THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 213



" Ayo sekarang kita pergi dari sini, biarkan dia membusuk disini seorang diri, ingat ! Kamu tidak usah lagi memberikan dia makan dan mengurus dia lagi! Kalau kamu melanggarnya jangan harap lagi aku akan bersama denganmu! Ingat itu!!" Ucap Lidya dengan tegas seraya memandang wajah Aditama.


Aditama hanya tersenyum dan meraih tangan Lidya dengan mesra dan menatap Lidya dengan tatapan penuh cinta.


" Sayang tunggu dulu sebentar, Aku ingin merasakan kebahagiaan ku ini karena aku memiliki dua kebahagiaan sekaligus hari ini." ucap Aditama seraya membelai pipi cantik Lidya.


Nayra yang melihat perlakuan Aditama terhadap Lidya pun hanya mengumbar senyum yang tidak bisa dia ukirkan di wajahnya, karena tertutup dengan perekat yang berwarna hitam yang melekat di mulutnya itu.


" Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan semuanya Aditama!! karena kamu juga tidak tahu kalau di rumah ini sudah ada orang yang ingin melahab mu hidup-hidup!! silakan kalian berbicara dan tersenyumlah dengan puas sebelum kalian nanti akan memohon dan meminta maaf kepadaku, serta kalian pasti akan merasakan sakitnya penderitaan yang pernah aku rasakan seperti ini!!" ucap Nayra di dalam batinnya.


" Apa maksudmu Aditama? kebahagiaan apa yang telah kamu dapatkan?" tanya Lidya seraya menatap Aditama dengan tajam.


" Dua kebahagian yang aku dapat saat ini adalah pertama aku mendapatkan kepercayaan kamu kembali dan yang kedua aku mendapatkan kebahagiaan dari anakku, karena anakku sudah mendapatkan bantuan dari seseorang yang sangat besar sekali." Ucapnya tersenyum.


" Apa maksud kamu bantuan? Bantuan apa?"


" Uang tunai sebesar lima ratus juta, tunggu sebentar beberapa saat lagi keluarga ku pasti akan datang ke sini, karena ini sudah mendekati jam tiga sore."


" Maksud kamu ada apa dengan jam tiga sore?"


" Karena jam 3 sore ini orang yang ingin memberikan bantuan kepada anakku tersebut mau datang ke rumah ini dan mengambil bukti gambar Kalau anakku pernah dilahirkan di sini."


" Baguslah itu,kita sepertinya mendapatkan durian runtuh." ucap Lidya tersenyum dan dia pun langsung merangkul Aditama dengan manja.


" Ya sudah kalau seperti itu kita tunggu aja mereka di ruang tamu, karena aku malas berada di depan wanita yang tidak tahu malu itu " ucapnya Seraya menatap kearah Nayra, Nayra hanya memejamkan matanya saja.


" Kamu salah Lidya! yang tidak tahu malu itu adalah kamu!! bukan aku." batin Nayra.


Kemudian mereka berdua pun melangkah ke ruang tamu tersebut,tidak lama mereka duduk di sofa, terlihat sebuah taksi memasuki halaman rumah Aditama, setelah mereka membayar taksi tersebut Mereka pun keluar sambil menggendong Alvaro anak kedua dari Aditama dan Nayra,tak disangka dan diduga mereka, Alvaro langsung menangis saat memasuki rumah itu, Alvaro langsung mengeluarkan tangisnya dengan kuat, Nayra pun terkejut dia langsung membelalakan matanya mendengar tangis seorang anak kecil yang didengarnya itu.


" Apakah itu tangis Alvaro?Ya Allah begitu indahnya tangismu nak, Apakah dia menyadari kalau aku ada di dalam sini? Anakku Mamah ada di sini." gumam Nayra pilu.


" Ya Allah temukanlah hamba dengan anak hamba ya Allah." gumam Nayra tidak terasa air matanya menetes.


Mereka yang berada di ruang ganti yang ada di ruangan kamar Nayra tempat persembunyian yang aman itu pun saling berpandangan.


" Apakah itu cucuku? Apakah itu tangis cucuku Kak?" Tanya Mamah Melisa.


" Sssssttt! kamu sabar lah Melisa,nanti kita pasti akan bertemu dengan Cucumu, kita dengarkan dulu karena masih ada yang belum berkumpul di rumah ini." Ucap Papah Andre.


" Siapa lagi kak? mereka kan sudah terkumpul di sini."


