
Setelah selesai Amir berbicara dengan ibu Ema, dan dia sudah menguasai rasa dalam hatinya tersebut dia pun langsung duduk disamping ibu Ema.
" Nico... Om...maafkan saya ya...karena saya tidak bisa menguasai diri saya sekarang ini sampai-sampai saya mengungkapkan semuanya didepan kalian." Ucapnya seraya menangkupkan kedua belah tangannya tersebut tanda permintaan maafnya pada para tamunya itu.
Para tamunya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Tidak apa-apa Mir, itu biasa saja selagi kita mempunyai perasaan dan kita tidak tahu harus bagaimana mengungkapkannya dan hanya bisa kita ungkapkan dengan cara seperti ini, kami maklum adanya dan maaf juga kami sudah mengetahui semuanya tentang dirimu, tapi bukan salah ibu kamu menceritakannya kepada kami, tapi karena memang di balik itu semua ada sesuatu yang harus kami cari tahu sebuah rahasia besar tentang Adik sepupuku ini." ucap kak Nico seraya menoleh sesaat ke arah Amelia, karena Amir sudah mengetahui cerita dari awal dia pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Jujur! aku juga baru tahu sekarang, saat tadi mendengar semuanya, aku tidak tahu selama bertahun-tahun ini Mamah menyembunyikan masalah tentang saudara kandung adik sepupumu, saat Mamah mengatakan semua tentang diriku, aku pun mau menanyakan siapa sebenarnya yang ditunggu Mama selama ini, tapi saat Mamah ingin mengatakannya dia mengalami drop kembali, aku menitipkan Mamah dengan suster di rumah sakit dan perpesan padanya, apabila ada apa-apa aku minta dia menghubungi aku, karena aku ingin pulang ke rumah menemui ibuku ini dan sekalian nemuin kalian, Maafkan mamah ya karena Mamah tidak mengatakannya kepadaku jika seandainya Mamah mengatakannya kepadaku mungkin saat kalian mencari nama Ibu Nellyana itu aku sudah bisa membantu setidaknya aku mencari tahu disini, maafkan aku ya Niko, Maafkan saya ya Om dan Amel..." Ucapnya.
Mereka menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Tidak apa-apa, ini semua sudah jelas dan mungkin kami akan secepatnya kembali lagi ke kota kami dan mencari tahu keberadaan saudara Amelia." Ucap kak Nico.
" Tapi apakah kalian tidak menginap dulu semalam di rumah ku ini."
" Iya Amir, kami akan menginap, besok pagi kami akan pulang karena kami juga ingin sekalian menjenguk Mama kamu yang lagi sakit di rumah sakit." ucap papa Bobby.
" Terima kasih Om, saya akan mencari tahu di kamar mama, siapa tahu ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk agar lebih cepatnya menemukan saudara Amelia." ucapnya.
" Terima kasih Amir atas bantuannya." Ucap papah Boby.
" Saya yang seharusnya berterima kasih dengan kalian semua, karena disamping Mama juga sudah berkata jujur pada saya,siapa ibu kandung saya dan ibu juga sudah mengatakan semuanya pada kalian, istilahnya saya mendapatkan 2 kabar berita yang sangat penting." ucap Amir sembari tersenyum dan diapun menyentuh tangan sang ibu, ibu Ema merasa bahagia karena Amir Tidak seperti biasanya yang hanya dekat dengannya selama bertahun-tahun ini dan mengenal dirinya adalah sahabat dan teman ibunya.
" Ya Allah terima kasih engkau telah mengabulkan doaku selama ini, penantian ku selama bertahun-tahun akhirnya Engkau kabulkan, Aku tidak ingin mengambil Amir dari tangan Nellyana tapi setidaknya Amir mengetahui kalau aku adalah ibu kandungnya, dan dengan izinmu Ya Allah engkau mengabulkan semuanya dan Amir tidak ada rasa benci terhadap diriku." Gumam ibu Ema dalam batinnya sembari mengukir senyum di wajah tuanya, di akhir tuanya dia merasa bahagia karena anak yang dilahirkannya itu sudah mengakui dirinya sebagai ibu kandungnya tidak ada kebahagiaan yang dirasakan oleh Bu Ema selain Amir mengetahui dirinya adalah ibunya.
