THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 157



Setelah kepergian Pak RT Pak Sahrul kemudian membaca kertas yang telah diberikan oleh Clarissa, dia memang melihat nama Lia yang memang berada di dalam lembaran kertas tersebut.


Cuma Dia tidak melihat foto Lia terpampang di kertas tersebut.


" Maaf sebelumnya apakah ini memang meyakinkan bahwa keponakan Saya itu memang memenangkan sebuah undian di minimarketnya Bapak-Bapak ini ?" tanya Pak Syahrul pada mereka.


" Iya Pak Memang benar Mbak Lia memenangkan undian dan Dia memenangkan hadiah utamanya,jadi sebelum kami memberikan hadiahnya Kami ingin bertemu langsung dengan Mbak Lia nya." terang Clarissa.


" Tapi sebelumnya Pak kami mau bertanya dulu, Apakah Mbak Lia memang tinggal di sini.?" lanjut Abiyasa.


Pak Sahrul hanya terdiam Dia kemudian menatap kelima orang tamunya tersebut.


" Karena pengisian undian itu Mbak Lia memberikan alamat di sini, bukannya apa-apa Pak, kami perlu dengan Mbak Lia tersebut untuk memerlukan dokumentasi penyerahan hadiah kepada pemenang." ucap Clarissa lagi di anggukan oleh keempat laki-laki yang ada di samping Clarissa tersebut.


Pak Sahrul menarik nafasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan.


" Memangnya kenapa Bapak terlihat sedih, bukankah Bapak seharusnya senang karena keponakan Bapak mendapatkan hadiah tersebut." lanjut Abiyasa.


" Saya sangat senang, karena ponakan Saya mendapatkan hadiah ini,tapi maaf keponakan Saya tidak tinggal lagi di sini."


" Kenapa? kalau Dia tidak tinggal di sini? Kenapa Dia memberikan alamat di undian nya ini agar kami mencarinya ke alamat ini." Lanjut Clarissa.


" Dia memang awalnya tinggal di rumah ini, tapi karena sesuatu dan lain hal tersebut Dia kemudian pergi ke kampung sebelah."


" Bisakah kita menemuinya di kampung sebelah Bapak?" ucap Abiyasa.


" Bisakah Bapak mengantar kami ke sana untuk bertemu dengannya " ucap Clarissa.


" Maafkan Saya, Saya tidak bisa mempertemukan kalian dengan keponakan Saya itu."


" Sayang sekali Pak, siapa tahu hadiah ini buat modal usaha." ucap Abiyasa.


" Maaf Pak, Bu, saya tidak bisa." ucapnya.


" Memangnya ada apa Pak.?" Tanya Arvin.


Lagi-lagi pak Sahrul menghela nafasnya dengan pelan, Dia menatap kearah istrinya, Istrinya hanya bisa menganggukan kepalanya menandakan agar Pak Sahrul menjelaskan semuanya tentang Lia siapa tahu dengan kehadiran mereka di sini Lia bisa terbantu.


" Bapak lebih baik Bapak ceritakan semuanya aja kepada Bapak dan Ibu Ini,siapa tahu dengan mereka berada ini dan memberikan hadiahnya itu kepada Lia, Lia bisa merubah hidupnya dan Lia tidak lagi dianggap sebagai perempuan pembawa sial." ucap Bu Sari,Dia berkata seperti itu karena sudah jenuh dengan sikap iparnya yang sudah mengusir Lia dari rumahnya sendiri dan mengancam suaminya agar tidak memberikan perhatian kepada Lia.


" Maksud Ibu ?" tanya Clarissa, sedikit demi sedikit sudah mulai terkuak, Pak Sahrul memang menyimpan semua permasalahan yang dihadapi Lia selama ini, semenjak Lia diusir dari rumahnya oleh saudara kandung Pak Sahrul yaitu pamannya Lia, Lia memang hidup bersama dengan pamannya yang lain yaitu Pak Sahrul,Lia memang disuruh oleh pak Sahrul untuk tinggal di kampung sebelah, karena keluarga pak Bowo melarang Pak Sahrul memberikan kasih sayangnya kepada Lia. Untung saja di kampung sebelah tersebut masih ada rumah dan tanah untuk ditinggali oleh Lia dan Sarah anak semata wayang Pak Sahrul,dan rumah serta tanah tersebut adalah miliknya pak Sahrul,sampai sekarang pun Bowo tidak mengetahui di mana keberadaan Lia,setelah Lia mendengar kalau Pak Sahrul diancam oleh pak Bowo pamannya sendiri.


" Maaf Bu berapakah hadiahnya itu untuk keponakan saya?"


" Apakah Bapak tidak membaca tertera hadiah utamanya tersebut didalam kertas itu ?" tanya Clarissa sembari tersenyum.


kemudian Pak Sahrul pun mengambil kertasnya tersebut dan membacanya lagi,dikertas itu tertulis mendapatkan uang tunai sebesar dua ratus juta, mungkin bagi Pak Sahrul dua ratus juta itu sangatlah banyak apalagi untuk Lia yang sekarang hidupnya hanya bertani di kampung sebelah mengandalkan tanaman yang ada di perkebunan yang ditempati oleh Dia dan Sarah sekarang.


" Haruskah Pak,Bu, kita bertemu dengan Lia?" tanya Pak Sahrul.


" Harus Pak." Ucap Dokter Roni lagi bersuara, karena Dia ingin sekali melihat Adik kandungnya tersebut.


Kemudian Pak Sahrul berdiri dia langsung keluar dan melihat kiri dan kanan, sekiranya aman Dia langsung menutup pintu rumahnya tersebut, mereka berlima pun merasa heran Dia langsung menatap kearah Bu Sari kemudian menatap kembali ke arah Pak Sahrul,Pak Sahrul kemudian mengunci pintu tersebut dan langsung duduk kembali bersama dengan mereka.


