi Morgan?"


" Katanya dia mempunyai rencana ingin mengerjain Morgan dan memberi kejutan pada Morgan dihari ulang tahunnya Morgan, dan aku juga andil dalam kejutan itu kami sudah sepakat antara dia, Clarissa, Marco dan aku untuk menyusun kejutan itu dihari jadi morgan." ucap Anindita terkekeh.


" Hehhehehe...emang dasar ya kalian ini, aku kira mantan pacarnya yang menghubunginya, seperti biasanya kebanyakan cerita kisah rumah tangga dimana laki-laki ataupun perempuan yang sudah memiliki matan pacar pasti akan mengganggu rumah tangga mantannya, mungkin saja itu sekelumit cerita saja, tapi bisa juga ada dikehidupan nyata, mudah-mudahan aja aku nanti tidak akan mengalaminya mantan biarlah jadi mantan yang akan menjadi masa lalu dan aku akan menghadapi masa sekarang." ucap dr Roni tersenyum dianggukkan Anindita...


" Memang kapan hari jadinya Morgan.


" Beberapa hari lagi "


" Apa bertepatan dengan pernikahan Arvin?"


" Tidak, dua hari setelah pernikahan Arvin." Ucap Anindita.


Dr Roni menganggukkan kepalanya, mereka kemudian berkisah yang lain lagi, dan tanpa terasa mereka sudah terlalu lama berbicara diruangan Anindita.


Kemudian mereka berdua beranjak dari ruangan Anindita dan menuju tempat parkir, karena mereka sudah terlalu lama bercerita dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam lima sore lewat sedikit, mereka berdua kemudian menjalankan mobil mereka menuju kearah rumah mereka masing-masing.


*****


Tepat jam delapan malam Jet pribadi keluarga Wibawa sudah berada dibandara yang ada dikota mereka.


Setelah papah Andre berbicara dengan pihak bandara kemudian papah Andre mengeluarkan gawainya menghubungi sang istri yang sudah berada dirumah menunggu sang suami dan yang lainnya sampai ketanah air dengan selamat, karena papah Andre menghubungi sang istri saat berada diluar negeri kalau mereka sudah berangkat pulang ketanah air.


Mamah Anisha dan Abiyasa tidak megatakan pada Ayesha tentang kedatangan suaminya tersebut, Ayesha sudah tertidur lebih dulu karena terlihat kelelahan berada dirumah Bunda Adel, membantu mempersiapkan hari pernikahan Arvin dan Nadine walaupun mereka tidak terlalu ribet dengan acaranya, tapi mereka menyiapkan keperluan yang tidak disiapkan oleh catring ataupun EOnya yang sudah disewa mereka .


" Assalamualaikum sayang..." sapa papah Andre.


" Waalaikumsalam sayang,,,papah sudah sampai "


" Iya sayang, kirim sopir ya "


" Iya pah, tunggu ya." ucap mamah Anisha seraya memutus membicaraan setelah saling mengucap dan membalas salam.


Mamah Anisha pun langsung meminta pada Morgan dan Niko untuk menjemput papah Andre dengan yang lainnya dibandara, karena mereka sudah sampai ditanah air, karena kebetulan Niko menginap dirumah tantenya itu, dengan senyuman dan anggukkan mereka berdua pun langsung melangkah menuju kearah mobil mereka masing-masing perlahan-lahan mobil tersebut meninggalkan rumah mereka menuju kearah bandara menjemput pulang papah Andre dan yang lainnya.