" Baiklah Om, Niko, Amel, silahkan kalian beristirahat, ibu akan memberitahukan kamar tempat kalian beristirahat, sebentar lagi Saya mau ke rumah sakit menjenguk mama." Ucap Amir.
" Kalau kamu mau ke rumah sakit, kami langsung ikut ya, kita berbarengan aja ke sana." ucap kak Nico di anggukan oleh Amir, kemudian merekapun diarahkan oleh Bu Ema untuk beristirahat sesaat dan mereka tidak mungkin pulang hari itu juga, tidak enak dengan Amir yang sedang bersedih, karena mamanya yang sedang sakit dan dirawat inap di rumah sakit.
Setelah mereka berada di kamar mereka masing-masing, mereka pun kemudian merebahkan tubuh mereka melepaskan lelah yang mereka rasakan, sedangkan Amir memasuki kamar sang Mama, Amir memang sering memasuki kamar mamahnya itu,tapi dia tidak ingin mencari sesuatu di dalam kamar tersebut disaat mamahnya berada dikamar pribadinya, tetapi hanya ingin bertemu dengan mamanya itu saja, Tapi saat ini dia memasuki kamar mamanya untuk mencari tahu tentang sesuatu agar dia bisa membantu dengan cepat menemukan saudara kandung Amelia tersebut.
*****
Dikantar Wibawa Group....
Abiyasa yang berada di ruangannya pun kemudian melihat jam tangan yang melingkar di tangan kanannya tersebut, dia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 sore, dia kemudian membereskan meja kerjanya dan dilanjutkan memakai jas kerjanya serta tidak lupa dia mengambil kunci kontak mobilnya tersebut, kemudian dia dengan santainya melangkah keluar dari ruangannya menuju ke arah ruangan Clarissa, tanpa mengetuk pintu ruangan tersebut dia membuka pintu ruangan Clarissa, terlihatlah Clarissa yang sedang duduk santai di kursi kerjanya sembari menyenderkan tubuhnya dan menatap langit-langit ruangannya, dia tidak menyadari kalau Abiyasa sudah berada di depan pintu ruangannya itu.
" Heh! Ratu kobra! pulang nggak? katanya tadi mau ke tempat Arvin, kita mau menceritakan semua ke Arvin tentang rencana kita untuk memberi kejutan pada Morgan."
" Oh iya.. ya, aku hampir saja lupa, untung Kamu ingat kan, Ya udah ayo kita berangkat sekarang." ucap Clarissa sembari mengambil tas kerjanya dan kontak mobilnya, karena meja kerjanya sudah rapi sedari tadi, dan semua pekerjaan Clarissa sudah clear, hari ini pekerjaannya hanya sedikit, mereka berdua pun kemudian melangkah meninggalkan ruangan Clarissa menuju ke arah Lift khusus pimpinan dan lift itu pun membawa mereka berdua turun kearah lobby, dengan langkah yang santai tapi tidak membuat langkah Abiyasa oleng, seperti biasanya langkah Abiyasa mencerminkan langkah sesosok laki-laki tampan dan berwibawa, dan juga langkah Clarissa yang mempesona, Walaupun dia bersikap seperti anak lelaki kalau dalam keadaan marah, tapi dia tetap cantik dan begitu anggun melangkah menuju ke arah mobil mereka masing-masing, kedua buah mobil itu pun meninggalkan perlahan-lahan kantor Wibawa grup menuju ke arah rumah Arvin.
Beberapa saat kemudian mobil mereka pun memasuki halaman rumah Arvin dan kebetulan saat itu Arvin berada di teras depan sedang duduk bersantai dengan Bunda Adel dan istrinya.
Arvin menatap kedua mobil sahabatnya itu, karena Arvin mengenali mobil Clarissa dan Abiyasa, dia tersenyum menatap kearah mereka berdua yang sudah turun dari mobil dan melangkah menuju ke arah mereka yang sedang duduk itu.
" Assalamualaikum " ucap Abiyasa dan Clarissa.
" Waalaikumsalam..." ucap Bunda Adel sembari tersenyum di anggukan oleh mereka berdua sembari menyalami Bunda Adel tersebut.
" Ya sudah silakan kalian berbicara, Tante mau masuk ke dalam dulu ya, tante mau bikinkan minuman untuk kalian." Ucap Bunda Adel.
" Nggak usah repot-repot tante, apa yang ada di dapur atau yang ada di dalam kulkas, keluarin aja." Ucap Clarissa tersenyum.