" Abiyasa, Karena Abiyasa mengirim chat pribadi kepada ku, katanya dia mau ke sini membawa Pak Tomi, karena dia merasa Pak Tomi itu ada hubungan dekat dengan mereka semua, karena menantunya Pak Tomi itu bernama Aditama, Abiyasa ingin Pak Tomi tahu tentang Nayra, karena Pak Tomi asli orang sini,siapa tahu kan bisa membantu, kalau pun dia bukan salah satu dari mereka setidaknya pak Tomi mengetahui siapa Nayra, itu yang dipikiran Abiyasa, jadi kita tunggu sebentar lagi." ucap papa Andre seraya berbisik kepada mereka semua.


Mereka hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju apa yang dikatakan oleh Papa Andre, sedangkan di ruang tamu mereka merasa senang.


" Apakah tadi ada orang sampai di sini terlebih dahulu?" Tanya Bu Lina mamah Aditama.


" Belum ada mah, baru aja kami berdua saja yang pertama kerumah ini." Ucap Aditama.


" Mungkin sebentar lagi,mungkin mereka akan datang." Ucapnya.


" Ya sudah, aku mau ke belakang dulu,kalau ada mereka beritahu aku." ucap Aditama melangkah meninggalkan mereka yang berada di ruang tamu dan mau menuju ke arah belakang.


" Aditama! kamu mau ke mana?" Tanya bu Lina.


" Mau ke belakang sebentar mah!"


" Sebentar Nak!"


Aditama pun kemudian menoleh kearah mamahnya dan langsung berbalik arah lagi menuju ke arah bu Lina.


" Ada apa sih mah? aku mau ke belakang, udah nggak tahan lagi nih!"


" Mama mau bertanya, bagaimana keadaan Nayra?"


" Kalau mama mau tahu keadaan Nayra,tuh ada di dalam kamar, sudah aku ikat dan aku beri perekat mulutnya, biar dia tidak bisa teriak."


" Bagus itu! bagus Kamu memang anak mamah yang paling pintar!"


Ucap Bu Lina tersenyum.


" Iya Aditama, Kakak merasa senang karena kamu sudah membela Kakak, dan mau menerima apa perkataan kakak." ucap Diana kakaknya Aditama tersebut.


" Ya iyalah, lebih baik aku membela Kakak dan Mamah daripada membela Nayra." Ucap Aditama.


" Nayra itu terlalu diam dan sangat mengecewakan sekali, seharusnya dia membela keluarga suaminya bukan membela keluarga dirinya, yang memberikan makan dan minumnya siapa? kalau bukan suaminya." ucap Lidya lagi menyahut omongan dari mereka.


" Benar kata kamu Lidya, kamu memang menantu mamah yang paling Mama sayang, Kenapa tidak dari dulu kamu bertemu dengan Aditama,jika seandainya kamu terlebih dahulu bertemu dengan Aditama, dia tidak akan pernah menikah dengan Nayra, Baiklah Mamah dan kakakmu mau melihat keadaan dia di kamar Itu." Ucap bu Lina.


Lidya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


" Oh ya, titip dulu ya anaknya."


" Iya mah, aku akan menjaganya." ucap Lidya.


Lidya langsung mengambil Alvaro yang ada ditangan kakak iparnya tersebut, Lidya menatap Alvaro dengan tatapan tajam.


" Aku di depan mereka memang mau menjaga kamu Alvaro! tapi aku sebenarnya tidak ingin menjaga kamu, ingat itu!! aku benci dengan kamu dan aku benci juga dengan mamahmu !!karena mamamu itu lebih dulu menemukan Aditama sebelum aku!! makanya rasakan penderitaan kamu dasar anak tak berguna!! Malang sekali nasibmu Alvaro hahahah!!" ucapnya seraya menaruh Alvaro di atas kursi dan membiarkan Alvaro menatapnya dan menangis sejadi-jadinya.


Ibu Lina dan Diana tidak menghiraukan tangis Alvaro yang menjadi-jadi dengan Lidiya,tapi mereka hanya fokus kekamar Nayra, mereka berdua langsung membuka pintu kamar yang di dalamnya ada Nayra.


" Halo menantuku yang tidak beruntung!! dan tidak bisa membahagiakan suaminya!!"


" Hahaha makanya kamu itu kalau jadi seorang menantu dan menjadi seorang istri,harus membela keluarga suamimu!! bukan membela keluargamu sendiri!!" ucap Diana sinis.


