THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 161



Mereka berempat pun terkejut melihat wajah Lia,Lia dan Nadine seperti pinang dibelah dua cuman bedanya Lia mempunyai rambut hitam pendek sebahu dan Nadine mempunyai rambut hitam panjang.


" Masya Allah, inikah adikku yang sudah bertahun-tahun tidak pernah aku lihat?" ucap batin Dokter Roni seraya menatap kearah Lia dengan tidak berkedip.


" Apakah paman dan bibi beserta keempat tamu kamu ini tidak dipersilahkan masuk ke dalam Nak?" tegur Pak Sahrul membuyarkan tatapan Lia dengan keempat tamu tersebut.


" Oh iya paman maaf,silakan masuk Maaf ya Mas, Mbak rumahnya sederhana jadi lampunya cuma menggunakan lampu lentera." ucapnya mempersilahkan keempat tamunya beserta Bibi dan pamannya itu masuk kedalam rumahnya tersebut.


Abiyasa, Dokter Roni,Morgan dan Clarissa hanya tersenyum dan langsung masuk serta duduk dilantai ubin rumah tersebut.


Sarah yang berada didalam langsung keluar, Sarah anak pak Sahrul yang selalu setia menemani Lia berada di rumah tersebut,Dia juga heran kenapa kedua orang tuanya membawa orang yang tidak dikenalnya tapi setelah Dia melihat Abiyasa Dia merasa mengenali Abiyasa,Dia terus menatap wajah Aboyasa yang tampan itu.


" Bukankah wajah itu menghiasi surat kabar dan media sosial lainnya karena kesuksesannya dalam menjalankan perusahaan yang terkenal itu?" ucap Batinnya,Abiyasa menatap kearah Sarah.


Sarah mengangguk kan kepalanya.


" Maaf Mbak Lia kami datang malam-malam kesini karena ada yang ingin kami sampai kan pada Ibu secara langsung." ucap Clarissa.


" Ada apa ya Mbak?" tanya Lia heran.


Sebelum tamunya berbicara lagi, Pak Sahrul pun kemudian menjelaskan semuanya kepada Lia.


Lia merasa tidak percaya dan tidak yakin kalau dia memenangkan undian, karena dia tidak merasa mengikuti undian di minimarket tersebut.


" Mungkin Mbak Lia lupa mengikutinya,tapi namanya Mbak Lia ini sudah tertera di nama pemenang utama dorpres dalam rangka ulang tahun minimarket yang kami kelola." ucap Clarissa lagi menjelaskannya.


Dia kemudian berpikir sesaat.


" Apa mungkin Aku memenangkan undian yang dimaksud oleh mereka? karena selama ini Aku tidak pernah berbelanja di minimarket manapun, tapi entah ya kalau seandainya waktu itu karena Aku memang pernah berbelanja diminimarket manapun." pikirnya.


Clarissa menatap ke arah Lia dia merasa kalau Lia itu merasa tidak yakin dengan kemenangan yang dimaksud Clarissa itu.


" Begini Mbak Lia Kalau Mbak Lia memang merasa tidak yakin sebaiknya kita sekarang berangkat ke kampung sebelah agar kita bisa bertemu dengan pimpinan kami dan nanti Bos kami yang akan menjelaskan semuanya, kami hanya ingin memberikan hadiah itu kepada Mbak Lia secara langsung dan kami akan meminta dokumentasinya karena mungkin ini waktunya sudah malam juga dan tempatnya juga tidak bisa memungkinkan untuk kami mengambil foto Mbak Lia saat penerimaan hadiah tersebut,lebih baik kita menuju ke tempat pimpinan kami saja kalau mbak Lia merasa curiga dengan kami,Mbak Lia bisa ditemani dengan Pak Sahrul dan istrinya." ucap Clarissa panjang lebar berbicara dengan Lia untuk menjelaskannya.


" Ya udah Mbak ikut aja siapa tahu kan Mbak tidak sadar mengikuti undian itu, karena Mbak kan dalam keadaan kalut pikiran Mbak saat itu, siapa tahu Mbak Memang mengikuti undian dalam rangka ulang tahun minimarket yang dikelola mereka ini,mereka tidak menipu Mbak Lia, karena Aku kenal Mbak dengan bapak salah satu dari mereka." ucap Sarah seraya menunjuk menggunakan jempol kanannya sembari menundukkan sesaat kepalanya kearah Abiyasa.


Mereka semua heran karena mendengar sarah berbicara seperti itu,mereka saling pandang.


" Dimana kamu mengenali bapak ini Nak?" tanya Pak Sahrul kepada Anaknya.


" Maaf,bukankah bapak ini pak Abiyasa Putra Wibawa pemilik perusahan yang terkenal itu kan, karena saya sering melihat wajah bapak wara-wiri di televisi dan media sosial lainnya serta surat kabar." ucap Sarah sembari tersenyum.


Abiyasa hanya tersenyum saja.


Pak sahrul dan istrinya hanya bisa terdiam karena mereka tidak menyangka kalau akan bertemu dengan pengusaha muda yang terkenal dan sempat meragukan mereka semua.


" Mbak tidak menyadarinya kali, mungkin di saat kita Sebelum ke sini." ucap Sarah mengatakan kepada Lia, Lia pun menganggukkan kepalanya.


" Gimana Paman,Bibi, Apakah Paman Bibi bisa mendampingi saya bertemu dengan pimpinan mereka."


" Paman dan Bibi mengikut saja Nak."


" Tapi Paman, Lia takut kalau ketemu dengan Paman Bowo, nanti Paman lagi yang jadi sasarannya, kan Paman Bowo tidak tahu kalau Lia berada di sini, kalau dia tahu bahwa Paman lah yang memberikan tempat tinggal untuk Lia saat ini Paman pasti akan celaka, karena Paman Bowo sangat marah sekali dengan Lia."


