THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 232



" Ya Allah, kasihan banget ya Mah, keadaan mereka." Ucap Ayesha pelan berbicara dengan Mamah Anisha.


" Iya sayang..." Ucap mamah Anisha sembari menoleh kearah Ayesha dan tersenyum serta menganggukkan kepalanya.


" Mama tidak bisa berbicara apa-apa lagi, karena melihat jelas keadaan mereka seperti ini, karena selama mereka berada di sini mereka hidup berdua saja, padahal keluarganya disini masih ada." ucap Mamah Anisha.


Ayesa menganggukkan kepalanya kemudian mereka berdua menatap kearah Amelia yang masih erat memeluk Almira.


Kemudian Mamah Anisha berdiri dan mendekati tempat Amelia duduk...


Mamah Anisha pun kemudian mengusap kepala Amelia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


" Amelia Sayang, sudah Nak, nggak usah menangis lagi, Amel sekarang jangan bersedih lagi, Amel tidak akan pernah sendirian, semua yang ada disini akan selalu bersama dengan mu Nak, kalau kamu bersedih seperti ini Almarhumah Mamah dan Almarhum Papah mu juga pasti akan bersedih disana sayang,karena melihat kamu bersedih disini, hapuslah air matamu Nak." ucap Mamah Anisha sembari tetap mengusap rambut panjang Amelia,Amelia pun melonggarkan pelukannya dengan Almira, dia pun langsung menatap kearah Mama Anisha, dengan lembut Mama Anisha mengusap air mata Amelia yang jatuh di pipinya dengan penuh keibuan dan kasih sayang, mama Anisha memperlakukan Amelia seperti anaknya sendiri, dan Amelia merasa bahagia dan merasa tenang diperlakukan oleh Mama Anisha, padahal dia baru kenal saat ini dengan Mama Anisha, mama Anisha tersenyum dan merapikan anak rambut Amelia yang menutupi sebagian matanya yang terlihat sembab karena menangis.


" Sayang, kamu itu adalah anak yang kuat, karena selama ini kamu bisa menjaga Adik kamu, Kamu tidak usah menangis lagi, karena kamu sudah bertemu dengan kami semua." ucap Mama Anisha di anggukan oleh yang lainnya.


Amelia pun menganggukkan kepalanya dengan penuh rasa bahagia dan terlihat diwajahnya rasa khawatir dan kegelisahan itupun sirna begitu saja,terlihat diwajahnya rona bahagia karena dia bertemu dengan orang yang tepat.


" Sekarang kamu jangan bersedih, kamu harus fokus dengan kesadaran Adik kamu, biar kita tahu hal apa yang terjadi di samping kejadian terjatuhnya Adik kamu di depan mobil dokter Rony." ucap Mama Anisha.


Amelia lagi-lagi menganggukkan kepalanya dan dia pun tersenyum diwajahnya.


Kemudian dia mengusap sisa air matanya yang masih sedikit mengalir di kedua bola matanya, lalu dia pun beralih menatap kearah papa Boby dan Mama Lala.


Mama Lala pun kemudian menangkupkan kedua tangannya di pipi kiri dan kanan Amelia.


" Amelia sayang, kamu sekarang tidak sendirian, ada tante dan om Bobby serta yang lainnya, Setelah dari rumah sakit ini kalian tinggal bersama tante dan tidak akan pernah lagi kalian hidup luntang lantung di kota kelahiran kedua orang tuamu ini, kamu adalah keluarga tante." Ucap Mamah Lala.


Amelia menganggukkan kepalanya...


Kemudian Mamah Lala pun memeluk Amelia dengan penuh kasih sayangnya, Begitu juga dengan Amelia, dia merasa tenang bersama orang-orang yang ada di dalam ruangan adiknya itu, dia menarik nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan pelan dan tidak berat,karena dia merasa kuat sekarang menghadapi masalahnya karena dia sudah bertemu dengan orang yang tepat.


" Mama...ternyata memang benar kata mamah,Tante Lala dan om Bobby yang Mama ceritakan kepada Amelia, mereka memang orang yang baik, dan sangat baik, ya Allah terimakasih karena engkau telah mempertemukan aku dengan mereka yang selama ini tidak ada petunjuk sama sekali untuk aku menemukan mereka, tapi dengan rencanamu ya Allah akhirnya hamba ada ditengah-tengah mereka saat ini, ini sangat sulit dipercaya, aku yang ditemukan mereka." Ucap batinnya sembari masih dalam pelukan Mamah Lala.


Kemudian Amelia melonggarkan pelukannya dengan Mama Lala, dia pun kemudian tersenyum dengan yang lainnya, Begitu juga dengan mereka semua memberikan senyuman termanisnya untuk Amelia.


" Terima kasih Om, tante dan yang lainnya, terima kasih sudah peduli dengan Amelia dan adik Amelia." Ucapnya.


" Iya nak sama-sama..." ucap Papa Andre dan yang lainnya.


" Nak, Om masih penasaran dengan kamu, kenapa kamu terkejut mendengar nama Om dan istri Om saat Almira bercerita?" Tanya papah Boby.


Amelia menarik napasnya dengan pelan, dia pun menundukkan kepalanya sesaat dan dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Papah Boby.


" Ada apa Nak? kamu harus cerita dengan kami, karena Almarhumah Mamah mu dan Almarhum papamu adalah teman kami." ucap Papa Andre.


" Iya nak, lebih baik kamu cerita ada apa sebenarnya." ucap Mama Anisha sembari menyentuh pundak Amelia dengan pelan.


Lagi-lagi Amelia menghela napasnya dengan sangat berat dan melepaskannya dengan pelan.