Nayra hanya menatap mereka saja, karena Nayra tidak bisa bersuara dengan kerasnya dia hanya berkata melalui batinnya saja.


Kakak iparnya itu pun langsung duduk di atas kasur dan menarik rambut Naira dan mendongakkan kepala Nayra, Nayra yang berusaha untuk menepiskan kepalanya pun tidak bisa, Akhirnya dia pun hanya pasrah dan mendongak menatap ke arah kakak iparnya itu.


" Bagaimana Nayra rasanya sakit kan? ucap Diana, begitu sakit juga di saat keluargamu menghina anakku dan diriku, seharusnya kamu membela Aku!! bukan membiarkan mereka mencaci maki aku!! kamu tahu sendiri kan Kalau anakku itu tidak salah!! bahkan adik sepupumu lah yang salah!!!" ucapnya dengan keras.


Nayra hanya diam saja.


" Kamu ini tidak akan pernah sadar kalau kamu membela Mela anakmu yang benar-benar salah!!sekarang anakmu jadi apa hah?! kuliah tidak selesai!! menikah pun selalu berakhir dengan perceraian!! kamu sudah menyakiti aku dan anakku!! tunggu aja pembalasanku." Ucap Batinnya


Karena kamar ganti yang di tempati oleh keempat orang tersebut pun hanya bisa menyaksikan Diana memperlakukan Naira seperti itu.


Papa Andre menahan amarahnya, karena perbuatan mereka terhadap keponakannya tersebut sudah melampaui batasnya.


" Sudahlah Diana!!biarkan dia di situ dengan posisinya,dia pasti akan menanggung deritanya sendiri,biarkan Dia tidak makan dan minum di situ, biar dia merasakan bagaimana sakitnya disakiti seperti itu." ucap mertuanya Nayra.


Mereka berdua kemudian menuju ke ruang tamu menemui Lidya dan Alvaro.


" Ini kenapa sih? anak ini kok tidak bisa diam dari tadi,kok nangis terus sih!!ucap Diana merasa jengkel.


" Iya nih kak! nggak tahu Kak dari tadi kok nangis terus, jangan-jangan dia mengetahui kalau disini ada mamanya yang masih ada dan tidak jauh darinya." Ucap Lidya


" Mungkin benar itu katamu!" Ucap Diana


" Biarkan saja! jangan sampai dia bertemu dengan Nayra, karena mama tidak ingin dia menyatu dengan Nayra." ucap Bu Lina.


Beberapa saat ia berbicara, sebuah mobil memasuki halaman rumah tersebut.


Mereka bertiga menatap ke arah mobil tersebut, Mereka pun langsung tersenyum.


" Apakah itu mereka?" tanya Lidya.


" Iya benar, itu mereka datang."


Mereka bertiga berjalan ke arah teras menanti para tamunya yang datang.


Papa Boby dan ayah Chandra pun langsung turun dari mobil dan melangkah menemui mereka, mereka menyalami tamu mereka tersebut.


" Silakan masuk Pak! inilah rumahnya."


Papa Boby pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mereka berdua mengikuti langkah pemilik rumah tersebut memasuki rumah dan menuju ke arah ruang tamu.


" Silakan duduk pak " ucap Mama Aditama.


Papa Bobby dan Ayah Chandra pun menganggukkan kepalanya dan mereka menghentakkan tubuhnya di sofa empuk ruang tamu tersebut.


Papah Boby fokus ke arah Alvaro yang digendong oleh Lidya yang sangat tidak bisa diam dari tangisnya terus.


" Oh maaf ya kenapa Alvaro menangis?" tanya Papah Bobby.


" Dia memang seperti itu Pak, karena dia tidak mau tidur siang."


" Oh begitu!"


Tapi ada kejanggalan yang dilihat oleh pak Bobi.


" Sepertinya Alvaro tidak menyukai wanita itu, dan dia sepertinya menginginkan Aku yang mengambilnya dari gendongan wanita itu." Gumam batinnya.


" Boleh saya menggendongnya?" tanya papa Boby.


" Silakan Pak"


Kemudian Papa Boby berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke arah Lidiya, dia langsung menatap Lidya dengan tatapan sinisnya.


" Ni orang kenapa ya menatap aku seperti ini, memang aku ada salah apa dengan dia? lagi pula aku tidak mengenalnya, jika seandainya dia tidak memberikan bantuan untuk anaknya Aditama, aku ogah untuk menemui mereka ini." batin Lidya.