" Maaf Pak kenapa Bapak mengunci pintu ini ?" tanya Arvin.


" Bukan apa-apa pak sebelumnya saya juga minta maaf, Saya ingin menjelaskan semuanya kepada bapak sehingga Bapak dan Ibu tidak merasa saya bohongi." ucap Pak Sahrul.


" Maksud Bapak apa?" lanjut Morgan.


" Memangnya kenapa? karena rumah Saya selalu diawasi sama Anak buahnya Kakak saya yang bernama Bowo."


" Kakak Bapak itu siapa?"


" Bowo adalah pamannya Lia yang mengusir Lia, awalnya Lia memang diusir oleh saudara saya setelah Lia dikatakan membawa sial bagi keluarga, Karena Lia saat itu diperkosa oleh lelaki yang jahat,Lia tidak mau mengatakan siapa lelaki tersebut,dan lelaki yang dijodohkan dengan Lia menghinanya setelah tahu Lia ternoda,dan Lia pun langsung diusir saat Lia meninggalkan rumah orang tuanya tersebut, Lia langsung menuju ke rumah Saya, beberapa bulan Dia tinggal di rumah Saya akhirnya saudara Saya mengetahui kalau Dia tinggal di sini bersama Saya, saudara pertama Saya yaitu Bowo,dia langsung menemui Saya, Saya terus dicaci maki Untung saja saat itu Lia berada di dalam kamar,Dia tidak memeriksa sampai ke dalam kamar, Setelah Dia pergi, Lia memutuskan untuk meninggalkan kami atas saran Saya dan istri Saya, Dia saya antar ke kampung sebelah karena di kampung sebelah memang kebetulan kami mempunyai sebuah rumah dan tanah yang memang sudah sering ditanami sayur mayur, Lia hidup di disana bersama Anak saya." terang Pak Sahrul.


Mereka berlima pun mendengarkan penjelasan dari Pak Sahrul, ada rasa sedih di hati Dokter Roni karena mendengar kisah sang Adik,setelah dia mengalami peristiwa yang sebenarnya tidak dia inginkan.


" Kapan Pak bisa kita bertemu dengan Mbak Lia." ucap Dokter Roni.


" Maaf pak,sepertinya nanti malam, karena saya sering menemui Lia bersama istri saya sekitar jam 9 malam."


" Kenapa mesti waktunya jam 9 malam Pak?" tanya Abiyasa.


" Karena waktu itu lah anak buah dari kakak Saya tidak mengawasi rumah Saya lagi."


" Apakah kita harus lewat depan?" Tanya Morgan.


" Tidak,harus lewat belakang."


" Terus kalau tidak lewat depan, lewat belakang, kami nunggunya di mana Pak.?" tanya Morgan lagi.


" Iya juga sih, sedangkan kami tahunya cuma melalui pintu depan, bukan pintu belakang." ucap Arvin lagi.


" Bapak dan Ibu bisa menemui saya di toko depan jalan yang paling besar itu."


" Emang ada jalan ya Pak dari belakang tembus ke toko itu." ucap Morgan lagi.


Kemudian Arvin menyenggol Morgan.


" Udah diam " ucap Arvin.


" Kan enggak apa-apa Vin, kita bertanya, Kalau memang kita lewati langsung dari belakang kan tidak apa-apa." ucapnya sembari tersenyum.


" Ya tidak mungkin lama Morgan kita menunggu sampai jam 9 malam di sini " ucap Clarissa.


" Iya juga sih, tapi apa tidak curiga nih pintu rumah sudah ditutup oleh Pak Sahrul, terus nanti kalau dibuka lagi siapa tahu ada mata-matanya dari Pak Bowo gimana coba." ucap Morgan.


Mereka kemudian terdiam mendengar perkataan dari Morgan tersebut.


" Benar juga, tapi sebelumnya kalian menuju ke sini ada nggak yang kalian pikir mencurigakan yang kalian lihat?" Tanya Abiyasa.


" Ada " ucap ketiganya.


" Ada dua orang yang mengawasi rumah ini,tapi tidak lama sih, tadi saat kita mampir tempat Pak RT,mereka langsung pergi." terang Clarissa.


Abiyasa dan yang lainnya terkejut dan saling pandang.


" Masa sih,biasanya mereka itu mengawasi rumah saya sekitar jam 12 siang sampai jam 7 malam, karena pernah saat itu Lia menemui saya saat jam tersebut."


Kemudian Morgan menatap jam tangan yang melingkar di tangan kanannya tersebut.


" Masih ada waktu 1 jam lagi,mereka pasti balik lagi kesini." ucapnya.


" Kalau seperti itu kami permisi dulu Pak nanti malam kami akan menemui Bapak di jam yang sudah ditentukan oleh Bapak." ucap Abiyasa.


Pak Sahrul dan Bu Sari pun mengangguk, Mereka kemudian berpamitan dengan Pak Sahrul dan Bu Sari, kemudian Pak Sahrul berdiri dan membuka pintu kembali, Dia melihat kiri dan kanan sekiranya aman,lalu mereka kemudian meninggalkan rumah Pak Sahrul dengan perjanjian mereka akan bertemu kembali di sebuah toko terbesar di depan jalan yang menuju ke arah rumah Pak Sahrul tersebut, mereka berlima melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil mereka yang terparkir di ujung jalan, tidak ada suara di antara mereka, mereka larut dengan lamunan mereka sampai akhirnya mereka pun sampai di mana mobilnya berada,mobilpun melaju menuju kearah kantor Wibawa Group.