THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 49



Morgan mengikuti langkah Arvin dan mensejajari langkah Arvin menuju kearah ruangannya.


Mereka berdua masuk kedalam ruangan tersebut dan langsung duduk di kursi yang ada di ruangan Arvin.


" Vin kamu tau nggak?" Tanya Morgan.


" Enggak!" Ucapnya santai seraya tersenyum.


" Masa sih nggak tahu" tanya nya lagi.


" Ya iyalah aku nggak tahu kan aku belum kamu kasih tahu" ucapnya lagi terkekeh.


" Emang Risa nggak bilang?" Tanya nya.


Arvin memandang tajam kearah Morgan.


" Santai Vin,jangan memandangi diriku dengan tatapan tajam kamu kaya gitu dong, kan aku jadi takut" ucapnya terkekeh.


" Risa? Memang kenapa dengan nya?" Tanya Arvin.


" Dia tadi malam di lamar oleh Kak Marco dan langsung tunangan dengan nya tapi di saksikan oleh kedua belah pihak aja,tapi sayang aku nggak ikut" ucapnya lagi.


" Alhamdulillah,syukur deh kalau kaya gitu,senang juga aku dengarnya" ucap Arvin tersenyum.


" Tapi kenapa kamu nggak ikut, itukan hari bahagia kakak mu Marco" kata Arvin.


" Aku tadi malam balik kantor lagi karena ada kasus" ucapnya.


" Oh gitu ya" jawab singkat Arvin.


" Ya udah kalau gitu,aku pamit dulu ya,mau jemput my hanny ku di rumah sakit mau ngajak makan bersama,kamu mau ikut?" Tawarnya.


" Ogah...ntar kalau aku ikut jadi racun nyamuk aku nya" ucap nya terkekeh.


" Ya udah kalau gitu,aku pamit dulu ya,selamat ngehalu dengan Nadine" ucapnya terkekeh seraya menyentuh dagu Arvin.


Arvin hanya tersenyum dan mengusap dagunya bekas sentuhan Morgan.


Arvin menatap langkah kaki sahabatnya tersebut yang keluar dari ruangan nya itu, Arvin kemudian berdiri dan mengecek surat yang ada di atas mejanya dari bagian Basium.


*****


Setelah pulang dari kerja Clarissa melajukan mobilnya menuju kearah rumah Abiyasa,dan begitu juga dengan Arvin yang menuju kearah rumah Abiyasa tapi kali ini Arvin sendirian tanpa Morgan


Karena Morgan setelah pulang dari makan siang bersama Dita langsung menangani sebuah kasus yang mengharuskan nya berangkat ke sebuah desa yang jarak tempuhnya memakan waktu dua jam lamanya,di mana kasus tersebut terjadi dan menjemput tersangkanya.


Arvin lebih dulu sampai di rumah Abiyasa,dan dia di sambut oleh Anindita,sebelum Arvin mengucap salam,Dita sudah melancarkan beberapa pertanyaan kepada Arvin.


" Kenapa nggak ajak Morgan?kenapa ponsel Morgan nggak aktif? Apakah dia ada di kantor?" Tanya nya pada Arvin.


Karena Morgan tidak bisa menjemput kekasihnya pulang kerja, Morgan menawarkan saat itu untuk menjemput Dita saat pulang dari kerja.


Arvin hanya teperangah mendapatkan pertanyaan dari Dita.


" Assalamu'alaikum..." Ucap Clarissa yang baru datang dan berjalan menemui mereka.


" Waalaikumsalam" jawab keduanya.


" Datang itu harus ngucap salam dulu baru ngomong" ucapnya pada Arvin.


" Kok tahu kalau aku belum ngucap salam" ucap Arvin.


" Ya tau lah, aku kan peramal yang berjiwa preman" ucap Risa terkekeh.


" Buset! Peramal ngidul" ucap Arvin seraya memasuki rumah Abiyasa bersama Clarissa.


" Assalamu'alaikum" ucap Arvin.


" Waalaikumsalam,sahut Dita yang ada di belakang Arvin.


Mereka kemudian masuk kedalam,dan langsung menuju kamar Abiyasa.


" Abiyasa mana?" Tanya Clarissa.