" Kalau itu mah harus dimasak dulu tante...maksud Clarissa makanan siap saji kalau ada keluarin aja hehehe.." ucap Clarisa sembari tersenyum.
Bunda Adel pun hanya terkekeh dan melangkah meninggalkan Mereka berempat yang sedang duduk nyantai di depan teras rumahnya tersebut.
" Tumben kalian datang sore-sore ke sini, kangen ya dengan aku?" Ucap Arvin tersenyum.
" Yeh! siapa juga yang kangen sama kamu." ucap Clarissa.
" Gimana Vin? enakan kalau sudah nikah." Ucap Abiyasa kembali terkekeh, Arvin hanya tersenyum saja.
" Iya sih, tapi belum masuk gua nih!" Ucap Arvin tertawa pelan, dan Nadine mendelik manja, satu cubitan kecil mendarat diperut suaminya.
" Auh! Jangan sayang, ntar malam aja cubit-cubitannya." Ucap Arvin tertawa lebar, Nadine hanya tersenyum.
" Jangan masuk gua Vin, gelap." ucap Abiyasa sembari tertawa lepas.
" Iya memang gelap, tapi nanti bikin betah....hehehe." sambung Clarissa ikut tertawa juga, gelak tawa tercipta di teras depan rumah Arvin.
" Oh ya.. ada apa nih apa ada yang mau dibicarakan?" Tanya Arvin.
" Begini..." Clarissa pun kemudian menceritakan semuanya pada Arvin tentang Antis teman dari kecilnya Morgan dan niat mereka yang ingin memberi kejutan pada Morgan dihari jadinya yang sebentar lagi akan mereka rayakan.
" Oh...pantesan aja Morgan ada cerita denganku, kalau ada nomor yang tidak dikenal selalu menerornya, ternyata itu adalah teman kecilnya Morgan dulu." ucapan Arvin.
Dianggukkan mereka berdua.
" Kalau begitu mah aku ikut, jangan terlewatkan, aku harus andil di dalam rencana ini, hehehe..." ucapnya terkekeh.
" Oke kita sepakat ya." ucap Abiyasa.
" Tapi ngomong-ngomong kenapa Nadine cuma tersenyum aja? biasanya dia kan sering ngobrol nih, Ada apa ya?" Ucap Abiyasa tersenyum
" Mungkin mempersiapkan mentalnya hehehe..." Sambung Clarissa.
" Nah itu dia, ntar malam harus perang ini." Goda Arvin, Nadine memukul pelan tangan suaminya itu, dan Arvin tersenyum.
" Iiih! apaan sih, ngeres aja pikirannya." ucap Nadine sembari tersenyum.
Merekapun kemudian melanjutkan lagi pembicaraan mereka, setelah mempunyai kesepakatan untuk rencana memberikan kejutan kepada Morgan di hari jadinya nanti, merekapun kemudian berbicara hal yang lain.
" Oh ya, bagaimana ya kabarnya Om Andre di kota B, Apakah mereka sudah bertemu dengan ibu Nellyana itu ya?" tanya Clarissa.
" Aku belum menanyakannya sama papa, ntar setelah sampai dirumah, aku mau menghubungi papa dan menanyakan semuanya, Apakah mereka sudah menemui Ibu Nellyana itu atau belum, dan apakah ibu Nellyana ibu kak Amir temannya kak Nico itu adalah orang yang dimaksud sebagai saksi kunci tentang keberadaan saudara kandungnya kak Amellia." ucap Abiyasa.
" Iya benar juga katamu Biy, mudah-mudahan aja Ibu Nellyana itu adalah ibu Nellyana yang kita cari, kalau kamu sudah menghubungi Om Andre dan mengetahui semuanya, cerita ya sama aku, siapa tahu kan kita bisa membantu mereka dari sini." ucap Arvin di anggukan oleh Clarissa.
Kemudian asisten rumah tangga Arvin datang dari dalam membawakan minuman dan kue buatan Bunda Adel dan Nadine.
" Silakan dicicipin kuenya, Ini buatan perdana kolaborasi mertua dan menantu." ucap Arvin sembari terkekeh diikuti oleh Abiyasa, Clarissa dan Nadine sembari mereka menyantap kue dan minum yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangga keluarga Arvin itu.