
Arvin tidak mengetahui kalau sebenarnya yang dipeluk oleh Nadine adalah saudara kandungnya dokter Roni teman sekerjanya Anindita.
"Kamu kenapa sih Vin?coba cerita Ada apa ?Jangan disembunyikan sendiri, kita kan sahabat, kita harus sama-sama menyelesaikan masalahmu, belum beberapa jam kamu sudah berubah memang ada apa sih ?" Tanya Morgan lagi terlihat heran dengan Arvin tidak ada hujan tudak ada angin wajahnya berubah seketika.
Arvin menoleh ke arah Morgan dan tersenyum getir.
"Memang Ada apa sebenarnya cerita sama kami,ada yang membuatmu merasa gelisah atau ada yang membuatmu marah? apa karena Nadine tidak mau memaafkan kesalahan kamu" ucap Morgan.
Arvin menyandarkan tubuhnya di kursi nya seraya menarik napasnya dengan pelan.
" Mungkin harapanku untuk mendapatkan Nadine sia-sia " ucapnya pelan.
"Apa ?! maksud kamu Nadine sudah punya pasangan?" ucap Clarissa.
"Aku tadi mencari-cari dia,mau meminta maaf akan kesalahan ku padanya, ternyata dia berada di samping gedung ini, maksud aku mau langsung menemuinya,tapi aku lihat wajahnya begitu marah banget, jadi aku urungkan niat ku tersebut,lebih baik aku telepon dia aja atau nanti aku samperin ke rumahnya atau ke butiknya,Tapi saat aku lihat ada seorang laki-laki yang menemui dia yang keluar dari pintu samping, Nadine terlihat senang dan langsung memeluk lelaki itu,hancur hati ku melihat nya, ternyata dia sudah mempunyai pasangan" ucap Arvin terlihat sekali rasa kecewanya.
mereka semua terdiam.
"Arvin dengar aku, sebelum janur kuning melengkung, kamu masih bisa mendapatkan Nadine" ucap Morgan.
"Semangat!" ucapnya lagi seraya menepuk pundak sahabatnya tersebut.
"Tapi itu bukan prinsipku,Mor, karena prinsipku itu tidak mau merusak hubungan siapapun, Kalau memang dia jodohku suatu saat dia akan bertemu denganku dan menyatu di pelaminan,tapi kalau seandainya dia bukan jodohku selamanya kami tidak akan pernah bersama "ucapnya lagi.
"Jangan sedih dong! masih banyak kok cewek di luar sana menunggu mu" ucap Clarissa.
"Coba nanti aku cari tahu, kan siang ini, mau ke butik dia sama Anindita coba aku cari tahu apakah dia memang punya pacar atau punya calon suami " ucap Morgan lagi.
"Mana dia mau jujur sama kamu, karena dia sudah tahu kalau kamu itu yang membuat ulah di saat mobilnya mogok saat itu" lanjut Arvin.
" Iya juga sih" ucapnya lagi.
"kalau urusan urusan kejahatan aku bisa menyelidikinya, bahkan bisa aku ketahui dalam waktu beberapa jam saja,tapi kalau masalah cinta? Ampun deh! aku pikir perlu beberapa hari bahkan perlu berminggu-minggu baru aku bisa memecahkannya" ucapnya lagi.
"Ya udahlah kalau memang itu bukan jodohku, Jadi nikmatin aja statusku sekarang, jadi jomblo fisabilillah"ucapnya tertawa.
"Mereka semua tersenyum, tapi tidak tertawa seperti Arvin karena Arvin tertawa dalam kekecewaannya melihat Nadine wanita yang menyita pikiran dan hatinya sudah bersama dengan orang lain.
"Aku tahu perasaanmu Vin, kamu tertawa hanya menutupi rasa kesedihan dan kecewa mu" ucap Morgan menepuk pundak sahabatnya tersebut.
Arvin kemudian memeluk Morgan.
" Aku kecewa, aku terlambat,Aku sudah terdahulu sama orang lain, tapi aku harus tetap memegang prinsip ku, kalau aku tidak bisa menghancurkan ataupun merebut dia dari lelaki lain" ucapnya.
Kemudian Morgan mengelus kepala Arvin.
" Sabar..aku doakan kamu cepat mendapatkan pendamping mu, Karena masih banyak perempuan diluar sana yang pasti akan menunggu cintamu karena seorang Arvin melebihi dari bintang korea yang ada di film drakor" ucap nya santai.
" Kalau aku bintangnya drakor, berarti aku idolanya emak-emak dong! Kamu jahat dasar Bule Angel !" ucapnya tersenyum.
Semua tertawa tertahan...
"Kamu kenapa dek?seperti habis nangis? memang siapa yang bikin kamu kesel, marah,sampai nangis gini?" ucap dokter Roni kepada adiknya.
" Nggak ada apa-apa kok Kak," ucapnya.
"Terus kenapa kamu duduk disini? kan sebentar lagi ganti pakaian rancangan kamu yang kedua," ujarnya.
"Nadine ingin cepat-cepat pulang aja lelah banget " ucapnya lagi.
Kemudian Anindita keluar dari pintu samping.
" Nadine ini mau ganti pakaian," ucap Anindita.
" Oh iya mbak," ucapnya.
Kemudian Anindita tersenyum dan berjalan mengikuti Nadine bersama dokter Roni.
Mereka masuk ke dalam ruang ganti,dan dokter Roni kemudian berjalan ke kursi undangan bergabung kembali dengan para undangan yang lain dan duduk di kursinya kembali bersama calon istrinya.
Nadine memasuki ruang ganti dan memberikan pakaian yang untuk terakhir kalinya,setelah selesai Nadine buru-buru keluar dari ruangan itu.
"Nadine tunggu!" ucap Anindita
Nadine menoleh kearah suara.
" Iya mbak Dita?" Ucapnya.
"Jam berapa kami ke Butik mu?" Tanya Anindita.
"Sekarang juga bisa mbak" ucapnya tersenyum.
" Oh ya udah, nanti aku sama calonku segera kesana" ucapnya.
" Oh iya udah kalau kayak gitu mbak, Saya permisi dulu ya, Saya tunggu di butik ya Mbak" ucap Nadine.
Di anggukkan oleh Anindita. kemudian Nadine masuk ke dalam mobil nya dan melajukan mobilnya menuju kearah butiknya.
Dengan hati yang kesal dan kecewa.
Sedangkan Anindita menemui sahabat-sahabatnya yang duduk di meja para undangan.
"Sayang...ayo kita ke butiknya nya tante Raisa,Sudah ditunggu di sana "ucapnya.
"Ya udah, maaf ya aku tinggal sebentar, aku mau berangkat dulu buat milih pakaian untuk nanti malam" ucap Morgan.
" Ya semoga beres,hati hati ya" ucapnya.
Kemudian mereka berpamitan kepada ketiga orang yang ada di hadapannya tersebut.
Mereka berdua memasuki mobil pribadinya Morgan, dan langsung melajukan mobilnya menuju ke arah butik Nadine. karena mereka ingin memilih baju untuk acara pertunangan nya nanti malam.