" Di kamarnya,naik aja dan masuk aja" jawab Dita


"Tok...Tok..." Pintu kamar Abiyasa di ketuk dari luar.


" Masuk aja nggak di kunci" ucapnya dari dalam.


Pintu terbuka dan masuk lah mereka bertiga.


Abiyasa kemudian membawa mereka duduk di Balkon kamarnya sambil menikmati angin semilir yang sejuk,karena sore hari duduk di balkon kamar Abiyasa terasa sejuk saat sore hari tersebut.


" Setelah mereka berempat duduk, Clarissa memandangi Anindita.


" Perasaan dari tadi Dita mengikuti kamu terus sih Vin, ada apa?tumben jam segini sudah pulang dari rumah sakit?" Tanya Clarissa.


" Biasanya sulit banget nemui kembaran kamu ini Biy" ucapnya lagi.


Dita hanya tersenyum aja....


" Iya dari tadi Aku nanya ke Arvin nggak di jawab jawab makanya aku ikuti terus dia kemana aja" ucap Dita tersenyum.


" Kalau aku buang hajat mau ikut juga?" Tanya Arvin terkekeh.


" Iih, siapa yang mau ikut juga, palingan aku tungguin di depan pintu nya" ucapnya lagi.


" Memang nanya apa sih pada Arvin,sampai nggak di jawab nya?" Tanya Risa lagi.


" Gimana aku mau jawab baru keluar mobil sudah di brondong dengan pertanyaan tentang Morgan,belum sempat juga kasih salam,eh malah di brondong dengan peluru nyasar" ucap Arvin.


" Apa susah nya sih jawab dimana dia." Ucap Dita sewot tapi dengan gaya manisnya.


Anindita langsung ngelirik kearah Clarissa.


Clarissa hanya tersenyum pada Dita.


Dita pun tersenyum manja pada Clarissa sambil memainkan matanya.


Clarissa langsung mengusap wajah Anindita seraya tertawa lepas mereka berdua.


" Cepatan Vin jawab" ucapnya lagi.


"Aku lupa Dit,tadi pertanyaan kamu,apa ya" ucap Arvin seraya memegang kepalanya bergaya berfikir.


" Kamu belum pernah liat ya kalau ada orang jatuh dari balkon?" Ucap Dita pada Arvin.


" Belum" ucapnya santai.


"Ya udah sini,aku liatkan orangnya" ucap Dita menarik tangan Arvin dan seraya mau menjatuhkannya.


Dan Arvin menengok kebawah langsung saja dia menutup matanya karena takut ketinggian.


" Ampun Dit!, ntar aku jawab,oke tenang ya macan betina,aku akan jawab semua pertanyaan kamu" ucapnya seraya duduk lagi di samping Abiyasa.


Abiyasa dan Clarissa hanya tertawa lepas melihat Arvin ketakutan, mereka tidak tahu kalau Arvin takut ketinggian.


" Kenapa kamu Vin? Kok kaya takut gitu?" Tanya Abiyasa.


" Hehehe...maaf aku takut ketinggian sama kaya Ayah ku " ucapnya tertawa pelan.


" Hahahaha...takut ketinggian di waris,coba yang di waris dari om Candra itu uang kek,rumah kek,tanah kek,ini malah takut ketinggian nya yang di waris anaknya hehehe" ucap Clarissa lagi.


" Sama tuh, sama kamu, mewarisi ngomel ngomelnya om Boby." Kelakar Arvin yang gantian tertawa.


Clarissa hanya garuk garuk kepalanya saja seraya menghentikan tawanya.


" Jawab pertanyaan ku tadi kalau nggak...." Dita menghentikan perkataannya dan mendekati Arvin.


" Iya iya Dit aku jawab, Morgan pergi kedesa A untuk menangani sebuah kasus dan langsung jemput tersangkanya dan di sana susah banget dengan sinyal,jadi dia tidak bisa di hubungi, dia tadi bilang gitu,padaku lewat telpon, karena kamu nggak bisa di hubungi katanya,tapi sudah di kasih tau lewat Chat ke ponselmu,coba liat ponselmu" ucap Arvin.


" Mana ponsel mu?" Tanya Arvin lagi.


