THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 229



" Ada apa pah, Kenapa Papa terkejut setelah melihat perempuan yang ada di dalam foto itu?" tanya Abiyasa sembari tetap lekat memandang ke arah Papa Andre.


Papa Andre tidak menghiraukan pertanyaan dari sang anak, Dia kemudian memanggil sang istri.


" Sayang... sayang...."


Mendengar panggilan dari suaminya Mama Anisha pun melepas pekerjaannya yang ada di dapur tersebut, karena saat itu Mama Anisha masih mengiris sayur-mayur, Dia tergesa-gesa berjalan menuju kearah Papah Andre, kemudian dia duduk di samping sang suami.


" Ada apa pah? Kenapa panggil mama sampai segitunya?" tanya Mama Anisha kepada sang suami.


Mamah Anisha merasa heran, Karena melihat keterkejutan di wajah sang suaminya itu.


" Lihat ini sayang.." ucap papa Andre menyodorkan gawai Abiyasa yang masih berada ditangannya itu.


Mama Anisha kemudian mengambil gawainya Abiyasa dan menatap kearah foto yang ada di dalam gawai tersebut.


" Ya Allah ini kan..." mama Anisha tidak melanjutkan perkataannya,dia hanya menutup mulutnya dengan tangannya.


" Iya sayang... itu adalah Amel, Amelia anaknya dari Sinta dan Rendy, wanita inilah yang aku lihat saat dibandara itu, yang aku ceritakan pada kamu sayang."


" Jadi memang benar Amelia berada di sini? kalau Amelia berada di sini ke mana Rendy dan Sinta?" Ucap mamah Anisha merasa heran,karena hanya anaknya saja yang berada disini.


" Rendy dan Sinta ?ini sebenarnya ada apa sih pah, mah, kayaknya Papah mengenali wanita yang ada di dalam foto itu ?ceritalah sama Abiyasa, biar Abiyasa mengerti semuanya, kami ingin memecahkan suatu masalah yang dihadapi oleh wanita itu." Ucap Abiyasa.


" Masalah? Maksud kamu?" Tanya papa Andre.


" Maka dari itu, Arvin mengabadikan mereka berdua ini, karena kami melihat keanehan di diri mereka ini pah yang sedang memejamkan matanya di atas tempat tidur rumah sakit itu adalah adiknya, temannya Almira yang Almira ceritakan kepada kita tadi siang itu Mah, bernama Nika dan yang ini adalah kakaknya bernama Amelia, Abiyasa heran kok papa dan mama mengenali wanita ini? tolong dong ceritakan dengan Abiyasa apa yang terjadi sebenarnya, sehingga papa dan mama bisa mengetahui ini dan lagi saat itu Almira berbicara dengan dia mengenai Om Bobby dan yang lainnya dia terkejut mendengar nama Om Bobby dan tante Lala, Abiyasa merasa ini ada hubungannya dengan mereka." ucap Abiyasa panjang lebar menjelaskan kepada sang Papah dan Mamah yang berada di sampingnya tersebut, mereka berdua pun hanya terdiam.


Terdengar helaan nafas di antara mereka bertiga, hening! tidak ada suara sama sekali, kemudian Abiyasa pun mencairkan suasana keheningan itu.


" Begini papa, mama, anak yang ada di tempat tidur itu sepertinya ada seseorang yang ingin mencelakai dia, entah itu siapa, kami juga tidak tahu yang tahu itu hanya kakaknya yang bernama Amelia, saat ia tersungkur di depan mobilnya kak Roni tidak ada saksi sama sekali, jadi terlihat seperti Kak Roni yang menabraknya, makanya dibawa oleh kak Roni ke rumah sakit sampai sekarang dia belum sadarkan diri." Terangnya lagi.


" Astaghfirullahaladzim! kenapa bisa terjadi seperti itu." Ucap mamah Anisha.


" Abiyasa juga tidak tahu gimana detail kejadiannya."


" Mereka itu adalah anak Sinta." Ucap mamah Anisha.


" Sinta siapa mah?'