" Ceritanya panjang Om, Tante." ucapnya seraya menatap mereka semua.


" Tidak apa-apa ceritalah Nak." Ucap papah Andre.


" Beberapa bulan Mama dirawat di rumah sakit dan sebelum Mamah menghembuskan nafas terakhirnya mama sempat cerita walaupun saat itu keadaan Mamah sangat lemah, mamah tetap mengatakannya dengan Amel, kata mamah Amel dan Nika harus pulang ke Indonesia, bagaimanapun caranya harus bertemu dengan om Bobby dan tante Lala, karena kata mama hanya keluarga Om Boby dan tante Lala lah keluarga Amel yang pasti akan peduli dengan Amel dan Adik." ucap Amelia sembari sesekali dia menghapus sisa air matanya yang masih ada di kedua bola matanya dan di kedua pipi mulusnya itu.


" Jadi selama mama mu sakit, kamu tidak berusaha untuk menghubungi keluarga yang ada di Indonesia nak?" Tanya mamah Anisha.


Amelia menggelengkan kepalanya.


" Kenapa?"


" Mamah tidak mengatakan apa-apa hanya nama Om Boby dan tante Lala saja yang dikatakan mamah saat itu, karena mamah hanya sempat mengatakan itu saja dan mamah pun menghembuskan nafas terakhirnya."


" Setelah kamu ada di indonesia kenapa kamu tidak langsung mencari kami ?" Tanya mamah Lala.


" Karena Amelia tidak tahu harus dari mana untuk mencari kalian berdua, Dan saat Mama sakit waktu itu Mama tidak mau menghubungi keluarga di Indonesia karena di samping Mamah tidak ada lagi nomor yang harus dihubungi dan juga mama tidak bisa berbuat apa-apa lagi semenjak kepergian papa." Terangnya.


" Terus Papa mu sakit apa?atau terjadi sesuatu sehingga membuat Papamu meninggal dunia?" tanya papa Andre.


" Papah meninggal dunia di dalam penjara Om." Ucapnya


Ada nada kesedihan saat Amelia mengatakannya.


" Apa?!!" sahut Papa Bobby dan papa Andre.


" Astaghfirullahaladzim, penjara? Ucap mamah Anisha dan mamah Lala seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


" Apa yang terjadi Nak? Sampai papahmu masuk penjara?" Tanya papah Andre.


" Iya...Kenapa Rendy dipenjara? dan meninggal di dalam penjara? Bagaimana ceritanya sehingga Rendy jadi dipenjara? Apa kesalahannya? tanya papa Bobby.


" Saat itu.... " suara Amelia berhenti karena mereka dikejutkan dengan pintu ruangan itu terbuka, ternyata Dokter Siska dan dokter Roni memasuki ruangan tersebut.


Dokter Roni terkejut melihat mereka yang sudah berada di dalam ruangan itu.


" Om Andre, Om Boby ..." ucapnya sembari tersenyum dengan yang lainnya.


Papa Boby dan papa Andre hanya tersenyum saja dan menganggukkan kepalanya sesaat.


" Maafin kami ya kak, karena kami banyak orang masuk ruangan ini." ucap Abiyasa.


" Tidak apa-apa Biy, kami datang ke sini mau memeriksa keadaan Nika." Ucap dokter Roni.


Dokter Siska pun tersenyum dan dia kemudian melangkah mendekati Nika yang masih belum sadarkan diri tersebut, kemudian dia pun memeriksa denyut nadi dan selang infusnya.


" Masih normal " ucapnya dan kemudian dokter Siska memegang kembali denyut nadi dari Nika lagi, saat tangan nya dipegang oleh Dokter Siska tangan itupun bergerak, Begitu juga dengan tangan yang ada jarum infusnya bergerak juga.


Mereka melihat itu pun langsung mendekati Nika,dan Amelia langsung bersuara memanggil nama Adiknya itu.


" Nika, bangun dek..." ucap Amelia.


" Sadar Dek, Ini Kakak, Kakak ada bersama kamu Dek, kakak tidak akan membiarkan kamu sendirian dan tidak akan lagi orang itu mengikuti kamu." ucapnya.


Kemudian mereka pun menatap kearah Nika, perlahan-lahan Nika membuka matanya, dia sepertinya mulai menguasai kesadarannya dan mengumpulkan kesadarannya tersebut, setelah kesadaran itu sudah menguasai otak dan pikirannya dia pun kemudian menggerakkan kepalanya kesamping, menatap ke arah sang kakak.


" Kak...kak Amel..." ucapnya sembari meneteskan Air matanya, kemudian dia pun memegang tangan Amelia dengan erat.


Amelia menghapus air mata adiknya tersebut,dan memberikan senyuman manisnya pada sang Adik.


" Iya dek, kamu jangan nangis, kakak ada bersama denganmu." ucap Amelia mereka yang ada disitu pun terdiam melihat Amelia begitu sayang sekali dengan adiknya tersebut.


Ayesha tak kuasa menahan Air matanya dan menelungkupkan wajahnya di pundak sang suami, Abiyasa langsung merangkul sang istri dengan penuh kasih sayang.


" Nika takut Kak, Nika takut." ucapnya.


" Sayang, kamu tidak usah takut, kakak ada di sini,kakak kan selalu menjaga kamu Dek." ucapnya.


" Ada apa sebenarnya sehingga Nika sangat ketakutan seperti ini?" Ucap papah Boby pelan.


Papah Andre menoleh kearah papah Boby.


" Kamu pasti sama kan Ndre,dengan apa yang aku pikirkan?" Tanya papah Boby.


Papah Andre menganggukkan kepalanya.