Kemudian papa Boby langsung mengambil Alvaro.


" Kalau nggak bisa memegang anak itu makanya harus belajar!! Apakah kamu sudah punya suami?!" tanya papa Bobby.


" Oh iya pak! saya sudah punya suami!"


" Lain kali kamu tidak boleh berbicara melalui hati! kalau kamu ingin berbicara tentang saya lebih baik kamu ungkapkan saja didepan saya! kita berdua memang tidak kenal! Tapi nanti kamu pasti akan kenal dengan saya!" ucap papa Boby membuat semuanya terkejut,terutama Lidya karena gumaman dia diketahui papah Boby.


" Maksud Bapak apa? tanya Lidiya.


" Saya tidak bermaksud apa-apa, Nanti kamu pasti akan mengetahui siapa saya, sini biar anaknya saya pegang, kalau saya memperhatikan anak ini sepertinya tidak suka dengan kamu! begitu pula dengan kamu, tidak suka dengan anak ini." ucap papa Bobby langsung.


Ayah Candra cuma tersenyum dan mereka pun menatap kearah Papa Boby, tapi mereka tidak curiga Papa Bobby berbicara seperti itu, Sedangkan Mama Aditama dan kakaknya Aditama langsung mendekati Lidya.


" Lidya kamu ini apa-apaan sih, makanya kalau belum tahu itu dari mana mereka, kamu itu tidak usah ngedumel di dalam hati." ucap bu Lina.


" Maafkan menantu saya ya Pak."


" Oh ini rupanya menantu ibu yang baru?"


" Iya pak."


" Oh baguslah! Biar dia tahu juga kalau ini adalah anak dari istri pertama suaminya! jadi harus mencintai juga dengan anaknya, bukan mencintai bapaknya aja." ucap papa Boby lagi, sedangkan Alvaro pun mengukir senyumnya Setelah dia berada digendongan Papa Boby.


Papah Boby pun memeluknya dengan pelan dan menepuk pundak Alvaro dengan lembut.


" Kalau saya sudah memberikan dana bantuan ini, kalian harus memanfaatkan dana bantuan ini sebaik mungkin, karena saya tidak ingin mendengar dana bantuan ini dipergunakan dengan tidak sewajarnya, ini adalah untuk anak ini, bukan untuk orang lain." ucap papa Boby lagi.


Mereka pun menganggukkan kepalanya.


" Apakah disini ini cuma kalian aja?" tanya Ayah Candra.


" Oh tidak pak, Anak saya ayah dari Alvaro masih ada dibelakang Lagi di kamar kecil, sebentar lagi kesini dan tunggu sebentar juga saya mau mengundang besan saya,ya biar menjadi saksi penerimaan uang tersebut."


" Oh boleh! kami tunggu."


Di dalam perjalanan menuju ke alamat yang dituju tiba-tiba saja Pak Tomi menghentikan mobil di pinggir jalan dengan mendadak, Abiyasa dan Clarissa pun terkejut dan dia langsung bertanya kepada Pak Tomi.


" Ada apa pak, kenapa Bapak menghentikan mobil di pinggir jalan?"


" Maaf Pak saya mau bertanya sama bapak tadi alamat yang Bapak tunjukkan sama saya, yang mau bapak kunjungi Alamatnya di mana ya?"


" Jalan Majapahit nomor 168."


Kemudian Pak Tomi pun mengambil gawainya lagi dan membuka chat pribadinya dengan besannya itu.


" Kebetulan Pak, saya juga mau ke alamat itu."


" Wah kebetulan sekali pak, lebih baik kita cepat aja Langsung ke sana, siapa tahu kita sudah ditunggu." ucap Clarissa lagi.


" Jangan-jangan keluarga Bapak yang dari perusahaan Bapak yang ingin memberikan dana bantuan kepada cucu besannya saya."


" Oh itu bisa jadi, karena saya mau menemui papa saya di sana"


" Mungkin orang tua bapak yang memberikannya langsung."


" Bisa juga sih." Ucap Abiyasa sebenarnya merasa heran dengan ucapan pak Tomi tapi dia tetap bisa menutupi rasa herannya itu.


" Ya sudah! ayo kita berangkat ke sana " ucap pak Tomi kemudian menyuruh sopir pribadinya itu pun langsung menuju kearah alamat yang dituju