" Begini ya Biyas, Sinta itu adalah wanita yang pernah ada di hati Papah, sebelum bertemu dengan Mamah mu ini, karena kami tidak berjodoh, kami tidak disatukan satu sama lain, akhirnya kami mempunyai jodoh masing-masing, awalnya Amelia memang sudah dilahirkan,usianya lebih tua dari kamu, karena sebelum kamu lahir Sinta sudah melahirkan Amelia,dan saat itu mamahmu juga ditolong dengannya dan dibawanya kerumah sakit karena saat itu mamahmu sudah mau brojol kamu,saat usia Amelia beberapa tahun, dia dibawa oleh kedua orang tuanya ke luar negeri, papah tahu dia pergi keluar negeri dari Om Boby dan tante Lala mu, saat itu kami tidak memiliki lagi kontak untuk berbicara dengan mereka, suaminya Sinta itu adalah sepupunya tante Lala mu, sedangkan tante Lala mu juga tidak tahu sekarang keberadaan mereka tuh bagaimana sekarang ini, menurut cerita terakhir dia cuma mengatakan kepada tante Lala ingin pindah ke luar negeri dan membina keluarga yang bahagia dan mempunyai usaha di sana, tapi usaha itu kami tidak tahu apakah di bidang properti ataupun yang lainnya setelah mereka berangkat ke luar negeri mereka tidak pernah lagi menghubungi keluarganya di Indonesia, baik itu tante Lala ataupun keluarganya yang lain, dan lagi setelah meninggalnya Ibu dari Rendy nenek Amelia itu Rendi pun serasa tidak ada yang harus dipertahankan lagi di Indonesia ini, kemudian dia merintis karirnya di luar negeri sampai sekarang pun tidak tahu lagi, Bagaimana keadaan mereka itupun cerita dari Om Boby." Terang papah Andre.


" Rendy dan Sinta ?" tanya Abiyasa.


" Iya Rendy dan Shinta adalah kedua orang tua kandung dari Amelia dan Nika." Ucap mamah Anisha.


" Tapi menurut cerita dari Almi kalau kedua orang tuanya Nika meninggal dunia." Terang Abiyasa.


" Apa?!innalillahiwainnailaihirojiun." ucap Mama Anisha dan papa Andre secara berbarengan.


" Kamu tidak bohong kan Abiyasa?"


" Tidak mah, ini cerita dari Almira, Almira itu diceritakan oleh si Nika langsung, dia sering curhat dengan Almira dan Almi bercerita juga tadi pada Amelia kalau Nika itu sering dikejar oleh seseorang dan Almi pun menawarkan jasa untuk mengantar pulang perginya sekolah, tapi sayangnya Nika tidak mau dikarenakan Nika takutnya kalau berimbas di keluarga kita, wajah dari Amelia itu sangat penuh dengan kegelisahan dan ketakutan serta kecemasan saat ditanya Arvin dia pun tidak menjawab apa permasalahan yang terjadi, sedangkan kak Roni melihat kejadian itu Nika dikejar sama laki-laki, tapi setelah kak Roni melihat laki-laki itu,laki-laki itu pun langsung kabur, pasti ada hubungannya dengan semua ini." Terang Abiyasa.


" Kalau seperti itu lebih baik Papa mau bicara dulu dengan Om Bobby dan tante Lala kamu,Biar mereka ke sini,kita bisa enak berbicaranya." ucap papa Andre.


Papah Andre kemudian mengambil gawainya yang berada di atas meja di ruang tengah tersebut, kemudian dia mencari kontak pribadinya Papa Bobby, beberapa saat kemudian sambungan itupun tersambung.


" Assalamualaikum Ndre, Ada apa ?"


" Waalaikumsalam Bob, Kamu di mana sekarang?"


" Aku ada di rumah nih Lagi bersantai aja sama anak-anak."


" Kalau tidak sibuk bisa nggak kamu ke rumahku sekarang"


" Untuk apa nih?"


" Ada yang ingin aku bicarakan denganmu "


" Nanti aja sebelum kamu ke sini aku tidak mau bicara melalui gawai kalau ingin jelasnya cepat kesini."


" Okelah aku akan berangkat ke sana."


" Oh ya, jangan lupa bawa Lala kalian sekeluarga aja ke sini."


" Untuk apa sih?"


" Ya udah ikut aja, nanti kita bicarakan di rumahku aja."


" Oke! kalau begitu, langsung aja ya jamuan makan malamnya." Kekeh papah Boby


" Oke beres! semua sudah siap!" ucap papa Andre sembari tersenyum, kemudian sambungan bicara itu pun terputus setelah mereka sama-sama saling mengucap dan membalas salam, kemudian Papa Andre pun meletakkan kembali gawainya di atas meja tersebut.


Terdengar dia menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.