" Memang ada apa Mbak?" tanya Clarissa.


" Tentang kemaren yang saya ceritakan itu Nak" ucap Pak Sahrul.


" Paman? Apakah Paman sudah menceritakan semuanya kepada mereka? tanya Lia seraya menatap kearah pamannya.


" Maafkan Paman mungkin ini yang terbaik bagi kamu, apalagi kan kamu sudah mendengar Kalau Sarah sudah mengenali salah satu dari mereka,berarti Paman menceritakan masalah kamu ini tidak salah dengan mereka, karena siapa tahu mereka di samping ini bisa membantu kamu" ucap Pak Sahrul.


" Kamu tidak perlu malu Mbak, kami juga sudah mengetahui semua, kalau seandainya setelah penyerahan hadiah ini kami bisa membantu Mbak untuk menyelesaikan semuanya dan dijamin Mbak tidak akan merasa diganggu oleh pak Bowo yang Mbak maksud itu." ucap Clarissa di anggukan oleh Morgan.


Abiyasa,Morgan, Dokter Roni dan Clarissa menatap kearah Lia,Lia hanya menunduk, kemudian mereka semua dikejutkan dengan seorang anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun keluar dari kamar sambil menggosok-gosok matanya, kemudian Dia langsung duduk di samping Lia.


" Mama ada apa? Kenapa banyak orang?" tanyanya sembari menatap kearah keempat orang tamu Mamanya itu,lalu Dia menatap kearah Pak Sahrul dan istrinya.


" Kakek,Nenek " ucapnya girang setelah menyadari kalau Kakek dan Neneknya berada dirumahnya tersebut.


Kemudian Dia menghambur dalam pelukan Kakek dan Neneknya itu, mereka berempat menatap kearah Lia kemudian bergantian lagi menatap ke bocah laki-laki tersebut, lalu mereka pun saling berpandangan heran, karena mereka mendengar bocah laki-laki itu memanggil Lia dengan sebutan Mama.


" Apakah ini anaknya Lia?" gumam Clarissa.


" Ya Allah, tak kusangka kalau Aku sudah punya keponakan." ucap batinnya.


" Jangan-jangan ini adalah anaknya Ariel,kebangetan si Ariel Dia sudah menelantarkan Lia dan anaknya rupanya dia memang benar-benar menodai lihat sampai Lia hamil." batin Morgan Karena dia sudah dapat mengira kalau bocah laki-laki itu adalah anak dari hasil perbuatan Ariel yang tidak terpuji itu.


Abiyasa menatap kearah bocah lelaki itu.


" Kasihan bocah ini sudah bertahun-tahun Dia tidak mengenal orang tua laki-lakinya ucap Abiyasa merasa iba melihat sang bocah yang sangat tampan sekali.


" Maaf mbak apakah itu anaknya?" tanya Clarissa.


" Ya Mbak ini adalah anak saya namanya Kevin."


" Assalamualaikum Om, tante." ucapnya tersenyum.


" Waalaikumsalam " sapa mereka semua.


" Nama saya Kevin" ucap Kevin lagi.


" Halo Kevin..." ucap mereka berempat sembari tersenyum menatap kearah Kevin.


" Ini adalah anaknya Lia, dan karena inilah Bowo tidak mau mengijinkan Lia membesarkan kandungannya saat itu, karena Bowo tidak ingin tercoreng dengan keadaan Lia." terang Pak Sahrul.


" Bukankah Pak Bowo hanya seorang Paman saja bukan orang tua dari Lia,kenapa terlihat disini Dia yang punya andil." ucap Morgan.


" Karena Dia yang ingin menjodohkan Lia dengan anak temannya dan saat itulah Bowo marah karena mendengar Lia melakukan perbuatan yang tidak senonoh dikatakan oleh calon suaminya yang bernama Ariel."


" Terus apakah bapak tahu siapa yang tega melakukan perbuatan itu sama Mbak Lia?" tanya Clarissa,Dia sengaja berbicara seperti itu hanya sengaja saja,seolah-olah Dia tidak mengetahui kebenarannya.


Pak Sahrul dan Bu Sari hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya saja,begitu juga Lia Dia hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.


Terdengar helaan napas pak Sahrul.


" Lia juga tidak tahu siapa yang melakukannya karena katanya Lia tidak sadarkan diri setelah sadar dia sudah seperti itu dengan tidak berdayanya." sambung Pak Sahrul lagi.


" Maafkan Aku Paman, Aku sudah berbohong padamu, karena sebenarnya yang menodaiku saat itu adalah Ariel calon suamiku sendiri,Aku memang sengaja tidak mengatakan semuanya pada kalian." Batin Lia lagi.


Mereka terdiam....


" Baiklah,kalau begitu sebaiknya kita segera berangkat saja " ucap Morgan seraya memecah keheningan.


" Ya benar sekali, sekarang kita berangkat aja, karena hari sudah mulai malam, otomatis sampai di sana sekitar jam setengah dua belas malam, jadi besok pagi baru bisa bertemu dengan bos kami." ucap Clarissa lagi.


" Bisa tunggu sebentar? saya mau mempersiapkan dulu pakaian saya seadanya."


" Oh ya silakan " ucap Clarissa.


sembari menunggu Lia mempersiapkan keperluannya, Abiyasa, Morgan dan Dokter Roni berbicara dengan Pak Sahrul dan istrinya membahas yang lain,sedangkan Clarissa keluar berpamitan hendak menghubungi seseorang Diapun berjalan kedepan rumahnya Lia kemudian dia menghubungi Arvin yang berada di rumahnya Abiyasa agar bisa menyusun rencana lainnya.