" Ada di kamar, lagi di charger" ucapnya .


" Di charger nya mati apa hidup?" Tanya Arvin.


" Mati" ucapnya singkat.


" Ya sallam...pantas aja nggak bisa liat dimana gorilanya berada" ucap arvin seraya menepuk jidad nya sendiri.


Anindita terkekeh...


Abiyasa dan Clarissa lagi lagi tertawa lepas mendengar ocehan Arvin dan Anindita.


Setelah selesai tertawa dengan ocehan ocehan mereka, Clarissa kemudian mengatakan pada Abiyasa.


" Biy, ternyata Sugeng itu sangat-sangat, benar-benar keterlaluan." Ucap Clarissa.


" Gimana nggak keterlaluan coba, masa anak istri nggak di nafkahi,gajih rutin di terimanya,dan di bilangnya tidak Nerima gajih,mana lagi anak anak nya masih kecil kecil empat orang,dan istrinya kerja serabutan dari siang sampai malam hanya ingin mencukupi kebutuhan mereka dirumah,bener benerkan kelakuan nya itu" ucap Clarissa.


" Sabar Ris, tunggu aku masuk kantor, aku juga sudah gemes dengan perbuatannya itu" ujar Abiyasa.


" Kamu juga Ris kebangetan pake baget" ucap Arvin.


" Aku? Kenapa dengan aku?" Tanya Clarissa heran seraya mengernyitkan dahinya.


" Tuh apa di jari kirimu itu?" Ucap Arvin seraya menunjuk cincin dari Marco yang melingkar di jari manis sebelah kiri tangan Clarissa.


Clarissa tersenyum...


" Tumben kamu pake cincin,biasanya nggak mau sama sekali" ucap Abiyasa.


" Ya mau lah Biy dia make cincin,wong cincin itu dari Marco tadi malam acara tukar cincin disaksikan keluarga dua belah pihak aja." Ucap Arvin tersenyum.


" Apa?!" Ucap Abiyasa dan Anindita berbarengan seraya menoleh kearah Clarissa.


" Biasa aja kalo liat nya,aku kan kadi malu" ucap clarissa seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" Biasa aja kali, nggak usah kecentilan kaya gitu, masa peramal berjiwa preman centil amat,Amat aja nggak centil" ucap Anindita mendorong pelan tubuh Clarissa kesamping seraya tersenyum.


" Alhamdulillah,aku sudah di lamar,dan mungkin hari pernikahan ku setelah papah pulang dari luar Negeri." Ucapnya tersenyum bahagia.


" Alhamdulillah kalau kaya gitu,kami senang mendengarnya," ucap Abiyasa lagi.


" Terus kamu gimana Vin? Kapan mendapat kan cewek yang kemaren?" Tanya Abiyasa pada Arvin.


" Aku juga nggak tahu Biy,kapan gadis impian itu jatuh cinta padaku, bila bertemu pasti marah marah padaku." Ucapnya.


" Ya di kejar terus Vin jangan patah semangat,karena kamu pasti bisa." Ucap Clarissa.


" Aku ada jurus jitu tuh, buat naklukin hati cewek dan bila kamu pakai jurusku ini,kamu akan di kejar kejar cewek terus apa lagi kalau di pakai untuk cewek inceranmu,pasti berhasil banget tuh percaya deh" ucapnya tersenyum.


" Apaan, aku mau banget deh " ucap Arvin tersenyum bahagia.


" Mau tau aja atau mau tau banget?" Canda Clarissa.


" Mau banget" ucap Arvin langsung mendekati Clarissa dan seksama mendengrkan jurus yang akan di ajarkan Risa padanya.


" Lempar tuh Nadine dengan lumpur pakaiannya ntar dia akan ngejar kamu, di jamin deh " ucap Clarissa tertawa lepas.


" Buset dah...,! Jurus apaan itu, iya sih di kejar dan di teriaki maling,babak belur dapatnya ni badan" ucap Arvin seraya mendorong Clarissa pelan dan kembali duduk di sebelah Abiyasa.


Clarissa tertawa lepas di ikuti Abiyasa dan Anindita,sedangkan Arvin hanya manyun saja mendengar tawa ketiga orang yang ada di samping dan di depannya.