" Apa yang terjadi sehingga Rendy dan Sinta meninggal dunia dan mereka tidak mengabarkan sama sekali kepada keluarganya, padahal kan Rendy masih ada orang tua laki-laki nya di sini,tapi kenapa orang tua laki-lakinya tidak mencari tahu keberadaan mereka dan lagi cucunya sudah lama disini juga mereka tidak mencari tahu, apa mungkin si Nika lahir di luar negeri? Jadi mereka tidak mengetahui lagi anaknya Rendy seperti apa, apa mungkin juga Amelia tidak dikenali oleh mereka karena sudah tumbuh dewasa." ucap papa Andre.


" Iya bisa jadi, mamah juga tidak tahu ceritanya seperti apa, lebih baik kita tunggu aja Lala dan Mas Boby, Biar mereka menceritakan sebenarnya apa yang terjadi dengan Rendy, tidak mungkin kan kalau Lala tidak bercerita dan tidak mengetahui keadaan Rendy sekarang ini,apalagi Rendy dan Sinta sudah tiada." ucap Mama Anisha.


Mereka pun menganggukkan kepalanya sembari menunggu kedatangan keluarga dari Papah Bobby.


Almira yang sudah selesai mengerjakan tugas sekolahnya pun, kemudian turun ke bawah, karena merasa perutnya lapar dia pun langsung melangkah menuju kearah dapur, saat anaknya melangkah ke arah dapur Papa Andre pun langsung memanggil anaknya itu.


" Almira..." Panggil Papah Andre dengan lembut dan penuh kasih sayang, Almira pun langsung menoleh kearah papahnya.


" Iya Pah, Ada apa?"


" Sini sebentar nak, Papa mau tanya dengan Almi."


Kemudian Almira pun langsung mendekati Papanya dan tidak jadi untuk menuju ke arah dapur, Almira kemudian duduk di depan Papanya tersebut.


" Ada apa sih Pah Panggil Almi, Almi perutnya udah lapar ingin makan." Ucapnya tersenyum.


" Tugasmu sudah selesai?"


" Alhamdulillah sudah selesai pah."


" Nanti kita bareng makan malamnya bersama dengan Om Boby dan keluarganya."


" Oke deh pah,Almi setuju " ucap Almi sembari tersenyum.


" Ada apa sih pah, kok Papa manggil Almi tadi, mau bertanya apa pah?"


" Begini nak Papa ingin bertanya masalah Nika."


" Nika? Memang kenapa dengan Nika? Nika kan masih ada di rumah sakit, apa Nika sudah sadarkan diri?"


" Papa juga tidak tahu, apakah Nika sudah sadarkan diri atau belum, Dan Papa juga tidak tahu bagaimana kronologis kejadiannya, Papa ingin bertanya sejak kapan Nika berada di sekolah kamu dan menjadi teman kamu."


" Sejak awal masuk kelas 10."


" Berarti udah lama mereka berada di kota ini?"


" Memang papa kenal dengan keluarganya Nika?"


" In sya Allah nak, Papa kenal." Ucapnya.


Papa Andre tidak ingin bercerita lebih jauh tentang Sinta dan Rendy kepada Almira, karena Almira masih dianggap papa Andre masih kecil, jadinya tidak perlu mengetahui seluk beluk Sinta dan Rendy dan dia juga tidak ingin menceritakannya kepada Almira kalau Sinta memang pernah ada hubungan khusus dengannya.


" Kasihan lho Pah Nika itu ,dia katanya sering diganggu, diikuti oleh laki-laki yang sebenarnya dia kenal, tapi dia tidak mengatakan siapa nama laki-laki itu, dan siapa orangnya, sepertinya dia itu ketakutan terus, bila berangkat sekolah sampai sekolah wajahnya terlihat pucat,Dia kan tinggal di rumah kontrakan dan dia sekolah juga jalan kaki, Kalau kakaknya udah gajian dia pasti ikut angkot tapi kalau sudah tanggal tua dia pasti jalan kaki, Almira pernah menawarkan ingin mengajak dia satu mobil biar Almira jemput dan pulangnya pun bisa Almira antar tapi dia menolak Almi,Dia anaknya pintar kok pah, tapi karena sering dia kebanyakan melamun bila sudah waktunya pulang dia itu merasa ketakutan sekali, kecuali Almira paksa untuk ikut naik mobil Almira barulah dia mau." ucap Almira panjang lebar menjelaskan kepada sang papa, Papa Andre pun menarik napasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan, Dia kemudian menatap kearah Mama Anisha, Mama Anisha hanya tersenyum saja.


" Lebih baik kita bantu mereka selama kita bisa memberikan bantuan." ucap Mama Anisha.


" In sya Allah mah, kita akan membantunya." Ucap papah Andre


" Serahkan dengan Abiyasa dan yang lainnya." ucap Abiyasa mantap dengan perkataannya.