
Di kediaman keluarga Wibawa terdengar sebuah mobil memasuki halaman rumah tersebut, siapa lagi kalau bukan mobil Abiyasa membawa tante Melisa dan Clara cucunya.
Mereka pun langsung memasuki rumah setelah mengucapkan salam disambut dengan Mama Anisha karena Mama Anisha sangat menyukai Clara, Begitu juga dengan Clara Dia langsung berkelanjut manja di tangan Mamah Anisha,Bocah berusia lima tahun tersebut sangat akrab sekali dengan orang-orang yang ada dirumah tersebut termasuk para sahabat Om dan Kakeknya itu.
Mereka diajak langsung ke ruang tengah dimana masih ada Papa Bobby, Abi Yosep dan Ayah Chandra beserta dengan Arvin, sedangkan istri dan anak mereka sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing.
Memang sengaja mereka tidak diperbolehkan oleh Papah Andre untuk pulang ke rumahnya, dan Papah Andre menginginkan mereka tetap tinggal sementara waktu di rumah Papa Andre.
Karena Papa Andre merasa senang dan bahagia kalau mereka berkumpul di rumah keluarga Wibawa tersebut.
Kemudian terdengar sebuah mobil memasuki halaman rumah tersebut, ternyata itu adalah mobil Morgan.
Clarissa dan Morgan turun dari mobil, kemudian Diapun langsung memasuki rumah tersebut, sama seperti mereka sebelum masuk mereka selalu mengucapkan salam dan dibalas salam oleh mereka yang berada di dalam, mereka berdua pun langsung menghentakkan tubuhnya di kursi sofa yang ada di ruang tengah tersebut.
" Gimana keadaan Marco.?" tanya Papah Boby.
" Sudah berada di rumah Pah." ucap Clarissa.
" Kenapa kalian berdua kembali lagi ke sini?" tanya papa Boby.
" Entah tuh Clarissa katanya mau pulang dulu, Morgan bilang biar aja dulu disana sampai puas berduan kan lama tidak ketemu."
" Ya,nggak enaklah Pah,masa lama-lama sih, malukan " ucap Clarissa tersenyum.
" Nah betul tuh apa kata Anak Om,lha kalau kamu kenapa balik lagi?" tanya Papah Boby.
" Kalau Morgan sih ingin mendengarkan rencana selanjutnya tentang permasalahan Lia dan Bowo." ucap Morgan sembari tersenyum.
" Kalau Clarissa sih memang tidak mau berlama-lama di sana." Lanjut Clarissa lagi.
" Tidak enak kenapa Ris?" tanya Abiyasa.
" Tidak enak karena belum sah, heheheh..." ucapnya seraya terkekeh.
" Seminggu lagi kalian sudah sah kok." ucap Abiyasa tersenyum, Clarissa merasa terkejut dia pun langsung menoleh kearah Papah Boby mencari kebenaran akan kata-kata dari Abiyasa, yang di pandangi oleh Anaknya tersebut pura-pura tidak mengetahui tatapan sang Anak,Memang Clarissa belum diberitahu tentang masalah kesepakatan antara kedua orang tuanya dan kedua orang tua Marco kalau seminggu kemudian pernikahan mereka berdua digelar.
Clarissa terus tajam menatap kearah Papahnya.
" Pah! Apa benar itu pah?" ucapnya.
" Benar apanya?" ucap Papah Boby bersikap cuek.
" Yang tadi dikatakan Abiyasa seminggu lagi "
" Seminggu apanya?"
" Hari pernikahan Risa dan Marco."
" Kata siapa?"
" Kata Abiyasa baru aja, Dia bilang seperti itu."
" Abiyasa tahunya dari siapa?"
" Ya dari Papa lah masa dari orang lain." Clarissa mulai kesal, tapi Papah Boby memang suka membuat Anaknya kesal.
" Ya tanyalah dengan Abiyasa, Dia tahunya dari mana." ucap Papa Boby lagi sembari terkekeh.
" Aku tuh Ris tahunya dari Om Bobby, masa iya sih Aku tahunya dari Abi Yosep." ucap Abiyasa sembari tersenyum.
" Hooh!! Iya benar itu " sambung Abi Yosep lagi.
Papah Boby hanya tersenyum dan kemudian Dia pun langsung menganggukkan kepalanya, Clarissa terlihat sangat bahagia dan Dia pun langsung memeluk sang papah, mereka yang ada di situ pun tersenyum melihat kelakuan papa dan Anak tersebut.
" Ris,kamu Jangan memikirkan tentang masalah pernikahan kamu, Aku, Arvin dan Morgan akan mengurus semuanya, Kamu duduk manis aja di rumah." ucap Abiyasa.
Clarissa pun bertambah bahagia mendengar ucapan dari ketiga sahabatnya tersebut dan terpancar rasa bahagia di wajahnya itu.
" Mulai besok kita akan mengurusnya." ucap Arvin lagi.
" Oke aku siap " lanjut Morgan.
" Sekarang kita bagaimana untuk rencana selanjutnya agar kita bisa mengetahui Bowo itu seperti apa, dan memancing dia untuk keluar dan memperlihatkan dirinya di hadapan kita." ucap Morgan lagi.
" Aku dan Arvin nanti malam mau ke tempat Tante Raisa."
" Untuk apa Biy, kamu kesana.?" tanya Papah Andre.
" Abi mau menanyakan dengan Pak Sahrul ciri-ciri fisik dari Pak Bowo."
" Kalau bisa melihat fotonya sekalian." sambung Morgan.
" Atau kita bisa mengintai rumahnya " Lanjut Arvin lagi.
" Nah itu bisa kita lakukan karena harus berawal dari sana kita melihat Bagaimana rupa dia itu."ucap Papa Bobby lagi.
" Mereka aja kali Bob, kamu ikut Aku besok keluar Negeri." ucap Papa Andre.
" Iya Ndre,maksud Aku gitu juga hehehe." ucap Papa Boby seraya terkekeh.
" Bilang aja Bob,sebenarnya mau ikut jugakan pengintaian itu." ucap Abi Yosep terkekeh.
Papah Boby hanya mengangguk pelan,dan yang lainnya hanya tertawa.
" Kalau kalian mau ke sana, Aku juga mau ikut, jadi kita berempat ke sana,Boleh ya, Aku juga mau ikut." ucap Clarissa.
" Kamu nggak usah ikut, bentar lagi kamu menikah, lebih baik kamu diam diri aja di rumah." ucap Morgan lagi.
" Iya benar apa kata Morgan tuh" sambung Arvin dianggukkan Abiyasa.
" Ya udah deh kalau seperti itu, Aku sih ngikut aja." lanjut Clarissa pasrah, padahal Dia ingin sekali ikut dengan mereka,tapi karena keadaan lah yang membuatnya harus tetap tinggal di rumah karena Dia tidak ingin melanggar pantangan-pantangan seorang wanita yang hendak menikah.
" Ya sudah kalau seperti itu kita berangkatnya jam berapa?" Tanya Morgan.
" Sehabis sholat isya." jawab Abiyasa.
" Apa tidak kemalaman." kata Morgan.
" Sehabis sholat isya itu kita ke tempat Tante Raisa dulu, kita minta keterangan Pak Sahrul, tapi itu juga kita harus menunggu persetujuan dari Pak Sahrul, siapa tahu kan dia tidak mau mengatakan ciri fisik sang kakak, karena Biar bagaimanapun Pak Bowo itu kan adalah saudara kandungnya Pak Sahrul, sejahat-jahatnya saudara Dia tetap saudara, di hati nurani Pak Sahrul pun Dia tidak mungkin ingin menyakiti saudaranya itu " Ucap Abiyasa lagi.
" Tapi setidaknya kan daripada nanti dia berbuat yang tidak-tidak dan banyak orang yang dirugikan lagi dan Dia juga tidak mengetahui kalau sebenarnya Lia itu bukan keponakan asli Dia, jadi kita bisa mengetahui Apa rencana dari Pak bowo selanjutnya,ya mudah-mudahan saja Pak Sahrul mau bercerita sedikit tentang Pak Bowo kelemahan dan kelebihannya dengan kita untuk mendukung rencana kita ini." ucap Morgan lagi.
" Iya sih mudah-mudahan aja, kita berdoa saja selagi rencana kita ini di batas yang wajar." lanjut Arvin.
Mereka semua menganggukkan kepalanya.
" Kalau seperti ini rencananya sudah tahu, Aku mau permisi dulu Biy." ucap Morgan.
" Ya sudah kalau seperti itu, sampai ketemu nanti malam ya." ucap Abiyasa.
" Ya udah kalau kamu mau pulang cepetan gih sana pulang, lama-lama di sini bikin Om sesak aja." ucap Papa Bobby lagi sembari tersenyum.
" Ya deh Om Morgan akan segera pulang."
" Kalau sudah sampai rumah cepat-cepat istirahat ya, oh ya pesan Om lagi kalau di jalan ketemu semut tolong minggir kasihan semut mau lewat." ucapnya sembari tertawa.
" Gimana bisa lihat semut? Aku aja di dalam mobil." gumamnya sembari menggaruk-garuk kepalanya.
" Udah jangan bergumam seperti itu, Om dengar kok." ucap Papah Boby terkekeh.
" Oalah!! Aku lupa kalau Om bisa baca pikiran orang hahahaha." ucapnya sembari tertawa lepas.
Mereka yang ada disitu pun tertawa mendengar ucapan Morgan dan Papa Boby yang mulai melancarkan aksi bertengkarnya.
" Udah cepetan Morgan pulang sana, nanti kalau lama-lama nggak kelar-kelar kalau kalian sama-sama berdebat disini." ucap Ayah Chandra lagi.
Kemudian Morgan menganggukkan kepalanya sembari masih tertawa dan dia pun langsung menyalami semua orang tua yang ada disitu mencium punggung tangan mereka dan mengucapkan salam, Dia pun melangkah meninggalkan mereka yang ada di ruang tengah tersebut, terdengar mobilnya perlahan-lahan menjauh meninggalkan rumah keluarga Wibawa.
Setelah kepergian Morgan satu persatu mulai berdiri dan meninggalkan ruang tengah untuk beristirahat siang.